Malam itu terdengar tangisan di tengah gelapnya malam. Seorang bayi terbungkus kain putih di letakkan begitu saja diantara tumpukan sampah yang berbau.
Keluarga Anggoro, keluarga yang di kelilingi orang-orang kejam tega membuang darah daging mereka demi sebuah gengsi.
Bayi malang Dewi yang lahir kembar dengan Bintang anggoto. Dewi memiliki sisik emas, sisik yang keluar saat dia marah atau sesuatu akan menimpa sedangkan adiknya bintang juga memiliki kekuatan yang luar biasa hebatnya.
akankah mereka bersatu ataukah mereka akan jadi musuh satu dengan yang lain?
ikuti terus kisahnya sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. AIR TERJUN ULAR.
Kedua mata menyala, dari tubuh dewi keluar sisik lalu berubah jadi ular.
Tiga serigala semakin bersemangat, mustika yang selama ini mereka cari sudah ada di depan mata.
Satu diantara serigala melompat menerkam Dewi, dengan cepat Dewi ular menyabet dengan ekor.
Plak........
Kena, Serigala tak menjerit sedikit pun. Heran, baru kali ini ada yang lolos dari sabetan ekornya. Dewi ular segera menghindar dari terkaman serigala.
"Sihir apa yang dimiliki serigala ini sebenarnya, tak sedikitpun merasakan sakit terkena sabetan ku?" ucap Dewi dalam hati.
Dengan mata batin, Ryo tupai menerawang ketiga serigala itu. Ke tiganya memiliki kekuatan yang luar biasa. Kebal, bisa menghilang dan yang terakhir dapat berubah bentuk.
"Waspada, mereka bukan sembarang serigala. Ketiganya memiliki kekuatan yang luar biasa." bisik Ryo di telinga Dewi.
Serigala kedua kembali melompat menyerang Dewi, dengan cepat Ryo tupai menghadangnya, memagari tubuh mereka dengan tabir, sayang tembus, Ryo tupai terlempar. Pagar yang di buat tidak mempan menghalau serigala itu.
Ryo tupai terlempar kedinding, menjerit dan kembali menjadi manusia.
Tidak sampai disitu, serigala kedua ikut menerkam Dewi ular, kali ini Dewi ular dengan cepat melilit kepalanya.
Hanya sesaat tiba-tiba serigala itu menghilang. Belum juga rasa penasarannya hilang serigala ketiga melompat menyerang Dewi ular, dengan cepat Dewi mengeluarkan bola emas dari dalam mulut dan menghantam serigala ketiga.
Serigala ketiga berubah menjadi perisai menahan serangan bola emas.
"Menyerah dan serahkan mustika mu." ucap salah satu dari serigala itu.
"Ambil saja kalau kalian bisa." tantang Dewi ular.
"Baik kalau kamu memaksa. Ayo serang dia lagi lalu kita rebut mustika nya."
Ketiganya kembali mengepung Dewi ular. Mereka menyerang secara bersamaan membuat Dewi ular kewalahan. Di lilit, menghilang, dipukul tidak merasa sakit, diserang dengan bola emas dapat di tangkis dengan mudah.
Pertarungan semakin seru, ketiga serigala semakin melancarkan serangan menyerang Dewi ular secara membabi buta dari segala penjuru, mulai kepala, perut dan ekor.
Tidak mudah bagi mereka menumbangkan Dewi ular. Berbagai cara mereka lakukan tetap saja Dewi ular dapat menghindari serangan mereka.
Merasa tidak mampu mengalahkan Dewi ular. Ketiganya saling mendekat
lalu bergabung.
Tubuh mereka menyatu dengan satu badan tiga kepala.
Serigala berkepala tiga melancarkan serangan. Kecepatannya sungguh luar biasa, bisa berpindah ke satu tempat ke tempat lain lalu menghilang seketika.
Dewi ular berputar mencari keberadaan serigala. Entah kemana siluman berkepala tiga itu bersembunyi.
Tetap siaga itu yang di lakukan Dewi ular.
Tanpa sadar tiba-tiba serigala berkepala tiga muncul di hadapan Dewi ular dan menggigit lehernya.
Tanpa ampun serigala itu merobek dan mencabik tubuh Dewi ular. Dewi ular klepek-klepek diatas lantai dengan bersimbah darah.
Serigala berkepala tiga tersenyum, ternyata mengalahkan Dewi ular sangatlah mudah, tidak seperti kabar yang beredar selama ini.
Serigala berkepala tiga mendekat, tiba-tiba tubuh Dewi ular berubah menjadi sebatang kayu lapuk.
"Sial, dia menipu kita."
"Kalian pikir semudah itu mengalahkan ku, sekarang rasakan bola emasku ini."
