seorang gadis yang terus menerus menyesal dengan takdirnya dan berharap segala kepahitan yang ia rasakan hanyalah mimpi buruk saja,namun siapa yang bisa berlari dari takdir dan kenyataan? Bagaimana caranya hidup tanpa mengeluh? Bukan ini yang selama ini aku cari,bisakah aku memegang kendali untuk hidup yang ingin aku nikmati?!
"berhenti mengeluh nak,kau hanya akan menyakiti diri sendiri pada akhirnya"kalimat itu yang slalu ku dengar .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Naira sungguh senang untuk hari ini,karena bisa keluar setelah meditasi yang tidak direncanakan itu.
"Makasih ya mora"ucap naira sembari memakan es krim coklat itu.
Amora menganggukkan kepalanya,ia juga merasa sedikit senang tapi pikirannya terus terbagi ke arah lain
"Are you oke?"tanya naira memandang wajah lesu amora
"Hah"ucap mora seperti orang kebingungan
"Kenapa?"tanya naira lembut
Amora menyadari bahwa naira memang yang terbaik sebagai sahabat
"I'am tired"ucap amora sendu
"Jangan berusaha nutupin diri kamu mora,aku di sini"ucap naira begitu tenang,dia bahkan tidak seperti orang yang sedang kesulitan.
"Mami sama papi berantem karena papi ketemu mantan pacarnya"jawab amora membuat naira tertegun
"Bukannya hal gitu biasa terjadi dan wajar kalo mereka bertengkar"ucap naira
"Kamu gak cape ya ai?"tanya amora menatap naira penuh tanya,naira menggelengkkan kepala sebagai jawaban.
"Kenapa tanya gitu?"tanya naira polos
"Huh,minta orang buat gak pura-pura tapi kamu sendiri malah jadi manusia yang sok kuat"cibir amora menatap sendu sahabatnya itu.
Helaan nafas yang begitu berat keluar dari naira,dia mengerti dengan yang di maksud amora tapi dia dengan sengaja menulikan perasaannya.
Mereka berdua bersama-sama menatap ke atas langit dengan jalan pikirannya masing-masing.
"Ada seseorang yang terlihat senang padahal di dalamnya dia terkurung ketakutan,bukan tidak pernah mencoba keluar tapi jeruji itu terbuat dari trauma yang ia simpan"ucap naira tak mengalihkan pandangannya
"Aku takut,semua orang akan menolak kehadiran aku dan dia"lanjutnya membuat amora menoleh ke arahnya.
"Naira"ucap amora sendu saat melihat air mata naira mengalir tenang,dia berusaha menghapusnya tapi ternyata dia mulai mengerti.
"Jika senyuman adalah obat untuk itu,lakukan sesuka hati dan biarkan itu terjadi"ucap naira menatap naira dengan senyum yang dihujani air mata.
Mereka pun berpelukan berbagi ketenangan untuk sesaat,namun setelah beberapa menit pelukan itu terasa mengendur
"Naira"ucap amora mencoba melepas pelukan itu dan ternyata naira sudah pingsan dengan wajahnya yang pucat.
Amora yang gelisah dengan kondisi naira tiba-tiba seperti ini pun berusaha membawa naira ke rumah sakit terdekat.
_____________
"Amora"ucap dokter amel heran melihat amora yang menangis sendiri di lorong rumah sakit
"Amora apa yang terjadi?"tanya dokter amel lagi.
Amora tak menjawab sama sekali kecuali terus menangis.
Dokter amel pun langsung masuk ke ruangan itu,namun ia sama sekali tak melihat hal yang serius kecuali naira yang menunduk kepala.
Naira tak menangis atau pun tersenyum,apa yang salah?
"Apa semuanya benar naira?"tanya dokter amel menatap naira sendu
"Dokter"ucap naira memangdang nya kosong
"Iya"jawab dokter amel lembut
"Apa amora masih di sini?"tanya amel dengan mata yang berkaca-kaca,dokter amel menganggukan kepala sebagai jawabnnya.
Flashback on:
Amora berusaha membopong tubuh naira untuk masuk ke rumah sakit,ia juga sudah memberi tahu dokter amel tentang kondisi naira.
Setelah beberapa menit menunggu,akhirnya dokter pun keluar.
"Keluarga pasien?"tanya dokter itu
"Saya sahabatnya dok"jawab amora khawatir.
"Gimana keadaannya naira dok?"tanyanya lagi
"Tidak ada masalah serius dengan kondisi pasien,mungkin istirahat dan juga makanannya harus mulai dijaga saja"ucap dokter itu tersenyum,akhirnya amora bisa bernafas dengan lega.
