Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pertarungan di Atas Reruntuhan Topeng
Kalimat pengakuan jujur yang keluar dari mulut Aldo menggantung di udara kafe yang teduh itu, menyisakan gema yang cukup keras untuk menggoncangkan isi dada Raisha. Detak jantung Raisha berpacu hebat, menciptakan irama liar yang sulit dikendalikan. Ada kehangatan asing yang mendadak menyeruak, melapisi sudut hatinya yang paling dalam dengan lapisan kebahagiaan yang samar.
Namun, tepat sebelum rasa manis itu mengambil alih jiwanya, memori akan manipulasi masa lalu dan cara kerja psikologis Aldo yang bengkok mendadak muncul bagaikan sirene peringatan.
Raisha menarik napas panjang, lalu perlahan menggelengkan kepalanya. Dia memundurkan sedikit posisi duduknya, menciptakan jarak aman yang tegas di antara mereka. Logikanya yang terlatih menolak untuk menyerah begitu saja pada getaran emosi sesaat.
"Kamu pikir aku akan percaya begitu aja, Al?" sahut Raisha dengan suara yang diusahakan selurus mungkin, meski ada ketegangan halus yang tersembunyi di balik matanya.
Aldo tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Pria itu justru memajukan tubuhnya, menatap Raisha dengan intensitas yang lebih pekat.
"Ra, aku nggak lagi main-main atau nyusun taktik," sela Aldo dengan nada suara yang dalam, seolah memohon agar pertahanannya didengar.
"Ada perasaan asing yang selalu mengusik aku tiap kali melihat kamu sama pria lain. Waktu lihat kamu naik mobil mantanmu, waktu lihat tangan Reno menyentuh pergelangan tanganmu... dadaku kayak terbakar. Itu bukan reaksi yang biasa aku rasain ke wanita lain."
Raisha terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang sarat akan skeptisisme.
"Itu karena insting kamu yang nggak normal itu yang membuat rasa ketertarikanmu menggebu!" sahut Raisha menembak lurus ke titik paling lemah Aldo.
"Kamu terbiasa cuma bergairah kalau melihat wanita yang dianggap milik orang lain. Begitu kamu dengar soal mantan aku, atau begitu kamu lihat Reno bersikap protektif, saklar gila di otakmu itu otomatis menyala! Itu bukan cinta, Al. Itu cuma obsesi psikologis kamu yang nggak mau kalah!"
"Bukan, Ra!" bantah Aldo cepat, suaranya meninggi seraya mengepalkan jemarinya di atas meja. Pria itu menyangkal tegas tuduhan yang selama ini menjadi identitasnya sendiri.
"Kalau ini cuma soal insting cewek berpasangan, kenapa Mita yang terang-terangan pamer pacar barunya sama sekali gak bikin aku tertarik?" lanjut Aldo dengan mata yang berkilat frustrasi.
"Kenapa cuma kamu? Kenapa cuma melihat kamu yang bikin hatiku berantakan sampai aku nggak bisa fokus ngerjain apa pun selama berhari-hari?"
Raisha terpaku. Kata-kata Aldo berhamburan bagaikan pecahan kaca yang menembus pertahanannya.
Raisha menatap Aldo cukup lama dalam keheningan yang mencekam. Pasang mata cokelat gelap di hadapannya tidak lagi memancarkan binar keangkuhan, kecerdikan, atau senyum miring yang biasa dipamerkan seorang penakluk.
Di sana, di balik pasang mata itu, Raisha melihat sebuah kejujuran yang telanjang, sebuah keputusasaan dari seorang pria yang untuk pertama kalinya kehilangan kendali penuh atas perasaannya sendiri.
Di dalam dada Raisha, pertarungan hebat meletus. Hatinya langsung merespon sinyal positif Aldo, ucapan yang selama ini ditunggunya kini terlontar dari mulut Aldo. Tapi, logikanya membentengi tegas. Alarm bahaya mencuat memberi sinyal pada Raisha. Keraguan itu muncul.
Haruskah dia mempercayai ucapan pria di hadapannya ini dan memberi kesempatan pada rasa bahagia yang mendadak mekar di sudut hatinya? Atau haruskah dia tetap berpegang pada logika, menggunakan kesempatan ini untuk mendorong Aldo mundur secara telak agar dirinya tak perlu terluka lagi di masa depan?
