Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."
Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.
Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di tengah-tengah pagi yang cerah ini, Daren dengan wajah segarnya berdiri bingung di depan rak kini market yang berada di seberang Rumah Sakit. Ia berniat membeli sedikit cemilan untuk sang istri.
Loh perasaan tadi Daren udah waspada biar Rega dan Hana tidak. memberi Zakia makan sembarangan! Ya memang, Daren mengakui itu. Tapi begitu ke luar dari kamar mandi, Daren melihat Zakia yang sedang menatap makanan yang dimakan oleh kakak dan adik iparnya itu.
Akhirnya, Daren mengalah dengan istrinya, tapi sangat disayangkan begitu sampai di mini market dia tidak tahu ingin membeli apa.
"Apa gue telfon kak Hana aja kali ya, dia kan cewek, pasti tau mau makan apa," monolog Rega.
Rega sudah mengetik nama Hana di ponselnya dan ingin menelpon wanita itu, tapi dia teringat dengan Rega, Hana adalah wanita tapi Rega adalah adik kandung Zakia, sudah pasti pria itu lebih tau apa kesukaan kakaknya.
Akhirnya setelah berpikir lama, Daren memutuskan untuk menelfon Rega, adik ipar yang kurang ajar itu.
"Dih sok ngartis bener ni anak!" kesal Rega. Satu panggilan tak terjawab dan Daren pun kembali mengulang panggilan tersebut.
Syukurnya panggilan ke dua dijawab oleh pria itu, "Halo Ga!"
"Ha? Apaan bang!" Terdengar nada kesal dari balik telepon itu. Daren mencibir kesal, tak salah memang dia menjuluki Daren ini sang adik ipar yang kurang ajar.
"Lo tau ga Zakia suka makan apa?"
"Dia mah semuanya suka asalkan bisa dimakan, udah dulu bang! Gue mau push rank!"
"Kurang-"
Belum selesai Daren berbicara, telepon itu dimatikan sebelah oleh Rega. Daren menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, dasar memang Rega ini!
Namun saat ingin memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, ponsel Daren kembali berdering dan tertera nama Rega dipanggilan tersebut.
"Mau ngapain lagi nih anak!"
Daren dengan wajah bersungut-sungut, terpaksa mengangkat panggilan tersebut. "Apaan!"
"Nitip susu kotak bang, udah itu aja, makasih!"
Panggilan tersebut kembali dimatikan, Daren mendengkus kesal, pokoknya setelah ini jika Rega kembali menelfonnya maka dia tidak akan mengangkat panggilan itu, bisa-bisa dia ikut sakit jika berhadapan dengan adik iparnya itu.
"Ini keknya enak, ambil aja dah." Daren mengambil satu bungkus cemilan yang terbuat dari kacang-kacang, tampaknya cemilan itu juga kurang gula, jadi pasti akan untuk istrinya, pikir Daren.
Daren pun berjalan ke sisi minuman, di depannya ada banyak minuman yang membuat Daren jadi bingung ingin membeli apa. Tapi melihat susu kotak, ia teringat dengan titipan Rega, anak itu menginginkan susu ini.
"Tapi rasa apa?" gumam Daren. Di depannya ada banyak rasa susu kotak dan Rega juga tidak mengatakan apapun tentang varian minuman tersebut.
"Ga ada request rasa, berarti bebas mau rasa yang mana!"
Daren mengambil satu kotak susu coklat lalu mengambil dua kotak susu rasa strawberry untuk Zakia, tapi dia memilih susu kotak untuk Zakia yang tidak ingin, biar sakit wanita itu tidak bertambah parah.
Saat sibuk memilih minuman dingin yang lain, Daren terkejut ketika seseorang di sebelahnya tiba-tiba memanggil dirinya.
"Eh Ren, lo ngapain di sini?"
Daren menoleh, matanya menyipit meneliti siapa pria yang memanggilnya ini. Tak lama kemudian Daren membuka mulutnya lalu tersenyum, dia adalah teman lama Daren yang sudah lama tidak terlihat.