"Kandungannya juga sangat sehat"lanjut dokter itu membuat amora begitu terkejut dengan apa yang ia dengar,apa maksud dokter itu.
"Naira hamil?"ucap amora tak percaya,tapi dari ekspresi dokter ini seakan bukan pertama kalinya memeriksa keadaan naira.
"Apa ibu naira belum memberi tahu ini?"tanya dokter itu dan langsung di angguki amora.
"Sudah jalan 3 minggu dok"ucap amora tak percaya,pikirannya begitu kacau dengan apa yang terjadi belakangan ini.
"saat itu ibu naira datang dan menunggu dokter kandungan tapi saat itu hanya ada saya dan saya yang memeriksa beliau sendiri"tutur dokter itu jelas.
Setelah mendengar penjelasan dokter amora dengan tergesa-gesa menghampiri naira yang tengah berbaring di sana.
"Siapa ayah nya?"tanya amora dengan sinis,naira tahu dokter pasti telah memberi tahu kenyataannya.
Naira bangun dari tidurnya menatap naira dengan tenang,tangannya mengarahkan amora untuk duduk di sampingnya.
"Mau dengar satu kisah?"ucap naira menatap amora yang menggelengkan kepalanya.
"Malam itu dia mabuk"ucap naira begitu berat mengingat kejadian naas,tapi ia melanjutkannya dengan menutup mata.
"Aku di tendang habis habisan di sebuah gudang,banyak juga luka yang terbuka.
Tapi setelah beberapa menit dia kembali tenang menatap ke arah ku,lalu..."ucap naira mulai meneteskan air matanya.
"Apa"tanya amora yang juga sudah membiarkan air matanya lolos
"lalu,dia kembali kesetanan membuka dan merobek pakaian yang sudah penuh darah dan..."lanjut naira tak bisa mengatakan kata selanjutnya,ia menangis menunduk malu untuk dirinya sendiri.
"Siapa ayahnya naira?"ucap amora kembali bertanya
"Kak a andri"jawab naira lalu memeluk amora,ia sungguh tak bisa menerima kenyataan ini,ia merasa tak pantas untuk hidup lagi.
Amora begitu tersiksa mendengar kenyataan yang pahit ini,kenapa naira harus menyimpannya seorang diri?kenapa harus naira yang mengalami kejadian ini?.
"Amora,aku takut,aku takut semua orang gak bisa terima ini,aku gak bisa nyakitin calon bayi ini amora,dia gak salah"ucap naira dalam tangisnya,amora semakin erat memeluk sahabatnya itu.
"Maafin aku naira"ucap amora merasa menyesal dengan dengan kenyataan ini,dengan cepat juga ia melepaskan pelukan iti dan berlari ke luar ruangan.
Flashback off.
"Dokter,apa aku masih layak untuk hidup?aku bahkan bukan sudah menjadi pelacur,menjadi wanita yang kotor,siapa yang bisa menerima wanita seperti ini?"ucap amora sendu.
"Pulang lah dan beri tahu kenyataannya.Maka kamu akan melihat betapa banyak nya orang yang mencintai kamu"ucap dokter amel mengusap tangan naira,dokter amel sudah seperti ibu dan kakak untuk naira.
"Bukan kah jelas,bahwa amora juga kecewa"ucap naira sedih
"Dia kecewa karena baru mengetahui kesulitan yang kamu sembunyikan naira"jawab dokter amel,dokter amel bukannya tidak tahu dengan kehamilan naira.
Ia sudah memeriksa sendiri saat menemukan tespek di kamar naira saat naira meminta izin untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya yang sering merasa mual,dokter amel adalah dokter psikolog dan ia mampu membaca kondisi pasiennya yang gelisah tapi dia bungkam menunggu amel siap menceritakan
Kondisinya sendiri.
Setelah menangis dan menelas kepahitan rasa sakit ini,amora kembali menemui naira yang sudah bersama dokter amel disana.
Ia begitu hancur,tapi dia tahu naira begitu membutuhkan dirinya untuk mengerti dan menjalani kembali kehidupannya.
"Maaf amora,karen aku kamu harus merasa hancur.
Aku juga,dunia ku hancur saat tahu semua ini terjadi pada kehidupan ku"batin naira berucap saat melihat amora yang mendekat ke arahnya.
make sure everything okay beib...
lovu you so much.😘
goa??? ishh...
/Gosh//Gosh//Gosh/