Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Atmosfer hangat dan romantis yang menyelimuti kamar utama Puri Moretti seketika hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Suara dering telepon khusus bersandi enkripsi tingkat tinggi di dalam saku jas Gabriel memecah keheningan malam. Telepon itu adalah jalur darurat yang hanya boleh diakses oleh tiga orang tertinggi dalam struktur Moretti Dynasty, dan hanya digunakan jika ada ancaman eksistensial yang mengancam keselamatan sang Don.
Gabriel menarik diri dari dekapan Aurora. Raut wajah tampannya yang baru saja dipenuhi oleh pendar cinta dan pemujaan seketika meluruh, berganti menjadi dingin, kaku, dan mematikan bagai es abadi.
Ia menggeser layar teleponnya, menempelkan benda hitam itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Tuan..." suara Marco di seberang sana terdengar sangat tegang, dipenuhi deru napas yang tertahan di balik desis sinyal radio rahasia. "Pengkhianatan skala besar terjadi di faksi barat dan jaringan logistik utama. Konsorsium yang kemarin menandatangani perjanjian ternyata telah bersekongkol dengan faksi pemberontak lama. Mereka sedang mencoba membekukan aset utama Anda dan mengambil alih wilayah kekuasaan selatan malam ini juga. Ini adalah kudeta dari dalam, Tuan."
Mata Gabriel memicing tajam. Sebuah kilatan kebuasan yang mengerikan menyala di dalam manik mata hitamnya kebuasan dari seorang raja yang singgasana tanah airnya sedang dicoba untuk dirampas oleh tikus-tikus pembangkang.
"Berapa banyak kepala yang terlibat?" tanya Gabriel. Suaranya berbariton sangat rendah, tidak keras, namun mengandung bobot ancaman kematian yang begitu pekat hingga membuat udara di kamar itu terasa membeku.
"Tiga petinggi dewan utama dan dua pimpinan faksi wilayah barat, Tuan. Mereka memanfaatkan absennya Anda kemarin saat membatalkan rapat," jawab Marco tajam. "Mereka mengira Anda sedang lemah dan lengah."
Sebuah senyuman tipis yang teramat miring dan mengerikan terukir di bibir tegas Gabriel. Mereka mengira dirinya sedang lemah hanya karena ia meluangkan waktu sehari untuk bermanja-manja dengan wanita yang dicintainya? Para pengkhianat itu telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka.
"Kumpulkan seluruh unit tempur bayangan Bravos" perintah Gabriel dingin tanpa celah ragu. "Tutup seluruh akses keluar kota. Malam ini, aku sendiri yang akan mencabut nyawa mereka satu per satu. Aku ingin kepala para petinggi itu terpisah dari tubuhnya sebelum matahari terbit."
"Baik, Tuan! Konvoi siap dalam tiga menit."
Bip.
Gabriel mematikan sambungan teleponnya. Pria itu berdiri kaku sejenak di tengah kamar. Energi mematikan dari seorang pembantai berdarah dingin meluap kuat dari tubuhnya, mengusir sepenuhnya aura kelembutan yang beberapa menit lalu membuai Aurora.
Aurora, yang menyaksikan perubahan drastis tersebut dari atas peraduan, merasakan bulu kuduknya berdiri tegak.
Ia bisa membaca situasi dengan sangat jelas: benteng kekuasaan Gabriel sedang diguncang dari dalam. Ada pengkhianatan besar yang berisiko menjatuhkan takhta sang Don. Di satu sisi, bagian dingin di dalam kepala Aurora bersorak hening kekacauan di kerajaan Moretti adalah celah emas yang sangat sempurna untuk memperlancar rencana pelariannya. Jika perhatian Gabriel terpecah oleh perang darah di luar sana, maka pengawasannya terhadap puri ini pasti akan melonggar.
Namun, di sisi lain, melihat aura pembunuh yang memancar dari tubuh Gabriel, rasa gentar murni tetap merayap di dadanya.
Gabriel berbalik, menatap Aurora yang duduk membeku di atas peraduan dengan kalung berlian blue sapphire masih melingkar anggun di leher jenjangnya.
Hati Gabriel terasa berat. Sungguh sangat berat.
Bagi Gabriel, harus meninggalkan Aurora di saat perasaannya baru saja memuncak dan mekar sempurna adalah sebuah penyiksaan batin. Ia baru saja menemukan kedamaian dan definisi cinta di dalam pelukan wanita ini, namun dunia berdarah di luar sana memaksanya untuk kembali menjadi iblis pencabut nyawa. Ia harus pergi membasmi para pengkhianat itu demi mempertahankan kerajaan ini kerajaan yang kini ingin ia serahkan sepenuhnya kepada Aurora dan anak mereka kelak.
Dengan langkah kaki yang mantap namun sarat akan rasa berat hati, Gabriel melangkah mendekati peraduan.
Ia berlutut di tepi tempat tidur, menatap wajah Aurora dengan campuran antara kebuasan dendam musuh dan kelembutan cinta yang mendalam. Tangannya yang besar dan hangat terulur, membingkai wajah Aurora, lalu menekan dahinya rapat-rapat ke dahi wanita itu.
"Aku harus pergi sebentar, Cara mia," bisik Gabriel serak. Napasnya hangat membelai bibir Aurora. "Ada tikus-tikus bodoh yang mencoba membakar kerajaanku saat aku sedang menatap mata indahmu."
