Indonesia
NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tali Simpul x Persiapan 2

‎   Sementara kejahatan mulai saling memangsa satu sama lain, sebuah keajaiban kecil terjadi di Rumah Sakit Bunda.

‎

‎Ruang rawat Dini terasa lebih tenang sore itu. Maya sedang membacakan majalah remaja dengan suara pelan, berharap suara-suara normal bisa membawa Dini kembali ke realitas.

‎

‎Tiba-tiba, jari Dini bergerak. Sangat pelan, namun cukup kuat untuk menyentuh punggung tangan Maya.

‎

‎Maya menghentikan bacaannya. Ia menoleh. Dini sedang menatapnya. Namun kali ini, pandangan itu tidak lagi kosong seperti sumur kering. Ada sorot kehidupan di sana. Ada emosi. Air mata bening mengalir dari sudut mata Dini.

‎

‎"Dini..." bisik Maya, matanya ikut berkaca-kaca. "Kamu denger aku, Din?"

‎

‎Dini berkedip pelan. Rahangnya bergerak-gerak kecil, seolah ia sedang mengerahkan seluruh tenaga di alam semesta hanya untuk membuka pita suaranya yang tergembok trauma. Bibirnya bergetar hebat.

‎

‎"...Ma... ya..." suara itu keluar sangat lirih, sangat parau, nyaris tidak terdengar. Tapi itu adalah sebuah kata. Kata pertama yang keluar dari mulutnya sejak hari kejadian.

‎

‎"Ya Ampun, Dini! Iya, ini aku Maya!" Maya langsung memencet tombol nurse call dengan panik, air matanya tumpah. "Kamu bisa ngomong, Din! Kamu kembali!"

‎

‎Dini memejamkan matanya, air matanya semakin deras. Rasa sakit, ketakutan, dan kengerian masih membekas kuat di jiwanya, membayanginya setiap kali ia menutup mata. Bayangan gedung gelap, tawa preman, dan... wajah babak belur Reza yang menutupi tubuhnya dengan kemeja flanel. Ingatan itu perlahan mulai tersusun. Meski ia belum mampu merangkai kalimat panjang untuk bersaksi, namun kembalinya fungsi bicaranya adalah lonceng kematian bagi siapa pun dalang di balik penderitaannya.

‎

‎Pemulihan itu lambat, namun pasti, Dini sedang bersiap menuntut keadilan.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Di Kota J, setelah seharian beristirahat, sore harinya Reza memutuskan untuk mengajak Poltak berkeliling kota. Mereka menyusuri jalanan kota yang tenang, jauh dari kemacetan dan polusi Margonda.

‎

‎Tujuan mereka adalah Warkop Mbah Surip, sebuah warung kopi legendaris di dekat alun-alun kota yang bangunannya masih bergaya kolonial Belanda. Tempat ini adalah saksi bisu di mana Reza dulu sering menghabiskan sore mengerjakan PR sambil diam-diam memikirkan gadis tomboy pujaannya.

‎

‎Mereka duduk di kursi kayu panjang. Di depan mereka tersaji dua gelas kopi tubruk hitam legam dan sepiring pisang goreng panas yang asapnya mengepul menggoda selera.

‎

‎Poltak menyesap kopinya dengan bunyi sluurp yang sangat keras. "Mantap kali kopi kampungmu ini, Za. Pahitnya pas, nggak macam kopi sachet di kosan kita yang lebih banyak rasa gulanya."

‎

‎Reza tersenyum, mengunyah pisang gorengnya perlahan. Matanya menatap keramaian alun-alun, pikirannya mulai memproyeksikan langkah selanjutnya. "Habis ini kita balik ke kosan, gue harus ke Disnaker lagi besok buat masukin surat izin ini. Terus nunggu jadwal medical check-up."

‎

‎Poltak meletakkan gelas kopinya, menatap Reza dengan ekspresi yang kembali serius. "Za, aku udah gagal nyuruh kau mundur. Tekadmu ini udah macam paku beton, susah dicabut. Tapi sebagai kawanmu yang paling tampan sedunia ini, aku harus kasih tahu realita ke kau."

‎

‎"Realita apa lagi, Tak? Gue udah tahu jadi TKI itu keras. Gue siap kerja apa aja, nyapu pabrik, angkat barang, ngepak handphone... gue siap," jawab Reza mantap.

‎

‎Poltak mendengus, lalu tanpa permisi meraih lengan Reza dan melingkarkan jari telunjuk serta ibu jarinya di lengan atas Reza. Jarinya bertaut dengan mudah, bahkan masih menyisakan ruang longgar.

‎

‎"Kau lihat ini, Kawan?" Poltak menggoyangkan lengan kurus Reza yang berbalut kemeja. "Tanganmu ini macam ranting pohon jambu yang belum kena pupuk! Ditiup angin topan dikit aja terbang kau ke langit! Apalagi kau mau kerja fisik di pabrik Cina? Kau pikir kerja di pabrik perakitan atau manufaktur itu macam ngetik komputer di warnet? Mereka itu pakai tenaga kasar, shift dua belas jam berdiri, ngangkat kotak barang puluhan kilo!"

