Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Batuk Asti 12
“Mama pintar sekali, dengar kan Rani, kau akan sembuh, ibu dan ayahmu juga akan disembuhkan, semua orang juga akan sembuh Rani, kita kehilangan Asti tapi kita tak boleh kehilangan lagi ya.”
Lira memulai mantranya, dia dan Rani masih di atas kasur yang sudah diberi garis ananta yang digambar oleh nyonya Yelak di lantai tepat bawah kasur Rani.
Setelah Lira membaca mantra, betapa terkejutnya Rani karena mata Lira berubah menjadi keperakan, dia berusaha menjauh tapi tak bisa karena lemas.
Nyonya Lira mendekati Rani dan berbisik, “tenang saja ya Rani, Lira sangat menyayangi Rani, meski dia penyihir, tapi dia bukan penyihir jahat, dia akan berusaha menyembuhkan Rani, jadi berdoa saja supaya Lira berhasil ya, nak.”
Rani menatap mamanya Lira dan mengangguk lalu memegang tangan Lira, sementara Lira masih terus menggumamkan mantranya dengan pelan dan khidmat, bubuk daun sirih tiba-tiba bertebangan seolah angin menghembuskannya, tapi bedanya tidak berhembus ke segala arah, hanya berterbangan mengikuti arah dari tongkat sihir yang Lira arahkan, tepat di hadapan Lira, lalu mengarah pada hidung Rani.
Rani diam dan tegang.
Papa Yelak tidak diam, selama Lira mengerjakan itu, papa terus menyipratkan cairan sihir pada tubuh Lira yang terhalang jubah, memastikan kalau aroma Dekekuoi tidak akan pernah tembus dari jubah itu.
“Hirup ya, nak. Bubuk ini akan membantumu bernapas dengan lega ya.” Rani ragu, tapi mama menatap Rani dengan serius lalu berkata, hirup nak, waktu kita tak lama, kalau ada tentara yang lewat dan kami tertangkap, kesempatan Rani untuk sembuh akan hilang, mama dan papa Rani juga bisa celaka, Lira juga mungkin akan ditangkap, kami semua akan dipenjara dan disangka orang jahat.”
Rani mengangguk, meski ragu dan tidak yakin dengan pengobatan yang Lira lakukan, tapi Rani akhirnya memajukan wajahnya dan menghirup bubuk daun sirih yang berterbangan di depan Rani seolah menunggu Rani menghirup mereka.
Seketika Rani menghirup, seketika dia batuk dengan sangat kencang, batuk sekali, dua dan tiga kalinya, Lira tersenyum dan berkata pada ibunya.
“Debu hitam keluar dari hidup dan mulut Rani ma, sudah keluar sihirnya!” Lira tersenyum dengan lega.
“Syukurlah nak, kau berhasil, bubuk tanaman yang kuberikan pada Asti kemarin salah, bukan sirih, tapi daun pandan, daun pandan yang kuberi sedikit sihir itu hanya menutupi aroma sihir musang itu, makanya efeknya sangat sebentar, begitu aroma pandannya hilang, aroma musang yang ada di dalam paru-paru Asti kembali memaksa tubuh Asti memproduksi lendir lebih banyak lagi, tak heran Asti kelelahan batuk, tidak mau makan dan akhirnya tidak selamat, andai aku tau lebih cepat.”
“Ma, kau tidak salah, kau bahkan menggunakan sihirmu dalam jumlah kecil dan menggunakan mantra wewangi untuk menutupinya, kau sudah mengambil resiko. Setidaknya, sehari sebelum Asti meninggal, dia bisa sembuh sebentar dan bercengkrama dengan papa dan mamanya. Dia bisa sebentar sehat untuk berpamitan.
Kita sudah berusaha sebaik mungkin Ma.”
Rani yang telah batuk tiga kali dengan suara yang begitu kencang, sekarang terlihat benapas dengan sangat lega.
“Lira, aku bisa bernapas lega, rasanya ... berbeda, tadi sesak sekali, tadi batukku tak berhenti membuatku enggan makan, Lira, terima kasih, tolong papa dan mamaku juga ya, aku mohon.” Rani memohon, dia lupa sejenak kalau Lira menggunakan sihir, seketika itu juga, Lira memegang tangan Rani dan mengucapkan mantra, mantra yang dia hapal di luar kepala, mantra yang dia tahu kapan harus gunakan, mantra pembuat lupa.
Mantra yang juga selalu Lira ucapkan pada siapa pun yang memergokinya sahat menggunakan sihir, mantra yang membuat Lira atau setiap Dekekuoi tidak dikenal lagi, mantra yang membuat mereka bahkan tidak dapat nama atas kebaikan yang mereka lakukan.
Bahkan karena mantra itu, mereka diburu, dianggap jahat dan dianggap memakan jiwa, tanpa ada satu pun manusia yang tahu, bahkan manusia yang ditolong itu, kalau Dekekuoi hadir untuk membantu dan tanda di leher seperti akar yang ada pada setiap Dekekuoi adalah tanda setiap jiwa yang mereka selamatkan, bukan tanda yang Jagabaya Kasipin bilang sebagai tanda berapa jiwa yang telah mereka lahap.
