Nela adalah seorang remaja pemberani yang memimpin geng B&G, sebuah geng yang berjuang untuk kesetaraan gender. Ia selalu siap menghadapi tantangan dan risiko demi membela hak-hak wanita. Namun, ia tidak menyangka bahwa salah satu misinya akan membuatnya bertemu dengan seorang polisi muda yang tampan dan tegas, yang bernama Raka.
Juna adalah seorang polisi idealis yang bertugas di sekolah Nela. Ia tidak suka dengan keberadaan geng-geng yang meresahkan dan mengganggu ketertiban. Ia bertekad untuk memberantas geng B&G, terutama ketika ia mengetahui bahwa Nela adalah ketuanya.
Keduanya pun terlibat dalam perseteruan yang sengit dan seru. Mereka saling benci, saling ejek, dan saling sikut. Namun, di balik itu semua, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang membuat mereka bingung dan ragu yang disebut cinta.
Apakah Nela dan Raka akan bisa mengatasi perbedaan mereka? Apakah mereka akan bisa menerima perasaan mereka? Atau apakah mereka akan tetap menjadi musuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diantysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Nela merasakan denyut sakit di pergelangan kakinya saat ia tersandung dan jatuh. Ia menatap dengan marah lelaki yang berdiri di depannya dengan tatapan sinis. Lelaki itu adalah musuh bebuyutannya sejak SMP, yang selalu mengganggu dan mengejeknya.
“Lo ngapain sih, tolol?!” Nela bangkit dengan susah payah dan menarik kerah baju lelaki itu. Ia ingin memukul wajahnya yang sombong itu.
Lelaki itu malah mendorong Nela dengan kasar, membuatnya kembali terjatuh. Nela merintih kesakitan saat kakinya terkilir.
“Lo yang tolol, cewek! Lo nggak liat jalan apa? Lo kira lo siapa, bisa ngomong gitu sama gue?” Lelaki itu berteriak dengan angkuh.
Juna, orang yang melihat kejadian itu, langsung berlari ke arah mereka. Ia mendorong lelaki itu dengan keras, membuatnya terhuyung.
“Lo jangan macam-macam sama Nela, lo bajingan! Lo nggak punya hati apa, liat dia sakit gitu?” Juna membentak dengan emosi.
Nela sudah berdiri lagi, meski masih terpincang-pincang. Ia menarik lengan Juna untuk menghentikan pertengkaran itu.
“Udah, Kak. Biarin aja dia. Dia emang gitu, suka nyari gara-gara. Jangan kasih dia kesenangan,” Nela mencoba menenangkan Juna dengan memijat pundaknya.
Tiba-tiba, ada suara tawa dari belakang mereka. Mereka menoleh dan melihat seorang anak laki-laki yang sedang bermain ponsel. Anak itu melempar ponselnya ke udara dan menangkapnya lagi dengan lincah.
“Halo, Nona cantik. Gimana kabarnya? Kaki lo nggak apa-apa kan? Mau gue panggilin ambulans buat lo?” Anak itu berkata dengan nada genit.
Nela tersenyum melihat anak itu. Dia adalah Bara, adik kelasnya yang selalu ceria dan ramah. Nela merangkul pundak Bara dengan hangat.
“Hai, Bara. Lo ngapain di sini? Lo nggak ada pelajaran apa?” Nela bertanya sambil melirik sekeliling.
“Enggak, gurunya ada urusan jadi jam kosong. Gue lagi jaga-jaga aja siapa tau ada yang bolos. Kayak lo misalnya,” Bara menjawab sambil menyengir.
Nela segera membekap mulut Bara dengan tangannya. “Sst … jangan ngomong sembarangan ya, Bara. Nanti gue kena masalah.”
Plak
Nela merasakan tamparan di lengannya. Ia menoleh dan melihat lelaki yang tadi mendorongnya sudah berdiri lagi. Lelaki itu menatapnya dengan benci.
“Lo jangan sok-sokan deket-deket sama geng B&G! Lo nggak pantas buat mereka! Lo cuma cewek murahan yang sok pintar!” Lelaki itu menghina Nela dengan kasar.
Nela membalas tatapan lelaki itu dengan dingin. “Lo nggak usah ikut campur urusan gue sama geng gue! Lo nggak punya hak buat ngatur hidup gue! Lo cuma cowok tolol yang sok jago!” Nela balas menghina lelaki itu dengan tegas.
