Melihat orang yang kita cintai, orang yang memiliki hati kita tengah tersenyum bersama orang lain. Matanya penuh oleh wajah orang lain, dan semuanya kamu saksikan tepat di hadapanmu. Rasanya sangat tidak menentu. Dilema. Ingin marah tapi tidak jelas sebabnya, ingin cemburu tapi tidak ada pantas-pantasnya.
“Dulu.. apa kamu sakit hati waktu kutolak?” tanpa sadar tanya itu terucap. Dari ujung mataku bisa kulihat tangan Awan yang memegang sendok berhenti di udara.
“Aku nggak sakit hati. Aku hanya marah pada diriku sendiri.”
Keningku berkerut, tidak mengerti. “Eh?”
Awan menghirup udara pelan sebelum menjelaskan. “Buat orang yang mencintai, melihat orang yang kita cintai bahagia adalah kebahagiaan yang tiada duanya,” kata-katanya sukses menohokku, “waktu kamu lari keluar kelas sambil nangis dulu, aku ngerasa jadi orang paling egois. Aku seenaknya ngungkapin perasaan di depan banyak orang tanpa memikirkan kalau kamu suka atau enggak.” Ya Tuhan, laki-laki di sebelahku ini bukannya menyalahkanku, malah menyalahkan dirinya sendiri.
“Oh ya, ngomong-ngomong kamu dulu nggak nolak aku loh, “celetuk Awan, “kamu lari.”
Awan benar. Dulu, aku melarikan diri. Tidak berani menghadapi masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fate zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Pegakuan (End Season 1)
Malam merayap naik. Bintang bertaburan nyaris bagai pasir dari atas ketinggian bahkan bintang jatuh dapat dengan mudah dilihat. Udara juga jauh lebih dingin di malam hari, membuatku terpaksa mengenakan kaus tangan tebal dan kaus kaki berlapis dua.
“Soal Kak Andra, aku minta maaf Ndra.” Suara pelan Anggun memenuhi tenda. Kami bertiga sudah masuk ke tenda, bersiap-siap akan istirahat. Liana lebih dulu merebahkan diri.
Di luar, para lelaki masih asik memetik gitar dan bernyanyi melantur di dekat api unggun.
“Tidak apa An, aku udah nggak marah lagi kok. Aku nggak berhak marah sama kamu. Cinta sepenuhnya urusan Tuhan. Lagipula seseorang pernah bilang kalau orang yang kita cintai bahagia, kita juga harus bahagia. Meskipun kebahagiannya bukan karena kita.” Sahutku, mengutip kata-kata Awan walau susunannya tidak sama persis.
“Awalnya aku cuma mau bantuin, nyari tahu seperti apa perasaan Kak Andra sebenarnya ke kamu. Tapi bukannya fokus sama tujuan, aku malah suka sama dia.” Jelas Anggun. Kalimat terakhirnya masih terdengar sungkan, “kalau boleh tahu, kenapa kamu tadi nerima pengakuan Awan?”
Tanpa bisa kucegah bibirku terangkat menyungging senyum. Tadi selepas makan malam, kami berenam berkumpul mengelilingi api unggun, bercerita banyak hal mengenai apa saja. Seru sekali. Hingga Awan diam-diam menyodorkan segenggam bunga edelweis yang masih segar, tampak seperti baru dipetik. Sambil berbisik lirih, “aku sayang kamu, Diandra.”
Mata coklatnya bersinar penuh harap disiram cahaya api unggun. Tanpa bermaksud membuatnya menunggu lama lagi. Aku mengangguk, tersenyum. Bilang kalau aku juga sayang padanya.
Sayang? Sesungguhnya aku belum begitu yakin apakah perasaan yang kumiliki ke Awan telah sampai pada titik menyayanginya. Sebab rasanya baru kemarin aku terpuruk, mengurung diri nyaris sebulan di rumah. PAtah hati, merasa dikhianati, kehilangan kepercayaan bahkan pada diri-sendiri. Rasanya baru kemarin aku mulai terbiasa mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Kak Andra. Rasanya baru kemarin pula aku dan Awan bertemu kembali. Tapi aku sudah berani bilang sayang padanya?
Tapi aku tidak bisa terus-menerus hidup di masa lalu bukan? Terus-terusan merasa paling berhak bersedih, merasa dikhianati padahal tidak pernah ada komitmen sebelumnya.
Kali ini aku ingin belajar menyayangi bersama Awan. Dia adalah satu-satunya yang selalu hadir meskipun kuhindari berkali-kali
Tanpa aba-aba, suara baritonnya menggema membuat pengumuman.
“Diandra baru saja bilang kalau dia juga sayang sama gue!”
Astaga! Wajahku tidak hanya panas karena suhu api unggun, tapi juga panas karena malu. Ingin langsung lari masuk ke tenda, menyelamatkan mukaku yang sudah merah seperti tomat matang di pohonnya. Tapi tangan kokoh Awan menggenggam tanganku erat-erat. Lewat tangannya dia menyampaikan pesan agar jangan lari lagi.
“Buat aku, mendapatkan Awan yang mencintaiku dengan seluruh hatinya adalah anugerah paling patut disyukuri. Terkadang wanita lebih baik tinggal bersama orang yang mencintainya dari pada tinggal dengan orang yang dia cintai, tapi malah mencintai orang lain.”
“Kamu beruntung banget ketemu Awan.” Sahut Anggun dengan senyum penuh arti.
“Kamu jauh lebih beruntung dapetin Kak Andra.” Balasku, sambil merentangkan tangan lebar-lebar. Menyunggingkan senyum penerimaan.
Kami berpelukan. Sama-sama meleburkan luka dalam dekapan masing-masing. Di luar bulan tidak tampak.
*Aahh... Akhirnya bisa ngubah status novel dari on going ke completed, butuh waktu sebulanan. Meskipun sebanrnya raw naskahnya sudah jadi tapi butuh waktu juga buat editing dan lain-lain. At least terimakasih untuk teman-teman pembaca setia. Kapanpun aku selalu butuh kritik dan saran bagi tulisan ini.
Oh iya, aku sempat mikirin perlu nggak ya kisah Diandra, Awan, Andra, Liana, dan Rangga dibuat serinya? semacam pendalaman karakter dan kisah selain tokoh utama. Tapi masih galau alurnya gimana (Hiks...). Kalau teman-teman ada saran boleh banget loh coret-coret di kolom komentar.
semangat selalu thor,salam sayang dari "sesakit inikah mencintaimu"🤗
yuk mampir juga keceritaku
sesakit inikah mencintaimu
semangat!!!
masih bingung???