Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Panggilan dari Kedalaman Hati

Lampu gantung berdesain modern di ruang tamu apartemen mewah itu berpendar remang-remang. Suasana malam begitu hening, hanya diselingi oleh deru halus pendingin udara yang berhembus dingin.

Di atas sofa panjang berbahan kulit impor, Baskara terlelap dengan napas yang teratur namun berat. Wajah pria matang itu tampak begitu lelah dan keruh, bahkan di dalam tidurnya sekalipun. Sisa-sisa minuman keras yang ia teguk tadi malam masih menyisakan efek pening di kepalanya, sementara pengaruh racun manipulasi dari mulut Valerie telah mengendap sempurna di dalam benaknya.

Di sudut ruangan, Valerie berdiri dengan mengusap lengan gaun tidurnya yang berbahan sutra halus. Sebuah gelas kristal berisi air mineral terampil di jemari lentiknya. Wanita licik itu menatap ke arah Baskara yang terbaring tak berdaya dengan sepasang mata berkilat tajam penuh dengan ambisi, keserakahan, dan dominasi yang pekat.

Sebuah senyuman kemenangan yang dingin mengembang di bibirnya yang terpoles tipis.

Valerie menyilangkan dadanya, melangkah pelan mendekati sofa tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia menunduk, menatap wajah Baskara dari dekat.

"Kau sangat mudah dikendalikan jika egomu sedang terluka, Baskara..." bisik Valerie lirih pada keheningan malam, suaranya halus namun sarat akan racun kejahatan. "Istri desamu itu berpikir dia sangat cerdas karena bisa membuatmu merasa bersalah. Tapi dia lupa... pria egois sepertimu paling tidak bisa menerima penghinaan."

Valerie menyapukan ujung jarinya di sepanjang rahang tegas Baskara, menyunggingkan senyum licik.

"Aku merasa selangkah lagi akan mendapatkanmu sepenuhnya... mendapatkan dirimu, statusmu, dan tentu saja seluruh kekayaan keluarga Dirgantara," lanjut Valerie dengan kekehan pelan yang teramat sangat menyebalkan. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Bas. Dan dalam waktu dekat... aku akan melakukan sesuatu yang jauh lebih nekat, sesuatu yang akan mengikatmu secara mutlak hingga kau tidak akan pernah punya jalan untuk kembali pada wanita desa itu!"

Di dalam benak wanita tidak tahu malu itu, sebuah rencana jebakan baru yang jauh lebih kotor sedang dirancang rapi. Valerie sadar bahwa foto perselingkuhan saja belum cukup untuk meruntuhkan posisi Kinanti secara hukum dan membuat Baskara menceraikan istrinya secara paksa. Dia membutuhkan sebuah "skandal besar" yang tak terelakkan sebuah jebakan fisik dan publik yang akan memaksa Baskara menyerahkan seluruh hak dan keputusannya pada Valerie.

Dengan langkah yang angkuh dan puas, Valerie berbalik menuju kamarnya, meninggalkan Baskara yang terlelap dalam ilusi perlindungan palsu.

Sementara itu, di kediaman keluarga Dirgantara, suasana malam terasa berbanding terbalik.

Di dalam kamar tidur di lantai dua, Natasha berbaring di atas ranjang besarnya. Selimut tebal membungkus tubuh remajanya hingga dada, namun sepasang mata indahnya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang temaram.

Gadis remaja itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Pikiran dan emosinya terus bergejolak, membakar dadanya dengan perpaduan antara rasa jijik pada tindakan papanya dan tekad membara untuk melindungi seseorang yang sangat ia sayangi.

"Wanita ular itu pasti merasa sedang berada di atas angin..." gumam Natasha lirih, jemarinya mencengkeram pinggiran selimut dengan erat. "Dia pikir dia bisa menang dan menguasai Papi dengan akting murahannya?"

Natasha merubah posisi duduknya di atas ranjang. Sebuah senyuman sinis dan berani terpancar dari wajah remajanya yang cantik sebuah garis ketegasan yang diturunkan dari darah keluarga Dirgantara.

"Dia belum tahu saja siapa anak dari Baskara Dirgantara ini kalau sudah membuat keributan!" bisik Natasha pada kegelapan kamar dengan nada menantang yang amat sangat mantap. "Tenang saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan membiarkan wanita murahan itu menindas dan meruntuhkan rumah ini!"

Natasha menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya ke arah dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar utama Kinanti. Tatapan matanya seketika melunak, dipenuhi rasa haru, hangat, dan perlindungan yang teramat jujur.

Kenangan masa lalu mendadak berputar kembali di dalam ingatannya.

Natasha masih ingat betul saat pertama kali Kinanti menginjakkan kaki di rumah megah ini beberapa tahun yang lalu sebagai istri muda papanya. Pada saat itu, Natasha begitu membenci Kinanti. Hatinya dipenuhi dendam dan prasangka buruk akibat hasutan beracun dari mami kandungnya sendiri yang terus menanamkan ketakutan bahwa Kinanti adalah gadis desa matre yang sengaja datang untuk merebut fasilitas dan harta papanya.

