"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Percomlangan Sang Kakak
Aroma khas wangi vanila dan espresso yang pekat memenuhi ruangan Kafe 55 saat malam makin larut. Setelah penolakan singkat lewat pesan singkat pada Bianka, Rezvan mengantongi kembali ponselnya. Langkah kakinya membawa Rezvan dan kedua temannya menuju meja outdoor, menghampiri kerumunan adiknya.
"Nih, Kak! Duduk di sini aja masih muat kok," panggil Gisel menepuk-nepuk kursi kosong di sebelah Zahira. Otak jahilnya sama sekali belum pensiun.
Zahira yang baru saja mengaduk es kopi susunya hampir tersedak. Ia melirik Gisel tajam, tetapi yang dilirik malah membalas dengan kedipan mata jahat.
"Makasih, Sel," ujar Rezvan santai. Pria itu menarik kursi persis di samping Zahira, menyebarkan aroma parfum maskulin dan musk yang elegan.
Zahira mencoba memposisikan duduknya agar tidak terlalu rapat. "Kak Rezvan nggak repot gabung sama kita-kita?"
"Sama sekali nggak. Lagian, seru juga dengerin gosip anak Mersi Corporation,"
Sahut Rezvan seraya melirik Zahira dengan senyum tipis yang membuat jantung wanita itu berdegup agak tidak beraturan.
Ciki dan Hanum yang baru saja merampungkan giliran tugas kasir berjalan mendekati meja sambil membawa nampan berisi camilan tambahan.
"Waduh, ada mas Rezvan! Kafe 55 mendadak makin cerah ya," seloroh Ciki yang langsung mengambil tempat duduk di seberang. "Zah, muka lu kenapa merah gitu? AC kafe kurang dingin atau ada efek radiasi dari sebelah?"
"Ciki, diem deh..." bisik Zahira pelan, menyembunyikan wajahnya di balik gelas minumannya.
Gisel tertawa gemas melihat reaksi sahabatnya. "Tadi di dalam Kak Rezvan udah ngasih sinyal hijau lho! Katanya kalau sama Zahira, dia nggak bakal keberatan sama sekali."
Hanum mendelik kaget, hampir menjatuhkan piring kentang gorengnya. "SERIUSAN?! Mas Rezvan, demi apa?! Zahira ini aset berharga grup 'Glow Up Anti Halu' lho, nggak boleh main-main!"
Rezvan terkekeh renyah. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap ke arah Zahira yang makin salah tingkah.
"Siapa yang main-main?" sahut Rezvan dengan nada suara tenang namun tegas. "Kriteria saya sederhana kok. Yang pinter, sederhana dan bongkar kecurangan data impor di kantornya, itu udah masuk kualifikasi."
Pernyataan Rezvan spontan membuat meja mereka riuh oleh sorakan Ciki, Hanum, dan Gisel. Zahira mengangkat wajahnya, menatap Rezvan yang sedang tersenyum penuh kemenangan di sisinya. Secara tidak langsung tadi Rezvan mendengar cerita Zahira saat Zahira bercerita dengan Ciki dan Hanum.
"Kak Rezvan ternyata pinter bercanda ya," cetus Zahira berusaha membela diri dengan senyum formal.
"Siapa bilang saya bercanda?" bisik Rezvan pelan, cukup dekat hingga hanya Zahira yang bisa mendengar desis vokalnya dengan jelas.
Tepat saat suasana meja sedang hangat-hangatnya, layar ponsel Rezvan yang tergeletak di meja kembali menyala terang. Sebuah panggilan masuk dari nama yang sama muncul: Bianka.
Notifikasi yang berkedip itu tak luput dari pandangan Gisel dan Zahira. Rezvan melirik layar sebentar, lalu tanpa ragu membalikkan posisi layar ponselnya menghadap ke bawah, mengabaikan panggilan tersebut begitu saja.
Gisel menyipitkan mata. "Siapa tuh, Kak? Miss Bianka? Kaya nama adiknya kamu, Ra?"
"Bukan siapa-siapa. Cuma urusan relasi kerjaan," jawab Rezvan singkat dan lugas, menegaskan batasan yang jelas tanpa ragu. Ia lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Zahira.
"Zahira, nanti pulang naik apa? Udah kemalaman kalau naik transportasi umum."
"Eh? Aku rencana mau naik ojek online kok, kak," jawab Zahira refleks.
"Nggak ada ojek-ojekan," potong Gisel cepat sambil tersenyum lebar.
"Kak Rezvan, bawa pulang kado berharga ini dengan selamat ya! pokoknya kamu bakalan aman kalau dianterin sama kakakku yang tavan ini."
Zahira menatap Gisel pasrah, menyadari bahwa malam ini ia benar-benar tidak bisa lolos dari skenario percomblangan sahabat-sahabatnya.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada desiran hangat yang sulit ia pungkiri saat Rezvan tersenyum dan mengangguk setuju.
.
.
Lampu-lampu jalanan kota berpendar lembut menembus kaca depan SUV hitam milik Rezvan. Di dalam kabin mobil yang hening dan beraroma kayu cendana yang menenangkan, hanya terdengar alunan musik instrumental bertempo pelan.
Zahira duduk kaku di kursi penumpang samping pengemudi. Jemari lentiknya tanpa sadar sibuk melilit dan memainkan ujung kerudung pasminanya, sebuah kebiasaan refleks yang selalu muncul setiap kali rasa gugup luar biasa menyelimuti dirinya.
Rezvan melirik sekilas dari balik kemudi, menangkap gerakan kecil jemari Zahira tersebut. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
"Mobil saya nggak ada hantu atau ranjaunya kok, Zira. Kamu kelihatan tegang banget dari tadi, kamu takut saya gigit ya!"
Pancing Rezvan dengan nada suara bernuansa berat namun hangat, memecah kecanggungan di antara mereka.
Zahira tersentak kecil, menghentikan pilinan di ujung kerudungnya lalu berdeham pelan.
"Eh... enggak kok, kak. Cuma... masih agak kaget aja, nggak enak udah ngerepotin kak Rezvan malam-malam begini."
"Ngerepotin dari mananya? Rumah kita kan searah," sahut Rezvan santai. Matanya fokus memantau jalanan yang mulai lengang.
"Lagian, dari dulu Gisel sering cerita tentang kamu. Katanya temannya yang satu ini selalu paling rajin, pinter, dan bijak kalau ngasih nasihat. Tapi dia lupa cerita kalau kamu orangnya segugup ini kalau cuma berdua di mobil."
Wajah Zahira mendadak memanas. Ia kembali memainkan ujung kerudungnya, mencoba menetralisir degupan jantungnya yang kian tidak beraturan.
Ada perasaan berbeda yang menjalar di dada Zahira saat berada di dekat Rezvan. Di matanya, Rezvan bukan sekadar kakak sahabatnya yang berparas tampan, melainkan sosok pria matang, tenang, mapan, dan memancarkan kehangatan luar biasa terutama dari cara pria itu memperlakukan keluarganya.
"Gisel selalu berlebihan kalau cerita, kak," bisik Zahira menunduk malu. "Aku biasa aja kok."
"Biasa aja gimana? Udah berani bongkar manipulasi data impor di Mersi Corp itu bukan hal yang biasa," ujar Rezvan dengan nada kagum yang jujur. Rezvan kemudian mengoperasikan layar sentuh di dasbor, menghentikan musik sejenak.
"Setiap hari kamu naik apa ke kantor? Gisel bilang motor kamu mogok?"
Zahira mengangguk pelan. "Iya, kak. Motor matik merah Zira lagi masuk bengkel pas tadi sore mau ke kafe. Karburatornya bermasalah. Makanya tadi pas pulang kantor Zira naik ojek online dulu ke Kafe 55."
"Motor merah yang udah ditemani kamu dari zaman kuliah itu?" tanya Rezvan memastikan.
"Iya, tepatnya udah enam tahun nemenin Zira ke mana-mana. Sayang banget kalau mau diganti, udah banyak kenangannya," jawab Zahira, kini sedikit lebih rileks saat menceritakan benda kesayangannya itu.
Rezvan mengangguk-angguk paham, menyukai kesederhanaan dan rasa menghargai yang dipancarkan gadis di sampingnya.
Pria itu kemudian mengambil ponselnya yang terpasang di holder dasbor saat berhenti di lampu merah, lalu menyodorkannya ke arah Zahira.
"Simpan nomor kamu di sini," pinta Rezvan lugas tanpa ragu.
Zahira mengerpkan mata terkejut. "Eh? Nomor aku, kak. Buat apa?"
"Iya. Emangnya gak boleh?... Kan siapa tahu suatu saat kamu butuh teman diskusi, teman curhat, atau butuh bantuan saat motor matik merah kamu rewel lagi di jalan. Nggak harus selalu nunggu Gisel atau Hanum sama Ciki, kan?" ujar Rezvan menatap manik mata Zahira dalam-dalam.
"Boleh... boleh kok." Jawab Zahira sedikit gugup.
Melihat kesungguhan dan ketenangan Rezvan, Zahira tak menemukan alasan untuk menolak. Tanpa ragu, jemari Zahira menerima ponsel tersebut dan mengetikkan nomor teleponnya, lalu mengembalikan ponsel itu ke tangan Rezvan.
"Terima kasih ya, Zira," tutur Rezvan lembut sembari menyimpan kontak baru itu.
.
.
Beberapa menit kemudian, SUV hitam itu melaju pelan memasuki kawasan perumahan elite berpagar tinggi dan megah. Berdasarkan petunjuk jalan dari Zahira, mobil berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi tempa yang menjulang megah.
Rezvan menghentikan laju mobilnya dan sedikit terkejut saat menatap pendar lampu taman yang menyorot rumah dua lantai bernuansa arsitektur klasik modern di balik gerbang tersebut.
Kening Rezvan terangkat tipis. Rumah milik orang tua Zahira jelas mencerminkan strata sosial yang sangat berada dan mewah.
Rumah semewah ini? batin Rezvan keheranan. Kalau orang tuanya sekaya ini, jangankan motor matik, beliin mobil mewah terbaru pun pasti sanggup. Tapi kenapa Zahira memilih hidup sangat sederhana dan setia pakai motornya yang sudah bermasalah itu?
Rasa kagum dan penasaran Rezvan terhadap kepribadian Zahira semakin membumbung tinggi. Gadis ini benar-benar menyimpan kerendahan hati yang luar biasa di balik kemewahan keluarganya.
Zahira yang pada dasarnya bermuka tipis dan pemalu, merasa canggung luar biasa saat sadar mobil Rezvan sudah terparkir di depan gerbang rumahnya. Rasa sungkan membuat bibirnya terkunci untuk sekadar menawarkan basa-basi mengajak Rezvan mampir minum ke dalam rumah.
Zahira segera melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Rezvan. Ia menganggukkan kepalanya dengan raut wajah penuh kesopanan.
"Terima kasih banyak ya, kak Rezvan, udah repot-repot mengantar Zira sampai depan rumah," ucap Zahira santai namun manis.
"Sama-sama, Zahira. Langsung istirahat ya," balas Rezvan menatapnya penuh kehangatan.
Zahira memberikan satu anggukan kepala lagi, lalu bergegas membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Tanpa berpaling lagi karena menyembunyikan rona merah di pipinya, Zahira mendorong pintu gerbang kecil yang disambut oleh security rumahnya pak Bambang, lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Rezvan memandangi punggung Zahira yang perlahan menghilang di balik pintu utama rumah megah tersebut.
Senyum tipis menghiasi wajah tampannya sebelum akhirnya ia memindahkan tuas transmisi dan menginjak pedal gas, membawa mobilnya membelah kegelapan malam dengan pikiran yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh sosok Zahira.