Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Langkah Nekat Menantang Sang Patriark

Mentari siang membakar atap-atap gedung pencakar langit Jakarta, namun hawa dingin yang mencekam justru menyelimuti unit apartemen mewah di lantai teratas itu.

Valerie berdiri di depan cermin rias berbingkai ukiran emas. Ia mengenakan terusan dress polos berwarna abu-abu elegan dengan riasan wajah tipis yang disengaja—menciptakan kesan sosok wanita lemah lembut, tertekan, namun memancarkan kerapuhan yang menuntut keadilan.

Valerie menyunggingkan senyum licik di hadapan pantulan cermin, membelai leher mulusnya sendiri.

"Sebentar lagi... Baskara akan menjadi milikku seutuhnya," bisik Valerie dengan nada suara yang penuh percaya diri dan kepuasan iblis. "Kau sudah masuk ke dalam cengkeramanku, Baskara. Kau tidak akan pernah bisa lari lagi."

Wanita itu melangkah menuju sofa tengah, menyambar cangkir tehnya sembari membayangkan kehancuran keluarga Dirgantara di dalam pikirannya.

"Aku ingin melihat bagaimana hancurnya wajah wanita kampungan itu dan anak iblis kurang ajar itu saat mereka tahu kalau Baskara sudah tidur denganku..." desis Valerie dengan mata berkilat dengki. "Mereka berdua merasa paling suci di rumah itu. Kita lihat, sampai kapan kesucian dan kesombongan mereka bertahan!"

Namun, Valerie tahu betul bahwa Baskara adalah pria pengecut jika dihadapkan pada perpisahan resmi. Baskara mungkin merasa bersalah, tetapi pria itu terlalu takut pada kehilangan reputasi dan takut pada ketegasan ayahnya. Oleh karena itu, Valerie telah memutuskan untuk menyusun sebuah "kejutan" terbesar—sebuah eksekusi nekat yang sama sekali tidak diprediksi oleh siapa pun.

Sasaran Valerie kali ini bukanlah Kinanti, bukan pula Natasha.

Sasaran utamanya adalah Juragan Ramli.

"Pria tua itu adalah pemegang kunci seluruh kekayaan dan nama besar Dirgantara," batin Valerie merencanakan kejatuhan lawannya. "Jika aku bisa menekan dan menaklukkan pria tua itu dengan isu kehamilan dan pertanggungjawaban moril... Baskara tidak akan punya pilihan selain menceraikan Kinanti dan menikahiku secara resmi!"

Dengan tekad bulat dan niat licik yang membara, Valerie menyambar tas mewahnya, siap meluncurkan serangan mematikan langsung ke jantung pertahanan keluarga Dirgantara.

Sementara itu, di lantai tertinggi gedung Dirgantara Group.

Suasana di dalam ruang kerja presiden direktur terasa amat sangat hening. Baskara duduk kaku di balik meja kerja mahoninya. Berkas-berkas dokumen penting menumpuk di hadapannya, namun tak satu pun paragraf yang sanggup dibaca oleh pria tegap itu.

Rasa bersalah yang luar biasa besar sempat menghantam dada Baskara sejak ia melangkah masuk ke dalam rumah pagi tadi. Bayangan wajah polos Kinanti dan tatapan mata Natasha terus membayangi benaknya bagai mimpi buruk yang menusuk-nusuk kesadarannya.

Namun, entah iblis dan pemikiran terdistorsi mana yang merasuki kepalanya.

Sejak satu jam lalu, Valerie memborbardir ponsel Baskara dengan serangkaian pesan suara dan panggilan telepon bernada lembut, meratapi kejadian semalam dengan kata-kata manis beracun:

"Bas... jangan merasa bersalah. Kejadian semalam bukan murni kesalahanmu... Aku yang tidak bisa menahan rasa cintaku padamu. Aku tidak merasa kau jebak atau kau manfaatkan, Bas... Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu dan ingin melindungimu dari tekanan rumahmu..."

Racun manipulasi itu bekerja dengan sangat luar biasa pada ego Baskara yang rapuh. Bukannya marah atau curiga mengapa gairahnya semalam meledak tidak wajar, Baskara justru mendadak merasa kasihan dan tersentuh pada Valerie.

Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit kebesarannya, menghela napas panjang sembari memijit pelipisnya.

"Valerie wanita yang tulus..." gumam Baskara pada dirinya sendiri, mencoba membenarkan kekhilafannya. "Dia bahkan tidak menyalahkanku atas apa yang terjadi semalam... Dia justru menanggung rasa sakitnya sendiri."