Dulu, Natasha sering bersikap kasar, acuh tak acuh, dan melemparkan kata-kata pedas pada Kinanti. Namun, seiring berjalannya waktu... seluruh prasangka buruk itu runtuh tak tersisa.

Kinanti tidak pernah membalas kekasaran Natasha dengan amarah. Sebaliknya, Kinanti selalu menyambutnya dengan senyuman hangat, memasakkan makanan kesukaannya saat Natasha lelah pulang sekolah, mendengarkan curhatannya dengan penuh kesabaran, dan merawatnya tanpa pamrih saat Natasha jatuh sakit di kala papanya sibuk dengan urusan bisnis.

Kinanti tidak pernah berusaha menggantikan posisi maminya, namun keikhlasan, ketulusan, dan kelembutan gadis desa itu telah mengisi ruang hampa di dalam hati Natasha yang selama ini haus akan kasih sayang seorang ibu yang sejati.

"Papi benar-benar sudah dibutakan oleh egonya sendiri..." bisik Natasha, air mata bening menetes pelan di pipinya. "Apa lagi yang mau Papi cari di luar sana? Ibu... sudah sangat baik. Beliau merawat rumah ini dengan sabar, menjaga Papi dengan tulus, dan mencintaiku seperti anak kandungnya sendiri..."

Natasha mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum manis di tengah keheningan malam. Sebuah keputusan besar yang lahir dari ketulusan hatinya yang paling dalam akhirnya terpatri kokoh.

"Aku rasa... sudah saatnya aku merubah panggilan 'Tante' menjadi Ibu," janji Natasha dengan suara bulat dan mantap dari lubuk hatinya. "Mulai besok dan seterusnya... beliau adalah Ibuku. Dan aku akan berdiri di depan Ibu untuk melindunginya dari Papi dan wanita ular itu!"

Matahari pagi menyingsing hangat, menembus kaca-kaca jendela kediaman Dirgantara. Kabut tebal sisa hujan semalam perlahan menguap, menyisakan udara pagi yang segar dan jernih.

Pukul tujuh pagi, suasana di dapur utama terasa tenang. Kinanti sedang berdiri di dekat kompor, mengenakan gaun hamil katun berwarna krem yang longgar. Tangan kecilnya dengan cekatan mengaduk sup ayam berkuah bening yang beraroma harum gurih. Wajahnya tampak segar dan damai, seolah-olah ketidakhadiran Baskara di rumah itu justru memberikan ketenangan batin yang teramat besar baginya.

Bi Asih sedang memotong sayuran di samping meja racik ketika derap langkah kaki terdengar menuruni anak tangga.

Natasha melangkah masuk ke area dapur. Gadis remaja itu sudah mengenakan seragam sekolahnya yang rapi, membawa tas punggung di bahunya. Wajahnya bersih dan memancarkan binar keberanian yang hangat.

"Selamat pagi, Bi Asih," sapa Natasha ramah.

"Selamat pagi, Non Natasha. Mau disiapkan sarapan apa pagi ini?" sahut Bi Asih penuh senyum.

"Tidak usah repot-repot, Bi. Biar aku bicarakan dulu dengan orang di sebelah Bibi," jawab Natasha perlahan, matanya terkunci pada sosok Kinanti yang sedang mematikan kompor.

Kinanti memutarkan tubuhnya, menyunggingkan senyum lembut yang begitu tulus saat melihat anak tirinya. "Selamat pagi, Natasha. Tante baru saja selesai membuatkan sup ayam dan nasi goreng kesukaanmu. Mari sarapan dulu sebelum berangkat sekolah."

Kinanti hendak meraih mangkuk kaca untuk menyajikan sup, namun gerakan tangannya seketika terhenti saat Natasha melangkah mendekatinya dan meraih kedua telapak tangan Kinanti secara perlahan.

Kinanti tersentak pelan, menatap Natasha dengan alis terangkat bingung. "Natasha? Ada apa, Nak? Wajahmu kok serius sekali?"

Natasha menatap lurus tepat ke dalam sepasang mata jernih Kinanti. Jemari remajanya menggenggam erat tangan Kinanti yang hangat, meresapi rasa aman yang selalu terpancar dari sosok wanita di hadapannya itu.

Natasha menarik napas panjang, membuangnya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman paling manis dan jujur yang pernah Kinanti lihat.

"Mulai hari ini..." ucap Natasha, suaranya halus namun tegas dan penuh dengan getaran emosi yang dalam, "aku tidak mau memanggil Tante dengan sebutan 'Tante Kinan' lagi."

Dahi Kinanti berkerut tipis, ada sejumput rasa cemas yang hinggap di matanya. "Lalu... kau mau memanggil Tante apa, Nak?"

Natasha menggenggam tangan Kinanti lebih erat, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa haru yang tak terbendung.

"Aku mau memanggil Tante... Ibu," bisik Natasha dengan suara bergetar bahagia. "Boleh kan, Bu?"

Deg!

