Indonesia
NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai Untuk Sang Perisai

Keesokan harinya, pukul 16.00.

Dentang bel rumah terdengar berbunyi beberapa kali, memecah keheningan sore. Di ruang tengah, Wafa dan Ell sedang duduk bersila menonton TV bersama. Saat Wafa hendak bergerak bangun untuk memeriksa, Ell dengan sigap menahan lengan abangnya.

"Biar Ell aja, Bang, yang buka pintunya!" seru Ell cepat, lalu berlari kecil menuju pintu depan.

Begitu pintu terbuka, seorang laki-laki yang berdiri di ambang pintu tampak sedikit terkejut. "Eh, Ell..." sapanya. "Wafanya ada?"

"Ada, Bang. Masuk aja," jawab Ell ramah, mempersilahkan Malik dan Sean melangkah masuk ke dalam rumah.

"Wafa, apa kabar?" sapa Sean lembut seraya mendekat. Sementara itu, Malik tanpa basa-basi langsung berlari dan menjatuhkan dirinya tepat di samping Wafa.

"Maaf ya, Waf, kita baru sempat main ke sini. Di sekolah akhir-akhir ini lagi sibuk banget prepare event," ujar Sean dengan raut penuh rasa penyesalan.

Wafa menyunggingkan senyum tipis, menyahut dengan nada yang begitu santai, "Iya, santai aja. Asal jangan nangis aja kalau gue tiba-tiba mati."

"Waf!" tegur Sean prihatin, sementara Malik mendadak bungkam, menatap Wafa dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Eh, Abang mau keluar sebentar. Kalian ada yang mau titip sesuatu enggak?" tanya Rafa yang baru saja melangkah turun dari tangga, lengkap dengan jaketnya.

"Titip salam aja buat yang jualan, Bang," celetuk Wafa asal.

Rafa menghela napas panjang, menatap adiknya pasrah. "Muka serius, kelakuan misterius. Udahlah, gue pergi aja. Yang ada makin gila gue kalau ngeladenin omongan lo terus," sungut Rafa sebelum akhirnya melangkah keluar rumah.

Tak lama kemudian, Jaya dan Lily ikut turun menuju ruang tengah. Saat mereka baru sampai di undakan tangga terakhir, bel rumah kembali berbunyi.

"Biar Lily yang buka, Pih," pamit Lily.

Dengan hati yang berdebar harap-harap cemas, Lily membuka pintu depan. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat melihat sosok yang berdiri di sana sesuai dugaannya, itu Julian.

"Ayo masuk, Lian," ajak Lily lembut.

Di tangan kanan Julian, terekam sebuah kantong plastik kecil. Laki-laki itu melangkah masuk dan menyapa seisi ruangan dengan sangat sopan, "Selamat sore, Om... Sore semuanya."

Julian melangkah mendekati Wafa yang masih duduk di karpet. "Waf, ini buat kamu," ujarnya seraya mengulurkan kantong plastik tersebut.

"Apaan nih, Bang?" tanya Wafa menerima uluran itu.

"Buka aja."

Wafa merogoh isinya dan mengeluarkan sebuah botol kaca. "Madu?"

Julian mengangguk pelan. "Katanya bisa bantu meredakan batuk, sama mengobati iritasi di tenggorokan kamu. Biar napas kamu agak legaan."

Wafa menatap botol itu sebentar, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja dengan bunyi ketukan pelan. "Gue minum ini juga ujung-ujungnya tetap mati, Bang," jawab Wafa singkat dan datar.

"Wafa!" tegur Lily, matanya seketika memerah. Ia bukannya marah karena Wafa dianggap tak sopan pada Julian, melainkan dadanya teramat sesak mendengar adiknya bicara seolah-olah sudah tidak memiliki harapan hidup lagi. "Udah bagus Julian peduli sama kamu! Setidaknya kalau diminum bisa bantu meredakan batuk kamu. Dokter kan juga bilang gitu!"

"Itu madu murni kok, Waf," tambah Julian tenang, mencoba mencairkan ketegangan tanpa memasukkan ucapan Wafa ke dalam hati.

