Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Kamar Jenazah dan Penampakan di Tengah Malam
Waktu berkelebat cepat. Malam menjelang keberangkatan keluarganya ke Singapura, Zara masih dengan sabar menemani sang kakak di rumah sakit. Lusa, ayah, ibu, dan kakaknya akan terbang untuk menjalani rangkaian prosedur medis intensif. Namun, Zara memilih tetap tinggal di Indonesia lantaran harus mengikuti rangkaian tes seleksi beasiswa impiannya.
Malam ini, orang tuanya pulang sejenak ke rumah untuk mengemasi beberapa pakaian, sementara Zara mengambil alih tugas menjaga Bimo di ruang rawat inap.
Merasa jenuh berlama-lama di dalam ruangan terlebih melihat kondisi kakaknya yang belum menunjukkan perubahan signifikan membuat hatinya ngilu Zara memutuskan untuk duduk di kursi tunggu luar. Ia membawa sebuah novel untuk mengalihkan pikiran. Namun, baru menempuh beberapa halaman, kantuknya sudah menyerang hebat meski jam baru menunjukkan pukul delapan malam.
Di ujung koridor, Arkan yang baru saja merampungkan tugas jaga malam melangkah pelan menuju area istirahat. Pandangannya menangkap sosok Zara yang bersandar lelah pada dinding dengan novel terbuka menutupi separuh wajahnya.
"Zara," panggil Arkan lembut, menghentikan langkahnya di hadapan gadis itu.
Zara yang setengah tertidur langsung tersentak kaget. Ia buru-buru merapikan posisi duduknya dan menatap sang dokter muda.
"Menjaga sendirian?" tanya Arkan.
"Iya, Dokter. Mama sama Papa sedang pulang sebentar untuk membereskan baju."
Arkan lantas melangkah pelan dan mengambil tempat duduk di samping Zara, menikmati jeda singkat sebelum kembali ke ruangannya.
"Lusa kamu ikut ke Singapura?" tanya Arkan memulai percakapan.
"Enggak, Dok. Zara harus ikut tes seleksi beasiswa."
"Seleksi? Saya dengar dari Aira kamu lolos seleksi dan berencana mengambil kedokteran?"
"Iya, Dok. Rencananya Zara ingin mengambil spesialisasi kedokteran forensik."
Arkan menoleh, menatap Zara dengan alis terangkat samar. "Kamu serius ingin mengambil jurusan itu?"
Zara mengangguk mantap. Ia menutup novelnya dan menaruhnya di pangkuan. "Sebenarnya, ketertarikan Zara baru muncul beberapa bulan lalu. Waktu itu Zara membaca artikel berita daring tentang kasus kematian misterius seorang anak SMP. Dia ditemukan tewas di rumahnya saat orang tuanya sedang berada di luar kota, dan ia hanya tinggal bersama sang kakak serta seorang pembantu. Dua hari kemudian, setelah orang tuanya pulang, penyebab kematiannya disebut karena radang otak. Tapi dari cerita sahabat korban, anak itu sering menjadi korban kekerasan ayahnya dan sempat dikurung sebelum kejadian. Dari teka-teki kasus itu, Zara jadi penasaran setengah mati."
Arkan terkesiap kecil. Cerita misteri itu tanpa sadar membawanya kembali pada kenangan masa kecilnya sendiri di mana ia adalah penggemar berat komik detektif yang memecahkan berbagai kasus rumit, sebuah impian masa kecil yang sempat membuatnya ingin menjadi polisi, sebelum akhirnya garis takdir membawanya mengenakan jas putih kedokteran.
"Kamu sudah tahu apa saja tugas dan risiko profesi dokter forensik? Atau pernah menonton proses autopsi di video medis?" selidik Arkan.
"Sedikit banyak tahu, Dok. Memang terkesan seram dan butuh mental baja. Tapi rasa penasaran Zara jauh lebih besar. Insya Allah, Zara sudah mantap dengan pilihan ini."
Arkan tersenyum tipis. Ia berdiri, merapikan jas dokternya, lalu melirik Zara penuh arti. "Kalau begitu... mau coba ujian pertamanya sekarang?"
"Ujian pertama?" Zara mengerjap bingung.
Tepat saat itu, langkah kaki orang tua Zara terdengar mendekat. Arkan lantas membisikkan sesuatu secara singkat kepada orang tua Zara. Kedua orang tua gadis itu mengangguk setuju sambil tersenyum hangat.
"Ikut dengan dokter Arkan, ya, Nak," ujar sang Papa.
