Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Ciburial
Pagi datang lebih cepat dari yang mereka kira. Cahaya matahari baru saja menyelinap melalui celah tirai ketika suara langkah kaki mulai terdengar di ruang tengah rumah. Sejak subuh, rumah itu sudah tidak benar-benar tidur. Percakapan tentang Ciburial semalam membuat hampir semua orang sulit memejamkan mata. Hari ini mereka akan berangkat. Bukan untuk mendaki. Bukan pula untuk sekadar mengunjungi sebuah desa. Mereka hendak kembali ke tempat yang selama beberapa hari menjadi tempat tinggal bagi Arga dan tempat yang mungkin menyimpan rahasia tiga puluh tahun yang hanya dijalani tiga hari sajq bagi seseorang.
Dedi berdiri di dekat meja ruang tengah sambil memeriksa kembali catatan yang dibuatnya semalam.
"Coba kita pastikan lagi." Ia membuka buku catatan.
"Dokumen identitas?"
"Ada," jawab Ayah Arga.
"Obat-obatan?"
"Ada."
"Air minum?"
"Sudah."
"Perlengkapan darurat?"
"Ada juga."
Dedi mengangguk. Sementara itu, Arga sedang memeriksa dua buah carrier yang diletakkan di dekat pintu. Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membawa kebutuhan selama perjalanan. Bima keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian sederhana. Ia berhenti sejenak ketika melihat semua perlengkapan itu.
"Jadi benar-benar berangkat hari ini?"
Dedi menoleh.
"Kalau bukan hari ini, kapan lagi?"
Bima tersenyum tipis.
"Akang kelihatannya lebih siap daripada aku."
"Karena Akang sudah tiga puluh tahun menunggu kesempatan ini."
Jawaban itu membuat Bima terdiam.
Dedi kemudian mendekat.
"Kamu yakin ikut?"
Bima mengangguk.
"Sangat yakin."
"Perjalanan ini mungkin tidak mudah."
"Aku tahu."
"Dan mungkin banyak hal yang akan menemukan rahasia kamu dan teman-teman mu yang hilang pada masa lalu."
Bima menatap carrier di depannya.
"Itu justru alasan aku harus ikut."
Dedi tidak lagi bertanya. Ia hanya menepuk bahu adiknya.
"Baik."
Dari dapur terdengar suara Maya.
"Sudah sarapan! Jangan berangkat dalam keadaan perut kosong!"
Arga langsung tersenyum.
"Nah, ini yang paling penting."
Mereka akhirnya berkumpul di meja makan. Tidak banyak makanan. Hanya nasi, telur, tumis sayuran, beberapa potong ayam, dan teh hangat. Namun pagi itu terasa berbeda. Ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Bahkan saat makan pun, hampir semua orang masih memikirkan satu hal.
Apa yang akan mereka temukan di Ciburial?
Setelah sarapan selesai, persiapan kembali dilanjutkan. Dedi memasukkan peta ke dalam plastik kedap air. Beberapa salinan peta juga dibuat sebagai cadangan. Arga memastikan ponselnya terisi penuh. Ayah Arga memeriksa kendaraan yang akan mereka gunakan.
Sekitar pukul delapan pagi, semuanya benar-benar siap. Kendaraan telah diperiksa. Perbekalan sudah masuk. Air minum, makanan ringan, obat-obatan, senter, baterai cadangan, jas hujan, tali, pisau kecil untuk kebutuhan darurat, serta beberapa perlengkapan lainnya sudah disusun rapi. Dedi bahkan membawa dua buah power bank besar.
Arga melihat semua itu sambil tersenyum.
"Kang Dedi."
"Hm?"
"Kalau kita cuma ke desa, kenapa bawa perlengkapan sebanyak ini?"
Dedi meliriknya.
"Karena kita belum tahu apa yang akan terjadi."
Arga mengangguk.
"Benar juga."
Bima berdiri di depan rumah. Ia memandang jalan di hadapannya. Entah kenapa dadanya terasa berdebar. Baginya baru sekitar dua minggu lalu dia pamit mendaki namun ternyata tiga puluh tahun lalu ia pergi. Dan hari ini ia justru kembali pergi namun sebagai orang yang berusaha mencari jawaban.
Dedi berdiri di sampingnya.
"Takut?"
Bima menggeleng.
"Entahlah."
Ia tersenyum kecil.
"Rasanya seperti akan menemukan hal besar."
Dedi menatap adiknya.
"Memang kemungkinan Ciburial adalah Tempat yang menyimpan jawaban."
Bima terdiam. Kemudian mengangguk.
"Semoga."