Jaya mengelus pundak Wafa pelan. "Bilang makasih sama Kak Julian, Waf."

Wafa menunduk sebentar. "Makasih, Bang," ucapnya lirih.

Lily menatap wajah pucat Wafa dengan sorot mata terluka, sebelum akhirnya beralih menatap Papinya. "Pih... Lily mau ngobrol sebentar sama Julian ya?"

"Iya, Ly," balas Jaya mengangguk paham.

Lily dan Julian melangkah keluar menuju taman belakang rumah yang sepi. Angin sore berembus pelan, menerpa wajah Lily yang tampak begitu kusam dan lelah.

"Satu minggu ke depan aku enggak masuk sekolah, Lian..." ucap Lily lirih, memecah keheningan seraya menatap hamparan rumput hijau.

Julian menghentikan langkahnya, lalu mengulurkan tangan merangkul pundak Lily, membawanya makin rapat ke sisinya. "Iya... aku tahu. Buat hari-hari terakhir Wafa jadi hari yang paling indah ya, Ly."

Bahu Lily mendadak bergetar hebat. Pertahanan yang berusaha ia jaga di depan adik-adiknya runtuh seketika. "Masih ada jalan lain enggak sih, Lian? Aku... aku beneran enggak mau kehilangan Wafa..." tangis Lily akhirnya pecah, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Tanpa ragu, Julian menarik Lily ke dalam dekapannya. Ia melingkarkan kedua tangannya erat-erat, membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh keputusasaannya di dada kemejanya.

"Mungkin ini memang jalan yang harus ditempuh, Ly..." bisik Julian lembut, jemarinya bergerak perlahan mengusap punggung Lily yang naik-turun menahan sesak. 

"Wafa sendiri yang menolak untuk berobat, kan? Papi kamu, Bang Owen, Bang Rafa... kalian semua udah berusaha kasih yang terbaik. Kamu enggak boleh nyalahin diri kamu sendiri."

"Tapi rasanya jahat banget, Lian!" teriak Lily tertahan di dada Julian. "KITA CUMA BISA DIAM NGAWASIN DIA MAKIN PARAH SETIAP HARINYA! Aku ngeliat dia sesak napas tiap malam, Lian! Rasanya aku mau gantian rasa sakit dia... Aku enggak sanggup kalau rumah ini sepi tanpa Wafa..."

Julian memejamkan mata, meresapi rasa sakit yang menjalar dari tangisan gadis yang ia cintai. Ia makin merapatkan pelukannya, mengecup puncak kepala Lily dengan penuh rasa simpati. 

"Wafa cuma capek, Ly. Dia udah bertahan dua tahun penuh buat kalian. Sekarang... tugas kalian cuma mencintai dia sebanyak-banyaknya di sisa waktu yang ada, bukan memaksa dia menanggung sakit yang lebih lama lagi."

Sementara itu, di balik pintu kaca yang membatasi ruang tengah dan taman belakang, berdiri Malik.

Sebenarnya, Malik berniat ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, langkah kakinya terhenti saat pandangannya menembus kaca bening taman. Di sana, ia menyaksikan bagaimana Lily menangis histeris di dalam dekapan Julian dan bagaimana Julian mengusap punggung serta memeluk Lily dengan begitu hangat.

Tangan Malik yang memegang gelas kosong di samping tubuhnya perlahan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, dan ada rasa panas yang membakar membumbung di dalam dadanya.

Selama ini, Malik menyimpan perasaan mendalam pada Lily. Melihat gadis itu menemukan kenyamanan dan kedamaian di dalam dekapan laki-laki lain di saat keluarga mereka sedang dihantam badai besar seperti ini membuat rasa cemburu dan ketidakberdayaan berbaur menjadi racun yang menyiksa hatinya.

Julian tetap menggenggam jemari Lily, membiarkan jemari dingin gadis itu mengikat kehangatan di antaranya. Tangis Lily perlahan berubah menjadi hembusan napas parau yang terengah-engah, membasahi dada kaus Julian.

