Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.1 "identitas baru"
Season 2
Rania berjalan menyusuri kapal yang akan membawanya pergi setelah ini, Arkan tak banyak gerak dalam gendongannya karena putranya itu sedang sibuk memainkan ibu jari kecilnya.
“Apakah anda berencana menjualnya?” Rania mengerutkan kening mendengar percakapan Pras dengan seseorang yang ditelponnya.
“Baik, setelah ini kita akan berangkat dan ketika sampai sana saya akan pastikan Rania berada di tangan Tuan Philips, rekan bisnis anda.” Rania melotot tak percaya mendengarnya, ia tak habis pikir rupanya Rama dengan tega menjualnya.
“Saya akan pisahkan anaknya. Setelah berangkat ada sepasang suami istri yang bersedia membeli Arkan. Kita sedang menunggunya.” Rania gemetar, didekaonya Arkan dengan erat lalu perlahan pergi diam-diam meninggalkan ruangan tersebut.
Rania bersembunyi di tempat ganti baju pelayan, ia berusaha memutar otak agar bisa pergi dari sana.
Akhirnya dengan terburu-buru karena waktu yang mendesak, Rania mengganti bajunya dengan pelayan, lalu memasukan Arkan yang untungnya lebih suka diam akhir-akhir ini ke dalam tas.
Rania mengumpulkan harta benda apa saja yang sekiranya bisa ia gunakan untuk pergi dari tempat laknat tersebut.
Dengan hati-hati dan pelan Rania berjalan tenang melewati para penjaga tanpa ada yang mencurigainya.
Sedangkan di tempat lain, Pras dan tuannya mengawasi Rania dari layar laptop.
Rupanya sedari tadi Pras pura-pura menelpon tuannya. Semua ide itu adalah perintah langsung dari sang majikan.
“Tuan, saya tidak menyangka rencana kita berhasil.” Ungkap Pras saat tuannya itu tertawa melihat wajah panik Rania memasuki salah satu kapal penumpang.
“Dengan begitu, dia akan berpikir bahwa orang tuanya begitu tega menjualnya. Dan aku hanya tinggal melihat kehancuran keluarga bodoh itu satu persatu.” Ujar majikan Pras
“Tapi, tuan. Apakah anda yakin akan melepasnya?” Tanya Pras yang kemudian membuat tuannya tertawa terpingkal-pingkal.
“Siapa bilang aku akan melepaskannya? Atur supaya dia pergi ke Bali dan menemui orang suruhan kita di sana. Aku sengaja membiarkan dia seolah lolos dari takdir buruk dan hidup bahagia bersama anaknya. Akan tetapi ia tidak tahu nanti di Bali kita akan perlahan menghancurkan hidupnya. Dendam ku akan terbalas melihat mereka sekeluarga hancur.” Majikan Pras begitu antusias bercerita terkait rencana jahatnya terhadap Rania.
“Ingat jangan sampai Kevin tahu akan hal ini. Anak itu begitu cerdik, hingga membuatku memutar otak untuk membalaskan dendam ku.” Pras mengangguk mengerti akan perintah majikannya itu.
“Tapi saya rasa, Kevin sudah bertindak tanpa anda ketahui, Tuan.” Kata Pras menyebut Kevin yang tak lain adalah temannya itu tanpa embel-embel tuan.
“Apa maksudmu?” Majikannya mengernyit bingung mendengar pernyataan Pras.
“Sama seperti anda, Kevin juga sedang membalaskan dendam melalui boneka barunya, Tuan Dimas.” Beberapa detik hening, akhirnya tawa dari keduanya terdengar memenuhi ruangan tersebut.
-
“Kau yakin, Vano? Jenazah istrimu akan dikirim ke Indonesia setelah ini. Apa kau yakin tidak mengantarnya?” Tanya Amar pada anaknya yang kini tengah memeriksa dokumen perusahaan.
Semenjak kematian Keisha sikap Vano menjadi lebih dingin dan kejam dari sebelumnya.
“Aku akan ke Indonesia beberapa hari lagi.” Jawab Vano acuh, sedangkan Amar menghela napas lalu memejamkan matanya.
“Baiklah kalau begitu, aku yang akan mengantarkannya.” Setelah itu Amar pergi meninggalkan Vano yang masih fokus dengan pekerjaannya.
Vano memandang datar pintu yang tertutup, ingin rasanya ia ikut mengantar jenazah Keisha ke Indonesia.
Akan tetapi hatinya belum siap mengingat semua kesalahannya, hatinya tidak begitu hebat menerima apa yang telah digariskan olehnya.
Melepaskan orang-orang berharga dalam hidupnya dalam sekali waktu membuat Vano hancur seketika.
-
Hiruk pikuk pelabuhan sudah terlihat dari kejauhan, Rania bersiap untuk turun dari kapal, semula ia tidak menyangka akan semudah ini kabur.
