Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29: BUNGA YANG MEMILIH LAYU
Hujan baru saja berhenti ketika Rangga keluar dari area proyek menjelang malam. Jalan tanah yang menghubungkan mes karyawan dengan kompleks utama masih basah dan licin. Beberapa genangan memantulkan cahaya lampu kendaraan yang melintas, sementara udara Borneo membawa aroma tanah dan dedaunan basah.
Ponsel di saku celananya bergetar.
Rangga berhenti.
Satu pesan masuk dari Jakarta.
Sari.
Nama itu membuat langkahnya seketika terhenti.
Beberapa hari terakhir, komunikasi mereka memang semakin jarang. Bukan karena pertengkaran, bukan pula karena rasa sayang yang tiba-tiba menghilang. Kesibukan Rangga di proyek dan pekerjaan Sari di Jakarta membuat percakapan mereka perlahan berubah menjadi pesan-pesan singkat.
Sudah makan?
Jangan lupa istirahat.
Hari ini pekerjaan bagaimana?
Kalimat-kalimat sederhana yang dulu terasa hangat, kini hanya menjadi jembatan tipis untuk mempertahankan hubungan yang terbentang ribuan kilometer.
Rangga membuka pesan tersebut.
Baris pertama membuat keningnya langsung berkerut.
“Rangga, aku ingin bicara tentang Bapak.”
Ia membaca lebih lanjut.
Bapak Sari terkena stroke.
Rangga berdiri diam di bawah teras kecil sebuah bangunan kosong, membaca seluruh pesan itu sampai selesai. Semakin jauh matanya bergerak, semakin berat napas yang keluar dari dadanya.
Sari menceritakan bagaimana keluarganya panik membawa sang bapak ke rumah sakit. Tentang ibunya yang hampir tidak mampu mengurus semuanya seorang diri. Tentang dirinya yang harus mengajukan cuti darurat dan bolak-balik mengurus administrasi rumah sakit.
Rangga langsung mengetik.
“Bagaimana kondisi Bapak sekarang?”
Pesan terkirim.
Belum sempat memasukkan ponsel ke saku, balasan muncul.
“Masih kritis.”
Rangga menatap dua kata itu cukup lama.
Ia tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Ia harus pulang.
Namun, pikirannya langsung berhadapan dengan kenyataan yang sedang ia jalani di Borneo.
Pesanan proyek yang sedang dikejar.
Ruko yang baru saja menjadi sasaran sabotase.
Mesin yang belum sepenuhnya pulih.
Dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang bekerja bersamanya.
Rangga mengusap wajahnya perlahan.
"Aku harus bagaimana, Sar..."
Tidak ada jawaban selain suara tetesan air dari ujung atap.
Di Jakarta, pada waktu yang hampir bersamaan, Sari duduk sendirian di lorong rumah sakit.
Matanya sembap.
Di balik kaca ruang perawatan, sang bapak masih terbaring dengan tubuh lemah dan beberapa alat medis terpasang di sekelilingnya. Ibunya duduk tidak jauh dari sana, menundukkan kepala sambil meremas ujung kerudungnya.
Sari menggenggam ponselnya.
Nama Rangga masih terlihat di layar.
Ia tahu pria itu sedang berjuang jauh di sana.
Dan justru karena itulah hatinya semakin berat.
Sebab di saat keluarganya membutuhkan seseorang yang bisa hadir secara langsung, Rangga berada di tempat yang bahkan tidak mungkin ia capai dalam beberapa jam.
Sebuah suara langkah kaki kemudian terdengar dari ujung lorong.
Sari mengangkat kepala.
Seorang pria membawa beberapa kantong obat berjalan mendekat.
"Bu Sari?"
Sari berdiri.
"Iya?"
Pria itu tersenyum sopan.
"Saya Jodi."
Sari terdiam sejenak.
Nama itu tidak asing baginya.
Jodi adalah putra sahabat lama bapaknya.
Pria yang beberapa kali pernah disebut sang bapak ketika berbicara tentang keluarga mereka.
"Saya dapat kabar dari ayah saya," lanjut Jodi. "Beliau meminta saya datang melihat kondisi Pak."
Jodi meletakkan obat-obatan di atas kursi.
"Saya juga sudah bicara dengan bagian administrasi. Ada beberapa urusan yang bisa saya bantu."
Sari menatap pria itu dengan mata masih berkaca-kaca.
"Terima kasih, Mas."
Jodi hanya mengangguk.
"Jangan dipikirkan sendirian. Sekarang yang paling penting adalah kondisi Pak."
Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Sari kembali runtuh.
Ia menunduk.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali jatuh.
