Indonesia
NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

karangan ya(duda dan putri nya

Suara dering jam weker pada pukul lima pagi selalu menjadi awal dari pergulatan batin seorang Danu. Di kamar berukuran tiga kali empat meter yang dipenuhi gambar kartun warna-warni, ia terbangun dengan sisa kantuk yang masih menggelayuti kedua matanya.

Sudah dua tahun lamanya sejak kepergian istrinya karena sakit, status sebagai seorang duda sekaligus ayah tunggal melekat erat pada dirinya. Namun, tanggung jawab paling berat bukanlah gelar itu sendiri, melainkan sesosok anak perempuan berusia enam tahun bernama Senja yang masih tertidur lelap di sampingnya. Danu menatap wajah mungil itu, mengusap helai rambutnya yang berantakan, lalu menyadari bahwa hari ini akan menjadi hari berat lainnya.

Pagi hari di rumah kecil mereka selalu diwarnai oleh kepanikan yang teratur. Danu harus membagi pikirannya antara merebus telur, menyiapkan susu hangat, memastikan seragam sekolah Senja tidak kusut, dan menyelaraskan penampilannya sendiri untuk bekerja. Dulu, semua hal ini ditangani dengan begitu sempurna oleh istrinya. Kini, Danu harus belajar dari nol, mulai dari membedakan jenis-jenis kuncir rambut hingga menghafal jadwal pelajaran Senja. Tidak jarang kunciran rambut Senja miring ke kiri atau warna kaus kaki yang dipakai tidak senada, tetapi Danu selalu berusaha memberikan yang terbaik meski hasilnya jauh dari kata sempurna.

Ketika Senja terbangun dengan mata sembab dan enggan pergi ke sekolah, ujian sabar Danu baru benar-benar dimulai. Senja sering kali merengek, merindukan sosok ibu yang tak bisa lagi dipanggilnya pulang. Dalam momen-momen seperti itu, dada Danu terasa dihantam benda tumpul.

Rasa bersalah karena tidak bisa memberikan keluarga yang utuh sering kali menggerogoti pikirannya. Namun, Danu tahu ia tidak boleh runtuh di depan anak semata bakangnya. Ia akan berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Senja, lalu tersenyum sambil berbisik lembut bahwa mereka adalah tim terbaik yang pernah ada di dunia. Kata-kata sederhana itu biasanya berhasil meluluhkan hati Senja, berganti dengan senyuman kecil yang memamerkan giginya yang ompong.

Setelah mengantar Senja ke sekolah dasar di ujung jalan, Danu bergegas pergi ke tempat kerja. Sebagai seorang pekerja kantoran biasa, hidup Danu dipenuhi oleh tekanan tenggat waktu dan tumpukan berkas yang seolah tak pernah habis. Teman-temannya sering mengajak nongkrong atau sekadar minum kopi selepas jam kerja untuk melepas penat.

Namun, Danu selalu menjadi orang pertama yang menolak secara halus. Pikirannya tidak pernah benar-benar ada di kantor; separuh jiwanya selalu tertinggal pada Senja. Begitu bel pulang berbunyi, Danu langsung memacu sepeda motor tua miliknya menembus kemacetan kota untuk menjemput Senja di rumah tetangga yang baik hati menumpanginya menunggu.

Malam hari adalah masa-masa di mana kelelahan fisik dan mental Danu mencapai puncaknya, tetapi justru di situlah kehangatan terkumpul. Setelah makan malam sederhana dengan lauk seadanya, Danu akan duduk di lantai menyimak Senja bercerita tentang harinya di sekolah. Senja akan berkisah dengan menggebu-gebu tentang teman barunya, lukisan bunga yang dipuji guru, atau ulat bulu yang ia temukan di halaman.

Danu mendengarkan setiap detailnya dengan cermat, memberikan reaksi heboh yang terkadang dibuat-buat hanya untuk melihat tawa Senja pecah. Di mata Danu, tawa Senja adalah obat paling mujarab yang sanggup menghapus seluruh rasa lelah dari pundaknya.