Pikiran egois Baskara mulai merangkai narasi penenang untuk meredakan rasa bersalahnya pada Kinanti:

"Kinanti tidak akan pernah tahu soal ini," bisik Baskara dalam kepalanya yang kalut. "Tidak ada bukti, tidak ada saksi. Kejadian semalam hanya diketahui oleh aku dan Valerie. Selama Valerie diam dan berada di sisiku, Kinanti dan Natasha tidak akan pernah terluka. Rumah tanggaku akan tetap berjalan, dan aku bisa tetap menjaga Valerie."

Baskara menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman penuh kepatuhan palsu yang menganggap dirinya telah berhasil mengendalikan situasi. Pria berkuasa itu sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang baru saja ia kasihani sedang berjalan menuju pintu kehancurannya sendiri.

Pukul dua siang. Kediaman utama Juragan Ramli di kawasan elit Menteng.

Kediaman bergaya kolonial yang megah dan asri itu memancarkan aura wibawa yang amat sangat kuat. Di dalam ruang tamu berlantai kayu jati tebal, Juragan Ramli pria sepuh berkharisma tinggi dengan tongkat kayu berukir di genggamannya sedang duduk tenang meminum teh pahit sembari mendengarkan laporan dari asisten pribadinya.

klek.

Pintu ruang tamu terbuka. Seorang penjaga gerbang masuk dengan wajah ragu.

"Mohon maaf mengganggu, Juragan," ucap penjaga itu membungkuk hormat. "Ada seorang wanita di luar gerbang yang memaksa ingin bertemu dengan Juragan secara pribadi. Dia mengaku bernama... Nona Valerie."

Mendengar nama itu, sepasang mata tua Juragan Ramli yang tajam memicing seketika. Binar kebijaksanaan dan keheningan di wajah pria sepuh itu mendadak berganti menjadi aura dingin yang menekan.

"Valerie...?" gumam Juragan Ramli dengan suara beratnya yang dalam. "Suruh dia masuk."

Beberapa saat kemudian, Valerie melangkah masuk ke dalam ruang tamu megah tersebut. Langkah kakinya sengaja dibuat perlahan, matanya menunduk penuh kesopanan palsu, dan gestur tubuhnya tampak begitu rapuh.

"Selamat siang... Juragan Ramli," sapa Valerie dengan suara lembut bergetar, membungkuk sangat dalam di hadapan pria tua itu.

Juragan Ramli tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu menyesap teh pahitnya perlahan, meletakkannya kembali ke cangkir dengan bunyi klik halus, lalu menatap Valerie dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang sanggup menembus setiap kebohongan.

"Duduk," perintah Juragan Ramli singkat, suaranya tidak memiliki nada ramah sedikit pun.

Valerie duduk di tepi sofa kulit, menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan yang gemetar sebagian pura-pura, sebagian lagi karena tekanan aura intimidasi alami dari ayah kandung Baskara.

"Langsung pada intinya, Wanita Muda," ucap Juragan Ramli dingin, menyandarkan kedua tangannya di atas kepala tongkat kayunya. "Saya tidak punya banyak waktu untuk menerima tamu yang tidak diundang ke rumah ini. Apa tujuanmu datang kemari?"

Valerie menarik napas panjang, menarik raut wajahnya menjadi amat sangat sedih, dan air mata buatan perlahan menetes membasahi pipinya yang mulus.

"Saya kemari... untuk memohon keadilan dan perlindungan dari Juragan," ratap Valerie dengan suara serak yang memelas. "Saya tahu saya bukan siapa-siapa... Saya tahu saya sering disudutkan sebagai wanita jahat oleh Natasha dan Kinanti... Tapi kali ini saya tidak bisa diam lagi, Juragan!"

Juragan Ramli tidak tersentuh oleh air mata itu. Matanya tetap datar bagai telaga es. "Keadilan apa yang kau maksud?"

Valerie mendongak, menatap mata Juragan Ramli dengan keberanian nekat yang dipaksakan.

"Semalam... Mas Baskara datang ke apartemen saya," bisik Valerie dengan nada suara yang bergetar hebat, memasang skenario pertanggungjawaban. "Mas Baskara sedang sangat tertekan karena masalah di rumah... Dan dalam keadaan emosional itu... kami... kami telah melampaui batas sebagai pria dan wanita, Juragan."

Deg.

