Nindya, seorang gadis muda yang memiliki banyak mimpi dan harapan akan nasib kaum perempuan yang masih belum mendapatkan hak sepenuhnya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia ingin nasib kaum perempuan di kampungnya berubah lebih baik ditengah pemikiran yang masih kolot.
Perjuangannya tentu saja tidak berlangsung dengan mulus dan lancar. Ada banyak tantangan, terutama dari para tokoh masyarakat yang masih memiliki pemikiran kolot.
Dalam perjalanannya, dua orang pria yang saling berlomba untuk mendapatkan perhatiannya. Yang satu adalah seorang dokter muda dan tampan yang selalu membantu dan mendukungnya dan yang satunya adalah pak camat galak yang kerap menjenggal langkahnya
Namun, ada seseorang dalam hati Nindya. Seseorang dari masa lalunya yang masih kuat bercokol dalam hatinya.
Siapa yang akan dipilih Nindya untuk menemaninya menggapai setiap mimpi dan harapannya? Apakah sang dokter tampan? Sang Camat yang galak? Atau laki-laki dari masa lalunya kembali untuk bersama dengannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raira Megumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Diskusi
“Sudah mulai mencoba kegiatan pelatihan sejak kapan?” tanya Lingga mengalihkan topik tentang fans dan idola.
“Sebenarnya kegiatan sudah mulai sejak beberapa bulan lalu, tapi baru dilakukan di rumahnya Teh Dian. Itu juga baru beberapa orang saja. Kami ingin kegiatannya dilaksanakan di tempat yang lebih luas agar banyak warga yang bisa ikut.”
Lingga mendengarkan penjelasan Nindya sambil mengangguk-anggukan kepala.
Nindya meneruskan penjelasannya, “Sebenarnya, kami juga sudah meminta rekomendasi ke kecamatan. Pihak kecamatan merekomendasikan kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di desa ini sebagai pilot project. Kalau berhasil maka akan dilaksanakan juga di desa lain.”
“Saya sangat mendukung kegiatan pelatihan ini. Hanya saja kita memang harus mengatur strategi dengan tepat agar tidak ada penolakan dari warga. Kamu ingat kan kejadian kamu dicelakakan oleh preman? Menurut saya itu karena ada warga yang tidak menyukai eksistensi kalian.”
Lingga melihat wajah kebingungan yang ditampakkan Nindya.
“Maksud saya mungkin ada warga yang menerima dengan adanya pelatihan-pelatihan yang kalian berikan, tapi ada juga warga yang tidak menerimanya. Contohnya Atang yang tidak menyukai apa yang sudah kalian perbuat, terutama kamu yang menurut dia sudah memberikan pengaruh buruk pada istrinya. Kamu ingat kan apa yang dikatakan Atang tentang kamu? Dia mengatakan bahwa istrinya menjadi pembangkang setelah dekat dengan kamu. Saya berasumsi bahwa Atang menganggap apa yang kamu lakukan itu membuat istrinya jadi tidak menurut pada suaminya.”
Nindya mulai paham maksud Lingga. Ia mendengarkan penjelasan Lingga dengan cermat.
“Saya tidak mengatakan kalau kamu memberikan pengaruh buruk, tapi mendengar perkataan Atang, itu menunjukkan sesuatu yang negatif terhadap kegiatan kalian. Jadi, kita harus membuat rencana yang matang agar kegiatan pelatihan ini bisa diterima oleh warga. Tidak ada lagi anggapan buruk terhadap kegiatan kalian, khususnya pribadi kamu. Mengerti?”
Nindya mengangguk. Ia merasa seperti sedang berada di ruangan bimbingan konseling dan mendengarkan wejangan dan kepala sekolah dan gurunya.
“Jadi saya harus bagaimana, Pak?”
“Kira-kira kamu dan teman-teman sudah ada ide belum?”
“Kalau menurut saya sih, kalau sudah ada perintah dari Pak Lurah, warga akan menurut dan mengikuti apa yang Pak Lurah instruksikan. Iya kan?”
“Tidak begitu juga. Kalau begitu caranya berarti saya jadi pemimpin yang otoriter dong.”
“Apa kami harus door to door menanyakan pada setiap warga apakah mereka mau ikut pelatihan atau tidak. Begitu?”