Di dalam dirinya, sebuah kesadaran perlahan tumbuh.
Bukan tentang siapa yang lebih ia cintai.
Melainkan tentang siapa yang bisa hadir ketika keluarganya benar-benar membutuhkan seseorang.
Dan kesadaran itulah yang kelak akan membuat sebuah bunga memilih layu sebelum waktunya.
Tiga hari berlalu.
Kondisi bapak Sari perlahan mulai stabil, meskipun dokter masih meminta keluarga untuk membatasi aktivitas dan memastikan seluruh kebutuhan perawatan terpenuhi. Bagi Sari, kabar itu seharusnya menjadi kelegaan.
Namun, justru pada masa pemulihan itulah pikirannya semakin dipenuhi kegelisahan.
Pagi itu, Sari duduk di ruang tunggu rumah sakit bersama ibunya. Di hadapan mereka terdapat beberapa lembar dokumen administrasi dan tagihan perawatan yang belum seluruhnya diselesaikan.
Ibunya menatap tumpukan kertas tersebut dengan wajah cemas.
"Bagaimana kita membayarnya, Nak?"
Sari terdiam.
Ia sudah menggunakan sebagian tabungannya. Gajinya sebagai pegawai administrasi tidak besar, sementara kebutuhan rumah sakit terus berjalan.
Sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara terdengar dari samping.
"Bu, jangan dipikirkan dulu soal itu."
Sari menoleh.
Jodi berdiri di sana membawa dua gelas minuman hangat.
"Untuk Ibu."
Ia menyerahkan salah satunya kepada ibu Sari.
Kemudian Jodi meletakkan sebuah map di atas meja.
"Saya sudah bicara dengan pihak administrasi. Untuk sementara, biaya yang belum terbayarkan sudah saya bantu selesaikan."
Sari langsung menggeleng.
"Mas Jodi, jangan. Kami tidak bisa terus-terusan merepotkan."
"Saya tidak merasa direpotkan."
"Tapi jumlahnya..."
"Saya tahu."
Jodi tersenyum tipis.
"Anggap saja ini bentuk penghormatan saya kepada Pak. Ayah saya dan beliau sudah bersahabat sejak lama."
Sari menunduk.
Ada rasa tidak enak yang semakin besar di dadanya.
"Terima kasih, Mas."
Jodi tidak menjawab. Ia hanya menarik kursi dan duduk tidak jauh dari mereka.
Tidak ada sikap berlebihan.
Tidak ada rayuan.
Tidak ada tuntutan agar kebaikannya dibalas.
Justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Sari merasa nyaman.
Sementara itu, jauh di Borneo, Rangga baru selesai memeriksa kondisi mesin cetak.
Ia mengambil ponselnya.
Tidak ada pesan baru dari Sari.
Rangga mengetik lebih dahulu.
“Bagaimana kondisi Bapak hari ini?”
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
“Sudah lebih stabil.”
Rangga tersenyum kecil.
“Alhamdulillah. Kamu jangan lupa istirahat juga.”
Sari membaca pesan itu di lorong rumah sakit.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ia ingin menjawab seperti biasanya.
Iya, kamu juga.
Namun, entah mengapa kalimat sederhana itu terasa semakin sulit diketik.
Sari menatap ke arah ruang perawatan.
Di sana bapaknya sedang berbicara pelan dengan Jodi.
Pria itu datang lagi pagi ini.
Membawakan makanan.
Mengurus obat.
Bahkan membantu ibunya ketika harus mengurus dokumen rumah sakit.
Sari kembali menatap layar ponselnya.
Nama Rangga masih terpampang di sana.
Ribuan kilometer memisahkan mereka.
Sementara Jodi hanya berjarak beberapa langkah.
Untuk pertama kalinya, Sari merasa jarak bukan lagi sekadar persoalan tempat.
Jarak telah berubah menjadi sesuatu yang perlahan-lahan mengubah cara seseorang memandang masa depan.
Ia akhirnya mengetik:
“Iya. Kamu juga.”
Kemudian pesan itu dikirim.
Singkat.
Terlalu singkat untuk sebuah hubungan yang pernah dipenuhi begitu banyak cerita.
Sari mematikan layar ponselnya.
Ia menarik napas panjang.
Belum ada keputusan.
Belum ada kata perpisahan.
Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah pilihan mulai tumbuh perlahan.
Dan seperti bunga yang mengetahui musimnya telah berakhir, Sari mulai memahami bahwa tidak semua sesuatu yang indah harus dipertahankan sampai selamanya.
Malam semakin larut.
Lorong rumah sakit mulai sepi. Suara langkah perawat terdengar sesekali, diselingi bunyi roda troli yang melintas di kejauhan.