Perjalanan dimulai. Kendaraan perlahan meninggalkan rumah. Di dalam, Bima duduk bersebelahan dengan Dedi. Arga duduk di bagian depan bersama ayahnya. Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Perjalanan dari Bandung ternyata memakan waktu lebih lama daripada perkiraan mereka. Mereka berangkat pagi dengan persiapan yang cukup matang. Namun semakin jauh kendaraan meninggalkan kawasan perkotaan, jalan yang mereka lalui semakin sepi. Pepohonan mulai mendominasi sisi kanan dan kiri jalan. Bima lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Sesekali ia membuka peta. Sesekali pula pandangannya terlempar keluar jendela. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan setiap kali melihat hutan. Seperti ada bagian dari dirinya yang mengenali tempat-tempat yang sebenarnya tidak ingin ia ingat.
Menjelang siang, kendaraan akhirnya berhenti di sebuah kawasan yang menjadi batas antara permukiman dan hutan. Di depan mereka terbentang jalan yang mulai berubah. Aspal perlahan menghilang. Sebagian jalan hanya berupa tanah keras dan batu yang tertata alami. Di kejauhan, pepohonan berdiri rapat.
Arga langsung mengenali suasana itu. Ia turun dari kendaraan.
"Ini."
Dedi ikut turun.
"Yakin?"
Arga mengangguk.
"Suasananya mirip. Kalau menurut mas Bima?"
Bima berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia memperhatikan hutan itu.
"Iya ini memang pintu masuknya. Aku ingat melihat warung itu saat mobil logistik yang kita tumpangi keluar hutan."
Dedi mengangguk.
"Kita cari informasi dulu."
Mereka kemudian berjalan menuju beberapa warung yang berdiri tidak jauh dari tepi hutan. Ada beberapa warga yang sedang duduk menikmati kopi.
Dedi mendekat dengan sopan.
"Permisi, Pak."
Seorang lelaki yang sedang menyeruput kopi menoleh.
"Iya?"
"Kami mau bertanya."
"Tanya apa?"
Dedi membuka peta.
"Apakah Bapak tahu Kampung Ciburial?"
Beberapa orang yang sedang duduk langsung saling pandang. Salah seorang warga tertawa kecil.
"Ciburial?"
"Iya, Pak."
"Yang di atas?"
Dedi mengangguk.
"Iya."
Warga itu menunjuk ke arah hutan.
"Jauh."
"Kalau dari sini berapa lama, Pak?"
"Kalau jalan kaki?" Ia berpikir sebentar.
"Lumayan jauh. Dan memang tidak pernah ada yang jalan kaki kesana. Apalagi jalannya bukan jalur orang biasa. Dan ada larangan berada di hutan itu malam hari. Jadi harus menyesuaikan waktu agar tidak kemalaman."
Arga langsung menyela.
"Kalau kendaraan yang kesana?"
Warga tersebut menggeleng.
"Jarang. Paling mobil logistik sama mobil pengangkut kopi."
Warga itu menunjuk jalan masuk hutan.
"Kadang mobil yang bawa kebutuhan warga. Beras, minyak, gas, macam-macam dan Mobil kopi. Biasanya membawa kopi dari kebun atau gudang di atas. Ada jadwalnya."
Arga langsung saling pandang dengan Dedi. Persis seperti yang ia tahu.
"Kalau warga biasa mau ke Ciburial, bagaimana?" tanya Dedi.
Warga itu tertawa kecil.
"Tapi buat apa sengaja ke sana? Kampungnya memang ada, tapi jauh dan terpencil. Orang luar hampir tidak pernah ke sana."
"Berarti memang hampir tidak ada pendaki?"
"Pendaki?"
Warga itu mengerutkan dahi.
"Mana ada pendaki lewat sana?"
Arga menundukkan kepala. Jawaban itu semakin menguatkan ceritanya. Ciburial memang bukan jalur pendakian biasa.
Dedi kemudian bertanya,
"Kalau mobil kopi biasanya masuk kapan, Pak?"
Warga itu menatap jam tangannya.
"Besok."
"Besok?"
"Iya."
"Jam berapa?"
"Biasanya selepas subuh."
Dedi menatap Arga. Arga langsung tersenyum. Seolah mereka baru saja mendapatkan apa yang dicari.
"Berarti besok ada mobil yang masuk?"
"Ada."
"Kalau kami mengikuti dari belakang, boleh?"
Warga itu tertawa.
"Kalau kalian mau, ya silakan. Tapi jangan sampai mengganggu."
"Tentu, Pak."
"Kalau kalian belum pernah ke sana, lebih baik jangan sendirian."
Dedi mengangguk.
"Memangnya jalannya seperti apa?"
Warga itu menunjuk ke arah hutan.
"Jalan besar, tapi panjang. Dan setelah masuk, jangan berharap ada sinyal."
"Berapa lama?"
Ia berpikir sebentar.