Namun, mengurus anak perempuan sendirian saat ia beranjak makin besar menghadirkan tantangan-tantangan baru yang membingungkan Danu. Ada saat-saat di mana Senja bertanya mengapa teman-temannya dijemput oleh ibu mereka, atau mengapa rumah mereka tidak seramai rumah orang lain. Pertanyaan-pertanyaan polos itu seperti belati yang menusuk dada Danu. Ia harus belajar menata kata-kata agar Senja memahami keadaan tanpa merasa kekurangan kasih sayang.

Danu belajar memotong kuku Senja dengan sangat hati-hati agar tidak terluka, belajar memilihkan gaun yang cantik di toko pakaian wanita sambil menahan rasa canggung dari pandangan orang-orang sekitar, serta belajar menjadi tempat bersandar yang lembut sekaligus kokoh.

Ada satu malam di mana Senja tiba-tiba demam tinggi. Tubuhnya menggigil dan bibirnya menggeletar memanggil nama ibunya. Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Danu. Tanpa berpikir panjang, Danu menggendong Senja yang terbungkus selimut tebal, menembus hujan deras malam hari menuju klinik terdekat. Dalam deru angin dan rintik hujan yang membasahi pakaiannya, Danu terus berbisik meminta maaf karena merasa gagal menjaga kesehatan anaknya.

Di ruang tunggu klinik yang dingin, Danu mengusap dahi Senja dengan kompres air hangat tanpa memedulikan badannya sendiri yang gemetar kebasahan. Ia tidak tidur sedetik pun hingga matahari terbit dan demam Senja perlahan mereda. Saat Senja membuka mata dan tersenyum lemah sambil memegang erat jemari Danu, rasa lega yang tak terhingga membuncah di dada sang ayah.

Tahun-tahun berlalu dengan ritme yang sama namun dipenuhi oleh perkembangan-perkembangan kecil yang berarti. Danu menyaksikan bagaimana Senja bertumbuh dari balita yang sering tersandung menjadi anak yang cerdas dan mandiri. Senja mulai belajar memasak telur sendiri di bawah pengawasan ketat ayahnya, mulai bisa menguncir rambutnya sendiri meski masih sedikit berantakan, dan selalu menyambut Danu di depan pintu rumah setiap kali Danu pulang bekerja.

Rumah kecil yang tadinya terasa sepi dan penuh duka perlahan-lahan dipenuhi kembali oleh warna kehidupan, tawa, dan ikatan batin yang tak terobohkan antara seorang ayah dan anak perempuannya.

Suatu sore di akhir pekan, ketika mereka berdua duduk di bangku taman kota sambil menikmati es krim, Senja tiba-tiba menatap Danu dengan mata berbinar. Ia mengambil selembar kertas gambar yang sudah ia persiapkan dari tas kecilnya dan menyerahkannya kepada Danu. Di kertas itu, terdapat lukisan dua figur tongkat yang saling berpegangan tangan di bawah gambar matahari tersenyum. Di atasnya, ada tulisan tangan berantakan khas anak-anak yang berbunyi, "Terima kasih Ayah, karena sudah jadi Ayah terbaik di dunia."

Danu terpaku menatap kertas sederhana itu. Kerutan di wajahnya, mata yang lelah karena kurang tidur, serta rasa sepi yang selama bertahun-tahun mengendap di hatinya seolah meluap dan sirna seketika. Ia menyadari bahwa terlepas dari segala keterbatasan, ketakutan, dan ketidaksempurnaannya dalam merawat Senja sendirian, cinta yang ia tanamkan dengan tulus telah tumbuh dengan indah.

Danu merengkuh Senja ke dalam pelukannya yang hangat, mencium puncak kepala anak perempuannya dengan derai air mata bahagia yang tidak lagi dapat ia tahan. Ia tahu perjuangannya sebagai seorang duda dan ayah tunggal masih sangat panjang, tetapi saat itu juga Danu yakin, selama mereka memiliki satu sama lain, tidak ada tantangan di dunia ini yang tidak bisa mereka lewati bersama.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!