Seketika, gerakan Kinanti membeku sepenuhnya. Jantungnya berdesir hebat, dan darah di seluruh tubuhnya serasa mengalir hangat. Rasa kaget yang luar biasa berbaur menjadi gelombang kebahagiaan yang teramat sangat besar di dalam dadanya.

Pengakuan dan ucapan dari mulut Natasha terasa bagai air sejuk yang menyiram seluruh luka dan penderitaan yang dialami Kinanti selama berada di dalam rumah ini. Panggilan "Ibu" dari seorang anak remaja yang dulu membencinya adalah sebuah bentuk kemenangan moral dan bukti ketulusan cinta yang paling indah.

Bi Asih yang melihat pemandangan itu dari sudut dapur sampai mengusap matanya yang basah oleh air mata haru, mengelus dadanya dengan rasa syukur yang mendalam.

Air mata bening perlahan menetes membasahi pipi halus Kinanti. Wajahnya yang biasa dingin dan tegar kini luluh sepenuhnya dalam kehangatan kasih sayang seorang ibu. Kinanti melepaskan genggaman tangannya, lalu merengkuh tubuh Natasha ke dalam pelukannya dengan teramat sangat erat.

"Boleh... Boleh sekali, Nak..." bisik Kinanti lirih, terisak pelan di atas bahu Natasha sembari mengusap lembut rambut panjang anak tirinya. "Terima kasih banyak, Natasha... Terima kasih sudah mau menerima Ibu..."

"Aku yang harus terima kasih pada Ibu," sahut Natasha, membalas pelukan Kinanti tak kalah erat, menyandarkan kepalanya di bahu Kinanti dengan nyaman. "Ibu sudah sangat sabar merawatku, mendengarkan aku, dan menjaga rumah ini. Mulai sekarang... Ibu tidak sendirian lagi menghadapi Papi atau wanita ular itu. Natasha akan selalu ada di samping Ibu untuk membela Ibu dan calon adik bayi ini!"

Natasha melepaskan pelukannya perlahan, lalu berlutut kecil dan mengusap lembut perut buncit Kinanti yang terbalas oleh tendangan halus dari janin di dalam rahim Kinanti seolah-olah calon adik bayi di dalamnya pun menyambut gembira panggilan baru tersebut.

Kinanti tersenyum lebar di balik tangis harunya, mengusap kepala Natasha dengan penuh kebanggaan.

Di tengah kehancuran rumah tangganya akibat pengkhianatan dan keegoisan Baskara, sebuah ikatan batin baru yang jauh lebih kokoh, murni, dan tak terrobohkan telah lahir di dalam rumah itu. Kinanti kini bukan lagi seorang gadis desa yang sendirian,dia adalah seorang Ibu yang didukung penuh oleh anak dan keluarga besarnya, siap menghadapi setiap permainan licik yang akan dilancarkan oleh Baskara dan Valerie di masa depan.

1
sunaryati jarum
Ayo Tuan Besar Ramli segera cabut aset darimu yang dikelola Baskoro, tidak sadar malah makin menjadi
sunaryati jarum
Kamu memang cocok sama Valerie sama - sama sampah , dan menjijikan .Sekali siap - siap jadi gelandangan
sunaryati jarum
Menuju kehancuran kamu Baskoro,otw jadi gembel sebentar lagi pasti semua asetmu ditarik Kakek Ramli.Semoga kandungan kamu baik- baik saja .
sunaryati jarum
Baskara setelah ini kamu akan dimiskinkan oleh kakek Ramli, semua asetmu dan kakek dibagi dua untuk Natasya dan anak Kinant.Kamu akan jadi gembel.Masih maukah Valerie padamu?
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Bagus Kinanti tua Bangka tidak tahu diuntung dulu mendapatkan kamu dengan cara paksa, sekarang nikmati hidupmu dengan parasit Valery.Untuk Kinanti mulai sekarang sayangi dirimu sendiri dengan dukungan Natasya dan Kakek Ramli
sunaryati jarum
Yang terbiasa mengobral.tubuh demi kemewahan, apapun.akan dilakukan.Saat ini karma untukmu Valerie lewat putri pria bodoh, yang kau jebak
sunaryati jarum
Kakek Ramli lebih siapa Valerie dari pada Baskara.Siap- siap jadi gembel setelah anakmu dari rahim Kinanti lahir.Karena seluruh harta Juragan Ramli untuk Natasya dan anak Kinanti.Harta Baskara juga dibagi sebagai harta gono- gini setelah bercerai dan juga untuk Natasya. Momen yang emak tunggu
sunaryati jarum: Maksudnya lebih paham
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟 jika Baskara dan Valerie hancur
sunaryati jarum
Tua Bangka bodoh dan egois, tidak mengindahkan peringatan putri dan istrinya yang tulus menyelamatkan usahamu . Sokoor kau masuk jebakan Valerie dan sudah melakukan kegiatan intim padanya, yang pasti sudah direkam untuk mengancam kamu.Sebentar kehancuran kamu bersama Valerie, karena Natasya akan membongkarnya,semua kekayaan Baskara sudah langsung milik Kinanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!