Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Resep Rahasia

​Malam merayap makin larut di pinggiran Madiun. Keheningan yang menggigit menyelimuti bangunan Warung Nasi Broto yang telah sepi dari keriuhan pelanggan.

Pintu-pintu papan depan telah terpasang rapi, dan lampu-lampu di area makan telah dipadamkan, menyisakan hanya pendar kuning temaram dari satu-satunya lampu gantung di lorong tengah.

​Seluruh penghuni rumah telah lelap dalam keletihan setelah melayani gelombang pembeli yang tak putus-putus sepanjang hari.

Bayu tidur terlentang di bale-bale depan dengan senyum puas yang masih tertinggal di bibirnya, memeluk tas pinggang berisi uang jutaan rupiah hasil penjualan hari pertama.

Sementara Mia, Rian, dan Gilang meringkuk damai di kamar samping, tertidur lelap beralaskan kasur baru yang dibelikan oleh Pak Sapta.

​Hanya Galang yang tak sanggup memejamkan mata.

​Pukul dua dini hari, Galang terbangun oleh perubahan suhu udara yang drastis. Kamar terasa teramat dingin, hingga embun tipis merembes di kaca jendela.

Namun, bukan hawa dingin itu yang memaksa Galang menyibak selimutnya—melainkan sebuah bau yang mendadak menusuk rongga hidungnya.

​Bau itu bukan lagi sekadar aroma rempah kluwek atau gurihnya kuah daging. Bau itu adalah perpaduan amis darah yang membusuk, minyak mayat, dan uap sangit daging terbakar yang teramat pekat.

Bau itu membumbung dari arah dapur belakang, merayap perlahan menyusuri lorong kusam rumah mereka.

​Galang berdiri tanpa suara. Bertelanjang kaki, ia menyusuri lorong tengah yang remang-remang. Langkah kakinya mengapung pelan, menghindati timbulnya suara.

​Makin dekat ia ke dapur belakang, aroma amis itu makin kental hingga membuat kerongkongannya mual dan matanya berair. Dari balik celah pintu dapur kayu yang sedikit menganga, pendar cahaya merah samar keperakan membias pelan, memproyeksikan bayangan kaku di atas dinding semen.

​Galang merapatkan tubuhnya di dinding luar, lalu mengintip dari celah pintu yang terbuka dua sentimeter.

​Pemandangan di dalam dapur belakang membuat seluruh darah di tubuh Galang berhenti mengalir seketika.

​Di depan kuali besi raksasa yang diletakkan di atas tungku batu, berdiri sosok Bu Retno dan Pak Sapta. Lampu dapur sengaja dipadamkan; satu-satunya sumber cahaya berasal dari bara api merah darah yang membara liar di dalam mulut tungku batu di bawah kuali.

​Bu Retno mengenakan kain kemben batik cokelat tua kusam—pakaian ritual yang sama persis seperti saat Galang menemukannya membakar kain linen di kamar terkunci.

Wajah ibunya pucat pasi bagai kertas mati, dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya. Namun, senyum kaku dan simetris itu terukir lebar di bibirnya, memamerkan deretan gigi yang tampak pucat dalam kegelapan.

​Di sampingnya, Pak Sapta berdiri tegap. Pria paruh baya itu bertelanjang dada, memperlihatkan ukiran rajah hitam berbentuk garis-garis silang dan simbol Jawa kuno yang melingkupi seluruh punggung dan dadanya. Di tangan kanannya, Pak Sapta memegang sebuah kotak kayu jati bernuansa hitam yang ia bawa pada malam kedatangannya.

​"Sudah siap, Bu Retno?" suara Pak Sapta mengalun pelan, berat, dan bergema asing di dalam rongga dapur.

​Bu Retno mengangguk pelan dengan gerakan patah-patah yang mekanis.

"Waktunya sudah tiba, Pak. Kuali ini haus akan pengikatnya. Pembeli tadi pagi hanyalah umpan."

​Pak Sapta membuka tutup kotak kayu jati itu. Dari celah kotak, asap hitam pekat menguar naik membawa aroma amis yang teramat menyengat—bau yang membuat Galang harus menutup mulutnya erat-erat agar tidak berteriak atau muntah.

​Pak Sapta merogoh bagian dalam kotak kayu tersebut. Saat tangannya terangkat ke udara, Galang membelalakkan mata hingga irisnya menyempit hebat.

​Di dalam genggaman tangan Pak Sapta yang berhias dua ring akik merah darah, terdapat sepotong daging kehitaman berukuran sebesar kepalan tangan bayi.

Daging itu tidak utuh, tampak membusuk dengan cairan kental berwarna kehitaman yang menetes-netes jatuh ke atas lantai semen. Yang mengerikan, daging itu tampak berdenyut-denyut pelan—seolah-olah masih menyimpan sisa-sisa kehidupan yang membusuk secara ghaib!

