Impian Kara hanya satu, menjadi designer ternama yang dapat mengeluarkannya dari lingkaran kebencian di sekitarnya. Ia telah ditolak keluarga kandungnya sendiri. Ia mendapat kekerasan yang seharusnya tidak pernah dialaminya. Dan ia terpaksa mel*curkan diri untuk sesuatu yang sia-sia saja.
Harapannya hancur saat ia kehilangan satu-satunya yang berharga dalam hidupnya, darah dagingnya sendiri.
13 tahun kemudian, di saat kakinya baru dapat berdiri kembali untuk menghadapi dunia, lagi ia dihadapkan pada masa lalu yang dulu pernah menghancurkannya hingga luluh-lantak.
Apakah Kara akan bertahan untuk tetap tegak berdiri, atau justru menyerah dan memilih satu-satunya jalan yang ia tahu dapat menjadi sumber pelarian terakhirnya dari dunia?
Song of the day: Eminem - Mockingbird
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Interview untuk Pertama Kali
"Masuk!"
Suara pintu yang terbuka membuat Adrian menaikkan tatapannya. Matanya menangkap sosok kecil yang berdiri ragu-ragu di depan pintu yang terbuka.
"Apa yang kau tunggu? Tutup pintunya dan duduk."
Mengamati wanita di depannya, mata kelabu Adrian menelusuri tubuh mungil itu dari atas ke bawah.
Penampilan wanita itu biasa-biasa saja. Ia mengenakan kemeja kerja dengan rok selutut. Sepatunya pantofel berhak pendek, yang sama sekali tidak membantunya menambah tinggi badan.
Rambutnya yang berwarna hitam diikat ke belakang, memperlihatkan lehernya yang cukup jenjang.
Menatap nadi berwarna hijau kebiruan yang berdenyut kuat di sana, tanpa sadar Adrian menelan ludah.
"Tuan Krieger?"
Mengerjapkan matanya, pria itu berusaha mengatur nafasnya yang entah kenapa terasa sedikit sulit.
"Duduk."
Saat akhirnya mata mereka saling berserobok, Adrian merasakan sesuatu yang aneh dari tatapan wanita itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak, tuan Krieger. Ini pertama kalinya."
Pandangan Adrian semakin intens, yang anehnya wanita itu pun tidak memalingkan wajahnya. Sorot mata wanita di depannya tetap terlihat lurus dan mantap.
Seharusnya dia yang gugup. Kenapa malah kau yang gugup, bro?
Mengalihkan pandangannya, pria itu melihat-lihat resume di tangannya.
"Aku lihat kau sudah kerja di perusahaan ini hampir 8 tahun. Waktu yang cukup lama. Apa yang membuatmu bertahan di perusahaan?"
"Tidak ada. Saya sebenarnya sudah meminta resign pada pak Stephen, dan berkali-kali ditolak. Saya juga tidak tahu alasan saya masih dipertahankan."
Jawaban itu membuat Adrian tertegun. Pria itu menelan ludahnya lagi.
"Kenapa kau ingin resign?"
"Alasan pribadi. Saya tidak akan menjelaskan."
Merasakan aura cukup negatif dari wanita di depannya ini, Adrian meletakkan resume yang dipegangnya. Pria itu memutuskan untuk melakukan interview dengan cara lain.
"Kau sudah menikah?"
"Belum."
"Anak?"
"Tidak ada."
Pria itu terdiam sebentar dan mengamati ekspresi wanita itu yang masih datar.
"Apa yang kau cari dalam hidup?"
Pertanyaan itu cukup mengena. Adrian bisa melihat kedua mata amber itu sedikit berkaca-kaca. Yang entah kenapa, memancing rasa sedih di hati pria itu.
"Kara?"
"Apakah Anda berniat untuk meng-interview saya, atau hanya ingin mencari tahu kehidupan pribadi saya, tuan Krieger? Karena mau seperti apapun, saya akan tetap resign dari perusahaan kalau memang diizinkan."
"Aku belum mengizinkannya."
Adrian mengambil dokumen lain dan meletakkannya di depan Kara.
"Jelaskan mengenai dokumen ini. Stephen bilang, kau yang membantu menyusunnya. Benar?"
Denyut nadi wanita itu terlihat lebih cepat di lehernya.
"Benar."
Menyenderkan punggungnya ke kursi, Adrian menumpu kedua tangannya ke pangkuan.
"Kalau begitu jelaskan proses penyusunannya. Aku ingin tahu."
Interview itu berlangsung hampir 2 jam, dan dalam dua jam itu, Adrian sudah mengambil keputusan. Ia akan mengambil Kara Nova sebagai asistennya.
Pendidikan Kara hanya D3 Komputer Akuntansi, tapi pola pikirnya jauh melebihi dari pendidikannya. Wanita itu cerdas dan taktis. Sudut pandangnya cukup luas, membuatnya bisa melihat beberapa hal sekaligus. Hal ini membantunya membuat draft kontrak dan menganalisa kemungkinan resiko yang mungkin muncul.
Kemampuannya dalam bahasa Inggris pun hampir menyamainya yang seorang native. Seolah pernah tinggal lama di luar negeri. Tidak hanya itu, dia juga cukup fasih berbahasa Italia dan menjadi poin plus-nya.
