Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Suara langkah kaki di tangga.
Keduanya langsung menoleh. Irawan muncul di puncak tangga, berjalan turun dengan langkah pelan dan gontai. Ia memakai kaos oblong yang sudah kusut dan celana pendek. Rambutnya acak-acakan. Matanya sayu.
Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya ekspresi seseorang yang sedang berada di dua tempat sekaligus. Tubuhnya di sini, tapi pikirannya entah di mana.
"Awan," panggil Ratna pelan. "Sini, Nak. Mama bikinin teh."
Irawan berhenti di anak tangga terakhir. Menatap ibunya dengan pandangan kosong. "Nggak usah, Ma. Aku cuma mau ambil air."
"Bentar, Wan. Sini duduk dulu." Hartono menunjuk sofa. "Papa mau ngomong."
Tidak ada jawaban. Irawan hanya berdiri di sana, menatap ayahnya seperti menatap orang asing.
"Wan," Hartono mengulang, kali ini dengan nada lebih tegas. "Sini."
Akhirnya Irawan bergerak. Ia berjalan ke sofa, duduk di ujung yang paling jauh dari kedua orang tuanya. Tubuhnya menegang. Matanya terus bergerak ke arah ponsel di sakunya, seperti pecandu yang sedang menahan diri untuk tidak meraih narkobanya.
"Awan," Ratna mulai, suaranya hati-hati. "Kamu kenapa akhir-akhir ini? Mama sama Papa khawatir."
"Aku nggak kenapa-kenapa, Ma."
"Kamu nggak tidur. Nggak makan. Kamu terus-terusan di kamar. Itu nggak kenapa-kenapa?"
Irawan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, jemarinya saling bertautan di pangkuan.
"Siapa Lusi, Wan?" tanya Hartono tiba-tiba.
Kepala Irawan langsung terangkat. Matanya berbinar untuk pertama kalinya sejak ia turun. "Lusi? Mama Papa tahu Lusi?"
"Belum. Makanya Papa tanya."
"Lusi itu..." Irawan tersenyum senyum lebar yang sudah lama tidak terlihat di rumah ini. "Lusi itu pacarku. Dia segalanya, Pa. Dia cantik. Dia baik. Dia perhatian. Dia..."
"Cantik?" potong Ratna. "Dari fotonya biasa aja, Wan. Kamu yang dulu aja nggak pernah segila ini sama cewek."
"Jangan ngatain Lusi, Ma!" Suara Irawan tiba-tiba meninggi. Matanya menyala. "Lusi itu beda! Lusi itu bukan cewek biasa! Lusi itu... Lusi itu... Lusi itu hidupku!"
Ratna tersentak. Hartono menegang.
Mereka belum pernah melihat putranya seperti ini. Marah membela seseorang. Marah karena perkataan tentang seseorang. Irawan yang mereka kenal adalah anak yang cuek, yang tidak peduli pada apa pun kecuali dirinya sendiri.
"Wan, Mama cuma…"
"Cukup, Ma!" Irawan berdiri. Napasnya memburu. "Aku nggak mau ngomongin Lusi sama kalian! Kalian nggak ngerti! Nggak ada yang ngerti! Cuma Lusi yang ngerti aku! Cuma Lusi!"
Dan tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berlari naik ke kamarnya. Pintu dibanting keras.
Braaak!
Ratna menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. "Pa... itu bukan Awan kita. Itu bukan anak kita."
Hartono menatap tangga kosong dengan rahang mengeras. "Kamu benar, Ma. Ini nggak normal."
Kamar Irawan.
Irawan duduk di lantai kamarnya. Lampu mati. Hanya cahaya ponsel yang menerangi wajahnya.
Ia membuka galeri. Foto-foto Lusi. Semuanya. Foto yang dulu ia ambil diam-diam di kantin. Foto saat mereka masih pacaran. Foto yang sekarang ia pandangi seperti seorang pecandu memandangi barang haramnya.