Asisten pribadi Juragan Ramli yang berdiri di sudut ruangan menahan napasnya, terkejut oleh pengakuan blak-blakan tersebut.

Namun, reaksi Juragan Ramli sungguh di luar dugaan Valerie. Pria tua itu tidak membelalak, tidak berteriak, dan tidak menampakkan raut wajah terkejut sedikit pun. Pria sepuh itu hanya mengetukkan ujung tongkat kayunya sekali ke atas lantai marmer.

TAK!

"Lalu?" tanya Juragan Ramli amat sangat datar.

Valerie sedikit terpana oleh ketenangan pria tua di hadapannya, namun ia dengan cepat menguasai dirinya kembali untuk melanjutkan dramanya.

"Mas Baskara telah memaksa saya untuk berhubungan intim semalam, Juragan!" seru Valerie dengan tangisan yang makin menjadi-jadi. "Saya tidak bisa dibiarkan menjadi wanita simpanan yang terus-menerus dihina oleh anak dan istrinya! Saya datang kemari meminta Juragan sebagai kepala keluarga Dirgantara untuk menasihati Mas Baskara... Saya minta Mas Baskara bertanggung jawab dan meresmikan hubungan kami secara sah!"

Valerie meremas jarinya, melancarkan ancaman terselubungnya.

"Jika keluarga Dirgantara tidak mau menerima dan meresmikan saya... saya tidak punya pilihan lain selain membawa kasus tindakan Mas Baskara ini ke hadapan hukum dan media massa! Nama besar Dirgantara akan tercoreng jika publik tahu bagaimana perlakuan Mas Baskara pada saya!"

Suasana di dalam ruang tamu megah itu seketika menjadi amat sangat membeku. Hawa di dalam ruangan terasa begitu menekan hingga oksigen seolah-olah menguap.

Valerie menyunggingkan senyum tipis di dalam hatinya, yakin bahwa ancaman reputasi dan skandal media akan membuat pria tua itu panik dan tunduk padanya.

Namun... Valerie sama sekali tidak mengenal siapa sosok Juragan Ramli Dirgantara yang sebenarnya.

Juragan Ramli perlahan menyandarkan tubuhnya, lalu... terkekeh pelan. Sebuah kekehan dingin, dalam, dan penuh dengan penghinaan yang teramat sangat menyayat ego Valerie.

"Ternyata cuma segini level keberanian dan akal picikmu, Valerie?" ucap Juragan Ramli dengan nada suara yang teramat sangat tenang namun menusuk tepat di ulu hati.

Raut wajah Valerie seketika membeku. "J-Juragan... apa maksud Anda...?"

Juragan Ramli mengangkat tongkat kayunya, menunjuk tepat ke arah wajah Valerie yang pucat.

"Kau datang ke rumahku, menjual tangisan murahan, lalu mengancam nama besar keluargaku dengan drama murahan yang kau susun sendiri?" desis Juragan Ramli dengan mata elangnya yang berkilat tajam mematikan. "Kau pikir saya ini pria tua pikun yang bisa kau bodohi dengan jeratan selangkangan dan wajah licikmu itu.

Brak!

Seketika, darah di seluruh tubuh Valerie berhenti mengalir sepenuhnya. Wajah cantiknya pucat pasi bagai mayat, dan sepasang matanya membelalak sempurna dalam guncangan rasa terkejut dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"A... Apa...?" gagap Valerie, suaranya mendadak hilang di tenggorokan.

Juragan Ramli tersenyum dingin sebuah senyuman seorang penguasa sejati yang telah membaca seluruh permainan lawan sejak detik pertama.Pria tua itu berdiri dari kursinya, berdiri tegap dengan wibawa raksasa yang seketika membuat tubuh Valerie gemetar hebat dan merosot jatuh bersimpuh di atas lantai kayu.

Dengan langkah kaki yang perlahan namun sarat akan tekanan intimidasi yang membunuh, Juragan Ramli maju mendekat ke arah Valerie yang bersimpuh tak berdaya.

"Aku tidak akan pernah termakan oleh omongan manismu, Valerie!" pangkas Juragan Ramli, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu yang megah itu. "Kalau kau ingin pertanggungjawaban dari anak bodoh itu, jangan pernah sekalipun kau menginjakkan kakimu di rumah ini lagi! Ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya kau melangkah kemari. Sampai kapan pun, sampai ajalku tiba, aku tidak akan pernah merestui kalian berdua!"

