Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29: Penginapan terakhir dan skenario kamar yang bikin konslet
Sisa perjalanan hari itu dihabiskan Xie Yufei dengan mode membisu total. Otaknya yang biasa bekerja secepat kalkulator akuntansi mendadak stuck di angka nol gara-gara panggilan nama langsung dan tatapan maut Pangeran Mo Cheng. Sementara itu, sang jenderal kembali memejamkan mata dengan tampang datar andalannya, seolah tidak baru saja membuat anak gadis orang mengalami syok jantung berulang kali.
Ketika matahari mulai tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, kereta kuda melambat. Kereta tidak bisa melanjutkan perjalanan karena gerbang utama ibu kota sudah ditutup rapat demi keamanan malam. Sesuai aturan kekaisaran, bahkan seorang pangeran pun tidak boleh membuka gerbang kota setelah bel malam berbunyi tanpa dekrit darurat dari Kaisar.
"Melapor, Jenderal!" suara Xie Jian terdengar dari balik tirai. "Kita terpaksa bermalam di Penginapan Anggrek Merah di pinggiran kota. Pasukan sudah mengamankan seluruh area luar."
"Baik. Atur penjagaan ketat untuk kereta tahanan besi," perintah Pangeran Mo Cheng sembari membuka matanya.
Begitu turun dari kereta, Yufei langsung menghirup udara malam dalam-dalam untuk mendinginkan wajahnya yang masih terasa hangat. Penginapan Anggrek Merah ini terlihat cukup besar, namun karena letaknya di pinggiran kota, suasananya terasa agak remang dan sepi.
Pemilik penginapan, seorang pria paruh baya yang menyadari bahwa tamunya adalah rombongan militer kelas atas, langsung menyambut mereka dengan tubuh membungkuk ketakutan sampai hampir menyentuh lantai.
"Selamat datang, Tuan-Tuan yang agung! Sebuah kehormatan besar!" ucap si pemilik penginapan dengan suara bergetar. "Namun... mohon ampun seribu ampun, Tuan. Karena beberapa hari ini ada festival di perbatasan, penginapan hamba sedang penuh. Saat ini... hamba hanya memiliki sisa dua kamar kosong berukuran besar di lantai atas."
Mendengar ucapan si pemilik penginapan, Xie Jian langsung mengernyitkan dahi. "Dua kamar? Pasukan kami bisa tidur di tenda luar atau di aula bawah, tapi untuk Jenderal dan Nona Xie..."
Pangeran Mo Cheng langsung mengangkat tangannya, memotong ucapan Xie Jian. Mata tajamnya menyapu sekeliling aula penginapan, mendeteksi beberapa tamu lain yang tampak mencurigakan di sudut ruangan. Insting panglima perangnya berbisik bahwa penginapan ini tidak sepenuhnya aman dari mata-mata Gerhana Hitam.
"Satu kamar untukku dan Nona Xie," ucap Pangeran Mo Cheng dengan suara datar dan mutlak. "Satu kamar lagi untuk kau dan pelayan Nona Xie."
UHUK!
Yufei yang baru saja hendak meminum air teh sambutan di meja lobi langsung tersedak brutal sampai wajahnya memerah. Di luar, dia buru-buru menyeka bibirnya dengan saputangan sambil menatap Mo Cheng dengan mata membelalak panik. Namun, di dalam kepalanya, jeritan batin Yufei langsung melonjak ke level tsunami:
(APA-APAAN INI WOY?! Satu kamar berdua?! Ini dinasti kuno macam apa yang memperbolehkan laki-laki dan perempuan sekamar tanpa surat nikah?! Mas Jenderal, lu jangan memanfaatkan situasi darurat buat modus ya! Meskipun lu spek jodoh idaman nasional, tapi kesucian jiwa dan raga anak kosan gue tetep nomor satu! Lagian kalau kita sekamar, terus kalau lu denger bunyi lambung gue yang keroncongan tengah malam gimana? Gengsi dong gue!)
