Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Matahari di atas langit Isle of Skye perlahan-lahan mulai bergeser ke arah barat, membiaskan pendar cahaya keemasan yang kian melunak di sepanjang lembah Glen Brittle.

Angin sore berhembus makin dingin, menggoyang padang rumput liar dan memercikkan embun halus dari aliran Fairy Pools yang berkilau bak kristal.

Setelah sekian lama mereka bertiga larut dalam ketenangan dan pesona magis kolam-kolam alami di kaki Pegunungan Cuillin, Tania akhirnya memutar tubuhnya seraya menepuk kedua tangannya pelan untuk menarik perhatian.

"Wah, nggak kerasa hari sudah mulai beranjak sore!" seru Tania dengan binar mata yang masih menyala antusias.

"Ayo, kita harus berpindah ke tempat selanjutnya sebelum mentarinya keburu tenggelam!" seru Tania sambil menepuk tangannya pelan, mengalihkan perhatian Anton dan Aisha yang masih asyik menikmati keindahan Fairy Pools.

"Eh, sudah mau pindah, Miss? Pemandangan di sini rasanya masih sayang banget buat ditinggalin."

"Percaya sama aku, Aisha," Tania menyeringai jahil seraya menaik-turunkan alisnya.

 "Destinasi kita selanjutnya ini jauh lebih magis. Tempat paling juara di seluruh Pulau Skye buat menikmati sunset sore ini!"

"Lebih indah dari Fairy Pools ini? Memangnya kita mau ke mana, Miss?"

"Rahasia!" sahut Tania cepat sambil terkekeh riang. "Pokoknya tempat ini ada di ujung barat tebing karang. Pas sampai di sana, kamu pasti bakal mikir kalau kita lagi berdiri di ujung dunia!"

"Duh, bikin penasaran aja," cicit Aisha seraya tersenyum.

**

Mobil Hitam itu pun perlahan bergerak meninggalkan lembah Glen Brittle. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam berkendara menembus lanskap perbukitan hijau Pulau Skye yang makin melandai mendekati pesisir Samudra Atlantik.

 Sinar matahari sore perlahan melunak, membiaskan garis-garis emas keunguan di sepanjang jalan sempit satu lajur.

Di dalam kabin mobil yang hangat, musik akustik berputar pelan membelah keheningan. Anton menyetir dengan tenang, sesekali melirik spion tengah untuk memastikan Aisha merasa nyaman di kursi belakang.

Hingga akhirnya, mobil berhenti di pelataran parkir Neist Point Lighthouse.

Begitu pintu mobil dibuka, hembusan angin laut Atlantik yang dingin dan segar seketika menyapa mereka. Gemuruh ombak yang menghantam tebing karang jauh di bawah sana terdengar bergema megah.

Di hadapan mereka, membentang tebing karang hijau yang curam dengan jalur jalan setapak beton turun mengarah ke bangunan mercusuar putih beratap merah di semenanjung batu yang menjorok jauh ke dalam lautan lepas.

"Masya Allah... ini tempatnya, Miss?" bisik Aisha terpana, melangkah pelan mendekati pembatas tebing dengan mata tak berhenti menatap hamparan lautan luas yang berkilau keemasan diterpa cahaya senja.

"Gimana? Keren banget kan? Nanti saat sunset makin tambah cantik disini." sahut Tania.

Aisha terpana akan keindahan alam di depannya. Ia langsung mengeluarkan ponselnya, sibuk mengabadikan momen keindahan alam yang belum pernah ia lihat secara langsung.

Sesekali ia meminta tolong Tania untuk memotret dirinya dengan latar belakang tebing karang yang menjulang megah.

Tania dengan senang hati mengambil alih ponsel Aisha, membidiknya dari berbagai sudut.

"Nggak mau sekalian foto berdua?" goda Tania riang seraya menaik-turunkan alisnya melirik ke arah sang kakak dan Aisha bergantian.

 "Latar belakangnya pas banget lho buat foto kenang-kenangan!"

 "Eh? Enggak, Miss... Nggak usah. Sendiri-sendiri saja sudah cukup."

"Tuh kan, Mas Antonnya juga nggak nolak lho!" timpal Tania lagi, sengaja memprovokasi kakaknya.

Anton buru-buru berdehem berat, pura-pura sibuk merapikan kerah mantel hitamnya untuk menyembunyikan rasa salah tingkah.

 "Sudah, Tania. Jangan godain Aisha terus. Lebih baik kita segera turun ke bawah dekat mercusuar."

Setelah puas berfoto di bagian atas, mereka bertiga memutuskan untuk turun menyusuri jalan setapak beton yang berkelok-kelok menuju ujung semenanjung batu.

Hembusan angin Atlantik semakin dingin menampar pipi, namun antusias Aisha untuk mengeksplorasi mercusuar putih beratap merah di ujung dunia itu tidak surut sedikit pun.

Hingga akhirnya, hari pun semakin beranjak sore. Bulatan matahari di ufuk barat perlahan-lahan mulai turun mendekati garis cakrawala Samudra Atlantik.

Sinar kuning keemasan yang semula tajam kini berubah menjadi pendar jingga keunguan yang melunak, membiaskan cahaya gemerlap yang memantul di atas permukaan air laut.

Mereka pun memutuskan untuk berhenti di sebuah batu karang datar yang cukup lebar di tepi tebing yang landai, menghadap langsung ke arah Samudra Atlantik dan jalur perjalanan matahari yang akan tenggelam.

"Ayo duduk sini! " ajak Tania riang seraya memosisikan diri di tengah.

Aisha duduk di sebelah kanan Tania dengan sisa binar kekaguman yang masih terpancar dari wajah cantiknya.

 Ia merapatkan mantel tebalnya, membiarkan ujung jilbabnya berkibar ditiup angin laut.

 Sementara itu, Anton duduk di sebelah kiri Tania, namun pandangannya tak pernah lepas dari wajah Aisha yang sangat menawan saat tersenyum menatap keindahan alam di depannya.

Keheningan lembut menyelimuti mereka bertiga di atas tebing Neist Point.

Aisha mengulum senyum tulus, merasakan kedamaian yang mendalam di hatinya. Di ujung dunia, di bawah langit senja Skotlandia yang memesona.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!