Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Jadian di Bawah Langit Malam
Malam itu, Lia tidak bisa memusatkan perhatian pada apa pun.
Ia salah melipat selimut Bryan dua kali, menaruh botol susu di rak popok, dan hampir membawa buku catatan ke tempat cuci. Map pilihan hidup dari Sebastian tersimpan di bawah bantal, sudah dibaca sampai setiap kalimatnya hampir ia hafal.
Tak satu pun halaman meminta Lia menerima cinta Sebastian.
Itulah yang membuatnya semakin sulit bersembunyi.
Pukul sembilan, pesan masuk.
Naik ke teras atap kalau kamu siap. Kalau belum, balas besok.
Lia membaca kata kalau tiga kali.
Ia punya jalan mundur.
Untuk pertama kalinya, ia justru tidak ingin menggunakannya.
Lia memastikan Bryan sudah tidur bersama pengasuh malam, lalu mengenakan kardigan tipis di atas blus. Ia menaiki tangga servis menuju teras atap Rumah Wijaya. Pintu besi tidak dikunci. Sebastian menunggu jauh dari ambang, memberi ruang agar Lia tidak merasa terhalang.
Langit Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya kota memantul pada awan, pesawat melintas jauh menuju bandara, dan suara kendaraan terdengar seperti dengung laut.
Di sebuah meja kecil ada dua cangkir teh hangat, bukan alkohol.
“Ko Sebas,” sapa Lia.
Sebastian menatapnya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana, lengan digulung, wajah sepenuhnya sadar.
“Kamu datang.”
“Ko Sebas menyuruh menunggu.”
“Saya memberi pilihan untuk tidak datang.”
“Saya memilih datang.”
Kalimat itu membuat sesuatu berubah di mata Sebastian.
Ia menarik kursi, tetapi Lia menggeleng. Duduk akan membuatnya merasa seperti sedang diwawancara. Mereka akhirnya berdiri berhadapan dekat pagar teras, tetap dengan jarak aman.
“Saya mau bicara dulu,” kata Sebastian.
“Silakan.”
“Saya sudah tertarik sejak hari pertama kamu datang. Awalnya saya mengira hanya karena aroma yang tidak bisa saya jelaskan. Lalu saya melihat kamu menahan lapar, menyimpan uang, merawat Bryan, dan tetap berani melawan saat diperlakukan buruk.”
Lia menunduk.
“Saya mulai melindungi tanpa bertanya. Beberapa kali saya membuat perlindungan terasa seperti perintah. Itu kesalahan saya.”
“Ko Sebas juga selalu mundur kalau saya bilang tidak nyaman.”
“Tidak selalu cukup cepat.” Tatapannya jatuh singkat pada tangan yang pernah digigit. “Saya akan belajar lebih baik.”
Angin malam menggerakkan rambut Lia. Sebastian menahan diri untuk tidak menyentuh sebelum pembicaraan selesai.
“Saya menyukai kamu, Lia. Bukan karena kamu merawat Bryan, bukan karena tubuhmu wangi, dan bukan karena saya ingin menyelamatkanmu. Saya menyukai cara kamu berpikir, cara kamu bertahan, dan cara kamu berani menegur saya saat saya salah.”
Tenggorokan Lia terasa sempit.
“Saya ingin menjalin hubungan denganmu. Serius. Saya tidak menjanjikan keluarga saya langsung menerima. Saya juga tidak akan berbohong bahwa jalan ini mudah.”
“Kalau keluarga Ko Sebas menolak?”
“Saya akan menghadapi mereka.”
“Kalau saya belum siap menikah?”
“Kita belum bicara menikah malam ini.”
“Tapi Ko Sebas bilang serius.”
“Serius tidak berarti saya berhak mempercepat hidupmu.”
Lia mengangkat mata.
“Kalau saya ingin tetap bekerja?”
“Bekerja.”
“Kalau saya ingin sekolah atau membuka usaha?”
“Saya akan mendukung tanpa mengambil alih.”
“Kalau saya berubah pikiran?”
Rahang Sebastian menegang, tetapi jawabannya tidak goyah. “Saya akan menerima. Selama itu benar-benar keputusanmu, bukan karena diancam.”
Air mata Lia hampir jatuh lagi. Ia membenci betapa mudah lelaki ini membuatnya menangis setelah bertahun-tahun ia belajar keras untuk tidak menunjukkan luka.
