Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan dan Pelukan di Bandara
Aroma khas terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta—perpaduan antara pendingin udara dingin, wangi kopi, dan hiruk-pikuk suara pengumuman—menyambut langkah Callista saat ia keluar dari pintu imigrasi. Roda koper besarnya berdecit halus menapak lantai granit yang berkilau. Di sebelah kanannya, Kenzo berjalan tegap sambil mendorong troli berisi tas-tas dokumen dan piala kristal perunggu-emas yang mereka bawa dari Singapura.
Setelah melewati pemeriksaan bea cukai, pintu kaca otomatis bergeser terbuka, memperlihatkan kerumunan orang yang sedang menanti sanak saudara di area penjemputan.
Mata Callista menyapu kerumunan tersebut. Tak butuh waktu lama bagi penglihatannya untuk menemukan sosok yang sangat familier.
Di barisan depan, berdiri Sean. Cowok jangkung itu mengenakan jaket varsity navy dan kemeja santai, berdiri di samping Mama Callista. Wajah Sean seketika berbinar cerah saat tatapan mata mereka saling beradu di udara. Tanpa ragu, Sean melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
"Callista!" panggil Mama Callista dengan suara bergetar haru.
Callista mempercepat langkahnya, setengah berlari meninggalkan trolinya, lalu merengkuh ibunya dalam sebuah pelukan hangat. Rasa rindu yang tertahan selama hampir sebulan meluap seketika.
"Mama... Callista pulang," bisik Callista pelan di bahu sang ibu.
"Selamat ya, sayang. Mama bangga banget sama kamu," tutur Mamanya seraya mengusap lembut punggung dan rambut Callista.
Setelah melepaskan pelukan dari ibunya, Callista membalikkan badan, menatap Sean yang berdiri hanya satu langkah di depannya.
Sean menyunggingkan senyum leburnya—senyuman tulus yang selalu menjadi oase paling menenangkan bagi Callista. Matanya menatap wajah Callista yang tampak lebih matang, segar, dan memancarkan aura rasa percaya diri yang baru.
"Selamat datang kembali di Indonesia, Bu Perwakilan," goda Sean dengan intonasi lembut khasnya.
Callista tertawa renyah, air mata bahagia menggenang di sudut matanya. Tanpa ragu-ragu lagi, Callista maju satu langkah dan memeluk Sean erat-erat.
Sean tertegun sejenak oleh kehangatan yang tiba-tiba itu, sebelum akhirnya melingkarkan lengan jangkungnya di bahu Callista, menepuk punggung sahabatnya dengan rasa kasih sayang yang amat dalam. Bau harum bunga sedap malam dan aroma hujan yang selalu melekat pada Callista membawa ketenangan utuh yang sempat hilang dari keseharian Sean di Jakarta.
"Makasih ya, Sean... makasih udah selalu ada," bisik Callista di balik bahu Sean.
"Sama-sama, Cal. Kan gue udah janji bakal nungguin lo sampai pulang," balas Sean pelan, mempererat dekapannya sejenak sebelum melepaskannya dengan senyuman hangat.
Di saat yang sama, Kenzo mendorong trolinya mendekati mereka. Langkahnya teratur dan tenang.
Sean memalingkan wajah ke arah Kenzo, lalu mengulurkan tangannya secara terbuka. "Selamat ya, Nzo! Lo sama Callista bener-bener bikin nama SMA Wijaya makin melambung!"
Kenzo menyambut uluran tangan Sean, menjabatnya dengan erat dan hangat. "Terima kasih, Sean. Dukungan dan doa lo dari Jakarta kerasa banget buat kita di sana."
"Sama-sama, Bro. Kalian berdua emang kombinasi paling solid," sahut Sean mantap.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas rapi melangkah mendekati Kenzo—sopir pribadi keluarga Alexander yang diutus oleh Pak David untuk menjemput putra tunggalnya.
Kenzo menoleh pada Callista dan ibunya, lalu mengangguk sopan. "Tante, Callista... saya pamit duluan ya. Penjemputan dari rumah sudah sampai."