"Kalau mobil yang sudah biasa mungkin cepat. Tapi kalau pertama kali..." Ia mengangkat bahu.
"Yang penting jangan berhenti sembarangan."
Arga langsung menoleh.
"Kenapa?"
Warga itu terdiam sejenak.
"Nggak tahu juga."
"Nggak tahu?"
"Orang-orang tua di sini cuma bilang begitu." Ia menyeruput kopinya.
"Katanya kalau sudah masuk, terus saja sampai tujuan."
Dedi tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya mengangguk.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Mereka kembali ke kendaraan. Bima masih memikirkan ucapan warga tadi. Jangan berhenti sembarangan. Kalimat itu mengingatkannya pada sesuatu. Ia pernah mendengar kalimat serupa.
Bukan dari warga. Tetapi dari seseorang yang ia temui di masa lalu saat dirinya berusaha mencari bima. Bima menggeleng pelan.
"Kenapa?"
Dedi menoleh.
"Sepertinya aku pernah mendengar larangan seperti itu."
Arga langsung menatapnya.
"Di Ciburial?"
"Entahlah."
Bima memandang hutan.
"Mungkin."
Hari sudah semakin sore ketika mereka menyadari satu masalah. Tempat istirahat yang belum ada. Bisa saja di mobil, tapi jika ada yang lebih baik, akan sangat membantu mengingat perjalanan mereka besok tidaklah sebentar.
Tak jauh dari pintu masuk hutan terdapat sebuah warung sederhana. Bangunannya terbuat dari kayu dan seng. Di bagian belakang terdapat ruangan kecil yang tampaknya biasa digunakan pemilik warung untuk beristirahat.
Dedi berbicara dengan pemilik warung.
"Pak, kami boleh numpang tidur semalam?"
Pemilik warung memandang mereka beberapa saat.
"Mau ke Ciburial?"
"Iya."
"Besok ikut mobil kopi?"
Dedi mengangguk.
"Kalau begitu boleh."
Mereka mengucapkan terima kasih. Malam itu mereka akhirnya tidak mencari penginapan. Tidak ada hotel. Tidak ada rumah warga. Hanya sebuah warung sederhana di tepi hutan. Mereka makan malam seadanya. Nasi, telur, mie instan, dan kopi panas. Arga duduk menghadap pintu warung. Di luar, hutan sudah gelap. Angin malam sesekali membuat daun-daun bergerak.
Bima duduk di sampingnya.
"Kamu masih ingat jalan setelah masuk?"
Arga menggeleng.
"Sebagian."
"Sebagian?"
"Iya. Ingatanku tentang Ciburial cukup jelas. Tapi jalur keluar saat ikut mobil logistik, hanya hutan. Seingat aku malah jalan nya hanya lurus. Tapi kalau dipikir-pikir nggak mungkin." Arga hanya tertawa kecil setelahnya.
Bima mengangguk.
"Aku juga merasa begitu, tapi... Besok kita lihat bersama."
"Iya."
Dedi yang sedang menyiapkan barang mendengar percakapan itu.
"Besok kita jangan terlalu banyak berharap pada ingatan."
Arga menoleh.
"Kenapa?"
"Karena kita tidak tahu apa yang akan kita temukan."
Dedi memasukkan peta ke dalam tas.
"Kita lihat semuanya dengan kepala dingin."
Semua mengangguk. Malam semakin larut. Satu per satu mereka mulai merebahkan tubuh. Bima menjadi orang terakhir yang belum tidur. Ia duduk di teras warung. Di depannya, hutan terbentang dalam kegelapan.
Tiga puluh tahun lalu...
Waktu yang hanya terasa beberapa minggu baginya. Dan mungkin di tempat seperti inilah semuanya bermula akan menemukan jawaban nya satu persatu.
Ia menatap pepohonan.
"Arif..." Namanya terucap lirih. Kemudian Bayu. Rasyid. Amin. Asep.
Bima menundukkan kepala.
"Besok kami datang."
Ia tidak tahu kepada siapa ia berbicara. Mungkin kepada sahabat-sahabatnya. Mungkin kepada dirinya sendiri. Atau mungkin kepada hutan yang selama tiga puluh tahun menyimpan semua rahasia. Dari kejauhan terdengar suara serangga malam. Bima akhirnya berdiri dan masuk ke warung. Besok selepas subuh, mereka akan mengikuti mobil kopi menuju Ciburial.
Mereka akan benar-benar memasuki jalur yang selama ini hanya hidup dalam ingatan Arga dan Bima. Tidak ada yang tahu apa yang menunggu mereka di dalam sana. Tetapi satu hal sudah pasti. Besok, perjalanan menuju jawaban akan benar-benar dimulai.
banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.
masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