“Itu ide yang bagus, selain mensosialisasikan kegiatan yang kalian adakan, warga juga jadi lebih mengenal kalian. Hanya saja butuh waktu yang lama. Bisa-bisa kalian baru mulai kegiatannya tahun depan.”
“Jadi gimana dong, Paaaaak?” tanya Nindya gemas.
“Bagaimana ya?” Lingga menjawab pertanyaan Nindya dengan pertanyaan lagi.
“Pak Lurah gimana sih? Katanya tadi mau membantu memberikan ide. Sampai saya harus menunggu Bapak selesai makan siang. Saya kira Pak Lurah akan bantu memikirkan idenya. Ternyata bohong.” Nindya kesal karena merasa dibohongi.
Lingga menahan tawa karena tidak ingin Nindya semakin marah jika melihatnya tertawa.
“Kalau mau menertawakan saya tidak usah ditahan,” sembur Nindya.
“Kamu bisa melihat kalau saya berusaha menahan tawa?” tanya Lingga sedikit terkejut.
“Huh, jadi benar kan kamu menertawakan saya?” tanya Nindya kesal.
Lingga tidak tahan lagi menahan tawa. Ia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.
“Tertawa saja terus sebelum tertawa itu dilarang.” Nindya mengambil tasnya dengan kasar dan berdiri. “Saya pulang!” ucapnya hampir berteriak nyaring.
“Tunggu! Jangan pulang dulu. Masa saya tidak boleh tertawa. Kamu kok marah lihat orang tertawa? Harusnya ikut tertawa.”
“Tidak ada yang lucu.” Nindya kembali duduk dan menyimpan tasnya di atas meja.
“Kamu lucu,” ucap Lingga setelah tawanya berhenti.
“Saya bukan pelawak,” sahut Nindya ketus. “Kamu memang manusia paling menyebalkan di muka bumi.”
“Maaf, maaf.” Lingga beranjak dari kursinya untuk mengambil minum. Ia merasa haus setelah tadi tertawa.
“Kamu tidak serius mau membantu saya.”
“Santai sejenak, Nda. Sudah satu bulan ini saya pusing dengan pekerjaan. Saya berterima kasih sama kamu karena sudah membuat saya tertawa lepas,” kata Lingga sambil tersenyum manis.
“Saya sudah membantu kamu tertawa. Sekarang giliran kamu yang membantu saya.”
“Sekarang sudah nyaman menyebut saya dengan sebutan kamu?” goda Lingga.
“Eh, maaf Pak Lurah. Saya tidak sadar.”
“Tidak apa-apa. Saya sih tidak masalah dipanggil dengan kamu. Asalkan tidak di depan umum. Kamu boleh panggil saya dengan sebutan kamu kalau tidak ada orang lain. Deal?”
“Bagaimana nanti saja, Pak. Kalau lagi sadar saya tidak merasa enak kalau memanggil Pak Lurah dengan sebutan kamu. Itu refleks saja kalau saya kesal sama Pak Lurah,” jelas Nindya.
“Terserah kamu saja mau panggil saya apa. Mau panggil saya Pak Lurah, Kamu, Kang, Mas, Abang, Kak, atau Sayang juga boleh.”
“Haaaa!” teriak Nindya saat mendengar kata terahir.
Lingga tertawa menyaksikan tingkah Nindya yang terlihat semakin lucu di matanya.
“Pak Lurah jangan main-main ya. Kalau genit seperti itu, saya umumkan di hadapan fansnya Pak Lurah biar mereka kabur,” ancam Nindya.
“Bagus kalau mereka kabur. Jadi kan saya aman dari mereka. Lagian saya gak genit. Kenapa kamu bilang kalau saya genit?”
“Itu ingin dipanggil sayang. Apa maksudnya itu? Dasar genit.”
“Siapa yang ingin dipanggil sayang? Saya kan hanya bilang kamu boleh panggil saya Pak Lurah, Kamu, Kang, Mas, Abang, Kak, atau Sayang. Kalau kamu tidak mau panggil sayang juga tidak apa-apa. Kan saya tidak memaksa,” kata Lingga sambil tersenyum.
“Dasar menyebalkan,” gerutu Nindya.
***********
to be continued...
.huhuhu😭😭😭
cerita sederhana to berkesan hingga yg baca hanyut dengan cerita nya di tunggu kelanjuta n nya ..💓🌹