"Iya, Kenzo. Hati-hati di jalan ya, salam buat orang tua kamu," tutur Mama Callista ramah.
Kenzo menatap Callista sekali lagi, menyunggingkan senyum tipisnya yang amat dewasa. "Sampai ketemu di sekolah hari Senin, Callista."
"Sampai ketemu hari Senin, Kenzo. Makasih buat semuanya," balas Callista tulus.
Perjalanan dari Soekarno-Hatta menuju kawasan perumahan di Jakarta Selatan diwarnai oleh kehangatan percakapan. Di dalam mobil, Callista tak henti-hentinya bercerita tentang pengalamannya di NUS, keindahan Marina Bay di malam hari, hingga momen menegangkan saat pengumuman pemenang di Grand Hyatt.
Sean yang duduk di samping Callista menyimak setiap detail cerita itu dengan antusiasme yang jujur. Ia sesekali menimpali dengan celetukan kocak yang membuat Mama Callista tertawa riang dari kursi depan.
Sore harinya, saat mobil berhenti di halaman rumah Callista, langit Jakarta dinaungi awan jingga keemasan sisa hujan siang tadi. Aroma tanah basah dan dedaunan segar memenuhi udara sore.
Setelah membantu menurunkan koper dan barang-barang Callista ke dalam rumah, Sean pamit untuk kembali ke rumahnya di seberang jalan.
"Sean," panggil Callista saat Sean baru saja melangkah di dekat pagar tanaman.
Sean membalikkan badan, menaikkan kedua alisnya. "Ya, Cal?"
Callista melangkah mendekat, merogoh tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado berwarna biru tua dengan pita perak. "Nih... oleh-oleh khusus buat lo."
Sean menerima kotak itu dengan wajah heran sekaligus senang. "Wah, apaan nih? Bukan makanan yang udah kedaluwarsa kan?"
Callista menepuk lengan Sean gemas. "Bukanlah! Buka aja nanti di rumah."
"Oke, makasih ya, Bu Perwakilan," jawab Sean terkekeh. Tangannya terulur, menepuk pelan puncak kepala Callista dengan kelembutan yang amat familier. "Istirahat yang cukup. Lo pasti capek banget setelah penerbangan."
Callista menatap Sean dengan binar mata bahagia. "Iya, Sean. Lo juga hati-hati."
Malam harinya, di dalam kamar tidurnya yang tenang, Sean duduk di tepi ranjang. Ia perlahan membuka pita perak dan kertas kado biru dari Callista.
Di dalam kotak tersebut, terbaring sebuah jam tangan kasual berwarna hitam elegan dari bahan tahan air—model yang pernah Sean sebutkan secara tak sengaja beberapa bulan lalu saat mereka melihat katalog toko online. Di dalam kotak itu, terselip pula sebuah kartu ucapan kecil dengan tulisan tangan Callista yang rapi:
Buat Sean,
Terima kasih karena selalu jadi penunjuk waktu dan arah yang paling tenang buat gue. Di mana pun gue terbang, gue tahu gue bakal selalu punya tempat buat pulang karena ada lo.
– Callista
Sean menatap tulisan tangan itu dengan dada yang berdesir hangat. Ia mengusap permukaan jam tangan tersebut, lalu mengukir senyuman paling tulus di wajahnya. Sean merogoh sakunya, mengeluarkan kantong kain merah berisi pembatas buku Vihara milik ibunya yang sempat dibawa Callista, lalu meletakkannya berdampingan dengan jam tangan baru itu di atas meja belajarnya.
Dari balik jendela kamarnya, Sean menatap ke arah rumah Callista di seberang jalan yang lampunya menyala terang.
Di bawah langit malam Jakarta yang tenang, Sean sadar bahwa badai keraguan dan ujian perasaan telah sepenuhnya berlalu. Masa depan memang masih membentang luas dengan segala kompetisi dan pilihan perguruan tinggi yang menanti di Kelas XII nanti. Namun malam ini, di atas pijakan persahabatan, iman, dan kedewasaan yang makin mengakar kuat, mereka bertiga tahu... mereka siap menghadapi apa pun bersama-sama.