Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelimpungan
#28
Keesokan paginya, usai sholat subuh berjamaah, Azam mendatangi kamar Bunda Hilda, guna bergantian menjaga Ghazi yang pagi-pagi sekali sudah bangun. Bahkan penampilannya lebih rapi dari hari biasanya meskipun hanya mengenakan kaos santai.
“Anak Ayah sudah bangun?” bisik Azam gemas.
“Susunya sudah Bunda hangatkan, kalau Ghazi merengek, mungkin dia ingin susu,” pesan Bunda Hilda sebelum meninggalkan Ghazi pada ayahnya.
“Iya, Bund.”
Azam mengangkat Ghazi, lalu keluar dari kamar kedua orang tuanya, memberi waktu pada Bunda Hilda untuk menjalankan sholat subuh dengan khusyu'. “Yuk, kita keluar, ikut Ayah tilawah.”
Ghazi yang masih membuka mata, menatap wajah sang ayah dengan tatapan yang menggemaskan. “Lho, kamu sudah pulang? Pantas saat Ayah tak menemukanmu di sekitar masjid,” tanya Ayah Irfan.
“iya, Yah. Selesai dzIkir, aku segera pulang, karena Bunda harus segera sholat subuh.”
Ayah Irfan mengangguk, lalu iku duduk di dekat Azam. “Sini, biar Ayah pangku.”
Azam membiarkan Ayah Irfan memangku Ghazi, “Oh, iya, semalam Pak Hermanto menghubungimu?”
Azam terkejut, namun, lekas mengangguk. “Iya, Yah. Beliau menanyakan beberapa upaya, untuk memanfaatkan lahan, selagi menanti pohon berbuah.”
“Lantas, kamu jawab apa?” sahut Ayah Irfan menanggapi ucapan putranya.
“Aku belum kasih jawaban, Yah.”
Ayah Irfan menoleh cepat ke arah Azam. “Lha, terus?”
“Kan, aku perlu melihat seperti apa lingkungan di sana, suhu, kelembaban, sistem pengairan. Aku harus memeriksanya secara langsung, agar bisa memikirkan solusi.”
Ayah Irfan mengangguk, “Jadi, hari ini kamu akan menemui Pak Hermanto?”
“Rencananya begitu, Yah— supaya aku juga bis—”
“Ciyeee yang mau datang ke rumah Om Hermanto— serius untuk urusan kebun, Mas? Bukan urusan yang ehm! Ehm!” ledek Aisha.
Azam melotot kaget, tatapannya tajam mengarah pada gadis berusia 22 tahun itu. “Aisha,” katanya tak suka.
Ayah Irfan pun nampak kebingungan melihat tingkah kedua putra dan putrinya. “Maksud kalian apa, sih? Ayah nggak paham.”
“Itu tuh, Yah, Mas Azam tanyain, beneran mau menyambangi kebun Om Hermanto atau ada udang dibalik rempeyek?” Alih-alih mereda, Aisha justru semakin menjadi.
“Astaghfirullah, Sha!”
Melihat Azam melotot, Aisha bergegas kembali ke kamarnya. “Maksud adikmu apa, Zam?” tanya Ayah Irfan.
Blush!
Wajah Azam memerah, gestur tubuhnya tak nyaman ketika mendengar pertanyaan Ayah Irfan. “Nggak tahu, tuh, Yah. Aisha tuh emang nggak jelas banget.”
Namun, jawaban Azam tak serta merta membuat rasa penasaran Ayah Irfan jadi hilang. Entahlah, tapi tingkah Azam terlihat aneh, tak seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian, setelah memastikan semua urusan di perkebunan sayurnya selesai dikoordinasikan kepada orang kepercayaannya, Azam segera mengambil kunci mobil lalu pamit pada putra dan kedua orang tuanya.
Bunda Hilda yang melihat putranya terburu-buru keluar rumah sampai mengernyit heran.
“Azam, mau ke mana pagi-pagi begini?”
