Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rebutan
“Tapi atas dasar apa aku harus menikah denganmu?” tanya Vivian.
“Kau sudah lupa? Kau pernah menciumku dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat,” jawab Delvin tenang.
Jo yang mendengar percakapan mereka semakin mengernyitkan kening.
“Tuan benar-benar pendendam,” batin Jo.
“Kalau aku menolak, kau tidak bisa memaksaku,” ujar Vivian.
“Aku bisa menuntutmu karena masuk ke rumahku tanpa izin dan mengganggu privasiku. Selain itu, aku juga bisa melaporkanmu atas tuduhan pelecehan,” jawab Delvin santai.
“Delvin Yang, kau licik!” seru Vivian.
“Aku seorang pengusaha. Tentu saja aku harus tahu cara menggunakan keuntungan yang kumiliki.”
Vivian mendengus.
“Tapi aku bahkan tidak mengenalmu. Bagaimana mungkin kita menikah?”
Delvin terdiam sejenak sebelum menjawab dengan tenang.
“Usiaku tiga puluh satu tahun. Aku tidak pernah berpacaran. Seluruh waktuku selama ini hanya kuhabiskan untuk mengurus bisnis. Kondisiku sehat dan aku hampir tidak pernah sakit.”
Vivian menatapnya.
“Tidak ada rahasia besar ataupun masa lalu yang kelam. Dan...” Delvin berhenti sejenak. “Aku masih perjaka.”
Vivian langsung membulatkan mata.
“Pria berusia tiga puluh satu tahun masih perjaka?”
Ia menatap Delvin dari atas sampai bawah dengan ekspresi penuh curiga.
“Apakah kau tidak berbohong? Jadi, semua yang kulihat semalam benar-benar masih baru, bukan barang second?”
“Brak!”
Jo yang mendengar pertanyaan itu langsung kehilangan fokus.
Mobil mereka menabrak bagian belakang mobil di depan.
“Aah!”
Tubuh Vivian terdorong ke depan.
“Maaf, Tuan. Saya kurang berhati-hati,” ujar Jo panik.
“Periksa kerusakan mobilnya dan bayar semua kerugiannya,” perintah Delvin tenang.
“Baik, Tuan.”
Delvin kemudian menoleh kepada Vivian.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa. Aku ingin pulang dulu!”
Vivian hendak membuka pintu mobil, tetapi Delvin segera menahannya.
“Aku sudah menghubungi asisten rumah tangga. Sebentar lagi mobil akan datang,” kata Delvin.
Vivian menatapnya dengan curiga.
“Kenapa?”
“Besok kita akan ke kantor untuk meresmikan hubungan kita.”
“Apa?”
“Tidak ada penolakan dan tidak ada bantahan,” lanjut Delvin tenang. “Kalau tidak, kau akan kembali berurusan dengan kasus lamamu.”
Vivian langsung menatapnya kesal.
“Mana ada orang melamar dengan cara mengancam seperti ini? Tidak ada bunga, tidak ada cincin, bahkan tidak ada suasana romantis sedikit pun!”
Ia menunjuk Delvin dengan kesal.
“Direktur Yang, sebenarnya kau menganggapku sebagai apa? Kalau menikah tanpa perasaan, bagaimana mungkin kita bisa bahagia?”
Delvin menatapnya beberapa detik sebelum menjawab dengan santai.
“Soal perasaan bisa diproses. Jadi, tidak perlu terburu-buru.”
Vivian terdiam.
“Waktu kita masih panjang,” lanjut Delvin.
***
Mansion Keluarga Yang
Delvin akhirnya tiba di mansion keluarga Yang.
Saat memasuki ruang tamu, ia melihat kakeknya, Nico Yang, dan Mark Yang sedang duduk bersama.
“Kakek!” sapa Delvin sambil berjalan mendekat.
Nico langsung menatap cucunya.
“Delvin, keluarga Xie mengatakan kau langsung menolak putri mereka tanpa memberinya kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh. Kalau terus seperti ini, kapan kau akan menikah? Usiamu sudah tidak muda lagi.”
Mark yang duduk di samping Nico tertawa kecil.
“Paman, sepertinya bertambah lagi korban yang kau sakiti.”
Nico langsung melirik Mark.
“Kau juga sama saja! Setelah membatalkan pertunangan dengan Vivi Wei, kau juga menolak berkenalan dengan putri dari keluarga lain.”
“Kakek, aku masih muda. Lebih baik Paman menikah lebih dulu daripada aku,” jawab Mark santai.