Akan tetapi ketakutan selanjutnya adalah terkait identitasnya, Rania bahkan tidak membawa kartu atau surat apapun yang menandakan identitas dirinya.
“Oeee.” Rania tersenyum hangat melihat Arkan yang menangis kelaparan.
“Maafin mama ya, sayang. Tadi mama terpaksa umpetin kamu di dalam tas. Lapar ya? Bentar ya mama cari tempat untuk menyusui dulu.” Rania celingukan mencari ruangan menyusui.
Setelah bertanya pada petugas Rania pun segera memasuki ruangan yang ditunjukan oleh petugas tadi.
“Hei, Nak.” Rania menoleh kesamping melihat siapa orang yang memanggilnya, dahinya berkerut karena merasa asing dengan orang itu.
“Tenang saja, aku bukan orang jahat. Kau terlihat lusuh dan mencurigakan.” Rania terkejut mendengar penuturan orang tersebut, ia ingin mengelak akan tetapi tampang nya memang mencurigakan.
“Sudah ku katakan tenanglah. Aku akan membantumu, banyak orang bernasib sama sepertimu.” Rania tidak yakin terhadap orang di depannya, ia hendak pergi menjauhi orang tersebut akan tetapi lengannya ditahan.
“Ada yang mengikutimu, jika kau punya suatu barang berharga akan kuusahakan untuk membantumu.” Gerakan Rania terhenti mendengar bisikan orang tadi.
Diikutinya arah pandang orang yang sedang memegang tangannya itu dan alangkah terkejutnya ia mendapati beberapa anak buah Pras berada tidak jauh darinya.
“Aku memiliki sedikit uang dan perhiasan, ambilah sesukamu tapi bantu aku lepas dari mereka, Nyonya.” Mohon Rania pada wanita berumur yang dipanggilnya Nyonya itu.
“Bagus, ikut aku! Tapi sebelum itu kau perlu ganti pakaian mu.” Rania menerima pakaian ganti yang diberikan oleh wanita tersebut.
Tak lama setelah berganti Rania pun pergi bersama wanita tersebut, tidak tanggung nganggung wanita itu membawa Rania pergi dari pelabuhan menggunakan mobil jadul keluaran lama.
“Nona, aku tidak punya tempat tujuan.” Kata Rania menyadari ia sudah pergi lumayan jauh dari pelabuhan.
Ckittt
“Apa maksudmu?” Tanya wanita tadi setelah memberhentikan paksa mobilnya.
“Maaf, apakah anda memiliki saran tempat untuk singgah bagi orang sepertiku?” Rania menunduk merasa bersalah. Wanita setengah tua itu menghela napas.
“Hahhh... Kau yang paling malang dari sekian banyak orang yang kutemui.” Rania merintis mendengar perkataan wanita tersebut.
“Kau boleh tinggal di rumah ku, kebetulan aku perlu pembantu.” Rania menatap wanita tadi dengan binar kelegaan dan dengan segera ia mengucapkan banyak kata terimakasih hingga membuat wanita itu kesal.
“Ingat! Kau juga harus mencari pekerjaan, aku butuh uang sewa.” Rania mengangguk cepat sebagai jawaban.
Sesampainya mereka di rumah sang wanita tadi, Rania segera ditunjukan kamarnya.
Meskipun rumah itu tergolong kecil, sempit dan sedikit berantakan namun Rania sangat bersyukur karena telah memiliki tempat tinggal.
“Panggil aku Nanny. Ok!” Rania tersenyum lalu tertawa saat wanita yang minta di panggil Nanny itu pergi, jika dilihat umurnya sekitar 40an tapi style nya bahkan mengalahkan Rania.
Rania tiba-tiba teringat oleh Marni, wanita tua yang seharusnya kini tengah menggendong cicit darinya.
Rania menghela napasnya, jika terus meratapi masa lalu ia akan merasa sedih oleh karena itu Rania segera menggerakkan badannya dengan cekatan untuk membenahi kamar yang nantinya ia dan bayinya pakai.
Setelah selesai membenahi kamarnya dan menidurkan Arkan, Rania pergi keluar kamar untuk menemui Nanny.
Dilihatnya Nanny tengah berbaring di atas kursi sembari menonton televisi. Rania pun menghampiri wanita tersebut.
*Telah terjadi kecelakaan pesawat pribadi milik pengusaha ternama asal Indonesia, Revano Anggarda, yang menewaskan seluruh penumpang. Pesawat tersebut ditumpangi oleh ayahnya yang juga salah seorang pengusaha sukses asal Indonesia, Amar Anggarda.* Belum sempat Rania memanggil Nanny, tubuhnya terasa kaku mendengar berita tersebut.
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..