Valerie meremas gaunnya, napasnya memburu kacau, air mata ketakutan yang asli kini benar-benar menetes di pipinya.

Juragan Ramli menunduk, menatap Valerie bagai melihat seekor serangga yang menjijikkan.

"Dan untuk pria bodoh yang kau bangga-banggakan itu... beri tahu dia," bisik Juragan Ramli dengan nada suara yang teramat sangat dalam dan penuh ancaman. "Sampaikan padanya, jangan pernah berani menyesal setelah Kinanti pergi dari kehidupannya!"

Pria tua itu menghentikan kalimatnya sejenak, menatap lurus ke dalam mata Valerie yang bergetar.

"Sampai anak bodoh itu merangkak-rangkak ke rumah utama ini pun, berlutut memohon di kakiku untuk meminta bantuanku menyatukan dia kembali dengan Kinanti... aku tidak akan pernah sudi membantunya!"

Juragan Ramli menyunggingkan senyuman sinis yang amat menyayat.

"Kalau kau sangat kebelet ingin hidup bersama pria bodoh itu, bersabarlah sedikit..." desis Juragan Ramli dingin. "Setelah cucuku lahir dari rahim Kinanti, silakan... silakan kau ambil Baskara dan hidup bersamanya. Tapi ingat baik-baik kata-kataku ini, Valerie... Setelah kalian bersama nanti, kehidupan kalian berdua tidak akan pernah tenang seumur hidup kalian!"

Setelah meluapkan ultimatum terkejamnya, Juragan Ramli membalikkan badannya tanpa sudi menatap Valerie lagi. Pria tua itu mengibaskan tangannya ke udara, memberi isyarat pada para pengawal rumah.

"Seret wanita ini keluar dari gerbang rumahku," perintah Juragan Ramli dingin.

Pria sepuh itu melangkah pergi meninggalkan Valerie yang membeku sendirian di tengah ruang tamu yang luas.

Valerie bersimpuh di atas lantai kayu yang dingin, dada dan bahunya naik turun dengan napas yang terengah-engah. Seluruh rencana besarnya, rasa percaya dirinya, dan impiannya untuk menaklukkan kepala keluarga Dirgantara hancur lebur berkeping-keping di bawah ancaman dan kutukan Juragan Ramli.

1
sunaryati jarum
Ayo Tuan Besar Ramli segera cabut aset darimu yang dikelola Baskoro, tidak sadar malah makin menjadi
sunaryati jarum
Kamu memang cocok sama Valerie sama - sama sampah , dan menjijikan .Sekali siap - siap jadi gelandangan
sunaryati jarum
Menuju kehancuran kamu Baskoro,otw jadi gembel sebentar lagi pasti semua asetmu ditarik Kakek Ramli.Semoga kandungan kamu baik- baik saja .
sunaryati jarum
Baskara setelah ini kamu akan dimiskinkan oleh kakek Ramli, semua asetmu dan kakek dibagi dua untuk Natasya dan anak Kinant.Kamu akan jadi gembel.Masih maukah Valerie padamu?
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Bagus Kinanti tua Bangka tidak tahu diuntung dulu mendapatkan kamu dengan cara paksa, sekarang nikmati hidupmu dengan parasit Valery.Untuk Kinanti mulai sekarang sayangi dirimu sendiri dengan dukungan Natasya dan Kakek Ramli
sunaryati jarum
Yang terbiasa mengobral.tubuh demi kemewahan, apapun.akan dilakukan.Saat ini karma untukmu Valerie lewat putri pria bodoh, yang kau jebak
sunaryati jarum
Kakek Ramli lebih siapa Valerie dari pada Baskara.Siap- siap jadi gembel setelah anakmu dari rahim Kinanti lahir.Karena seluruh harta Juragan Ramli untuk Natasya dan anak Kinanti.Harta Baskara juga dibagi sebagai harta gono- gini setelah bercerai dan juga untuk Natasya. Momen yang emak tunggu
sunaryati jarum: Maksudnya lebih paham
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟 jika Baskara dan Valerie hancur
sunaryati jarum
Tua Bangka bodoh dan egois, tidak mengindahkan peringatan putri dan istrinya yang tulus menyelamatkan usahamu . Sokoor kau masuk jebakan Valerie dan sudah melakukan kegiatan intim padanya, yang pasti sudah direkam untuk mengancam kamu.Sebentar kehancuran kamu bersama Valerie, karena Natasya akan membongkarnya,semua kekayaan Baskara sudah langsung milik Kinanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!