"Eh Alden! Sorry gue kira tadi siapa! Lama ga keliatan, ke mana aja lo?" sapa Daren ramah.
Pria di depannya itu ikut tertawa pelan, senang sekali rasanya bisa bertemu dengan teman lama. "Iya gapapa, lo ngapain di sini?" Pria itu melirik keranjang belanjaan yang dibawa oleh Daren, berisi banyak sekali makanan.
"Perasaan lo ga terlalu suka jajan deh, tumben bener," ucapnya sambil melirik keranjang yang dipegang Daren.
Daren mengikuti arah mata temannya itu, ia tersenyum tipis, benar juga, Daren bukan tipe orang yang suka memakan cemilan seperti ini, Daren lebih menyukai makanan rumahan dari pada membeli jajanan, tapi tak apa, ini kan dia belikan untuk sang istri.
"Iya, istri gue mau makan ini," jawab Daren.
Pria di depannya sontak terkejut, "Lo udah nikah? Beuh udah jadi suami orang aja, tapi kenapa jauh kali lo beli cemilan di sini?"
"Iya, istri gue lagi dirawat di Rumah sakit depan itu," jawab Daren sambil menunjuk Rumah sakit di depannya.
Alis pria itu terangkat lalu dia tersenyum jahil, "Istri lo kenapa di Rumah Sakit? Lo udah mau jadi ayah ya?" tanyanya antusias.
Daren tertawa canggung mendengar itu, menjadi seorang ayah? Daren bahkan belum sedekat itu dengan istrinya, bagaimana dia bisa menjadi seorang ayah? Sejak menikah dengan Zakia, Daren bahkan tidak memikirkan tentang anak, karena sejak awal yang ada di pikiran Daren hanya rasa tanggung jawab, ingat tanggung jawab! Bukan rasa cinta, sayang atau segala macamnya!
Lalu kenapa Daren selama hidup dengan Zakia bisa perhatian seperti itu? Bagi Daren itu hanya sebuah kepedulian, kepedulian dan hanya tanggung jawab!
"Enggak, istri gue lagi sakit, paling berapa hari juga pulang kok."
"Lo juga ngapain di sini?" tanya Daren heran. Sedikit tidak menyangka, setelah sekian lama berpisah kini mereka dipertemukan di tempat seperti ini.
"Iya, gue tadi ada urusan ke bagian THT, telinga gue bermasalah dikit, lo tau sendirilah gue kan dari dulu suka dengerin musik pake earphone, jadi ya gitu, akibat keseringan jadinya telinga gue bermasalah," jelas Alden.
"Oke deh kalau gitu gue duluan ya Ren, mudah-mudahan istri lo cepat sembuh deh, entar kapan-kapan gue main ke rumah lo ya," ucap Alden.
Alden menepuk pelan bahu Daren, ia tersenyum sembari melangkah mundur, berbalik dan pergi meninggalkan teman lamanya itu. Namun dari jauh, Alden melihat seseorang yang berdiri di dekat pohon sambil menatap mereka berdua.
Mata itu penuh dendam, ia melirik ke bawah, tangan pria itu juga terlihat mengepal, tapi yang Alden lihat sepertinya pria itu bukan menatapnya, melainkan menatap temannya yang masih memilih cemilan.
"Lah? Ga jadi pulang lo?" Daren menegur Alden membuat pria itu terkejut.
"Ha? Iya ini gue mau pulang."
Alden kembali menatap ke luar, pria di depannya itu sudah tidak ada, kemana perginya? Daren melihat temannya ini mengernyit heran, kenapa pergerakannya terlihat aneh?
"Lo liatin apaan?"
"Ga ada, udahlah gue pulang dulu, lo hati-hati ya!" Alden melambaikan tangannya, kini ia benar-benar pergi melangkah ke luar dari mini market tersebut, tubuhnya berjalan ke arah mobil yang terparkir dan membawanya pergi menjauh dari sana.
Mereka tidak tahu, pria itu tidak pergi, dia hanya bersembunyi tak lupa dengan berbagai macam rancangan ide di kepalanya yang sudah ia simpan sejak lama.