​"Ini adalah sisa ari-ari dan jaringan dari 'Anak Pertama' ...," bisik Pak Sapta seraya mengangkat potongan daging berdenyut itu di atas permukaan kuali raksasa. "Penetap rasa terbaik yang ditinggalkan oleh Broto. Tanpa tumbal pertama ini, kuah rawon kalian hanya akan menjadi air biasa yang terlupakan."

​Bu Retno mengangkat kedua tangannya ke atas kuali, bibirnya yang tersenyum kaku mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno—sebuah litani cepat yang berdesing menyerupai dengungan ribuan lalat hijau yang mengerumuni bangkai.

​"Dengan darah yang pertama ... diikat janji yang kedua ...," bisik Bu Retno, suaranya tumpang tindih dengan suara bisikan ghaib yang seakan merembes dari sudut-sudut atap dapur.

​PLUNG.

​Pak Sapta menjatuhkan potongan daging berdenyut itu ke dalam kuali raksasa yang berisi racikan air dan rempah kluwek.

​Seketika itu juga, reaksi ghaib yang mengerikan terjadi di dalam kuali besi!

​Kuah di dalam kuali yang tadinya tenang mendadak bergejolak hebat, membuahkan gelembung-gelembung busa hitam pekat yang meletup-letup liar. Uap tebal berwarna keperakan membumbung tinggi menyentuh atap seng dapur.

Bau amis yang tadi menusuk mendadak berubah secara ajaib—berubah seratus delapan puluh derajat menjadi aroma gurih bumbu rawon yang teramat harum, memabukkan, dan sanggup menerbitkan air liur siapa saja yang menghirupnya.

​Galang yang mengintip di balik celah pintu merasakan pusing yang luar biasa. Aromanya berubah menjadi begitu nikmat secara instan, namun otak dan batinnya berteriak histeris menolak ilusi ghaib tersebut.

Daging membusuk dari anak pertama yang ditumbalkan ... dijadikan 'bumbu rahasia' untuk memikat seluruh warga kota Madiun.

​Pak Sapta meraih sebuah pengaduk kayu panjang dari jati tua, lalu mulai mengaduk kuah rawon yang bergejolak itu dengan putaran berlawanan arah jarum jam.

​"Sempurna," desis Pak Sapta dengan senyum dingin yang memancarkan dominasi mutlak. "Besok, orang-orang akan mengantre dua kali lebih banyak. Mereka akan menyerahkan uang mereka, dan energi kehidupan mereka akan terus memupuk pohon pesugihan ini."

​Bu Retno menghentikan rapal mantranya. Ia memandang ke dalam kuali yang kini mengeluarkan uap harum memikat.

​"Tapi Pak Sapta ...." Suara Bu Retno mendadak terdengar sedikit tergetar, sebersit rasa takut manusiawi melintas sekelibat di mata sayunya. "Bunga dari perjanjian ini ... kapan mereka akan menagih porsi utama? Bayu ...."

​Pak Sapta menghentikan gerakan pengaduk kayunya. Ia menoleh pelan pada Bu Retno, matanya berkilat di balik pendar bara api tungku.

​"Bayu itu merupakan kunci babak baru ini, Bu Retno," jawab Pak Sapta tenang tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Pernikahan kita bulan depan hanyalah formalitas untuk legalitas ghaib. Tapi sebelum pernikahan itu digelar ... 'Pintu' harus dibasahi oleh darah anak sulung biologis Broto yang masih hidup. Itu syarat mutlak agar cabang warung di luar Madiun bisa dibuka."

​"Bayu ... apa dia harus mati sebelum hari pernikahan?" bisik Bu Retno, bibirnya gemetar pelan, walau otot wajahnya dipaksa mempertahankan ukiran senyum kaku itu.

​"Bukan 'harus matu', Bu Retno," pangkas Pak Sapta seraya mencengkeram bahu kurus Bu Retno kencang. "Dia adalah persembahan yang sudah dijanjikan suamimu sejak sepuluh tahun lalu. Jadi, jangan berpura-pura sedih sekarang. Kamu sudah menikmati uangnya hari ini, bukan?"

​Bu Retno terdiam kaku. Senyum di wajahnya memekar kembali secara perlahan, mengubur sisa-sisa keibuan yang tersisa di dalam dadanya.

"Nggih ... Bayu akan menyerahkan bagiannya."

​Mendengar percakapan itu, dada Galang bagaikan dihantam oleh petir di malam gulita.

​Ketakutan yang luar biasa bercampur amarah yang membakar membuat lutut Galang gemetar hebat. Ia mundur satu langkah secara tak sengaja. Ujung kakinya menyenggol sebuah ember seng kosong yang tergeletak di samping pintu dapur.

​KLANG!

​Bunyi nyaring besi beradu itu membelah keheningan dapur yang mencekam.

​"Siapa di luar?!" teriak Pak Sapta gencar.