"Gabriel..." suara Aurora terdengar pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata sang Don. "Apakah ini sangat berbahaya?"
"Tidak ada yang berbahaya bagiku, Aurora. Hanya ada kematian bagi siapa pun yang berani mengusik milikku," tegas Gabriel dengan nada mutlak yang membakar.
Jemari tangan Gabriel perlahan merayap turun. Dari pipi halus Aurora, menyusuri leher jenjangnya, melewati dada, lalu berhenti tepat di atas perut rata Aurora tempat yang kemarin dan tadi malam telah menjadi pusat seluruh gairah dan harapannya.
Gabriel melingkarkan telapak tangannya di sana. Ia mengelus perut rata Aurora dengan gerakan melingkar yang sangat lembut, penuh kepasrahan, dan doa yang mendalam.
Matanya yang tadi memancarkan ancaman pembantaian, kini meredup hangat saat menatap perut wanita itu.
"Tumbuhlah di sana..." gumam Gabriel sangat lirih, hampir seperti sebuah bisikan sakral yang ia tujukan pada rahim Aurora. Tangannya terus mengelus perut rata itu tanpa henti, seolah-olah sedang mentransfer seluruh energi kehidupan dan perlindungannya ke dalam tubuh Aurora.
"Aku ingin benihku tumbuh di dalam rahimmu, Aurora..." lanjut Gabriel, mendongak menatap mata Aurora dengan pendar obsesi cinta yang begitu pekat. "Bertahanlah di tempat ini. Tunggu aku kembali. Aku akan membersihkan seluruh darah musuh malam ini, agar saat aku pulang besok pagi, kerajaan ini sudah aman sepenuhnya untukmu dan calon anak kita."
Gabriel membungkuk, mengecup perut rata Aurora tepat di balik kain gaun mewahnya dengan durasi yang lama dan penuh penghormatan. Setelah itu, ia bangkit berdiri, menunduk untuk melumat bibir Aurora dalam sebuah ciuman perpisahan yang teramat panas, dominan, dan sarat akan tuntutan agar wanita itu tidak berpaling darinya.
"Aku menyayangimu, Cara mia" bisik Gabriel di bibir Aurora sebuah pengakuan jujur yang akhirnya terucap dari mulut sang raja mafia.
Tanpa menunggu jawaban Aurora yang masih membeku oleh guncangan emosi, Gabriel berbalik. Jas mewahnya terkibas anggun saat ia melangkah lebar keluar dari kamar utama.
Brak!
Pintu mahoni tertutup rapat. Suara langkah kaki pantofel mewahnya berlari cepat menuruni lorong, disusul oleh raungan deru mesin belasan mobil lapis baja dan sirine pengawal yang langsung melaju meninggalkan pelataran Puri Moretti dalam kecepatan tinggi menuju medan pertempuran malam.
Sang penguasa telah pergi untuk membantai para pengkhianatnya.
Kamar utama yang megah itu seketika tenggelam dalam keheningan malam yang mencekam.
Aurora masih terduduk kaku di atas peraduan. Sensasi sentuhan telapak tangan Gabriel yang hangat di perut ratanya masih terasa membakar kulitnya. Kata-kata terakhir pria itu “Tumbuhlah di sana” dan “Aku menyayangimu” terus bergema tanpa henti di dalam ruang hampa kepalanya.
Rasa takut, syok, dan desakan realitas menghantam jiwa Aurora secara bersamaan.
Gabriel benar-benar telah menyerahkan seluruh jiwanya. Pria itu pergi berperang dengan hati yang tertambat pada rahim dan cintanya. Namun bagi Aurora, pengakuan cinta dan elusan hangat di perutnya barusan adalah alarm bahaya paling nyaring yang pernah ia dengar dalam hidupnya.
Aurora menggeser tubuhnya turun dari peraduan. Tangannya gemetar pelan saat menyentuh kalung berlian blue sapphire yang masih membungkus lehernya. Ia melangkah menuju jendela kaca raksasa, memandangi deretan lampu belakang mobil konvoi Gabriel yang perlahan menghilang ditelan kegelapan hutan pinus.
"Dia pergi..." bisik Aurora pada kegelapan malam.
Mata Aurora yang tadi sempat memancarkan kebingungan seketika mengeras bagaikan baja. Seluruh keraguan, kelemahan, dan keterbuaiannya oleh kelembutan Gabriel dalam beberapa hari terakhir langsung menguap tanpa sisa.
Ini adalah kesempatan emasnya.
Gabriel sedang berada di luar puri, terdistraksi oleh pembantaian para pengkhianat kerajaannya. Pengawasan di dalam puri pasti sedang berada dalam posisi paling renggang karena fokus keamanan terbagi ke medan perang di luar.
Aurora mengepalkan tangannya rapat-rapat di kaca jendela.
"Aku tidak boleh hamil," tegas Aurora pada dirinya sendiri dengan nada suara yang penuh determinasi dingin. "Aku tidak boleh biarkan benih iblis itu tumbuh di dalam rahimku. Ini adalah malam di mana aku harus memastikan seluruh jalur pelarianku selesai."
Dengan langkah yang mantap dan mata yang menyala oleh api kebebasan, Aurora berbalik menuju meja riasnya. Waktunya telah tiba. Di saat sang Don sedang menebas leher para pengkhianatnya di luar sana, sang selir di dalam sangkar emas ini siap mengeksekusi pengkhianatan terbesar yang akan meremukkan hati sang raja mafia selamanya.