"Jadi aku ini siapa mas?", ucap Ana sembari menahan tangis yang mencekat di ujung kerongkongan.
"Kamu bagian hidupku An", terdengar suara sosok laki laki yang matanya tersorot penuh kehangatan, tapi juga keraguan yang tak dapat disembunyikan.
Cinta memang begitu ya, kadang hangat bak mentari pagi yang menerpa, kadang pula seperti angin malam yang dinginnya menghembus masuk ke tulang. Tidak dapat dipastikan namun dapat dirasakan. Ana dan Farhan, dikuatkan karena cinta, namun lemah dengan keadaan. Kira kira, jalan seperti apa ya yang terbentang di depan sana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sarithul15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Kiss
Malam itu Ana benar benar tidak bisa tidur. Dia membolak balikkan tubuhnya di atas kasur. Satu detik saja ia memejamkan matanya bayangan ciumannya dengan Mas Farhan tadi membuat kupu kupu di perutnya serasa beterbangan. Ah, sensasi geli yang membuat jantungnya berdebar hebat. Tangannya bahkan sesekali menyentuh bibirnya. Merasakan kembali bibir lembut Mas Farhan yang membuatnya mabuk kepayang.
Di tempat yang berbeda Farhan pun merasakan hal yang sama. Ia tidur di sofa ruang tamu. Namun bibirnya tak lekang terus tersenyum. Bahagia sekali rasanya dia bisa merasakan manisnya bibir gadis pujaannya. Ah, rasanya ciuman tadi terlalu singkat. Ingin Farhan mengulangnya lagi.
Entah pukul berapa akhirnya mereka bisa terlelap. Keduanya sama sama dilanda kasmaran yang membara dalam hati mereka. Tak ada ritual berbalas pesan malam itu. Farhan pulang dari rumah Ana sudah larut malam. Pun mereka juga sama salah tingkahnya.
Ana bangun ba'da subuh. Hari ini hari Minggu. Ia berencana pergi belajar kelompok dengan beberapa teman sekelasnya. Ah, tiada hari libur baginya. Mengambil jurusan Akuntansi memang banyak membuatnya tidak bisa bersantai, tugas berceceran dimana mana. Namun ia menikmatinya dengan senang hati. Sudah hobinya bermain dengan angka.
Masih sangat pagi, Ana menyempatkan diri untuk membantu ibunya di dapur, membereskan rumah, juga menyiapkan keperluannya untuk belajar kelompok. Setelahnya ia pergi mandi, dan bersiap siap untuk berangkat ke rumah alah satu teman kelasnya.
Tak diduga Farhan mencegatnya di halaman parkir. Ana masih terlihat salah tingkah. Bayangan bayangan ciuman semalam masih berputar jelas di kepalanya. Spontan dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Farhan yang melihatnya hanya terkekeh kecil.
"Kok ngumpet sih? Mau kemana kok nggak bilang?", celetukan Farhan menggoda.
"Ana mau belajar kelompok sama temen temen", jawab Ana singkat dari balik tangannya.
"Iya kemana? Ponselnya ngga ada ya? Kenapa ngga ngabarin?", cerca Farhan posesif. Dia membuka tangan Ana, menunjukkan wajah perempuan itu yang terlihat kikuk.
"Kok gitu mukanya", Farhan menggoda.
"Ih, Mas Farhan nyebelin. Ana tuh masih tantrum Mas, seneng banget godain Ana", jawab Ana sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Farhan gemas, ingin menciumnya lagi.
Farhan diam saja, namun tatapannya pada Ana malah membuat dirinya menegang, gadis ini membuat dia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Kalau diingat lagi Farhan bahkan sudah memiliki istri, tapi entah mengapa hasratnya pada Ana jauh lebih besar. Dan Farhan menyadari hal itu.
Akhirnya setelah beberapa celetukannya pada Ana dia membiarkan gadis itu pergi. Dia pun memesan secangkir kopi pada Ibu Ana, merebahkan dirinya di kursi panjang warung, dan tidak sadar tertidur. Mungkin karena semalam tidak bisa tidur.
Ana pulang hampir siang, tepat saat adzan dhuhur. Dia mendapati Farhan sudah tidak ada di rumah. Sudah pulang mungkin. Dia menghembuskan nafas kasar. Sebenarnya dia buru buru ingin pulang karena pujaan hatinya. Tak apalah, nanti juga kesini lagi.
Ana merebahkan dirinya. Mengecek ponselnya berharap ada notifikasi dari Farhan. Benar saja ada pesan yang ditinggalkan laki laki itu. Ana tersenyum membacanya.
"Sayang, aku pulang dulu ya, ada seminar di rumah sakit. Nanti aku pulang langsung kesana lagi", pesan itu diakhiri tanda senyum.
Ana hanya tersenyum, tidak membalasnya. Dia mencharger ponselnya. Kemudian beranjak ke dapur dan membantu ibu.