​Suara pengaduk kayu dijatuhkan ke lantai. Langkah kaki yang cepat dan berat merangsek mendekati pintu dapur!

​Galang tidak berpikir panjang lagi. Ia berbalik dan berlari secepat kilat menyusuri lorong tengah yang gelap, melompati bale-bale tempat Bayu tertidur lelap, lalu merobohkan tubuhnya di atas tikar pandan di sudut ruang tengah—berpura-pura terlelap dengan jantung yang memukul dadanya begitu keras hingga rasanya mau meledak.

​Pintu dapur belakang terhempas terbuka keras.

BUMM!

​Pak Sapta melangkah keluar ke lorong tengah, memegang tongkat kayu kepala naganya. Matanya yang tajam bagai elang malam menyapu seluruh sudut ruangan yang remang-remang.

Tangannya memegang lampu minyak tanah, membiaskan cahaya ke wajah Bayu yang masih mendengkur lelap di atas bale-bale, lalu beralih ke tubuh Galang yang terbaring kaku memunggungi ruangan dengan napas teratur yang dibuat-buat.

​Pak Sapta berdiri mematung di dekat tubuh Galang selama beberapa menit yang terasa bagaikan siksaan abadi. Bau minyak mayat dan tembakau mahal merayap kental di sekitar tubuh Galang.

​"Siapa pun yang mengintip di balik pintu ...," bisik suara Pak Sapta yang amat rendah, tepat di atas kepala Galang. "... kamu tidak akan pernah bisa mengubah garis takdir yang sudah tertulis di atas tanah kuburan."

​Langkah kaki Pak Sapta perlahan menjauh kembali menuju dapur belakang, diiringi oleh dentukan tipis tongkat kayunya di atas lantai semen.

Tuk ... tuk ... tuk.

​Di bawah selimut kusamnya, Galang membuka mata lebar-lebar dalam kegelapan. Air mata dingin menetes menyusuri pipinya. Tubuhnya bergetar hebat, ia mencengkeram ujung selimutnya jencang-kencang.

Bayu, kakak tertuanya yang sedang bermimpi indah tentang kemewahan warung, kini tinggal menghitung hari menuju ajalnya.

1
Its just a lunch
klo cuma mau nginep sementara waktu,knp gak minta izin pak kyai utk nginep di pesantren sih,malah kembali pulang ke markas iblis.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
kinoy
ni gmn sih masa mati smua
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Galang tidak minta ijin Kyai buat nginep di padepokan ya saja ya .... Biar ada yang membantu dia menghadapi datangnya malam Jumat Kliwon
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ini serius Galang tidak membawa Gilang pergi dari rumah ?
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Asphia fia
yg menang banyak Sapta Thor anak Retno mati semua, sedang Retno jg jiwanya telah mati siapa yg akan menikmati kekayaan & kekayaan nya klo bukan sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ... kenapa saat itu Juga pakk kyai tidak membantu Galang untuk pergi segera dasi tanah Jawa ini, jika memang itu satu satunya jalan.
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Asphia fia
apa dr p.broto dan Bu Retno gk ada keluarga Thor ko GK ada yg peduli
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tidak adakah tempat bernaung dan berlindung buat Galang menyelamatkan Gilang dari rumah itu???????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Disini ga diceritain soal reaksi warga yang melihat kematian anak pakk Broto secara berurutan dan dalam jarak waktu yang dekat , Thor ??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lagi .... dan lagi
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.

come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
kinoy
PGN komen kasar sbnrnya ke si Sapta ma si Retno .iblis kalian..Galang jg mst y CPT cari cara lain..dah tau pesugihan nyari ustad donk BKN dilawan sndr..maaf y KK otor. AQ gemes baca y&lama2 g sanggup..kyknya KLO msh kyk gini nunggu abis anak si Retno mati smua AQ ijin skip dl baca. jujur g sanggup baca y..maaf y
kinoy
edan..dah jls mengakui pesugihan ..menuntut tumbal
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
kasihan kondisi Rian dan Gilang.
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Mau menjerit sampai melengking ,
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
kinoy
ALLAHU RABBI..KA Anna..blm muncul kah sosok yg BS nyelametin mrk yg tersisa..ato EMG bkl dibabad abis tuh keturunan
Shankara Senja
buat Galang..klo belom punya ilmu mumpuni..jangan coba coba ngelawan iblis ya...nnt yg ada mlh kamu yg celaka..terus gmn nasib adik adik mu..berguru dulu jgn emosi
kinoy
AQ baca y SKT hati y..kasian ATH KLO Rian&gilang bnr2 ditumbalin mah..gd yg BS nolongin gt..bantuin Galang..tetangga sekitar gmn..KK otor tolongin donk..mewek AQ ni😭
kinoy
hs yg ba nolongin Galang&adik2nya gt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ..... apa yang akan kau lakukan, Galang .... untuk menyelamatkan Rian dan Gilang ?

Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kasihan Rian dan Gilang 😭
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!