Sudut hatinya bergemuruh hebat. Ada perasaan bahagia yang begitu membuncah karena tahu pria yang selama ini diam-diam dicintainya akhirnya menyatakan perasaan secara terbuka.
Namun di saat yang sama, kecemasan yang teramat besar ikut hinggap, membisikkan ketakutan bahwasanya semua ini bisa saja merupakan jebakan manipulasi paling halus yang pernah dibuat Aldo.
Sementara Raisha terbenam dalam keraguan yang mendalam, Aldo tak sedikit pun melepaskan pandangannya dari wajah wanita di hadapannya.
Di balik diamnya, pikiran Aldo justru melayang jauh ke belakang. Aldo teringat masa-masa awal ketika Raisha pertama kali masuk ke dalam radar pengawasannya.
Dulu, gadis di hadapannya ini hanyalah sebuah target sederhana—sebuah objek menarik yang ingin dia dapatkan semata-mata demi memuaskan keangkuhan dan egonya sebagai penakluk.
Namun kini, roda takdir berputar dengan sangat kejam baginya.
Gadis yang dulu ingin dia jadikan korban permainan psikologisnya, kini justru menjadi satu-satunya orang yang berhasil merobohkan seluruh pertahanan dirinya. Hati dan kepala Aldo yang selama ini dingin dan teratur, kini dibuat berantakan tak berstruktur oleh perasaan asing yang begitu kuat.
Pria yang dulu paling takut pada komitmen dan keintiman emosional yang nyata, kini justru berlutut memohon agar tidak ditinggalkan oleh wanita single yang pernah ditolaknya.
Dua piring makanan yang dipesan akhirnya diantarkan oleh pelayan kafe, memutus ketegangan sesaat di antara mereka. Bau harum aroma masakan yang menguar di udara tak mampu mengalihkan perhatian dari beratnya atmosfer di meja tersebut.
Raisha meraih cangkir minumannya, menyesapnya sedikit untuk menenangkan tenggorokannya yang terasa kering. Setelah menarik napas panjang dan memantapkan pijakan emosinya, Raisha kembali menatap Aldo dengan pandangan yang lebih tenang namun penuh ketegasan.
"Aku nggak bisa menjawab sekarang, Al," sahut Raisha lirih namun mantap.
Aldo menatapnya tanpa menyela, menunggu kelanjutan kalimat wanita itu.
"Aku masih belum sepenuhnya percaya sama kamu," lanjut Raisha lagi secara jujur.
"Terlalu banyak benteng, kebohongan, dan manipulasi yang kamu bangun selama ini. Aku nggak bisa langsung mengabaikan semua itu cuma karena pengakuanmu sore ini."
Aldo menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan seraya mengangguk pasrah. Ada kekecewaan yang terpancar di matanya, tetapi juga ada selarik rasa lega karena Raisha tidak langsung menolaknya secara mentah-mentah atau mendorongnya pergi secara permanen.
"Aku paham," panggil Aldo pelan, suaranya terdengar lembut namun sarat akan keseriusan.
"Aku tahu aku nggak berhak minta kamu langsung percaya begitu aja setelah semua hal konyol yang aku perbuat. Tapi Ra... aku nggak akan mundur lagi."
Raisha menatapnya dengan alis bertaut pelan.
"Gunakan waktumu sebanyak yang kamu butuhkan," tambah Aldo, matanya terkunci lurus pada manik mata Raisha.
"Buktikan sendiri apakah ini cuma insting sementara aku atau bukan. Aku akan ada di sini, menunjukkan kalau apa yang aku rasain ke kamu itu murni."
Raisha tidak membalas lagi ucapan itu. Dia memalingkan pandangannya ke arah taman kafe yang teduh, membiarkan angin sore membawa pergolakan perasaannya.
Pengakuan Aldo telah mengubah seluruh peta permainan mereka, membongkar dinding manipulasi yang selama ini memisahkan mereka, dan menyisakan sebuah babak baru yang jauh lebih personal, kompleks, dan penuh ketidakpastian.