Hari ini tidaklah sama dengan hari kemarin. Begitu pula dengan rasaku. Terima kasih atas hadiah "sakit" dimasa lalu yang akan aku kenang seumur hidupku. -Elea Wiryawan-
Aku menunggumu pulang untuk meminta maaf. Semoga Tuhan memberiku kesempatan itu. -Erlan Wiguna-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Maya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Suka Semangatmu
"Tinggalkan kami bertiga" perintah Elea kepada Handi.
Begitu Handi keluar dari ruangan itu, Elea menatap tajam pada Dewi. Elea mengeluarkan sebuah pena dari tas nya dan selembar cek.
"Tulis dengan pena itu berapa nominal yang kamu mau?"
"Maaf bu tapi saya tidak pernah bermaksud menggoda bapak waktu itu. Saya tidak tau kalo bapak adalah pemilik perusahaan ini. Saya melamar kemari karena melihat iklan yang dipasang oleh perusahaan ini" jawab Dewi ketakutan.
"Cepat tulis"
"Tidak bu. Tidak. Saya akan pergi supaya tidak dikira pelakor. Sumpah bu saya tidak punya niat menggoda bapak. Waktu itu saya sungguh-sungguh hanya menawarkan parfum. Saya hanya pekerja freelance bu. Berani sumpah saya"
Erlan membiarkan saja kedua wanita itu melakukan apa yang mereka mau. Lebih baik dia diam dan bekerja dengan macbook nya.
"Kau itu drama sekali. Saya memintamu untuk menulis berapa nominal yang kamu mau bukan untuk menjauhi pak Erlan. Cepat tulis berapa pun nominal angka yang saat ini terbersit di pikiranmu"
"Berapa pun?"
"Ya"
Akhirnya Dewi mengambil pena dan menuliskan deretan angka yang menunjukkan nominal yang fantastis.
"Satu milyar" baca Elea.
Dewi mengangguk.
"Untuk apa uang itu?"
"Saya ingin membawa ibu saya berobat ke tempat yang bagus supaya ibu saya segera sembuh dan sisanya saya ingin membeli rumah kecil untuk ibu dan saya tempati"
Semua yang dikatakannya tentang ibu. Sungguh langka di jaman sekarang seorang anak mengedepankan kebahagiaan ibunya terlebih dahulu. Batin Elea.
"Jika saya menawarkan kepadamu kedua benda tersebut, mana yang kamu pilih?"
"Pena dan cek?"
"Ya"
"Pena" jawab Dewi tanpa pikir panjang.
"Kenapa?"
"Ini bukan pena sembarangan. Orang yang memakai pastilah sangat kaya sehingga untuk memakai pena harus memperhatikan kenyamanannya saat memegang dan menulis. Kalo orang susah, jangankan mikir buat beli pena seperti ini bu, sudah bisa makan saja alhamdulillah"
"Bukannya kamu ingin membawa ibu mu berobat. Lantas apa gunanya pena itu jika kamu miliki? Kamu jual pun harganya tidak akan lebih dari satu juta"
Dewi tersenyum.
"Pena ini akan saya jadikan semangat untuk sukses bu. Kelak saat saya sudah punya usaha sendiri dan jadi bos, saya akan pakai ini buat tanda tangan. Keren kan" jawab Dewi sambil tersenyum lebar.
"Kamu memilih mengambil sesuatu yang belum pasti"
"Justru karena sudah pasti makanya saya berani bermimpi"
"Apa yang pasti dari sebuah pena?"
"Pertama karena ibu pasti lebih ikhlas ngasih pena dari pada cek itu. Kedua pena itu buat saya terpacu untuk jadi orang hebat seperti ibu dan bapak ini, yang akan mengantarkan saya ke tempat yang tidak akan diremehkan. Dan yang ketiga karena pena ini menunjukkan kelas dan kualitasnya, strata sosial yang lebih tinggi, mahal dan eksklusif. Dan orang yang berkualitas itu sedikit. Jika saya memakai pena itu artinya kualitas saya diakui"
"Hanya sebuah pengakuan dan ibu mu tetap sakit"
Dewi menggeleng cepat.
"Kalo saya sudah memakai pena itu artinya kemampuan ekonomi saya sudah jauh lebih baik berarti ibu saya juga sudah berobat"
"That's the point. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja di sini. Semua hal mengenai pelaksanaan teknis kamu tanyakan ke Handi yang mengantarmu tadi. Selamat bergabung"
Elea mengulurkan tangannya dan langsung disambut dengan senyum lebar Dewi.
"Terima kasih atas kesempatan yang luar biasa ini bu Elea, pak Erlan"
..........
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan vote ya. Makasih semua, kasih bunga sekebooonn buat aku ya.