"Lian..." panggil Lily seraya perlahan menarik kepalanya, mendongak menatap Julian dengan mata yang bengkak dan memerah. "Gimana kalau... gimana kalau di hari dia pergi nanti, aku belum siap? Gimana kalau aku malah histeris dan bikin Wafa enggak tenang?"

Julian menggunakan ibu jarinya untuk mengusap lembut sisa air mata di pipi Lily. Sorot matanya begitu dalam dan hangat, memancarkan ketenangan yang sangat dibutuhkan Lily saat ini.

"Kamu enggak harus siap sekarang, Ly. Enggak ada seorang pun yang pernah beneran siap untuk kehilangan orang yang disayang," ujar Julian pelan, suaranya seperti bisikan yang menenangkan. 

"Tapi percaya sama aku, cinta kamu ke Wafa bakal ngasih kamu kekuatan. Saat harinya tiba nanti, yang perlu kamu ingatin ke diri kamu cuma satu: Wafa udah enggak ngerasa sakit lagi."

Lily menggigit bibirnya bawahnya, menahan kepedihan yang kembali meluap. "Tapi Wafa itu perisai aku dari kecil, Lian... Waktu kita masih kecil, aku selalu sakit-sakitan. Wafa yang selalu pasang badan pas ada anak lain yang nakal atau pas aku nangis. Sekarang... pas dia yang butuh perisai, aku malah enggak bisa berbuat apa-apa selain ngeliatin dia nyerah."

"Kamu salah, Ly," selak Julian lembut namun tegas. Ia memegang kedua bahu Lily, memaksa gadis itu menatap lurus ke matanya. 

"Kamu bukan enggak berbuat apa-apa. Kamu hadir di sini. Kamu nemenin dia belajar, kamu ada buat dengerin dia mengadu, kamu jadi 'Mami kecil' buat dia kayak yang kamu dibilang. Itu perisai terbaik yang bisa kamu kasih ke Wafa di sisa waktunya."

Lily tertegun. Kata-kata Julian seolah meruntuhkan dinding penyesalan yang membentenginya selama ini.

"Wafa nolak ke rumah sakit bukan karena dia benci hidup, Ly... tapi karena dia cuma mau pulang ke pelukan maminya," lanjut Julian lagi, tersenyum tipis. 

"Jadi, selama seminggu ini, jangan tunjukin wajah sedih kamu terus di depan dia. Ajak dia ketawa, buatin dia makanan yang dia suka, ciptain kenangan yang manis. Supaya pas dia pergi nanti, memori terakhir yang dia bawa adalah senyuman kamu, bukan air mata."

Air mata Lily kembali menetes, namun kali ini bukan lagi karena keputusasaan murni, melainkan keharuan atas pemahaman Julian yang begitu dalam. Lily melangkah satu tapak lebih dekat dan kembali memeluk pinggang Julian rapat-rapat, menyembunyikan wajahnya di leher laki-laki itu.

"Makasih ya, Lian... Makasih udah selalu ada buat aku di saat semuanya berantakan," bisik Lily tulus di balik dada Julian.

"Selalu, Ly. Aku enggak akan ke mana-mana," balas Julian mantap seraya makin mempererat dekapannya, mengecup puncak kepala Lily lama.

Sementara itu, tepat di balik tirai tipis jendela kaca yang membatasi taman belakang dan koridor dapur, Malik masih berdiri membeku.

Gelas di genggamannya bergoyang pelan akibat getaran tangannya yang mengepal keras. Setiap helaan napas yang dihembuskan Malik terasa berat dan panas. Tatapannya terkunci rapat pada figur Lily yang bersandar begitu pasrah di dada Julian.

'Kenapa harus Julian? Kenapa bukan gue yang ada di posisi itu?' batin Malik menjerit dalam keheningan.