"Mau ke mana, Dok?" tanya Zara makin penasaran.
"Mencari ilmu. Biar kamu punya gambaran nyata di lapangan," timpal Mamanya lembut.
Tanpa banyak tanya karena ia tahu Arkan tidak mungkin membawanya ke tempat yang salah Zara beranjak mengikuti langkah tegap sang dokter menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi.
"Ini adalah ruang instalasi kedokteran forensik. Kamu mau masuk ke dalam?" tanya Arkan sesampainya di depan sebuah pintu bercat abu-abu.
Zara menelan ludah kelat. Bukan hantu atau cerita mistis yang membuatnya ciut, melainkan kenyataan bahwa ia akan berhadapan langsung dengan realitas kematian.
Arkan melangkah masuk, menyapa seorang dokter senior berusia sekitar empat tahunan yang tengah membereskan berkas di dalam ruangan. Setelah percakapan singkat, dokter senior itu menoleh menatap Zara.
"Jadi, kamu adiknya Arkan yang mau mengambil spesialisasi ini? Saya bangga, jarang ada anak muda seusiamu yang punya keberanian sebesar ini," puji dokter senior tersebut.
Zara tersenyum kaku. Ia memilih tidak meralat sebutan 'adik' yang dilontarkan sang dokter senior, sementara Arkan hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Mari ikut saya melihat dari balik pembatas," ajak dokter itu ramah.
Zara melirik Arkan sejenak. Arkan mengangguk menyetujui, sementara dirinya memilih menunggu di luar. Saat Zara hendak melangkah mengikuti sang dokter forensik, sebuah benda kecil di pergelangan tangannya mendadak terlepas dan jatuh berdenting di lantai.
Arkan refleks berjongkok dan memungut benda itu. Itu adalah sebuah kalung milik Zara. Namun, saat jemari Arkan menyentuh liontin kalung tersebut, ia terpaku. Ada debar aneh dan memori samar yang mendadak berkelebat di kepalanya ia merasa amat familiar dengan bentuk kalung itu. Tanpa mengatakan apa pun, Arkan menyimpan kalung tersebut ke dalam saku jasnya, berniat mengembalikannya nanti usai Zara selesai.
✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿
Dua hari berlalu. Hari ini, Zara mengantar kepergian kedua orang tua dan kakaknya ke bandara. Didampingi oleh Aira, Bayu, Panji, dan Arkan yang turut meluangkan waktu untuk mengantar.
"Jadi gimana, Zar? Jadinya kita jadi maraton film di rumahmu kan?" tanya Panji di sela-sela perpisahan.
"Jadi dong! Kalian kan sudah janji sama Mama dan Papa buat nemenin aku selama mereka di luar negeri," jawab Zara.
Memang, sebelum berangkat tadi, ibunya sempat menitipkan pesan khusus agar teman-temannya terutama Aira menemani Zara selama rumah kosong.
"Aira, kamu jadi kan menginap di rumahku?" tanya Zara memastikan.
"Jadi banget! Mamaku bahkan sudah merestui aku pindah markas ke rumahmu sampai keluargamu pulang."
"Wah, jangan-jangan kau bukan diizinkan, tapi diusir dari rumah ya?" celetuk Bayu usai.
Aira langsung melotot tajam. Dendam kesumat atas insiden di rumah sakit beberapa hari lalu belum sepenuhnya padam dari benaknya.
"Kalian berdua beneran mau nginap di rumah Zara?" tanya Aira sengit pada dua pemuda itu.
"Tentu saja! Aku sama Panji bakal setia jadi satpam jaga malam di rumahnya," jawab Bayu merangkul bahu Panji.
"Betul! Kami tidak rewel, tidur di lantai pun jadi, yang penting dikasih makan tiga kali sehari!" timpal Panji mantap.
"Siap! Kalian berdua resmi lolos jadi satpam baru di kediaman Zara," sahut Aira mengacungkan jempol sarkastik.
Arkan yang berdiri di sisi luar hanya menyimak dalam diam. Perhatiannya tak lepas dari sosok Zara yang kini tertawa lepas bersama teman-temannya. Semenjak insiden kalung di ruang forensik tempo hari, rasa penasarannya pada gadis itu kian bercabang.
"Bang Arkan nggak mau ikut nginep juga?" panggil Bayu usai.
"Saya ada jadwal jaga malam. Adrian dan Panji, kalau kalian jadi menginap di sana, ingat bawa persediaan merica bubuk untuk jaga-jaga kalau makhluk halus di rumah Zara berkeliaran malam hari," sindir Arkan datar sebelum melangkah pergi.
