Indonesia
NovelToon NovelToon
Move Up

Move Up

Status: tamat
Genre:Duniahiburan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sri mayanti

Masa lalu yang buruk adalah sebuah bayangan kelam didalam sisa perjalanan, tidak semua orang bisa menerimanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri mayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden tebal, menerangi ruangan yang luas dan mewah. Namun, suasana megah apartemen milik Adrian itu justru terasa semakin menyesakkan bagi Ardelia. Hari ini, gadis itu merasa sangat jenuh, seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas.

Dengan langkah malas, Lia mengambil ponsel di atas nakas, jarinya menekan nomor satu-satunya yang ada diphonebook.

Di seberang sana, Adrian mengangkat telepon di tengah tumpukan berkas pekerjaannya.

"Halo, Sayang?" suara berat Adrian terdengar di ujung telepon.

"Mas..." suara Lia terdengar lemah dan manja. "Aku boleh keluar sebentar nggak? Rasanya pengen sekali jalan-jalan dikit. Ada juga sih kebutuhan yang harus dibeli. Aku ke swalayan dekat apartemen aja kok, sebentar doang. Boleh ya, Mas?" tanyanya memohon, matanya memandang keluar jendela dengan tatapan memelas.

Adrian menghela napas panjang. Sebenarnya hatinya berat membiarkan Lia pergi sendirian, ia takut ada apa-apa dengan gadis itu. Tapi ia juga manusia, ia bisa merasakan betapa bosannya Lia berdiam diri di rumah seharian. Apalagi saat ini pekerjaannya di kantor benar-benar tak bisa ditinggalkan.

"Gimana kalau suruh Pak Joko yang antar dan temenin? Biar kamu nggak sendirian," tawar Adrian, masih berusaha melindunginya.

"Nggak usah, Mas..." Lia memotong cepat.

"Aku lagi pengen sendiri, mau jalan santai. Boleh ya... please?" suaranya semakin memelas.

Mendengar rayuan itu, luluhlah hati Adrian.

"Ya sudah, boleh. Tapi janji ya, jangan lama-lama. Belanja saja terus langsung pulang. Jangan keluyuran ke mana-mana, bahaya."

"Iya, iya. Makasih ya, Mas!" seru Lia riang sebelum menutup telepon.

 

Di swalayan, Lia berjalan santai mendorong troli, memilih-milih kebutuhannya dengan tenang. Namun, saat ia berjalan menuju antrean kasir, langkahnya sejenak terhenti.

Di depannya berdiri seorang wanita yang tampilannya sangat anggun dan elegan. Itu adalah Dinda. Beruntung gadis cantik tunangan Adrian itu tidak mengenalinya.

"Permisi, Mbak," sapa Dinda dengan sopan namun terdengar terburu-buru.

"Boleh saya duluan? Saya lagi buru-buru banget nih."

Lia tersentak, lalu tersenyum tipis dan mengangguk. "Oh, iya. Silakan."

Lia mundur sedikit, membiarkan wanita itu membayar lebih dulu. Saat Dinda sedang menunggu struk keluar. Dengan santai Dinda menelepon seseorang dan menyebut nama Adrian berkali-kali. Jantung Lia serasa diremas kuat.

Darah seketika berdesir hebat, rasa cemburu dan sakit menyayat hatinya secara tiba-tiba. Lia menunduk, menggigit bibir bawahnya. Ia melihat bagaimana Dinda berbicara dengan percaya diri, menyebut nama kekasihnya dengan begitu lepas.

“Dia Dinda. Dia tunangannya. Sedang aku, apa? Hanya simpanan, hanya pelarian,” batin Lia bergetar. Rasa rendah diri menyeruak. Ia sadar betul posisinya. Ia tidak punya hak apa-apa untuk marah atau cemburu.

“Nikmati saja selagi bisa, Lia. Nanti juga kalau Mas Adrian sudah bosan, sudah puas, aku pasti akan dilepaskan seperti barang bekas,” pikirnya getir, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di tempat umum.

...

Menjelang senja, Adrian pulang ke apartemen. Lia segera menyambutnya di depan pintu dengan senyum termanis yang bisa ia paksakan, meski hatinya masih terasa perih.

"Mas sudah pulang..."

Lia meraih tangan Adrian dan menciumnya.

"Iya, Sayang. Gimana belanjanya? Dapet semua yang dicari?" Adrian mengusap kepala wanitanya itu lembut.

Lia mengeluarkan barang-barang yang dibelinya dari kantong belanja, lalu menyerahkan secarik kertas putih.

"Ini struknya, Mas. Lia tadi pakai kartu yang Mas kasih."

Adrian menerima struk itu dan melihat total pembayarannya. Hati pria itu seketika terenyuh dan terharu. Selama ini Lia memang jarang sekali menggunakan kartu yang ia berikan. Gadis ini sangat berbeda dengan wanita-wanita lain yang pernah melayaninya, mereka selalu memborong barang mewah dan menghamburkan uang.

Bahkan untuk membeli kebutuhan pribadinya sekecil apa pun gadis itu selalu bertanya dan meminta izin terlebih dahulu. Tidak pernah manja, tidak pernah menuntut banyak hal.

“Benar-benar berbeda...” batin Adrian terpukau. Ia menatap wajah polos gadis di depannya. Lia bukan wanita pengincar harta.

Lia wanita yang tulus, sederhana, jujur, dan hatinya sebersih salju. Semakin lama ia melihatnya, semakin Adrian merasa jatuh hati dan tak ingin melepaskan gadis itu.

"Mas..." Lia mulai memberanikan diri, suaranya pelan. "Tadi di swalayan... Lia ketemu Dinda."

Adrian sedikit terkejut, namun ia segera melihat ekspresi wajah Lia. Ada kesedihan dan rasa cemburu yang tergambar jelas di sana. Lia terlihat sangat tidak percaya diri.

"Terus dia telepon seseorang... bahas makan malam keluarga, Mas ada acara makan malam hari ini?" tanya Lia sambil menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.

Melihat kekasihnya itu terluka dan merasa tersaingi, Adrian segera menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukan.

"Sayang..." bisik Adrian di telinga gadis itu, suaranya berat dan memukau.

"Lihat aku."

Lia mendongak perlahan.

"Dinda itu aku terima hanya untuk menuruti kemauan ibu, tapi kamu... kamu adalah canduku. Hati aku cuma ada di sini, di depan mataku sekarang. Jangan pernah merasa rendah diri ya, Sayang. Di mataku, nggak ada yang bisa ngalahin kamu. Kamu satu-satunya wanita yang bikin aku merasa tenang dan dicintai," ujar Adrian lembut, jari-jarinya membelai pipi mulus Lia.

Rayuan halus dan kata-kata manis itu perlahan meluluhlantakkan keraguan dan rasa sakit di hati Lia. Rasa cemburu itu berganti menjadi rasa dimiliki dan dicintai.

Wajah Lia memerah, matanya yang tadi sedih kini kembali berbinar. Ia percaya sepenuhnya pada pria di hadapannya.

Suasana ruangan yang hangat perlahan berubah menjadi semakin intim dan mendesis. Napas mereka mulai memburu, tatapan mata penuh hasrat. Adrian menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan membara.

Di bawah naungan lampu kamar yang remang-remang, keduanya pun akhirnya larut dalam kehangatan malam, melupakan dunia luar, dan menikmati setiap detik kebersamaan dalam pergumulan cinta yang panas dan membara.

1
anggita
novel anyar.. 👍👆
Sri Mayanti: mohon bimbingan dan koreksinya Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!