Dewi ular muncul di belakang serigala, dengan bola emas sudah siap meluncur dari mulutnya.
Bom...........
Serigala tertindis bola emas membuat lobang cukup besar pada lantai.
Dengan susah paya serigala keluar dari himpitan bola emas dan berhasil.
Tanpa sepengetahuan Dewi ular, sesosok bayangan keluar dari tubuhnya, memegang ekor serigala dan membantingnya hingga beberapa kali.
"Dasar simpanse, main serobot saja. Semua ada waktunya dan setiap mustika ada gunanya." geleng si bunglon.
Serigala tewas dengan lidah menjulur.
Muncul sebuah mustika dari dalam tubuh serigala. Dengan cepat Dewi ular menelan mustika itu.
Dewi ular kembali ke wujud aslinya menjadi manusia biasa.
"Ini tubuh ular atau kebun binatang sih, setiap siluman yang takluk pasti tinggal di tubuh ular ini." protes gorila, mengambil selimut lalu menutup tubuhnya.
Bunglon dan lintah hanya bisa tertawa melihat tingkah gorila yang tak mau berbagi tempat dengan serigala.
********************************
Biksu Tong, Bintang dan yang lain kembali melanjutkan perjalanan menembus padang pasir. Gunung ular yang mereka tuju sudah terlihat puncaknya.
Dalam perjalanan cuaca yang tadinya terang tiba-tiba gelap seperti akan turun hujan. Awan hitam menyelimuti matahari.
Firasat biksu Tong mulai tak enak.
"Cepat, sebelum badai datang."
Teriak biksu tong.
Mereka berlari agar cepat keluar dari Padang pasir itu.
Benar firasat biksu Tong. Pasir berterbangan ditiup angin, angin puting beliung datang menghadang perjalanan mereka.
"Berpegangan pada tanganku. Jangan sampai ada yang terlepas."
Bintang dan para biksu saling berpegangan tangan, Memegang tangan biksu Tong.
Angin puting beliung bergerak menyapu mereka. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh biksu Tong menahan tiupan angin.
Saking kuatnya tiupan angin, salah satu biksu terseret dan hilang di tengah badai.
Dengan membaca mantra biksu tong mengeluarkan sesuatu dari balik jubah.
Mustika jamur yang terbuat dari logam mulia. Ditancapkan kedalam pasir. Ajaib, jamur mustika tumbuh menjadi jamur raksasa dan bisa bergerak.
Mereka melanjutkan perjalanan, berpegang erat pada batang jamur. Angin masih terus bertiup, tapi sudah tidak sekuat tadi.
Perjalanan mereka sedikit terhambat karena lambatnya pergerakan jamur.
"Guru, tepi Padang pasir sudah terlihat, coba lihat disana." Tunjuk seorang biksu dengan riang setelah melihat pepohonan hijau yang menjulang tinggi.
Lega akhirnya, mereka bisa juga menembus Padang pasir yang hampir merenggut nyawa.
Biksu Tong kembali memasukkan mustika jamur di balik jubah lalu melanjutkan perjalan menembus hutan.
Air terjun sudah terlihat, mereka harus menyeberang sungai untuk bisa sampai kesana.
Para biksu membuat perahu dari bambu lalu menyeberang ke hulu sungai.
Dengan susah paya, akhirnya mereka tiba juga di kaki air terjun. Air terjun ular, airnya yang deras dan dingin menyimpan sejuta misteri.
"Di balik air terjun itu ada sebuah goa yang di huni oleh siluman ular putih. Jika dia berkenan dia akan melatih dan mengangkat mu jadi muridnya. Tapi jika dia menolak ada baiknya kita pulang."
Bintang mengangguk lalu mulai terbang, belum juga dia menembus derasnya air terjun seekor ular putih muncul dari dalam air terjun lalu mengibas Bintang dengan ekornya.
Bintang melompat naik keatas tubuh ular putih dan berdiri diatas kepalanya.
Dari Kapala ular putih keluar dua kepala lalu menyerang Bintang.
Bintang melompat dari satu kepala ke kepala lain untuk menghindari serangan ular itu.
Merasa di permainkan, ular putih mengamuk, terbang tinggi membawa Bintang lalu memutar tubuh. Bintang jatuh, ular putih menyemprot magma dari dalam mulutnya.
Dengan cepat Bintang menghindar. Magma mengenai pepohonan di sekitarnya, hangus dan mencair.
"Dahsyat." ucap kagum biksu Tong.
dalam pikiran aku baru lahir,masih dalam bedong.
Moga Dewi dan teman-temannya selamat.
Klo kakek dan bpk mu itu baik maka mereka akan menyayangi mu dgn tulus bukannya memanfaatkan mu, apalg menyakiti mu.