Panji dan Bayu saling pandang, lalu terkekeh. "Tenang, Bang! Kami tidak bakal macam-macam kecuali kalau ada setan beneran lewat. Itu di luar kendali kemanusiaan kami!" balas Bayu berseloroh.
Tak lama, mereka segera beranjak menuju mobil Arkan untuk kembali ke kota.
✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿ ─── ✿
Malam beranjak larut. Di ruang keluarga rumah Zara, suasana sudah amat meriah. Zara dan Aira sibuk menggelar bungkus mie kuah instan di atas karpet sambil menonton drama Korea favorit mereka. Namun batang hidung Bayu dan Panji yang berjanji datang lebih awal justru belum juga terlihat.
Di tengah keasyikan menyeruput mie pedas, bel rumah berbunyi nyaring. Zara bergegas membukakan pintu, mendapati Bayu dan Panji berdiri di teras dengan penampilan bak pendaki gunung membawa ransel carrier raksasa, tikar gulung, lengkap dengan kupluk musim dingin di kepala.
"Maaf, kalian ini mau menginap atau mau evakuasi bencana alam?" tanya Zara melongo.
"Kami sedang latihan bertahan hidup, Tante," jawab Panji tanpa dosa.
"Cepat suruh kami masuk! Ransel ini beratnya kayak menanggung beban hidup se-RT!" keluh Bayu ngos-ngosan.
Zara lantas mempersilakan kedua temannya masuk dan menutup pintu.
"Astaga, isinya batu apa saja sih ini tas?" komplain Aira melihat Panji melepas ranselnya dengan bunyi gedebuk yang keras.
"Belum lagi selimutku tebal banget," tambah Bayu merebahkan diri di karpet.
Aira menghentikan tontonannya, menatap dua pemuda itu dengan tatapan menyelidik. "Kalian mau nginap atau mau camping di ruang tamu? Ngapain bawa gulungan tikar segala?"
Tanpa aba-aba, Panji dan Bayu yang kelaparan langsung merangsek maju. Bayu merampas mangkuk mie di tangan Aira, sementara Panji menyambar mangkuk milik Zara.
"Eh, itu punyaku!" protes Aira.
Tak peduli dengan protes kedua gadis itu, mereka melahap mie instan tersebut hingga tandas dalam hitungan menit.
"Mana air minumnya?!" pinta Bayu terbatuk-batuk karena kepedasan.
Dengan sigap Zara menyodorkan teko dan gelas. Keduanya langsung meneguk air dingin itu hingga tersisa tetesan terakhir.
"Kalian berdua ini kelaparan atau baru lepas dari pelarian?" selidik Aira geleng-geleng kepala.
Panji menyeka mulutnya, lalu dengan bangga membongkar isi tas ranselnya. "Ini... Mamaku pesan, kalau menginap di rumah orang jangan sampai merepotkan."
"Buset... Kamu bawa karung beras?!" seru Aira terkejut melihat Panji mengeluarkan 3 kilo beras dari dalam tasnya.
"Aku kan bilang tidak mau merepotkan, jadi aku bawa logistik sendiri buat stok makan tiga hari ke depan," jawab Panji polos menyerahkan bungkusan beras itu ke tangan Zara.
"Panji bawa beras... Terus kamu bawa apa, Bay?" tanya Zara beralih pada Bayu.
Dengan senyum paling manis yang ia punya, Bayu mengeluarkan sebuah bungkusan plastik dari ranselnya. "Tenang saja! Abang Bayu juga bawa makanan penunjang gizi."
Bayu menyerahkan sebungkus kerupuk kulit berukuran jumbo kepada Zara.
"Kerupuk kulit? Kau kira kita bisa kenyang hidup cuma modal kerupuk, Bayu?!" omel Aira gemas.
"Eh, jangan salah! Ini kerupuk kulit sultan, rekomendasi rating bintang lima di toko online langgananku!" bela Bayu tak mau kalah.
Zara hanya bisa mengelus dada, menatap dua makhluk ajaib di hadapannya. "Terima kasih banyak atas sumbangannya... Besok pagi kita resmi sarapan nasi putih dicocol kerupuk kulit, ya."
Panji dan Bayu yang tadinya berbangga diri langsung lesu seketika mendengar sindiran halus Zara, sementara sang tuan rumah berlalu ke dapur untuk menyimpan bahan sembako tersebut.
