Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Kesayangan Dimas
Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk restoran Narira, di sebuah gedung perkantoran yang berdiri tegak dan anggun di salah satu sudut kota, Dimas duduk sendirian di balik meja kerjanya yang luas. Ruangan itu tenang, sejuk, dan tertata rapi cerminan dari pikirannya yang selama ini berusaha ia jaga agar tetap teratur, meski hatinya justru terasa semakin berantakan belakangan ini.
Cahaya matahari siang yang mulai meredup menyelinap masuk melalui jendela kaca besar dari lantai hingga ke langit-langit, menyinari tumpukan berkas-berkas yang tersusun rapi di hadapannya. Ia menunduk, sejenak membaca, sesekali mencoretkan tanda dengan pena di tangannya.
Suasana hening itu tiba-tiba terpecah oleh suara ketukan di pintu. Pelan, namun terdengar jelas.
"Masuk," ucap Dimas, suaranya tenang namun sedikit berat, matanya tak beranjak dari barisan tulisan di kertas yang sedang dibacanya.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi halus pintu terbuka. Angin sepoi-sepoi dari lorong luar ikut menyelinap masuk, membawa wangi parfum manis yang menyengat namun tak asing bagi penciumannya.
Pintu tertutup kembali pelan, dan di sana berdiri seorang gadis yang tersenyum lebar senyum yang penuh percaya diri, seakan ia sudah menjadi pemilik sah tempat itu, seakan kehadirannya di sana adalah hal yang paling wajar di dunia ini. Ia berjalan masuk dengan langkah ringan, sepatunya mengeluarkan bunyi halus di atas lantai marmer yang mengilap.
"Kirain siapa tadi..." gumam Dimas pelan, matanya melirik sekilas lalu kembali tertuju pada berkas di tangannya, seakan kehadiran gadis itu bukan hal yang dinanti-nantikan, melainkan sesuatu yang sudah ia duga akan datang.
Gadis itu terus berjalan mendekat, senyum di bibirnya tak luntur sedikit pun. Ia berhenti tepat di belakang kursi kerja Dimas, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia merangkul leher pria itu dari belakang, kedua lengannya melingkar erat, menempelkan pipinya ke bahu Dimas dengan kemanjaan yang tak disembunyikan.
"Kok gitu sih..." suaranya terdengar cemberut namun tetap lembut, bergelayut manja, "gak senang banget kalau aku datang?"
Dimas menghela napas panjang, meletakkan pena di tepi meja perlahan, lalu perlahan melepaskan tangan gadis itu dari lehernya. Gerakannya lembut namun tegas, tidak kasar, namun cukup jelas menyatakan bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.
"Loly, bisa tidak jangan ganggu?" ucapnya, suaranya rendah namun terdengar meminta.
Loly melepaskan pelukannya perlahan, wajahnya seketika berubah. Bibirnya mengerucut, matanya yang tadi berbinar cerah kini tampak mendung. Ia melangkah ke samping, berjalan menuju kursi yang terletak tepat di seberang meja kerja Dimas, lalu duduk di sana dengan badan yang sedikit membungkuk ke depan, kedua tangannya diletakkan di atas paha, menatap Dimas dengan pandangan yang tak terima.
"Ah... gak asik," keluhnya pelan, namun cukup terdengar di ruangan yang hening itu.
Dimas menatapnya sejenak, lalu bertanya dengan nada yang mulai terdengar ketus, "Ngapain ke sini?"
Loly memiringkan kepalanya sedikit, menatapnya balik dengan tatapan menantang namun tetap lembut. "Emangnya gak boleh?" tanyanya balik.
Dimas mengangkat wajahnya sepenuhnya sekarang, menatap Loly lekat-lekat, seakan ingin memastikan apakah gadis itu benar-benar tidak mengerti atau sekadar berpura-pura. "Ini bukan hari libur," ucapnya pelan namun tegas, "Seharusnya kamu itu di kampus, bukan di sini."
Loly tersenyum tipis, mengibaskan rambut panjangnya ke belakang bahu dengan gerakan santai. "Suka-suka aku lah," jawabnya ringan, "Lagian nanti aku juga akan bekerja di sini kok."
Dimas menegakkan punggungnya, menyandarkan badan ke kursi, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Nanti bukan sekarang," tegasnya, "Sekarang kamu itu harus kuliah, bukan di sini."
"Iya... nanti," jawab Loly, seakan kata-kata itu cukup untuk menenangkan segalanya.