“Sekarang giliranmu,” kata Sebastian pelan. “Kamu boleh bilang tidak.”
Lia tertawa gugup. “Ko Sebas terus mengingatkan saya boleh menolak.”
“Karena saya ingin yakin.”
“Kalau saya menolak, map itu tetap milik saya?”
“Tetap.”
“Kelasnya?”
“Tetap bisa kamu ambil.”
“Kosnya?”
“Tetap pilihanmu.”
“Dan Ko Sebas tidak akan menyuruh Robby mengawasi saya?”
“Tidak, kecuali ada ancaman nyata dan kamu setuju.”
Lia mengembuskan napas panjang. Seluruh pintu keluar masih terbuka.
Ia melangkah mendekat dengan kemauan sendiri.
“Saya juga suka Ko Sebas.”
Mata Sebastian tidak berkedip.
“Sejak kapan?”
“Saya tidak tahu. Mungkin sejak ada orang yang marah karena saya tidak makan, bukan karena saya makan terlalu banyak. Mungkin sejak Ko Sebas percaya saya tidak mencuri bahkan sebelum melihat rekaman.”
Senyum kecil muncul di wajah Sebastian.
“Atau sejak ciuman?”
“Jangan merusak suasana.”
“Saya hanya memastikan.”
“Saya hampir menolak karena Ko Sebas menyebalkan.”
“Hampir berarti tidak jadi.”
Lia memutar mata, tetapi kali ini ia tidak mundur.
“Saya takut,” katanya. “Saya masih merasa tidak pantas. Besok mungkin saya takut lagi.”
“Takutlah. Tapi jangan pergi tanpa bicara.”
“Ko Sebas juga.”
“Saya janji.”
Mereka terdiam, menyadari jawaban sudah diberikan tetapi belum ada satu kata yang menamai hubungan itu.
Sebastian mengulurkan tangan, telapak menghadap atas.
“Lianna Souw, mau jadi pacar saya?”
Lia menatap tangannya. Tak ada cincin, kontrak, atau uang. Hanya telapak terbuka yang menunggu.
Ia meletakkan tangannya di sana.
“Mau.”
Jari Sebastian menutup perlahan, hangat dan kuat.
“Kita perlu aturan,” kata Lia.
“Sebutkan.”
“Jangan memakai pekerjaan untuk mencari alasan berduaan. Jangan marah kalau saya bicara dengan laki-laki karena urusan kerja. Dan jangan menyuruh Robby memeriksa semua orang yang menghubungi saya.”
Sebastian tampak ingin berdebat pada aturan kedua, tetapi akhirnya mengangguk. “Asalkan kalau ada yang mengancam atau melewati batas, kamu memberi tahu.”
“Setuju.”
“Aturan saya, kamu tidak boleh sengaja lapar untuk menyembunyikan aroma. Makan di depan saya kalau perlu, tetapi tetap makan.”
“Itu aturan lama.”
“Sekarang diperpanjang tanpa batas.”
“Satu lagi,” kata Lia. “Kalau kita bertengkar, jangan diam berhari-hari.”
“Saya tidak pandai curhat.”
“Belajar.”
“Baik.” Sebastian meremas tangannya pelan. “Dan kamu juga tidak boleh kabur.”
“Saya akan bicara dulu.”
Kesepakatan sederhana itu terasa lebih nyata daripada janji indah mana pun.
“Ada satu syarat,” katanya.
Lia langsung curiga. “Apa?”
“Kalau kita sendiri, jangan panggil saya Ko Sebas lagi.”
“Kenapa?”
“Karena saya pacarmu, bukan kakakmu.”
“Tapi di depan keluarga?”
“Kita simpan dulu sampai kamu siap dan sampai saya punya rencana menghadapi mereka. Di depan orang, kamu boleh memakai Ko Sebas kalau perlu. Saat hanya kita, panggil Sebas.”
Lia mencoba. Suara itu tersangkut di tenggorokan.
“Ko...”
Sebastian mengangkat alis.
“Sebas,” katanya akhirnya.
Nama tanpa gelar itu terdengar jauh lebih intim di udara malam.
Sebastian menarik tangannya sedikit, membuat Lia berdiri satu langkah lebih dekat.
“Sekali lagi.”
“Jangan serakah.”
“Saya menunggu berminggu-minggu.”
Lia tersenyum. “Sebas.”
Kali ini Sebastian mengangkat tangan satunya ke pipi Lia. Ia berhenti sebelum menyentuh.
