Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28 Pelukan di tengah badai
Di dalam bunker tempat perlindungan yang sepi dan terkunci rapat, Luna berusaha menenangkan Emily yang tertidur karena kelelahan. Jam berjalan sangat lambat; setiap detik diisi oleh kecemasan mendalam Luna yang tak henti berdoa demi keselamatan Leon di garis depan.
Luna mengusap-usap pelan punggung Emily yang sedari tadi tidak mau tidur karena kepikiran sama papanya yang sedang bertempur dengan musuh di luar sana, bukan hanya Emily yang menyimpan kecemasan akan keselamatan Leon tapi Luna juga merasakan hal yang sama dengan Emily, kekhawatirannya akan keselamatan pada Leon jauh lebih besar, dia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan pria yang kini amat sangat dia sayangi itu. "Ya Tuhan...tolong lindungilah Leon dari ancaman mara bahaya yang sedang mengintainya dan tolonglah berikan kekuatan padanya agar bisa menghadapi musuh-musuhnya malam ini," doa Luna setiap detik.
Malam bergulir terasa sangat lambat dan kecemasan Luna akan keadaan Leon yang masih belum datang ke bunker semakin membuatnya tidak tenang dan sesekali Luna mengintip dari lubang kecil dari dalam bunker melihat keluar kalau-kalau Leon sudah datang menjemput dirinya dan Emily tapi harapan Luna sia-sia karena Leon masih tidak muncul di bunker, Luna hanya melihat beberapa orang pengawal bersenjata lengkap yang berjaga-jaga di sekitar bunker.
Malam pun semakin larut dan hampir mendekati fajar, Luna yang sedang menunggu sambil berdoa itu tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun, Luna berbaring di sisi Emily yang masih tertidur dengan pulasnya itu. "Kenapa Leon masih belum datang juga? Apakah kekuatan musuh semakin banyak? Apakah dia tidak mampu menghadapi musuh?" berbagai macam pertanyaan mulai berkecamuk di kepala Luna "Tidak. Leon tidak boleh kalah, dia harus kuat demi Emily dan aku," ucap Luna membesarkan hatinya yang sangat kacau itu.
Menjelang fajar, pintu besi safe house akhirnya terbuka. Suasana mendadak tegang sampai sosok Leon muncul di ambang pintu dengan pakaian berjelaga, luka gores di wajah, dan kemeja yang ternoda darah musuh.
Suara dengung engsel pintu besi safe house bergema kencang di tengah keheningan subuh. Luna seketika membeku, menyergap pistol di atas meja dengan tangan gemetar sembari memasang tubuhnya di depan tempat tidur Emily. Namun, saat sosok jangkung itu melangkah masuk menembus remang lampu, pertahanan Luna luruh seketika. Leon berdiri di sana—rambutnya acak-acakan, wajahnya tercoreng jelaga dengan luka gores berdarah di rahang, dan kemeja hitamnya basah oleh noda darah musuh.
Pistol di tangan Luna terlepas begitu saja ke lantai, matanya berkaca-kaca menatap Leon, "Leon..." panggilnya dengan suara gemetar.
Tanpa memedulikan badannya yang kotor dan sisa bau mesiu yang menyengat, Leon melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik. Ia menyambar tubuh Luna ke dalam pelukan yang begitu erat hampir membuat Luna sesak napas, namun terasa teramat sangat dibutuhkan.
Leon menanamkan wajahnya di ceruk leher Luna, napasnya memburu dan berat "Sayang... Tuhan, kamu selamat."
Luna melingkarkan kedua tangannya di leher Leon, terisak pelan sambil menepuk-nepuk punggung tegap pria itu "Aku selamat, kami selamat... Kamu... kamu tidak apa-apa? Darah ini..."
Leon memotong cepat, tangannya menangkup wajah Luna, menatap dalam-dalam tiap incer paras istrinya seolah memastikan ini bukan ilusi "Ini bukan darahku. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak peduli dengan luka ini..." Suaranya bergetar tipis, membelah aura dingin yang biasanya selalu menyertainya "Sepanjang jalan ke sini, aku cuma memikirkan satu hal. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
Luna menatap luka gores di rahang Leon, mengusapnya pelan dengan ibu jari "Aku di sini, Leon. Aku tidak ke mana-mana. Kami menunggu kamu kembali..."