Sari duduk sendirian di depan ruang perawatan.
Bapaknya sudah tertidur setelah mendapat obat. Ibunya juga akhirnya beristirahat di kursi panjang yang berada tidak jauh darinya.
Sari membuka ponselnya.
Nama Rangga kembali muncul di layar.
Kali ini bukan pesan baru.
Ia membuka percakapan mereka dan menggulir ke atas.
Ada begitu banyak kenangan di sana.
Foto makanan sederhana.
Ucapan selamat pagi.
Keluhan tentang pekerjaan.
Candaan kecil.
Dan percakapan tentang masa depan yang dulu terasa begitu mudah mereka bayangkan.
Sari tersenyum tipis.
Senyuman itu hanya bertahan beberapa detik sebelum matanya kembali berkaca-kaca.
Ia membuka kolom pesan.
Jarinya mulai mengetik.
Berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Akhirnya ia menulis:
“Rangga, aku ingin bicara.”
Pesan itu terkirim.
Tidak lama kemudian, dua tanda centang muncul.
Rangga sedang membaca.
Balasan masuk.
“Aku dengar.”
Sari menarik napas panjang.
Ia tahu, setelah kalimat berikutnya dikirim, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.
“Aku sudah berpikir beberapa hari ini. Tentang Bapak, Ibu, hidupku di sini... dan tentang kamu.”
Rangga tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian:
“Kamu mau mengatakan apa?”
Air mata Sari jatuh tepat di atas layar.
Ia mengusapnya dengan ujung jari.
Kemudian mengetik dengan tangan gemetar.
“Aku rasa kita harus berhenti sampai di sini.”
Lama tidak ada balasan.
Sari menatap layar dengan dada yang terasa sesak.
Akhirnya pesan Rangga muncul.
“Karena Jodi?”
Sari memejamkan mata.
Pertanyaan itu justru lebih menyakitkan daripada kemarahan.
“Bukan hanya karena Jodi.”
Ia melanjutkan.
“Aku tidak bisa terus meminta kamu menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu kapan bisa pulang. Bapak membutuhkan aku. Ibu membutuhkan aku. Dan aku juga harus mulai memikirkan hidupku sendiri.”
Sari berhenti sejenak.
Kemudian mengirim kalimat terakhir.
“Jodi ada di sini ketika keluargaku membutuhkan bantuan. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa hal itu tidak berarti apa-apa.”
Di Borneo, Rangga membaca pesan tersebut seorang diri di dalam rukonya.
Ia tidak marah.
Tidak menghantam meja.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Ia hanya menatap layar cukup lama.
Kemudian pandangannya beralih ke luar jendela.
Langit malam Borneo terbentang luas.
Rasi bintang Arkais terlihat jelas di antara celah awan.
Rangga menarik napas panjang.
Ia tahu, ada perpisahan yang tidak membutuhkan pertengkaran.
Ada cinta yang berakhir bukan karena salah satu pihak berhenti menyayangi, melainkan karena kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda.
Jarinya bergerak di atas layar.
“Aku paham, Sar.”
Ia berhenti sebentar.
Lalu menambahkan:
“Terima kasih sudah pernah menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidupku.”
Sari menutup mulutnya dengan tangan.
Tangisnya pecah.
Pesan terakhir Rangga masuk.
“Berbahagialah. Kalau Jodi bisa membuatmu dan keluargamu lebih tenang, aku tidak akan menghalangi.”
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada permintaan untuk kembali.
Tidak ada kata-kata yang menyudutkan.
Hanya keikhlasan.
Sari menatap layar sambil menangis.
"Bodohnya aku..." bisiknya.
Namun keputusan itu sudah terlanjur dibuat.
Di dua tempat yang dipisahkan ribuan kilometer, dua manusia yang pernah saling menggenggam kini sama-sama menatap layar ponsel dalam diam.
Hubungan mereka berakhir tanpa suara.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa kebencian.
Hanya menyisakan satu kesadaran pahit:
Kadang-kadang, mencintai seseorang berarti menerima bahwa ia tidak lagi menjadi bagian dari masa depan kita.
Malam semakin larut, dan untuk pertama kalinya Rangga menyadari bahwa kehilangan Sari tidak boleh membuat langkahnya berhenti.
Ia menatap langit Borneo yang dipenuhi bintang, lalu perlahan menghapus sisa air mata di sudut matanya.
Sejak malam itu, Rangga memilih untuk tidak lagi mengejar sesuatu yang telah pergi. Ia akan mengejar sesuatu yang masih bisa ia bangun.
Dan keputusan itu perlahan akan mengubah seluruh hidupnya.