Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. "Masih takut?"
Mobil SUV hitam yang dikendarai Zaid perlahan memasuki garasi rumah mereka. Suasana malam terasa makin hening, menyisakan deru halus mesin yang akhirnya mati.
Di dalam kabin, Nara masih bergeming, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak karuan sejak kejadian di persimpangan jalan tadi.
Zaid melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke arah istrinya yang tampak enggan bergerak.
"Nara? Kita sudah sampai," ujar Zaid pelan. Suaranya memecah kecanggungan yang menggantung di udara.
Nara tersentak kecil, lalu buru-buru melepas sabuk pengamannya. "A-ah, iya... maaf."
Saat Nara hendak membuka pintu mobil, jemarinya yang gemetar kesulitan menarik tuas. Sebelum ia sempat mencobanya lagi, Zaid sudah bergerak lebih cepat.
Pria itu mencondongkan tubuhnya melintasi konsol tengah, menjangkau tuas pintu di sisi Nara.
Jarak mereka mendadak terkikis habis. Aroma wangi parfum maskulin Zaid kembali menyergap indra penciuman Nara.
Napas Zaid yang teratur terasa begitu dekat di dekat pelipisnya, membuat Nara membeku di tempat, menahan napas sepenuhnya.
Cklik.
Pintu mobil terbuka sedikit. Namun, bukannya langsung kembali ke posisinya, Zaid menahan gerakannya selama beberapa detik. Matanya menatap lekat pada mata Nara yang penuh kepanikan manis.
"Mas..." bisik Nara tanpa sadar, suaranya sangat halus, hampir tenggelam oleh desir angin malam di luar.
Zaid tertegun. Alisnya terangkat tipis, dan binar terkejut terpancar jelas dari matanya.
"Apa tadi kamu bilang?"
Nara yang baru menyadari ucapan spontannya langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Pipinya memerah padam hingga ke ujung telinga.
"E-enggak... maksudku..."
Zaid tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan. Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, berbisik tepat di samping telinga Nara.
"Kalau mau panggil 'Mas', rasanya terlalu biasa, bukan?"
Nara menelan ludah, memberanikan diri menatap mata suaminya. "Terus... mau dipanggil apa?"
Zaid tampak berpikir sejenak, lalu matanya berkilat jahat namun penuh kelembutan. "Bagaimana kalau... Aba?"
"Aba?" Nara mengerutkan dahi, merasa sebutan itu sangat asing namun terdengar begitu manis dan unik di telinganya.
"Panggilan dari mana itu?"
"Panggilan sayang sederhana yang biasa dipakai di beberapa keluarga, tapi jarang dipakai pasangan muda sekarang," terang Zaid seraya terkekeh pelan.
"Dan sebagai balasannya... saya panggil kamu Humaira. Karena pipi kamu selalu berubah merah tiap kali dekat saya."
Nara makin salah tingkah. Panggilan Humaira yang berarti 'yang kemerah-merahan' terasa sangat pas dan teramat romantis. Tanpa bisa menahan rasa hangat yang membuncah, Nara mendorong pelan dada Zaid.
"Aba jahat, sukanya menggoda!" cetus Nara seraya keluar dari mobil dengan langkah terburu-buru, menyembunyikan wajahnya yang kian merona.
Zaid tertawa renyah, suara tawa lepas pertama yang didengar Nara sejak mereka menikah. Zaid menyusul langkah kecil istrinya masuk ke dalam rumah.
.
.
Suasana rumah terasa sangat sejuk. Setelah saling membersihkan diri dan berbenah, Nara kembali ke kamarnya di lantai atas. Perasaan riang dan canggung yang bercampur aduk membuat dadanya masih berdesir hangat.
Nara duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya yang masih agak basah. Namun, belum sempat ia menyelesaikan aktivitasnya, langit di luar mendadak bergemuruh hebat.
BLARRR!
Kilatan cahaya putih membelah kegelapan malam melalui celah gorden, disusul oleh suara dentuman petir yang menggelegar dahsyat. Tak lama kemudian, hujan deras langsung mengguyur atap rumah dengan sangat kencang.
PET!
Seketika itu juga, seluruh lampu di rumah padam. Ruangan Nara langsung tenggelam dalam kegelapan pekat.
Nara menjerit kecil dan refleks memeluk lututnya di atas ranjang. Tubuhnya gemetar hebat. Sejak kecil, Nara memiliki ketakutan luar biasa terhadap kegelapan dan suara petir yang keras. Kegelapan selalu membuatnya merasa sesak dan terisolasi.
BLARRR!