Lelaki itu marah dan hendak melayangkan tinjunya ke arah Nela. Namun, sebelum tinjunya mengenai wajah Nela, ada tangan yang menangkapnya. Tangan itu milik Boy, ketua OSIS sekaligus ketua B&G di sekolah mereka. Boy menatap lelaki itu dengan dingin.
“Lo nggak usah sok keras sama Nela, lo! Lo nggak tahu siapa dia? Dia itu ketua Girl juga ketua Boy alias ketua geng B&G pihak Girl! Lo berani-berani aja nyentuh dia, gue bakal hancurin lo!” Boy mengancam lelaki itu dengan galak.
Lelaki itu terkejut dan ketakutan. Ia kurang informasi bahwa Nela adalah salah satu ketua geng B&G. Boy adalah orang yang paling ditakuti di sekolah mereka. Ia memiliki banyak pengikut dan kekuasaan. Ia juga dikenal sebagai orang yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan, tetapi juga baik.
Boy menyeret lelaki itu ke ruang OSIS. Ia berencana memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dilupakannya. Ia menoleh sebentar ke arah Nela dan memberinya senyum manis.
“Lo nggak usah khawatir, Nela. Gue bakal urus dia. Lo istirahat aja dulu, ya. Nanti gue dateng lagi buat nemenin lo,” Boy berkata dengan lembut.
Nela cuman tersenyum mendengar ucapan Boy. Ia merasa beruntung memiliki teman seperti Boy. Teman-temannya sangat diandalkan.
Nela kemudian menoleh ke arah Juna, lelaki itu sudah diam sejak tadi. Ia heran kenapa Juna tidak ikut bicara atau membantunya. Ia melambaikan tangannya ke arah Juna, berharap mendapat respon.
Namun, Juna malah berbalik dan pergi meninggalkan Nela. Ia tidak mau melihat Nela bersama Boy. Ia merasa cemburu dan sakit hati.
“Kak, tunggu! Bantuin gue dong, kakiku sakit!” Nela memanggil Juna dengan suara memelas.
...****************...
Juna tidak bisa tidur semalaman. Ia terus memikirkan Nela. Ia merasa kesal melihat Nela yang tidak berhati-hati kepada cowok. Ia tidak menyadari sudah masuk perangkap pesona Nela.
Pagi ini, ia pergi ke kantor polisi tempat ia bekerja sebagai agen rahasia Intelijen. Ia bekerja di sana sebagai bagian dari Intelijen bagian perekonomian. Lalu sekarang menjadi mata-mata di sekolah SMK 1 Xeandra. Ia bekerja di bawah naungan NISE, sebuah organisasi rahasia yang bertugas melindungi negara dari ancaman terorisme dan kejahatan lainnya.
Ia masuk ke ruang kerjanya dengan wajah lesu dan kantong mata hitam. Ia menguap berkali-kali dan tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
“Eko … kayaknya lo perlu istirahat,” kata salah satu rekan kerjanya yang melihat kondisi Juna.
“Eko! Eko! Eko! Lo kira gue masuk Pak Eko,” gerutu Juna dengan kesal. Eko adalah nama samaran yang ia gunakan saat bekerja sebagai agen rahasia.
“Bukannya lo harus pergi ke sekolah?” tanya rekan kerjanya lagi.
“Gue nggak enak badan,” jawab Juna dengan bohong. Ia menguap lagi.
Beberapa orang di ruang kerja itu mulai curiga dengan alasan Juna. Mereka tahu bahwa Juna adalah siswa teladan yang jarang bolos sekolah.
“Lo nggak perlu bohong, Eko. Gue tau lo cuma malas sekolah,” kata rekan kerjanya yang lain.
“Cuma nggak bisa tidur malam tadi!” Juna membantah dengan jujur.
“Itu kenapa? Kepikiran cewek, ya?” tanya rekan kerjanya yang lain lagi dengan iseng.
Juna meremas rambutnya dengan frustasi. Ia tidak tahan lagi dengan rekan kerjanya yang selalu menggoda dan mengusili dia.
...****************...
Di tempat lain, Nela menatap papan tulis dengan gelisah. Ia ingin segera menemui Juna yang tidak kelihatan sama sekali dari pagi. Ia khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Juna, karena ia tahu bahwa Juna adalah agen rahasia Intelijen yang bekerja di NISE.
Namun, ia tidak bisa meninggalkan kelas begitu saja. Ia harus mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Ia berharap pelajaran segera selesai, agar ia bisa pergi mencari Juna.
"Nela!"