Pangeran Mo Cheng yang mendengar protes batin Yufei tentang 'surat nikah' dan 'kesucian raga' terpaksa menahan diri agar tidak mendesah lelah. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Yufei, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Musuh sedang mengawasi kita, Yufei. Jika kau berada di kamar terpisah, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu jika mereka menyerang di tengah malam," bisik Mo Cheng dengan nada serius yang tidak menerima bantahan. "Ini demi keamananmu. Jangan berpikir yang tidak-tidak."
Mendengar penjelasan rasional dan penuh ancaman keselamatan itu, batin Yufei langsung mengerem mendadak.
(Oh... demi keamanan toh. Kirain mau apa. Lagian pede banget sih gue, lagian Mas Jenderal yang seleranya selir-selir estetik mana mungkin doyan sama gue yang bentukan malam ini mirip gembel habis kena bom asap belerang. Oke deh, demi nyawa selamat, mari kita mengalah!)
"Hamba... hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan mengikuti pengaturan Anda," ucap Yufei di luar dengan nada pasrah yang sangat patuh, membuat dirinya terlihat seperti gadis penurut yang malang.
Setelah pembagian kamar selesai, Yufei berjalan mengekor di belakang Pangeran Mo Cheng menuju lantai dua. Kamar utama yang mereka tempati ternyata cukup luas, dengan sebuah tempat tidur besar berkelambu sutra di tengahnya, dan sebuah sofa kayu panjang di sudut dekat jendela.
Begitu pintu kamar dikunci rapat dari dalam oleh Mo Cheng, atmosfer di dalam ruangan langsung berubah menjadi sangat canggung. Yufei berdiri kaku di dekat pintu, memeluk tas ransel kainnya erat-erat seperti perisai pelindung diri.
Pangeran Mo Cheng melepas jubah zirah ringannya, menyisakan jubah dalam berwarna putih bersih yang membuat siluet tubuh tegap dan atletisnya tercetak jelas di bawah temaram cahaya lilin. Dia menoleh ke arah Yufei yang tampak seperti kelinci ketakutan.
"Kau tidurlah di atas ranjang," ucap Mo Cheng sambil berjalan menuju sofa kayu di pojok ruangan. "Aku akan berjaga dan tidur di sofa ini."
Mendengar hal itu, jiwa kemanusiaan Yufei agak tersentuh. Ranjang sutra itu terlihat sangat empuk dan hangat, sementara sofa kayu itu tampak keras dan pendek untuk ukuran tubuh Mo Cheng yang tinggi besar.
(Wah... Mas Jenderal ternyata punya jiwa gentleman juga ya. Rela encok tidur di sofa kayu demi memuliakan tamu perempuan. Gantengnya nambah lima persen deh malam ini. Tapi kalau dia tidur di sofa, ntar kalau ada pembunuh masuk lewat jendela, dia yang bakal kena duluan dong? Malah berabe investasi skincare gue kalau pelindungnya kenapa-kenapa.)
"Yang Mulia..." panggil Yufei ragu-ragu. "Apakah... Anda tidak kedinginan tidur di sana? Sofa itu tampaknya sangat keras."
Pangeran Mo Cheng yang baru saja hendak merebahkan diri langsung menoleh, menatap Yufei dengan alis terangkat sebelah. Telinganya perlahan mulai menangkap sinyal-sinyal batin yang aneh dari gadis itu.
"Lalu? Apakah kau ingin aku tidur di atas ranjang bersamamu, Nona Xie?" tanya Mo Cheng dengan nada menggoda yang jarang dia gunakan, sengaja ingin melihat sejauh mana gadis ini berani bertingkah.
DEG!!!
Satu kalimat dari Mas Jenderal sukses membuat seluruh sirkuit di otak Yufei mengalami konslet total tanpa ampun.