Suara petir kembali bersahut-sahutan. Napas Nara mulai memburu, air mata ketakutan lolos begitu saja membasahi pipinya. Ia ingin lari keluar kamar mencari Zaid, tetapi kakinya terasa begitu lemas dan tidak bertenaga. Kegelapan di sekelilingnya seolah mengunci pergerakannya.
"Mas..." bisik Nara lirih di antara isak tangisnya. Suaranya begitu pelan, kalah oleh deru hujan yang makin brutal di luar. "Takut..."
Di kamar sebelah, Zaid yang baru saja hendak berbaring langsung siaga begitu listrik padam.
Ia menyalakan flash di ponselnya. Pikirannya seketika tertuju pada Nara. Zaid tahu betul dari mertuanya bahwa Nara sangat takut pada suara petir.
Tanpa membuang waktu, Zaid keluar dari kamarnya dan melangkah cepat menuju kamar Nara. Ketika ia mengetuk pintu, tidak ada jawaban, hanya terdengar suara isakan halus yang samar-samar ditelan gemuruh hujan.
Tanpa ragu lagi, Zaid memutar gagang pintu dan melangkah masuk.
"Nara?" panggil Zaid khawatir.
Sinar lampu ponselnya menangkap sosok Nara yang sedang meringkuk di sudut ranjang, menutupi telinganya dengan kedua tangan sambil menangis sesenggukan.
Hati Zaid serasa diiris melihat kondisi istrinya. Ia mematikan flash ponsel agar tidak menyilaukan dan meletakkannya di atas meja rias, lalu bergegas mendekati ranjang.
"Nara... ini saya, mas di sini," ujar Zaid lembut seraya naik ke atas ranjang dan meraih tubuh gemetar itu ke dalam pelukannya.
Begitu merasakan kehangatan dan aroma tubuh yang familiar, Nara langsung menyusupkan wajahnya ke dada bidang Zaid.
Jemari kecilnya meremas kencang kemeja santai yang dikenakan Zaid, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pegangan di tengah badai.
"Masss... takut... gelap..." bisik Nara terbatak-batak, tangisnya pecah di dada Zaid.
"Sshh... tidak apa-apa. Ada saya di sini. Kamu aman," bisik Zaid penuh ketenangan.
Zaid merengkuh tubuh Nara lebih erat, melingkarkan kedua lengannya untuk melindungi wanita itu sepenuhnya.
Tangan kanannya mengelus lembut rambut halus Nara, memberikan rasa nyaman yang meresap hingga ke sanubari.
BLARRR!
Petir kembali menyambar keras. Nara tersentak dan makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Zaid.
Zaid mengusap punggung Nara perlahan, menempelkan dagunya di atas kepala sang istri.
"Jangan dengarkan di luar. Dengarkan detak jantung saya saja, ya?"
Nara menurut. Dalam kegelapan yang pekat, ia menyenderkan telinganya tepat di dada kiri Zaid.
Di sana, ia bisa mendengar detak jantung Zaid yang berpacu tenang namun pasti, sebuah irama konstan yang mendadak menjadi melodi paling menenangkan bagi Nara.
Perlahan-lahan, napas Nara mulai teratur. Rasa takut yang tadinya mencengkeram hebat mulai menguap, berganti dengan rasa hangat dan aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kehadiran Zaid di sisinya seolah menjadi benteng kokoh yang tak tertembus oleh badai di luar.
"Masih takut?" tanya Zaid lirih, suaranya seperti bisikan lembut di tengah malam.
Nara menggeleng pelan di dada Zaid. "Sudah enggak... kalau ada mas."
Zaid tersenyum manis dalam kegelapan. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua dari hawa dingin malam yang menusuk.
Zaid tidak berniat kembali ke kamarnya sendiri malam ini; ia tidak akan membiarkan istrinya ketakutan sendirian lagi.
"Kalau begitu, tidurlah. Mas tidak akan ke mana-mana," janji Zaid seraya mengecup puncak kepala Nara dengan amat lembut, sebuah kecupan tulus yang sarat akan rasa perlindungan dan kasih sayang yang mulai mekar.
Nara mengangguk pelan. Ia memejamkan matanya, menikmati kehangatan dekapan suaminya.
Di dalam kamar yang gelap dan dingin, terbungkus suara hujan yang lebat, dua hati yang tadinya saling asing itu kini terlelap rapat dalam satu pelukan yang utuh.
Malam itu menjadi saksi bahwa kegelapan tak lagi menakutkan, sebab mereka telah menemukan cahaya paling terang dalam diri satu sama lain.
lanjut thor 🙏