Menjelang tengah malam, drama Korea yang mereka tonton usai. Suasana mendadak beralih menjadi tegang tatkala mereka memutuskan memutar film horor. Lampu ruang keluarga dimatikan total, menyisakan pendar cahaya dari layar televisi. Zara dan Aira meringkuk di atas sofa, sementara Bayu dan Panji duduk bersila sambil memangku toples kacang.
"Nah... sebentar lagi hantunya bakal muncul dari pojok itu,"bisik Panji menakut-nakuti dengan suara bergidik.
Aira dan Zara langsung bersiap menutup wajah menggunakan bantal sofa, jantung mereka berdegup kencang menunggu adegan seram yang dijanjikan.
Namun, sebelum hitungan detik dari Panji terbukti, tiba-tiba—
KUK!!!
Sebuah ketukan pelan mendarat di bahu Aira, bersamaan dengan bayangan putih samar melintas cepat di sisi kanan ruangan membuat Aira teriak ketakutan diikuti Zara.
"Woy! Hantunya belum muncul tapi kalian sudah berteriak duluan—!" Panji memprotes, namun saat ia menoleh ke arah dua gadis di sofa, ia justru ikut berteriak histeris.
"Kenapa kau ikut-ikutan berteriak, Panji?!" seru Bayu panik.
"Astaga... Bang Arkan, Woy!" teriak Panji histeris sambil menyalakan senter ponselnya secara membabi buta.
Cahaya terang itu menyorot langsung ke arah sosok berkemeja putih yang berdiri tepat di belakang sofa Aira.
Arkan berdiri dengan melipat tangan di dada, menatap tajam keempat remaja yang bergidik di hadapannya. "Jadi... kalian dari tadi menonton film sampai-sampai bel rumah dan ketukan pintu di luar sama sekali tidak terdengar oleh kalian?"
Ruangan mendadak senyap. Tak ada yang berani membuka suara hingga Bayu buru-buru memencet saklar lampu dinding, menerangi seluruh ruangan.
"Cepat kalian tidur sekarang, atau saya seret kalian semua keluar buat tidur di teras!" ancam Arkan dingin.
Tanpa perlu dikomando dua kali, keempatnya langsung kocar-kacir. Bayu dan Panji membentangkan tikar lipat dengan kecepatan kilat, sementara Aira dan Zara berlari ngibrit masuk ke dalam kamar.
Arkan menggelengkan kepala pelan menatap kelakuan mereka. Niat awal kedatangannya malam itu sebenarnya murni untuk mengecek keadaan rumah Zara sesuai amanah orang tuanya bahkan ia memegang kunci cadangan rumah tersebut. Namun, setibanya di sana, ia mendapati rumah dalam kondisi gelap gulita sementara televisi menyala bising. Alih-alih tidur, mereka malah asyik begadang menonton film horor.
Di dalam kamar, Zara dan Aira meringkuk di bawah selimut tebal dengan napas masih memburu akibat kaget.
"Zara... Tadi itu beneran Kak Arkan, kan? Bukannya tadi dia bilang tidak akan sempat ke sini karena ada jadwal jaga malam?" bisik Aira gemetar.
"Mana aku tahu! Padahal pintu pagar luar tadi sudah aku kunci. Jangan-jangan... itu hantu jelmaan Dokter Arkan? Tapi kalau hantu, kenapa ganteng banget?" racau Zara setengah sadar karena takut.
"Ah, entahlah! Mau itu Kak Arkan asli atau hantu jadi-jadian, urusan belakangan! Yang penting kalau besok kita dibunuh, biarkan Bayu dan Panji yang dikorbankan di luar sana!" ketus Aira menarik selimutnya rapat-rapat.
"Aira! Zara! Cepat tidur, atau kalian berdua saya kunci di luar teras malam ini juga!" suara bariton Arkan kembali menggema tegas dari balik pintu kamar.
Mendengar ancaman mutlak itu, Zara dan Aira serempak menutup mata rapat-rapat dan terdiam kaku. Satu hal yang pasti suara tegas dan menyebalkan itu sudah sangat jelas membuktikan bahwa sosok di luar sana adalah Dokter Arkan yang asli, hidup, dan siap mencincang mereka jika berani membantah.
Bersambung__
_____
NB: Hai semuanya jujur hari aku sangat sedih karena aku rajin up sesuai permintaan kalian tapi masih banyak sekali yang jarang atau bahkan tidak pernah dapat jejak dari kalian bantu aku yukk biar semangat lagi dengan Like, komen dan subscribe karya aku, agar aku tidak sedih sedih lagi🥲🥲