‎

‎Reza menarik lengannya, sedikit merasa tersinggung namun menyadari kebenaran ucapan temannya itu. Ia memang tidak pernah memperhatikan fisik. Menu kesehariannya sejak jadi mahasiswa hanyalah Indomie, tempe, dan sisa makanan warkop.

‎

‎"Terus, gue harus gimana? Masa gue batal berangkat gara-gara lengan gue kecil?" tanya Reza.

‎

‎"Bukan batal, tapi persiapan!" seru Poltak sambil menepuk dadanya sendiri yang bidang. "Kalau kau mau ke sana, kau harus bulking! Kau harus bikin badanmu berotot, atau minimal jangan macam orang kurang gizi begini! Kau harus siap tempur! Biar kalau ada mandor pabrik atau preman sana yang berani macam-macam, bisa kau hantam pakai ototmu, bukan pakai kelerengmu itu!"

‎

‎Saran Poltak kali ini bukanlah saran yang menyuruhnya menyerah, melainkan saran yang sangat strategis. Reza terdiam. Ia membayangkan dirinya tiba di Guangdong, berdiri di tengah deretan buruh-buruh bertubuh kekar, lalu disuruh mengangkat mesin seberat 50 kilogram. Jika ia gagal, ia bisa dideportasi sebelum sempat mencari jejak Toko Sinar Makmur cabang Guangzhou.

‎

‎"Lo... lo bener juga sih, Tak," gumam Reza, matanya mulai memancarkan pencerahan.

‎

‎"Jelaslah aku benar! Marga Hasibuan jarang salah kalau urusan fisik!" tawa Poltak bangga. "Mulai besok di Depok, rutinitasmu harus ganti. Nggak ada lagi cuma baca huruf Hanzi sambil tiduran. Pagi kau harus lari keliling Danau Kenanga sepuluh putaran! Siang kau push-up, sit-up, angkat barbel! Kalau nggak ada uang beli barbel, kita angkat galon air atau karung semen di Kukusan!"

‎

‎Reza membayangkan adegan latihan ala petinju Rocky Balboa dengan soundtrack "Eye of the Tiger", namun dengan versi lokal di mana ia mengangkat galon air isi ulang di gang sempit kos-kosannya. Sungguh sebuah adegan komedi yang tragis, tapi itu masuk akal.

‎

‎"Makananmu juga harus kau atur, Za! Nggak ada lagi puasa Daud gara-gara ngirit! Kau harus makan telur rebus minimal tiga butir sehari, tempe, tahu, sama dada ayam! Gaji dari ibumu atau dari kerjaan sampingan apa pun nanti, sebagian harus masuk ke lambungmu jadi otot!" instruksi Poltak berapi-api layaknya seorang pelatih kebugaran bersertifikat.

‎

‎Reza mengangguk-angguk setuju. Ia tersenyum membayangkan dirinya memiliki badan besar. "Oke, Tak. Gue terima saran lo. Gue bakal ubah mindset gue. Gue bukan cuma calon TKI, gue ini calon prajurit yang mau berangkat ke medan perang cinta. Masa prajurit fisiknya loyo."

‎

‎"Nah! Begitu baru kawan aku!" Poltak menampar meja dengan girang. "Aku yang bakal jadi personal trainer-mu! Biar kalau kau ketemu si Chintya itu, dia langsung terpesona lihat badanmu yang macho, nggak ingat lagi dia sama anak ingusan yang nulis puisi norak zaman SD dulu!"

‎

‎Mereka tertawa terbahak-bahak di Warkop Mbah Surip sore itu. Reza merasa pencerahan baru merasuk ke dalam dirinya. Menjadi Tenaga Kerja Indonesia bukan sekadar mendaftar dan berangkat. Ia harus mempersiapkan fisik, mental, dan bahasanya dengan kekuatan penuh. Ia tidak lagi mengejar beasiswa dengan duduk manis di bangku perpustakaan, ia akan menempanya lewat keringat dan kerja keras fisik.

‎

‎Malam itu, setelah pulang ke rumah, Reza mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel. Besok pagi, ia dan Poltak akan kembali bertarung dengan asap knalpot bus ekonomi menuju Jakarta. Ia menatap map merah yang berisi surat izin bapaknya. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan kelereng baretnya, lalu menggenggamnya erat-erat.

‎

‎"Tunggu gue, Chin. Pas gue sampai sana nanti, gue pastiin lengan gue cukup kuat buat bawa lo pulang," bisik Reza pada kelereng itu dengan senyum optimis.

‎

‎Keesokan paginya, setelah acara pamitan yang diwarnai tangisan haru ibunya dan wejangan tegas dari bapaknya—serta celotehan Tari yang menyuruh Reza membawa pulang oleh-oleh boyband Taiwan—Reza dan Poltak kembali menaiki bus.

‎

‎Roda bus berputar meninggalkan Kota J. Di depan sana, ada markas Disnaker yang menunggu sisa dokumennya. Ada program bulking ekstrem ala Poltak Hasibuan. Ada pula kebenaran tentang kejadian Teater Lama yang perlahan namun pasti mulai menyeret Kevin ke tepi jurang kehancurannya.

‎

‎Cerita belum berakhir. Prajurit kurus itu kini sedang bersiap bertransformasi, menuju arena pertarungan babak baru di bawah langit Guangzhou.

‎

1
Siti Musyarofah
ee bersambung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!