Masalahnya, wanita itu sama sekali tidak menyukainya.
Dalam sesi interview, Adrian merasa beberapa kali Kara ingin menempelengnya. Ia bisa merasakan getar ketegangan dari tubuh wanita itu dan tangannya mengepal, seakan ingin memukulnya.
Wanita itu sangat membencinya, dan dengan alasan yang sama sekali tidak dimengertinya.
"Pertanyaan terakhir, kau sepertinya sangat membenciku. Bisa jelaskan alasannya?"
"Tidak ada alasan khusus. Saya hanya tidak suka dengan Anda, tuan Krieger."
"Kau tidak takut aku pecat?"
"Tidak. Saya malah berharap Anda memecat saya setelah ini."
Skak mat.
Dua orang itu bertatapan seperti musuh bebuyutan.
Merasa telah kalah dalam pertempuran, Adrian menutup berkasnya dan menatap ke arah lain.
"Interview ini sudah selesai. Kau boleh pergi."
"Kalau begitu saya permisi. Oh!"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya tersangkut sedikit."
Melihat wanita di depannya kesulitan, Adrian berdiri dan mencoba membantu. Ternyata kain rok wanita itu tersangkut di salah satu kawat yang menongol di sela-sela kursi.
"Sebentar. Biar aku bantu melepaskan."
Mau tidak mau, keduanya berdiri cukup dekat. Selama beberapa menit, Adrian berusaha melepaskan kain bandel itu tanpa merobeknya.
"Akhirnya!"
Baru saja Kara menarik kasar kain yang dipegang Adrian dan menjauh, wanita itu tersandung roda kursi.
"Oh!"
"Kara!!"
Refleks, tangan Adrian menahan pinggang Kara dan langsung menariknya. Tubuh mereka menempel, seolah sedang berpelukan selama beberapa saat yang menegangkan.
Tangan-tangan Adrian yang berada di pinggang wanita itu sedikit gemetar, dan jari-jarinya mencengkeram. Jantungnya mulai berdebar kencang di d*danya. Semilir wangi familiar menghampiri lubang hidungnya.
"Kara...?"
Tubuh pria itu sedikit mundur saat wanita di pelukannya mendorongnya menjauh dengan kuat.
Raut wanita itu sangat gusar. "Maaf! Saya permisi."
Suara pintu yang dibanting, menyadarkan Adrian dari kekagetannya. Pria itu melihat tangannya gemetar.
Menyender ke meja, pria itu berusaha mengembalikan ketenangannya yang sempat goncang tadi. Entah apa penyebabnya, tapi wanita itu berhasil menarik sesuatu di dirinya yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
Mengurut kedua alisnya, mata Adrian memejam erat. Rautnya terlihat frustasi.
Adrian Manfred! Kara Nova bukanlah Karalyn! Wanita itu bahkan tidak mirip dengan Karalyn! Kau sendiri bahkan sudah lupa wajah gadis itu, kan? Lupakan dia dan lanjutkan hidupmu!!
Jeritan penuh permohonan itu sudah sangat sering ia teriakkan dalam benaknya. Tapi belum juga berhasil.
Belasan tahun ia berusaha melupakan Karalyn Kennedy. Tapi bayangan gadis itu selalu menghantuinya.
Ekspresi gadis itu saat ia meninggalkannya dulu masih terbayang-bayang di benaknya. Raut shock dan sedih yang tidak tergambarkan dalam dua mata biru itu, membuat rasa bersalahnya makin lama makin membesar.
Rasa bersalah yang sama sekali belum berkurang hingga sekarang.
Ketukan di pintu berhasil memutus lamunannya yang cukup membahayakan.
"Masuk."
Kembali duduk di kursinya, Adrian membereskan beberapa berkas yang tadi digunakannya.
"Jadi? Bagaimana barusan?"
"Aku memilihnya. Tolong atur kontrak kerja baru dengan dia."
Keputusan itu membuat Stephen sangat terkejut.
"Anda yakin?"
"Memangnya kenapa?"
"Saya lihat, dia... tidak akan terlalu cocok dengan Anda, tuan Krieger. Saya khawatir-"
"Kara Nova memang membenciku. Dia tadi jelas-jelas bilang begitu."
Ruangan itu hening sejenak.
"Kalau Anda tahu ini, kenapa Anda tetap memilihnya, Manfred? Apa Anda tidak khawatir kerja sama kalian berdua nanti tidak lancar? Apalagi dia akan jadi asisten-mu. Kalian akan banyak bertemu."
"Tidak masalah. Selama dia masih mempertahankan profesionalitas-nya. Aku tidak masalah dibenci."
"Apa yang membuatmu yakin wanita itu tidak akan mencoba mengacaukan pekerjaanmu?"
Gerakan Adrian membereskan dokumennya terhenti dan ia menatap Stephen tajam.
"Aku yakin, karena aku bisa melihat wanita itu dapat memisahkan urusan personal dengan profesionalnya. Wanita itu memiliki integritas dalam bekerja. Dan itu yang aku cari dari seorang asisten."
bagus bnget