Delvin yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Kakek, soal pernikahan aku akan mengaturnya sendiri. Jangan khawatir.”
Mark langsung menatap Delvin dengan curiga.
“Paman, kenapa aku merasa Paman seperti sudah memiliki calon?”
“Memang sudah,” jawab Delvin tenang.
Nico dan Mark langsung menatapnya.
“Dan aku akan menikah dengannya.”
Nico tampak terkejut.
“Gadis dari keluarga mana?”
“Keluarga Wei.”
“Wei?” Nico mengulang dengan heran.
Mark juga mengerutkan kening.
“Keluarga Wei yang mana? Setahuku, yang aku kenal hanya Vivian Wei dan kakaknya.”
“Vivian Wei,” jawab Delvin.
Jawaban itu langsung membuat Mark dan Nico terkejut.
“Vivian Wei? Si ceroboh itu?” tanya Mark.
“Dia akan menjadi bibimu,” jawab Delvin tenang.
“Paman tidak bisa menikah dengannya,” kata Mark.
“Apa alasannya?” tanya Nico.
“Vivian sebelas tahun lebih muda dari Paman. Dia juga masih belum tamat. Dan yang paling penting...” Mark menunjuk dirinya sendiri. “Aku juga ingin mengejarnya.”
Nico langsung mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Mark.
“Dasar durhaka! Kenapa kau malah merebut gadis yang akan menjadi calon istri pamanmu?”
Mark menghindari bantal yang melayang ke arahnya.
“Kakek, Paman sudah terlalu tua untuknya. Mereka tidak serasi. Vivian lebih cocok denganku. Kami sama-sama pintar dan usia kami juga hampir sama.”
Delvin menatap Mark dengan wajah datar.
“Lalu kapan kau ingin menikahinya?”
“Sekarang juga bisa,” jawab Mark tanpa ragu.
“Kalau begitu, tanyakan saja kepadanya apakah dia bersedia,” ujar Delvin.
“Aku akan menghubunginya sekarang.”
Mark langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Vivian.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Halo?” terdengar suara Vivian dari seberang sana.
Mark langsung menyalakan pengeras suara.
“Vivian, bagaimana kalau kita menikah?” tanyanya.
“Apa?” Suara Vivian terdengar terkejut.
“Besok kita menikah. Aku rasa kita akan cocok. Usia kita sama, dan kita juga juara satu dan dua.”
Nico hanya menggelengkan kepala sambil mengambil cangkir dan menyesap teh hangat.
Beberapa detik kemudian, suara Vivian kembali terdengar.
“Apa kau sudah bosan hidup?”
Mark langsung mengangkat alis.
“Kenapa kau juga sama seperti pamanmu? Apakah semua pria keluarga Yang suka melamar dengan cara aneh?”
Vivian semakin kesal.
“Aku berharap kalian tidak laku seumur hidup, lemah tidak bisa berdiri selamanya!”
Nico yang sedang meminum teh langsung menyemburkannya.
“Uhuk! Uhuk!”
Ia buru-buru meletakkan cangkirnya sambil memandang ke bagian bawah tubuhnya.
Delvin hanya memejamkan mata dan menarik napas panjang.
Sementara itu, tangan Mark yang sedang memegang ponsel langsung bergetar.
Ponselnya hampir saja terlepas dari tangannya.
Mark buru-buru menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
Ia menatap layar ponselnya dengan wajah tidak percaya.
“Dia baru saja mengutuk kita tidak bisa berdiri?” ucap Mark sambil memandang bagian bawah tubuhnya
"Gadis ini benar-benar sadis," batin Mark.
Vivian yang berada di kamarnya menatap ponsel di tangannya dengan kesal.
“Aku belum selesai bicara, kau sudah memutuskan panggilanmu,” gerutu Vivian. “Padahal aku belum puas marah-marah. Semoga kalian tidak bisa berdiri dengan tegap. Dengan begitu, aku bisa lolos dari pamanmu yang aneh itu.”
Di keluarga Yang suasana masih hening seketika.
"Kalian kenapa ingin menikahi gadis ini?" tanya Nico
"Aku menyukainya, jadi istriku harus dia,"jawab Mark.
"Besok aku akan mengirimmu ke luar negeri, belajar baik-baik di sana. Setelah tamat mulai kerja di perusahaan kita. Sepuluh tahun kemudian kau baru bisa pulang," kata Delvin dengan wajah datar.
"A-apa?" teriak Mark.
semangat trus kak 💪💪
sudah di tunggu nih
ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan