Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi hari setelah malam final yang bersejarah itu, seluruh saluran televisi dan media sosial dipenuhi oleh satu nama yang sama.

Stevan Alvaro.

Berita tentang kebangkitannya dari keterpurukan, dari seorang vokalis yang kehilangan suaranya menjadi komposer jenius bertopeng, mendominasi setiap obrolan.

Di sebuah kamar kos sempit dan pengap di pinggiran kota, televisi tabung tua masih menyala menampilkan berita pagi.

Dion duduk meringkuk di sudut ruangan dengan wajah yang sangat mengerikan.

Kantong matanya hitam pekat, rambutnya kusut, dan botol-botol minuman keras berserakan di sekitarnya.

"Tersangka kasus penyuapan dan monopoli industri, Surya Adijaya, telah resmi ditahan oleh pihak kepolisian dini hari tadi," lapor pembaca berita dari televisi.

"Ketua juri Barata juga telah ditetapkan sebagai tersangka dan dicabut seluruh lisensi musiknya seumur hidup."

Dion menatap layar televisi itu dengan pandangan kosong yang perlahan berubah menjadi tawa histeris.

"Hahaha! Habis... semuanya habis," tawa Dion seperti orang yang kehilangan kewarasannya.

Karirnya hancur, bos yang menjadi pelindungnya dipenjara, dan saingannya kini duduk di puncak dunia yang dulu ia impikan.

Semua pengorbanannya menusuk sahabatnya sendiri dari belakang ternyata hanya membawanya ke dalam neraka ini.

Sementara itu, di sebuah kedai kopi sepi yang tidak jauh dari kampus Institut Musik Nusantara.

Stevan duduk santai di sudut ruangan, menyesap kopi hitamnya sambil membaca artikel berita melalui ponsel.

Clara duduk di seberangnya, gadis itu sudah melepas topeng porselennya dan hanya mengenakan kacamata bulat besarnya.

Sejak mengetahui wajah asli Stevan semalam, Clara merasa jauh lebih dekat dan hormat pada seniornya itu.

"Kak Stevan, panitia festival baru saja mentransfer hadiah kemenangan kita sebesar satu miliar rupiah utuh tanpa potongan pajak!" seru Clara dengan suara pelan agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.

Stevan meletakkan cangkir kopinya dan mengetik pesan balasan dengan cepat.

"Gunakan seratus juta dari uang itu untuk membelikan hadiah atau kebutuhan nenekmu di desa," ketik Stevan sambil tersenyum tipis.

Mata Clara langsung berkaca-kaca membaca kebaikan hati seniornya tersebut.

"T-tapi Kak, uang ini kan hasil kerja keras kakak, aku tidak pantas menerima sebanyak itu," tolak Clara dengan halus.

Stevan mengetik lagi dan menyodorkan layarnya dengan tatapan yang sangat tegas.

"Kau adalah vokalis utamaku, suaramu adalah aset terbesar kita saat ini."

"Bawa uang itu, anggap saja ini bonus awal sebelum kita menandatangani kontrak pembagian royalti yang resmi."

Air mata haru menetes dari sudut mata Clara, ia menganggukkan kepalanya dengan perasaan sangat bersyukur.

"Lalu... apa yang akan kita lakukan dengan sisa uang sembilan ratus juta itu, Kak?" tanya Clara setelah mengusap air matanya.

Sudut bibir Stevan melengkung tajam ke atas.

[TING!]

[Misi Utama Tahap 2 Terbuka: Pendirian Kerajaan Musik (Zeros Records).]

[Deskripsi: Sewa gedung studio resmi pertama dan temukan dua anggota baru untuk memperkuat pondasi label.]

[Hadiah Misi: Penyembuhan Fisik Minor (Restorasi Sebagian Pita Suara) dan Keterampilan Negosiasi Bisnis Tingkat Ahli.]

Mata Stevan seketika terbelalak membaca kalimat "Restorasi Sebagian Pita Suara" di layar biru sistem.

Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia nyaris menjatuhkan ponselnya.

Sistem ini benar-benar bisa mengembalikan suaranya yang telah divonis hancur permanen secara medis?

Meskipun hanya sebagian, itu sudah lebih dari cukup baginya untuk kembali menjadi monster vokal seperti dulu.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, ambisinya kini meledak seratus kali lipat lebih besar.

Stevan menatap Clara dan mengetik pesannya dengan gerakan jari yang sedikit bergetar karena kegembiraan.

"Kita akan menyewa sebuah gedung studio dua lantai di pusat kota siang ini juga."

"Masa bermain-main di studio kumuh kampus sudah berakhir."

"Mulai hari ini, The Zeros bukan lagi sekadar grup musik, melainkan nama dari label rekaman kita sendiri."

Clara menelan ludah membaca rencana ekspansi kilat dari seniornya itu.

"Gedung di pusat kota? Bukankah itu sangat mahal, Kak?" tanya Clara ragu.

Stevan tersenyum penuh perhitungan.

"Tentu saja, tapi dengan hancurnya Mega Bintang Sejahtera, banyak investor luar yang sedang mencari wadah baru untuk menanamkan modal mereka."

"Kita akan memancing ikan hiu menggunakan uang sembilan ratus juta ini sebagai umpan kecilnya."

Siang harinya, Stevan dan Clara benar-benar merealisasikan rencana tersebut.

Dengan bantuan agen properti, mereka menyewa sebuah gedung komersial kosong yang dulunya adalah bekas kantor desain grafis.

Gedung itu memiliki dinding kaca kedap suara, ruang tengah yang luas, dan fasilitas dasar yang sangat mumpuni.