Sebagai sahabat Wafa, Malik tahu persis seberapa berat beban yang dipikul keluarga ini. Ia selalu berada di samping Wafa, menemaninya bermain dan bercanda. Namun, melihat Lily gadis yang diam-diam selalu ia perhatikan dan ia cintai mencari perlindungan dan rasa aman pada laki-laki lain di saat-saat paling hancur seperti ini, menciptakan luka baru yang tak berdarah di dada Malik.

"Lian..." gumam Malik lirih dengan rahang mendesis pelan.

Ada rasa cemburu yang menggerogoti jiwanya, namun bercampur dengan ketidakberdayaan yang menyesakkan. Malik menyadari, meski ia berada dekat dengan Wafa dan keluarga ini, tempat di hati Lily sudah sepenuhnya dihuni oleh orang lain.

Dengan langkah gontai dan dada yang bergemuruh emosi, Malik berbalik memunggungi jendela kaca itu, memilih kembali ke ruang tengah sebelum rasa cemburu mendorongnya melakukan hal yang tidak-tidak.

Setelah merasa dadanya sedikit lebih tenang, Lily merapikan riasan wajahnya yang sembap dengan jemarinya. Ia dan Julian melangkah kembali ke ruang tengah.

Julian menghentikan langkahnya di dekat sofa, menatap Jaya yang sedang duduk mendampingi Wafa dan Ell.

"Om, Waf... saya izin pamit pulang ya, udah makin sore," pamit Julian sopan seraya mengulurkan tangan untuk menyalami Jaya.

Jaya tersenyum hangat, mengusap pundak Julian. "Iya, Julian. Makasih banyak ya udah mampir, sama makasih juga buat madunya."

"Sama-sama, Om," balas Julian ramah. Ia lalu menoleh ke arah Wafa yang masih bersandar di karpet. "Gue pamit ya, Waf. Jangan lupa diminum madunya, biar tenggorokan lo enakan."

Wafa menyunggingkan senyum tipisnya yang khas. "Yo, Bang. Sering-sering aja mampir bawa oleh-oleh," celetuk Wafa santai.

Julian tertawa kecil, lalu menatap Lily yang berdiri di sampingnya. "Aku pulang dulu ya, Ly."

"Aku antar sampai depan ya, Lian," ujar Lily lembut.

Keduanya berjalan menuju pintu depan. Begitu sampai di teras, Julian berbalik menatap Lily. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pelan puncak kepala Lily dengan tatapan yang sangat menenangkan.

"Inget pesan aku tadi ya, Ly. Jangan terlalu larut dalam sedih. Kamu harus kuat buat Wafa," bisik Julian lembut.

Lily mengangguk pelan, mengulas senyum tulus pertamanya sore itu. "Iya, Lian. Makasih ya... Hati-hati di jalan."

"Pasti. Kamu masuk, terus istirahat ya."

Setelah memastikan motor Julian menghilang di belokan lorong kompleks, Lily menghela napas panjang. Ada rasa lega yang perlahan mengalir di dadanya. 

Kata-kata Julian tadi membakar semangat baru di dalam dirinya: ia tidak boleh terlihat lemah di depan Wafa.

Lily kembali masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terasa lebih mantap saat ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Begitu menutup pintu kamar, Lily melangkah menuju meja belajarnya. Ia menarik kursi kayu, mendudukkan dirinya, lalu membuka tas sekolahnya. Ditariknya beberapa buku catatan dan lembar soal Kimia serta Biologi yang sempat tertunda.

Lily menatap tumpukan buku itu dengan sorot mata mantap.

"Wafa aja masih mau berjuang belajar di tengah sakitnya... Aku juga enggak boleh kalah," gumam Lily pada dirinya sendiri.

Ia mulai merapikan susunan bukunya, menyalakan lampu belajar, dan memegang pulpennya. 

Dengan penuh konsentrasi, Lily mulai membaca materi bab demi bab dan mengurai rumus-rumus soal satu per satu.

Di dalam keheningan kamarnya, Lily bertekad untuk memanfaatkan satu minggu izin sekolah ini bukan hanya untuk meratapi keadaan, tapi untuk mendampingi adiknya dengan versi terbaik dan terkuat dari dirinya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Lily 💪✍️
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!