Emily tertekap bangun dari tidurnya, mengucek mata sebelum mengenali sosok ayahnya.
Emily dengan suara parau khas bangun tidur "Papa...?"
Leon menoleh, lalu berlutut dengan satu kaki sambil membawa Luna tetap dalam jangkauannya. Tangannya yang sebelah lagi merengkuh Emily ke dalam dekapan hangat mereka bertiga.
Leon berbisik di antara rambut Emily dan Luna, mengecup kepala mereka bergantian "Papa di sini, Sayang. Semuanya sudah aman. Papa tidak akan biarkan siapa pun menyentuh kalian berdua lagi. Tidak akan pernah."
"Papa...Emily senang papa sudah kembali," ucap Emily yang terlihat sudah lega melihat Leon yang sudah berada di hadapannya itu.
"Iya sayang, papa sudah berjanji akan menjemput kamu dan mami Luna setelah papa menyelesaikan urusan papa," Leon mengusap sayang rambut panjang Emily dan kemudian mengecup pucuk kepala putri kecilnya itu. Luna yang masih berdiri di samping Leon dengan tangan yang masih di genggam erat oleh Leon itu terharu melihat hal itu. Buliran bening yang tidak bisa ia bendung lagi tiba-tiba saja menyeruak keluar dan mengalir di pipinya yang putih itu dan terus menetes jatuh ke lengan Leon, Leon mendongakkan kepalanya menatap Luna kemudian dia berdiri sambil menggendong Emily "Jangan menangis sayang, semuanya sudah selesai, kita semua sudah aman," Leon mengusap lembut pipi Luna yang masih basah oleh air matanya itu. Luna tersenyum menatap Leon ada binar bahagia yang terpancar di dalam manik matanya yang bening itu "A_aku takut kehilangan kamu, Leon," ucap Luna terbata tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Leon menarik pelan pinggang Luna dan membawanya masuk ke dalam pelukannya "Aku juga takut kehilangan kamu sayang," ucap Leon di pelipis Luna, Luna semakin erat memeluk tubuh Leon seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Papa, mami Luna, Emily mau kita bersama-sama terus, Emily gak mau kehilangan mami Luna seperti Emily kehilangan mama dulu dan Emily juga tidak mau papa pergi bertempur lagi Emily gak mau papa kena tembak seperti mama...," Emily menunduk sedih, seketika Luna memeluk Emily sambil mengusap kepala gadis kecil itu " Emily sayang...percaya sama mami Luna ya sampai kapanpun mami Luna tidak akan pernah meninggalkan Emily dan papa, mami Luna akan selalu bersama kamu dan papa di dalam suka dan duka karena kalian adalah satu-satunya keluarga yang mami Luna punya, mami Luna sayang sama Emily dan sudah menganggap Emily seperti anak mami Luna sendiri, Emily jangan sedih lagi ya sayang," Luna mencium rambut Emily dengan sayang dan haru. " Iya mami Luna," ucap Emily dengan khas gaya anak kecil. Leon menarik napas panjang dan kemudian berkata pada Luna.
"Luna, kamu dan Emily adalah alasan mengapa aku bisa setegar ini kamu bukan hanya sekedar menjadi pelindung bagi Emily tapi kamu sudah menjadi poros hidupku yang tak boleh hilang dan tak boleh di sentuh oleh siapapun," Leon melingkarkan tangannya ke pinggang Luna dan menatapnya penuh perasaan yang mendalam dan mereka bertiga pun saling memeluk menumpahkan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
Di tengah keheningan ruangan, Leon yang dikenal dingin dan tak tersentuh mengaku betapa kedinginan dan hancurnya ia saat membayangkan Luna atau Emily tersentuh oleh musuh. Untuk pertama kalinya, Leon secara gamblang menyatakan bahwa Luna bukan lagi sekadar pelindung Emily, melainkan poros hidupnya yang tak boleh hilang.