"Lus..." bisiknya pada layar ponsel. "Kok lo nggak bales chat gue? Gue tungguin dari tadi. Lo di mana? Lo ngapain? Lo kangen nggak sama gue? Gue kangen. Kangen banget. Rasanya... rasanya dada gue sesek, Lus. Kayak ada yang ngiket. Kayak ada yang narik-narik..."
Air matanya jatuh. Satu per satu. Membasahi layar ponsel.
"Gue sayang lo, Lus. Gue sayang banget. Tolong... tolong bales..."
Ruang keluarga.
Saat yang bersamaan.
"Kita harus ngelakuin sesuatu, Pa."
Ratna sudah tenang sekarang, tapi matanya masih merah. Ia duduk tegak di sofa, kedua tangannya di atas lutut. Wajahnya serius.
"Apa yang bisa kita lakuin? Bawa ke psikolog? Ke psikiater?"
"Aku udah coba. Dia nolak. Ngamuk-ngamuk malah."
"Ke ustad? Ke gereja?"
Ratna menggeleng. "Aku udah coba juga. Nggak mempan. Malah makin parah."
Hartono menghela napas. "Terus mau gimana?"
Ratna menatap suaminya. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang berat, sesuatu yang baru. "Aku... aku denger dari Tante Yuli. Dia bilang, anaknya dulu pernah kena guna-guna. Sama mantannya. Anaknya jadi nggak bisa tidur, nggak bisa makan, selalu nurut sama mantannya itu. Persis kayak Awan."
"Terus?"
"Terus Tante Yuli bawa anaknya ke... orang pintar."
Hartono memijat keningnya. "Kamu bilang orang pintar? Dukun?"
"Sebut aja apa, Pa. Tapi anaknya sembuh. Ikatan guna-gunanya diputus. Anaknya balik normal."
"Ma, kita nggak bisa percaya sama hal-hal kayak gitu. Ini zaman modern. Irawan cuma lagi stress atau apa. Kita harus cari psikiater yang lebih bagus…"
"PAPA!" Ratna berdiri. Suaranya bergetar, tapi tegas. "Aku nggak bisa diem aja lihat anak aku makin hancur tiap hari! Kalau Papa nggak mau bantu, aku cari dukun itu sendiri!"
Hartono menatap istrinya. Di matanya, ada perang batin. Sebagai pengusaha, ia terbiasa berpikir logis, terukur, dan berdasarkan data. Tapi sebagai ayah... ia juga melihat apa yang dilihat istrinya. Anaknya hancur. Anaknya berubah. Anaknya seperti terperangkap dalam sesuatu yang tidak terlihat.
Akhirnya, ia menghela napas panjang. "Dukun mana?"
Pukul 23.00.
Ratna sedang menelepon Tante Yuli di kamar tidurnya. Hartono duduk di tepi kasur, mendengarkan dengan wajah serius.
"Iya, Yul. Itu dulu ke siapa? Ki... siapa? Ki Banespati? Di mana? Gunung Kawi? Jauh ya. Tapi nggak apa-apa. Aku mau ke sana. Besok. Kamu bisa anter? Oke. Oke. Makasih banyak, Yul. Iya, titip doa aja. Aku juga nggak nyangka bakal kayak gini..."
Ia menutup telepon, lalu menoleh ke suaminya. "Namanya Ki Banespati. Di Gunung Kawi. Kata Tante Yuli, dia dukun sakti. Spesialis ngilangin guna-guna. Juga bisa... ngirim."
"Ngirim?"
Ratna menelan ludah. "Santet, Pa. Kalau memang perlu."
Hartono menatap langit-langit. "Kita nggak akan minta yang aneh-aneh dulu. Kita cuma mau anak kita balik normal."
"Tapi kalau perlu, Pa..." Suara Ratna pelan. "Perempuan itu... Lusi itu... dia yang ngelakuin ini ke Awan. Aku yakin. Dan dia harus nerima akibatnya."
\[BERSAMBUNG…\]
oh ya si Lusi ngeri ya TDK memanusiakan orang
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️