"Sekarang," ulang Dimas, suaranya lebih tegas dari sebelumnya, matanya tak berkedip menatap gadis di hadapannya.
Loly terdiam sejenak, lalu senyum manja kembali tersungging di bibirnya. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Dimas dengan pandangan memohon yang biasa ia gunakan. "Nanti... setelah antar aku cari baju buat pesta ya?"
Dimas menghela napas panjang, menatap gadis itu sejenak, merasakan kelelahan yang tiba-tiba menyergapnya bukan karena pekerjaan, melainkan karena harus berhadapan dengan sikap yang tak kunjung berubah. Ia tahu bahwa menolak saat seperti ini hanya akan memperpanjang pembicaraan, dan ia justru tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Akhirnya ia mengangguk pelan, berdiri dari kursinya, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi.
"Ya sudah, ayo..." ucapnya pelan, lalu menambahkan dengan tegas, "...tapi setelah itu kembali ke kampus."
Loly tersenyum lebar, seakan menang dalam sebuah permainan yang hanya ia yang tahu aturannya. Ia bangkit berdiri dengan riang, melangkah mendekat, lalu berjalan beriringan di samping Dimas menuju pintu keluar tanpa menyadari bahwa di balik ketaatan Dimas itu, ada kerinduan yang tertahan, ada nama lain yang terus berputar di kepala pria itu, nama yang tak akan pernah ia sebutkan di hadapan siapa pun, apalagi di hadapan gadis yang berjalan di sampingnya ini.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Suasana di dalam butik itu begitu tenang, mewah, dan beraroma bunga segar yang lembut. Dinding-dindingnya dilapisi kain beludru berwarna krem hangat, lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang berkilauan lembut dari langit-langit tinggi, menciptakan pantulan cahaya keemasan yang menari-nari di permukaan kaca lemari pajangan dan kain-kain halus yang tersusun rapi.
Di sepanjang ruangan panjang itu, deretan gaun pesta tampak menggantung anggun kain sutra yang jatuh indah, renda buatan tangan yang halus berhias manik-manik kecil yang berkilau setiap kali tersentuh cahaya, dan pita-pita sederhana namun elegan yang melengkapi setiap helai busana itu. Udara di dalamnya terasa sejuk, tenang, seakan waktu sendiri berjalan lebih lambat di sini, membiarkan siapa pun yang masuk menikmati keindahan yang ada di hadapannya.
Loly berjalan di depan Dimas dengan wajah yang berseri-seri, matanya berbinar tak sabar menyapu setiap sudut ruangan itu, seakan ia sudah menjadi penguasa tempat ini. Ia melangkah ringan, sepatunya mengeluarkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar, berhenti tepat di hadapan deretan gaun-gaun paling menonjol di tengah ruangan. Tangannya terulur perlahan, menyentuh kain-kain itu satu per satu dengan kekaguman yang tak disembunyikan jemarinya menyentuh permukaan kain yang halus, mengusap manik-manik yang dijahit rapi, seakan setiap helai kain itu memiliki jiwa yang tersendiri.
"Wah... semuanya begitu cantik..." gumamnya pelan, suaranya penuh kekaguman, matanya tak lepas dari deretan gaun yang memikat itu.
Ia berbalik perlahan menatap Dimas yang berdiri agak jauh di belakangnya, bersandar pada tiang penyangga, kedua tangannya terselip di dalam saku celana, wajahnya tenang namun matanya tampak tak benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya. Pikirannya melayang ke tempat lain ke sosok yang tak ada di sampingnya.
"Kak Dimas..." panggil Loly manja, melambaikan tangan kecilnya, "kesini dong, pilihikan untuk ku. Aku ingin Kakak yang menentukan."
Dimas menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan mendekat. Langkah kakinya berat, seakan ada beban tak kasat mata yang menariknya ke belakang. Ia berhenti tepat di samping gadis itu, menatap deretan gaun di hadapannya tanpa benar-benar melihat warna atau coraknya.
"Pilih saja yang menurutmu paling cocok, Loly," ucapnya lembut, namun nadanya terdengar jauh.
Loly menggeleng cepat. "Tidak boleh begitu! Kan... nanti kalau aku terlihat jelek yang malu Kak Dimas juga. Aku ingin Kakak memakai apa yang kakak pilih." Ia tersenyum malu-malu, lalu segera kembali sibuk memilih. Tangannya meraih gaun merah muda lembut, memajangnya di depan tubuhnya, menatap pantulan dirinya di cermin.