Mereka menghabiskan setengah miliar rupiah untuk sewa satu tahun penuh di muka.

Stevan berdiri di tengah ruangan kosong yang luas itu, membayangkan tata letak peralatan studio kelas dunia yang akan segera ia beli.

"Kak, tempat ini besar sekali, tapi terasa sangat kosong jika hanya ada kita berdua," ucap Clara yang berdiri di sampingnya.

Stevan mengangguk setuju dengan ucapan gadis itu.

Ia mengetik di ponselnya untuk menjelaskan rencana selanjutnya.

"Sebuah label besar tidak bisa hanya bergantung pada satu penyanyi."

"Kita butuh lebih banyak talenta buangan sepertimu, orang-orang jenius yang diinjak-injak oleh industri karena kelemahan mereka."

Clara mengerutkan keningnya, mencoba memahami pola rekrutmen unik dari Stevan.

"Bakat buangan? Bagaimana cara kita mencari orang-orang seperti itu, Kak?" tanya Clara.

Sebelum Stevan sempat membalas, suara ketukan pelan terdengar dari pintu kaca utama gedung tersebut.

Tok... tok.

Clara menoleh ke arah pintu dan wajahnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan tidak bersahabat.

Seorang wanita muda mengenakan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi lehernya berdiri di luar sana dengan canggung.

Wanita itu perlahan membuka kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis.

Itu adalah Natasha, mantan kekasih Stevan yang telah mengkhianatinya dengan sangat kejam.

"S-Stevan... bolehkah aku masuk?" tanya Natasha dengan suara pelan dan memelas dari celah pintu.

Mata Stevan menyipit tajam menatap kedatangan wanita materialistis itu.

Urusannya dengan Dion sudah selesai, tapi tampaknya ular betina ini belum mendapatkan balasannya yang setimpal.

Stevan memberikan isyarat anggukan pelan pada Clara untuk membuka pintu kaca tersebut.

Clara dengan enggan membuka kuncinya dan membiarkan Natasha melangkah masuk ke dalam gedung yang kosong.

Natasha menatap Stevan dengan pandangan penuh penyesalan yang terlihat sangat dipaksakan.

Ia mendekat dan langsung berlutut di hadapan Stevan sambil menangis tersedu-sedu.

"Stevan, maafkan aku... aku sungguh menyesal telah meninggalkanmu malam itu," tangis Natasha sambil mencoba meraih tangan Stevan.

Stevan menarik tangannya dengan cepat dan mundur selangkah, menatap Natasha dengan pandangan jijik layaknya melihat kecoa.

"Aku dibutakan oleh janji manis Dion dan Pak Surya," lanjut Natasha meratap.

"Sekarang aku sudah dibuang oleh mereka dan aku tidak punya apa-apa lagi."

"Tolong, terimalah aku kembali. Aku berjanji akan menjadi penyanyi terbaik di label barumu ini, aku akan melakukan apa saja untukmu."

Natasha memberikan tatapan memelas andalannya, berharap pria di depannya ini masih memiliki sisa-sisa cinta masa lalu.

Namun, Stevan hanya berdiri kaku dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun.

Ia mengambil ponselnya, mengetik beberapa kalimat dengan gerakan yang sangat pelan dan menakutkan, lalu menunjukkannya pada Natasha.

"Saat suaraku hancur, kau membuangku ke tempat sampah."

"Sekarang kau memohon padaku karena kau tahu tempat sampah itu adalah milikmu yang sebenarnya."

Wajah Natasha pucat pasi membaca sindiran telak tak berbelas kasihan itu.

"Stevan, aku mohon! Beri aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan perasaanku!" jerit Natasha mencoba memeluk kaki Stevan.

Clara yang tidak tahan lagi melihat kelakuan menjijikkan wanita itu langsung melangkah maju dan mendorong pundak Natasha ke belakang.

"Jangan berani menyentuhnya dengan tangan kotormu!" bentak Clara dengan suara lantang yang mengagetkan.

Gadis penakut itu kini berani melindungi seniornya dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan.

"Kak Stevan sudah tidak butuh pengkhianat sepertimu di sini, silakan keluar dari gedung kami sekarang juga!" usir Clara dengan tegas.

Natasha menatap Clara dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap Stevan yang hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Clara.

Tidak ada sedikit pun belas kasihan di mata pria bisu itu, hanya ada kebencian mutlak yang membekukan jiwa.

Sadar bahwa pintu maaf telah tertutup rapat untuk selamanya, Natasha perlahan berdiri dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur.

Ia menghapus air matanya dengan kasar lalu berbalik berjalan keluar dari gedung tersebut tanpa sepatah kata pun.

Blam.

Pintu kaca tertutup, menutup rapat masa lalu kelam Stevan bersama dengan wanita itu.

Stevan menepuk bahu Clara pelan, memberikan isyarat terima kasih karena telah membantunya mengusir hama pengganggu.

"Kita tidak boleh membiarkan orang jahat masuk ke rumah kita, Kak," ucap Clara sambil tersenyum manis.

Stevan mengangguk setuju lalu mengetik pesan terakhirnya untuk hari ini.

"Fokus pada masa depan. Besok pagi kita akan mulai audisi rahasia untuk mencari dua anggota baru kita."

"Kita akan membangun keluarga monster yang akan menguasai dunia hiburan."

Clara menganggukkan kepalanya dengan semangat yang membara.

Kerajaan Zeros Records akhirnya resmi berdiri hari ini, dan ini baru merupakan langkah pertama dari legenda yang sesungguhnya.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!