Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Teeeet!
Lampu merah raksasa menyala terang dari tombol milik Pak Barata, sang ketua juri.
Suara bel merah itu langsung menghentikan sorak-sorai penonton secara paksa dan mendadak.
Ribuan mata langsung menatap horor ke arah meja juri.
"Apa-apaan ini?! Kenapa dia menekan tombol merah?!" teriak seorang penonton di barisan tengah.
"Dia sudah gila ya?! Lagu sesempurna itu ditolak?!" sambung penonton lainnya dengan nada marah.
Pak Budi, ketua panitia yang berdiri di pinggir panggung, ikut terbelalak kaget.
Pak Barata berdiri dari kursinya dengan senyum angkuh yang dipaksakan.
Ia mengambil mikrofonnya untuk memberikan komentar penilaian.
"Harap tenang semuanya!" teriak Pak Barata mencoba meredam amarah penonton.
"Saya mengakui lagu mereka bagus, tetapi ada pelanggaran aturan yang sangat fatal malam ini!"
Seluruh ruangan kembali hening untuk mendengarkan alasan dari juri korup tersebut.
Pak Surya di kursi VVIP tersenyum lebar, merasa bahwa rencana liciknya kembali berjalan lancar.
"Sesuai peraturan festival, seluruh peserta harus membawakan lirik dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna moral positif!" ucap Pak Barata dengan lantang.
"Lagu mereka malam ini genrenya terlalu acak, dan ada bait yang seolah menyebarkan kebencian pada sosok tertentu!"
"Ini bukan lagu untuk menginspirasi masyarakat, ini adalah lagu makian yang tidak pantas memenangkan festival nasional!"
Alasan murahan itu terdengar sangat konyol dan dipaksakan bagi para pecinta musik sungguhan.
Namun karena Pak Barata adalah ketua juri yang memiliki hak veto, tidak ada juri lain yang berani langsung membantahnya di siaran langsung.
Para penonton mulai berteriak kecewa dan menyoraki keputusan curang tersebut.
Clara yang berdiri di panggung menoleh ke arah Stevan dengan tangan gemetar.
Mereka sudah memberikan yang terbaik, namun tembok kekuasaan juri korup sepertinya terlalu tinggi untuk ditembus dengan karya.
Stevan, yang sejak tadi hanya diam menatap layar laptop kecilnya, tersenyum dingin di balik maskernya.
"Waktunya pertunjukan utama," batin Stevan.
Ia mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi ke udara, memberikan isyarat pada teknisi panggung kepercayaannya.
Klik.
Tiba-tiba, layar LED raksasa di belakang panggung yang tadinya menampilkan logo festival berubah menjadi hitam pekat.
Sebuah antarmuka pemutar audio digital muncul sebesar gedung di layar tersebut.
"Hei! Apa yang terjadi dengan layarnya?!" teriak Pak Barata dengan panik.
"Matikan layarnya! Siapa yang meretas sistem utama lagi?!"
Namun sudah terlambat, Stevan menekan tombol Enter di laptopnya.
Kresek... kresek...
Suara rekaman audio yang sangat jernih terdengar menggema ke seluruh pelosok auditorium dan siaran televisi nasional.
"Aku sudah menyiapkan dana khusus untuk memastikan Barata akan menyingkirkan siapa pun yang menjadi saingan berat kalian."
Suara Pak Surya yang sangat khas terdengar jelas merencanakan penyogokan.
Jantung Pak Surya di kursi VVIP seakan melompat keluar dari dadanya.
Tubuhnya membeku kaku seperti patung es yang sedang retak.
Rekaman itu tidak berhenti sampai di sana.
"Di dunia ini, tidak ada profesionalisme yang tidak bisa dibeli dengan uang."
"Ketua dewan juri festival tahun ini adalah teman lamaku, Pak Barata."
Kali ini, giliran wajah Pak Barata yang memucat sepucat mayat yang sudah seminggu membusuk.
Ia menjatuhkan mikrofonnya ke lantai dengan tangan yang bergetar hebat.
Keributan luar biasa langsung pecah di seluruh tribun penonton.
"Suap! Mereka menyuap juri!"
"Pantas saja dia menekan tombol merah! Dasar juri korup keparat!"
Amarah jutaan masyarakat Indonesia kini tumpah ruah membakar nama baik Mega Bintang Sejahtera dan juri Barata.
Stevan tidak membiarkan mereka bernapas lega sedikit pun.
Ia menekan tombol lain di laptopnya, dan rekaman kedua mulai diputar.
Rekaman kali ini berasal dari percakapan di studio kumuh tempo hari.
"Syaratnya sangat sederhana... kalian harus mengalah di babak final festival lusa nanti."
"Ambil uang sepuluh miliar ini, pura-pura sakit di hari final, dan nikmati hidup mewah."
Mendengar percobaan suap sebesar sepuluh miliar itu, amarah penonton sudah tidak bisa dibendung lagi.
Beberapa penonton di barisan depan bahkan mulai melempar botol minuman ke arah Pak Barata dan Pak Surya.
Petugas keamanan panitia langsung berlarian ke arah kursi juri dan bangku VVIP untuk mengamankan kedua orang tersebut dari amukan massa.
Pak Budi yang marah besar langsung naik ke atas panggung dan mengambil alih mikrofon.
"Bawa Surya dan Barata ke ruang keamanan sekarang juga! Hubungi kepolisian!" teriak Pak Budi dengan tegas.
Di tengah kekacauan itu, Pak Surya yang sedang diseret oleh satpam menoleh ke arah panggung dengan mata merah menyala.
"Siapa kau sebenarnya, Zero?! Siapa yang menyuruhmu menghancurkanku?!" teriak Pak Surya seperti orang gila.
Stevan yang sejak tadi berdiri diam di tengah panggung akhirnya melangkah maju ke depan dudukan mikrofon.
Ia menatap jutaan pasang mata di seluruh negeri dengan pandangan yang sangat tenang dan berkuasa.
Stevan mengangkat tangan kanannya perlahan menuju ke arah topinya.
Ia melepaskan topi hitamnya, lalu menarik masker medis yang selama ini menutupi wajahnya.
Clara, yang juga belum pernah melihat wajah asli seniornya, ikut menahan napas dengan jantung berdebar kencang.
Saat masker itu terlepas, wajah seorang pemuda tampan dengan rambut hitam yang sedikit berantakan terlihat jelas di layar raksasa.
Wajah yang sangat familiar bagi seluruh petinggi industri hiburan dan penggemar musik lama.
"Astaga! I-itu kan... Stevan Alvaro?!" teriak pembawa acara yang nyaris pingsan karena terkejut.
"Mantan vokalis emas yang kehilangan suaranya itu adalah komposer misterius Zero?!"
Pak Surya yang sedang diseret oleh satpam langsung jatuh berlutut di lantai dengan mata melotot.
Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara, otaknya sama sekali tidak bisa memproses kenyataan gila ini.
Dunia hiburan Indonesia meledak dalam histeria massal malam itu.
Pemuda bisu yang pernah dibuang ke dasar jurang, kini kembali berdiri di puncak tahta sebagai dewa musik baru yang tidak tersentuh.
Dan malam ini adalah malam pertama di mana Kerajaan Zeros resmi mendeklarasikan perangnya terhadap seluruh label korup di negara ini.