"Bagaimana yang ini?" tanyanya penuh harap.
Dimas mengangguk sekilas. "Cocok."
Namun jawaban itu tak memuaskan. Loly menukarnya dengan gaun biru langit yang lebih cerah, lalu gaun krem yang berkilau. Satu per satu ditunjuknya, namun setiap kali Dimas menjawab singkat, matanya tak benar-benar bersinar melihatnya.
Hingga akhirnya, pandangan Dimas tertahan pada sebuah gaun yang tergantung agak di samping tak terlalu mencolok, tak berhias berlebihan. Warnanya biru muda, lembut seperti langit pagi yang belum terjamah awan. Kainnya tipis namun jatuh anggun, dengan sulaman bunga-bunga kecil berwarna putih pucat yang tersebar halus di bagian kerah dan ujung gaun. Tidak ada manik-manik yang berkilau menyilaukan, tidak ada hiasan yang berlebihan keindahannya justru terletak pada kesederhanaannya, pada kelembutan yang terpancar dari setiap lipatan kainnya.
Tanpa disadari, tangan Dimas terulur sendiri. Ia meraih gaun itu perlahan, jemarinya menyentuh permukaan kain yang halus, dan seketika bayangan wajah Rina melintas begitu jelas di benaknya senyum yang tenang, tatapan yang lembut, keanggunan yang tak perlu dihias apa pun agar terlihat sempurna.
"Ini..." suaranya terdengar pelan, hampir berbisik, "...ini akan sangat indah untuk Rina."
Ucapan itu terucap begitu saja, tanpa ia rencanakan, tanpa ia sadari. Matanya menatap gaun itu lekat-lekat, seakan di sana ia melihat sosok wanita yang dicintainya berdiri di hadapannya, mengenakan gaun ini, bersinar dengan cahayanya sendiri.
Loly terdiam mendengar itu. Senyum di bibirnya perlahan memudar. Ia melangkah mendekat sedikit, menatap gaun biru muda yang dipegang Dimas itu, lalu menatap wajah pria itu yang tampak begitu terpikat, begitu tenang, begitu rindu namun bukan untuknya.
"Rina?" ulangnya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Kak Dimas... Kakak memikirkan Kak Rina?"
Dimas tersentak, seakan terbangun dari lamunan yang dalam. Ia menurunkan tangannya perlahan, melepaskan gaun itu, lalu menoleh ke arah Loly dengan wajah yang berusaha kembali tenang, meski matanya tak sanggup menyembunyikan apa yang baru saja ia rasakan.
"Bukan..." jawabnya pelan, namun suaranya terdengar lemah, tak meyakinkan. "Maksudku... gaun ini... sederhana, namun indah. Siapa pun yang mengenakannya akan terlihat cantik."
Loly menatapnya lekat-lekat, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu. Ia tahu bahwa di setiap jawaban singkatnya, di setiap tatapan yang menjauh, di setiap keheningan yang panjang ada nama lain yang tak pernah hilang.
"Tapi aku..." suaranya tercekat, "aku bukan Kak Rina, Kak. Aku Loly."
Dimas menghela napas panjang, menatap gadis di hadapannya dengan rasa bersalah yang perlahan merayap di dadanya. Ia tahu ia tidak adil. Ia tahu ia tidak seharusnya memikirkan orang lain saat berada di samping gadis yang sangat ia sayangi ini.
"Aku tahu, Loly..." ucapnya lembut, suaranya penuh penyesalan namun tegas. "Maafkan aku..."
Ia berbalik sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap gadis itu. "Pilihlah yang menurutmu paling membuatmu merasa cantik. Pilihlah yang milikmu sendiri. Aku akan menemanimu, aku akan menunggumu...."
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, loly memasang wajah cembereut lalu perlahan mengangguk. Ia berbalik kembali menghadap rak-rak gaun, berpura menyeka sudut matanya dengan jari telunjuk, lalu mencoba tersenyum
"Baiklah..." ucapnya pelan, "aku pilih yang lain."
Namun di sudut ruangan itu, gaun berwarna biru muda itu tetap tergantung anggun menunggu, seakan tahu bahwa suatu hari nanti, tangan yang tepat akan mengambilnya, dan pemilik yang sesungguhnya akan mengenakannya dengan indah yang tak terlukiskan.
Bersambung…