Dekekuoi selalu harus puas hanya dengan, melihat orang-orang yang mereka tolong sembuh.
Sebagai imbalan, setiap Dekekuoi memang memiliki umur yang sangat panjang dengan umur tubuh dan jiwa yang panjang pula, sulit menua dan mendekati kekal.
Meski kadang imbalan itu juga terasa menyiksa karena menyaksikan orang-orang terkasih tiada karena umur yang tak sepanjang para Dekekuoi.
Setelah membaca mantra pembuat lupa, Rani lemas dan sekali lagi Lira memegang Rani dan menidurkannya, besok dia akan bangun dengan sehat.
Lira dan kedua orang tuanya keluar dari kamar, papa dan mama menggendong papa dan mama Rani lalu menaruh mereka di ruang tamu seolah sedang berbincang, bubur sirih juga ditebar di sana agar dihirup mereka karena juga sudah menunjukkan gejala sakit, setiap kali debu hitam pekat keluar, Lira tersenyum. Setelah selesai di rumah Rani, keluarga Lira keluar dari rumah itu lewat pintu belakang, tak lupa menutup pintu itu dengan asal, karena tak ada waktu memperbaikinya.
Mereka berlari menuju rumah Asti, di sana ada banyak orang yang harus diselamatkan.
Satu rumah, mereka tak lagi menendang pintu belakang, karena itu melelahkan, mama sudah menumbuk begitu banyak daun sirih, lira memantrainya, papa menyiprat cairan sihir wewangi, lalu Lira membuat bubuk itu berterbangan pada setiap rumah melalui kaca jendela yang terbuka, bubuk itu masuk pada setiap rumah, tak peduli rumah itu ada yang sakit atau tidak, menit selanjutnya, Lira melihat, kepulan debu keluar dari rumah-rumah itu, tanda kalau sihir yang telah mencelakai mereka telah keluar dari tubuh mereka.
Lira lemas, papa menggendongnya, sudah dini hari, papa dan mama kembali ke rumah, musang juga terlihat tertidur, dia sudah kenyang rupanya, binatang itu tidak salah, yang memantrainyalah yang salah.
Papa menggendong Lira sampai kamarnya, menidurkannya di kasur, karena Lira sudah tertidur, kelelahan, jubah sudah dibuka, terakhir kalinya, papa menyiprat cairan sihir wewangi di sekeliling rumah agar wangi Lira tak keluar.
Setelah selesai Nyonya Yelak membuatkan kopi, sudah pagi hari, tetap sepi, papa dan mama di meja makan, tidak ada sarapan, karena mereka bermaksud tidur setelah berbincang sebentar.
“Kau punya kenalan yang mampu melakukannya?” Papa bertanya, karena ini sudah pasti Dekekuoi dan mantra sejenis ini hanya dilakukan oleh jenis penyihir seperti mama, selain penyihir penyembuh mampu menyembuhkan, penyihir penyembuh juga mampu mencelakai melalui ilmu yang mereka miliki.
“Ada, tapi sudah lama sekali dia tak pernah datang pada pertemuan Dekekuoi, kudengar terakhir kali dia sudah melepas status Dekekuoinya dan tidak lagi melakukan sihir, kalau dia melakukannya lagi, pasti ada keadaannya yang mendesak, pa. Aku yakin, karena Dekekuoi akan menjadi jahat, hanya jika ada alasan yang sangat kuat.”
“Kita istirahat dulu ma, kita cari nanti, tapi besok, mama harus mulai ritual mandi 40 hari di laut, karena mama sudah menggunakan sihir di rumah Asti ketika pertama kali mencoba menyembuhkannya, mandi pembersihan tertunda karena kita ditawan oleh para tentara, aku takut kalau kau tidak melakukan mandi pembersihan di laut, itu akan berbahaya untuk kita semua, hari ini Jagabaya Kasipin belum menemukan kita, besok siapa yang tahu.
Aku juga ingin Lira bisa tetap di sini, bersama sahabatnya Rani, menjaga tempat ini dan hidup dengan baik.”
Papa menatap mama dan akhirnya mereka berdua pergi ke kamar.
Sementara itu, jauh di tempat lain, seorang wanita tidur di gubuk tua, di tengah hutan, di dalam gubuknya ada banyak musang lain yang sudah dimantrai. Dia tidur dalam tangis, meski matanya terpejam, tapi dadanya menyimpan dendam kesumat, dia marah dan tak akan membiarkan satu pun selamat. Dia akan membantai semua pelakunya, dia akan menyebar musang sihir itu dalam waktu dekat.
Apakah Dekekuoi jahat? Atau baik? Mereka hanya makhluk Tuhan yang tentu saja, ada baik dan jahat, seperti itu juga Jagabaya Kasipin, terlepas dari permusuhan mereka dan siapa yang benar serta siapa yang salah, kelak kalian akan tahu.