“Boleh saya mencium kamu?”
Tidak ada wiski. Tidak ada tangga bergerak. Tidak ada kabut yang bisa dijadikan alasan.
Lia mengangguk. “Boleh.”
Sebastian menunduk dan mencium keningnya terlebih dahulu.
Gerakan itu begitu lembut hingga Lia membuka mata, bingung.
“Cuma itu?” tanyanya tanpa sadar.
Tatapan Sebastian menjadi gelap. “Kamu yakin mau menantang saya?”
Lia belum sempat menjawab ketika bibir lelaki itu menyentuh bibirnya.
Ciuman sadar mereka dimulai pelan. Sebastian memberi ruang di antara setiap sentuhan, memastikan Lia tetap mendekat. Lia memegang lengan kemejanya, bukan karena harus menopang tubuh mabuk, melainkan karena ia ingin.
Rasa teh hangat menggantikan wiski. Angin malam mengusap kulit, tetapi tubuh Lia justru semakin panas. Ia telah makan malam dengan cukup. Ketika kegugupan menaikkan suhu tubuh, aroma manisnya mengalir bebas.
Sebastian menarik napas dalam, seolah aroma itu bisa membuatnya mabuk tanpa setetes alkohol.
Tangannya turun ke pinggang Lia. Ia menunggu sesaat. Lia tidak menolak, malah mendekat setengah langkah.
Ciuman berikutnya menjadi lebih dalam.
Lia merasakan seluruh tubuhnya lunak dan ringan. Sebastian memeluk pinggangnya, tetap di atas kain kardigan, tidak meraba lebih jauh. Namun, cara ibu jarinya bergerak satu kali di sisi tubuh Lia cukup membuat napasnya bergetar.
“Sebas,” bisiknya ketika bibir mereka berpisah.
Lelaki itu memejamkan mata sejenak, jelas berjuang mempertahankan kendali.
“Jangan panggil begitu kalau kamu ingin saya berhenti,” katanya serak.
“Saya tidak menyuruh berhenti.”
Sebastian menatapnya, lalu mencium lagi.
Kali ini Lia membalas tanpa malu. Tangannya naik ke bahu lelaki itu. Aroma manis semakin pekat, mengelilingi mereka bersama udara kota dan wangi teh.
Namun, saat jari Sebastian hampir menyentuh rambut di tengkuknya, ia sendiri yang berhenti.
Ia menempelkan dahi pada dahi Lia dan mengatur napas.
“Kenapa berhenti?” tanya Lia.
“Karena saya serius.”
“Saya tidak mengerti.”
“Kalau saya teruskan, saya akan menginginkan lebih. Saya tidak mau malam pertama kita resmi pacaran berubah menjadi sesuatu yang belum kita putuskan.”
Rasa malu dan hormat bercampur di dada Lia.
“Saya juga belum siap,” katanya.
“Saya tahu.”
Sebastian merapikan kardigan yang melorot dari bahunya, lalu mengambil satu cangkir teh. Tangannya masih sedikit gemetar.
Lia melihatnya dan tersenyum. “Sebas gugup?”
“Tidak.”
“Cangkirnya bergoyang.”
“Angin.”
“Ternyata tangga dan angin selalu salah.”
Sebastian tertawa. Suaranya rendah dan hangat.
Mereka berdiri berdampingan menghadap kota. Lia menyandarkan kepala sebentar pada bahunya. Tak ada musik besar atau bunga. Hanya teras atap, dua cangkir teh, dan pilihan yang untuk pertama kalinya benar-benar milik Lia.
Tangisan Bryan tiba-tiba terdengar dari monitor bayi kecil yang dibawa Lia.
Keduanya langsung menjauh setengah langkah.
Suara pengasuh malam terdengar mencoba menenangkan, tetapi tangisan bertambah keras.
“Dia mencari kamu,” kata Sebastian.
Lia menatap pacar barunya. “Kita bahkan belum lima belas menit resmi.”
“Saya mulai cemburu kepada bayi.”
“Jangan konyol.”
Mereka bergegas turun. Di tangga, Sebastian menggenggam tangan Lia hanya sampai sebelum mencapai lantai dua, lalu melepaskannya agar tak terlihat orang.
Sebelum berpisah di lorong, Lia berbisik, “Selamat malam, Sebas.”
Sebastian menahan pergelangan tangannya sesaat dan mencium punggung jarinya.
“Selamat malam, pacar saya.”