Azam mendekati Ghazi untuk mencium pipi bayi itu. “Ke tempat Om Hermanto, Bund. Mau melihat kondisi perkebunan, serta mendiskusikan beberapa hal.”
Bunda Hilda terlihat tak mempermasalahkannya. “Ya, sudah. Hati-hati di jalan, Nak.”
“Iya, Bun. Aku berangkat dulu.”
“Salam buat Bu Rara dan Dina.”
Azam tersenyum, lalu melangkah pergi.
•••
Kesibukan terlihat di perkebunan milik Pak Hermanto pagi menjelang siang itu. Sebagian pekerja membersihkan sisa-sisa tanaman liar, yang lain menggemburkan tanah, sementara sisanya mengumpulkan ranting kering untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dina sendiri tak tinggal diam. Ia sibuk mencari bibit tanaman potensial yang akan mereka tanam di perkebunan. Dengan bantuan pengalaman Pak Darto, pekerjaannya terasa semakin mudah.
Pak Darto memperhatikan layar komputer Dina, lalu menunjuk beberapa tanaman yang ditampilkan di sana.
“Kalau tanaman yang ini masih bisa tumbuh tanpa masalah meski curah hujan sedang rendah. Nah, kalau tanaman yang ini, harus ditanam dekat sumber air karena membutuhkan penyiraman lebih sering.”
Dina mengangguk. “Kalau begitu, kita tetap pesan yang ini saja, Pak. Nanti kita lihat perkembangannya setelah beberapa minggu.”
“Betul,” sahut Pak Darto setuju.
Belum sempat Dina melanjutkan pekerjaannya, suara ketukan di pintu gudang yang terbuka lebar membuatnya menoleh.
Dina dan Pak Darto mengira salah satu pekerja datang. Namun, begitu melihat pria yang semalam berbalas pesan dengannya, Dina langsung terdiam dengan mata melebar tak percaya.
“Azam,” ucapnya tanpa sadar.
Pria berpakaian santai tetapi rapi itu segera melemparkan senyum manis.
“Assalamu'alaikum, Din.”
“Wa-Wa'alaikumsalam, M-mas— eh, Zam.” Dina menjawab kikuk. “Kamu ... kok ada di sini?”
Azam mengangkat alis, diam-diam senang mendengar Dina nyaris memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’.
“Memangnya aku nggak boleh datang?” godanya.
“Eh, maksudku bukan begitu. Tentu saja kamu boleh datang kapan saja.” Dina buru-buru meralat ucapannya. “Aku cuma heran, kenapa datangnya tiba-tiba.”
Azam hampir tersenyum mendengar pertanyaan itu. Semalam, ia memang sempat berencana datang beberapa hari lagi. Namun, entah kenapa, pagi ini ia justru bergegas menuju perkebunan Pak Hermanto. Tentu saja, demi urusan perkebunan. Setidaknya, itulah alasan yang terus ia katakan pada dirinya sendiri.
“Semalam aku berbicara dengan Papa kamu soal perkebunan. Beliau juga menanyakan beberapa hal. Kupikir, akan lebih mudah memberikan saran kalau aku melihat kondisinya secara langsung,” jawab Azam sambil melangkah mendekati meja Dina.
“Oh, begitu.” Dina mengangguk tanpa banyak bertanya.
Ia tidak tahu bahwa pria di hadapannya itu sempat menghabiskan beberapa menit di depan cermin pagi tadi, memastikan penampilannya cukup santai tetapi tetap rapi sebelum berangkat.
“Pak Darto, Papa di mana?”
“Terakhir Bapak lihat, beliau sedang memeriksa sumber air di belakang. Mau Bapak panggilkan?”
“Boleh, Pak. Atau Zam, sekalian kamu ikut Pak Darto ke—”
Belum sempat Dina menyelesaikan ucapannya, Pak Hermanto tiba-tiba muncul di gudang.
“Azam? Kok kamu di sini? Om, kan, nggak memintamu datang?”
Deg!
Azam kembali kelimpungan. Karena kali ini, ada Dina yang ikut mendengar pertanyaan itu.
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