Nela terkejut saat mendengar namanya dipanggil oleh guru. Ia berdiri dengan cepat dan menatap guru dengan bingung.
"Ya, Bu?" Nela menjawab dengan sopan.
"Kamu kenapa? Kamu tidak fokus sama sekali. Apa kamu ada masalah?" guru itu bertanya dengan prihatin.
Nela tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia ingin menemui Juna yang bekerja sebagai agen rahasia. Ia juga tidak bisa mengatakan bahwa ia sedang khawatir pada lelaki itu.
Sebelum Nela bisa menjawab, ada suara yang membela dia dari belakang. Suara itu milik Amel, sahabatnya yang lain.
"Maaf, Bu. Sebenarnya Nela tidak enak badan dari pagi," Amel berbohong untuk menolong Nela.
"Apa itu benar, Nela?" guru itu bertanya lagi pada Nela.
Nela menoleh ke arah Amel dan tersenyum tipis. Ia berterima kasih pada Amel yang sudah membantunya.
"Iya, Bu. Saya hanya kurang tidur jadi agak kurang enak badan," Nela mengiyakan omongan Amel.
Ia memang mengatakan hal yang sebenarnya. Ia kurang tidur karena terus memikirkan Juna. Ia bermimpi tentang Juna dan dirinya bersama.
"Baiklah, kalau begitu kamu cepat kembali duduk," guru itu berkata dengan mengalah.
Nela berterima kasih lagi pada guru itu. Lalu ia duduk kembali di bangkunya dengan lega.
Pelajaran pun dilanjutkan. Amel terus menatap Nela dengan khawatir. Ia merasa bersalah karena akhir-akhir ini jarang bersama Nela.
Amel dan Nela adalah sahabat sejak SMP. Mereka selalu bersama dalam suka dan duka. Amel sangat menghargai persahabatan mereka.
Namun, sejak masuk SMA, Amel mulai memiliki teman baru yang lebih seru dan asyik. Ia mulai jarang menghabiskan waktu bersama Nela. Ia merasa telah mengkhianati Nela.
Kring! Kring!
Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas dengan riang.
"Baiklah, pembelajaran hari ini saya akhiri. Jangan lupa minggu depan PR akan dikumpul. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," guru itu mengakhiri pelajaran dengan salam.
Nela dan Amel ikut menjawab salam guru itu. Lalu mereka membereskan barang-barang mereka dengan cepat.
"Nela, gue minta maaf," Amel berkata dengan memegang tangan Nela.
"Loh, kenapa sama temen manis gue? Ada yang macam-macam sama lo?! Kalau nggak, sini gue tendang dia!" Nela berkata dengan bercanda.
Ia mencoba mencairkan suasana yang tegang. Ia tahu bahwa Amel merasa bersalah padanya.
Amel hanya menggelengkan kepalanya dengan mengelap air matanya. Ia memeluk Nela dengan erat. Ia menangis karena menyesali perbuatannya.
"Maaf ... selama ini gue nggak bareng sama lo. Justru asyik sama temen baru," Amel mengaku dengan terisak.
Nela terkejut melihat Amel menangis. Ia mengelus punggung Amel dengan lembut. Ia berusaha menenangkan Amel.
"Kenapa, Mel? Ada masalah bilang aja sama gue," Nela berkata dengan lembut.
Ia ingat bahwa dulu Amel pernah mengalami masalah keluarga yang berat. Ayah Amel sering memukuli ibu Amel. Nela selalu ada untuk mendukung dan menyemangati Amel.
"Ih, gue kira apa. Ya, nggak masalah kali punya temen baru. Gue juga punya temen baru kayak lo jadi seri aja, ya? Nggak perlu ngerasa bersalah gitu," Nela berkata dengan santai.
Ia mencoba membuat Amel merasa lebih baik. Ia tidak mau Amel merasa bersalah karena hal sepele.
Nela kembali terburu-buru membereskan barang-barangnya. Ia ingin segera menemui Juna. Ia penasaran apa yang Juna lakukan di kantor polisi.
"Mau ke mana buru-buru?" Amel bertanya dengan penasaran.
"Mau ketemu Juna. Mau ikut nggak? Lo pasti kaget banget," Nela berkata dengan antusias.
Ia ingin mengajak Amel untuk menemui Juna. Ia ingin memperkenalkan Amel pada Juna sebagai sahabatnya yang baik. Ia juga ingin melihat reaksi Amel saat melihat Juna sebagai agen rahasia.