Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 33 Ketika Adrian Berhenti Menahan Diri
Raka tidak menjawab ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, Adrian berbalik dan kembali menatap halaman belakang melalui jendela. Cahaya yang tadi terlihat sudah menghilang, tetapi firasat buruk justru semakin kuat.
Beberapa detik kemudian, suara dari alat komunikasi Raka terdengar.
"Tim luar melaporkan sesuatu."
Adrian menoleh.
"Apa?"
"Di sisi timur rumah ditemukan jejak kendaraan."
"Berapa?"
"Satu kendaraan. Tapi..." Raka berhenti sejenak.
"Tapi apa?"
"Mesinnya masih hangat."
Tatapan Adrian langsung berubah.
"Berarti mereka belum pergi."
"Benar."
Adrian mengambil senjata komunikasi dari salah satu anggota tim, lalu menyerahkannya kembali.
"Jangan kejar."
Raka mengerutkan kening.
"Tuan?"
"Biarkan mereka berpikir bahwa kita tidak menemukan apa pun."
Adrian berjalan menuju pintu.
"Kita tidak sedang mengejar mereka."
Ia berhenti sejenak.
"Kita sedang menunggu mereka membuat kesalahan."
Raka mengikuti dari belakang.
"Bagaimana dengan kotak di lantai atas?"
"Jangan disentuh."
"Tapi sinyalnya—"
"Justru karena ada sinyal."
Adrian menatap tangga dengan wajah dingin.
"Mereka ingin kita membukanya."
Kemudian terdengar suara bip dari alat pemindai yang masih berada di tangan salah satu anggota tim, Semua orang langsung menoleh.
"Perubahan sinyal!" seru anggota tim tersebut.
Adrian berhenti.
"Jelaskan."
"Sinyalnya meningkat. Sepertinya..."
Ia menatap layar dengan wajah tegang.
"Ada seseorang yang mengaktifkannya dari jarak jauh."
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi Adrian perlahan mengangkat wajah.
"Jadi mereka sedang melihat kita."
Raka menatap sekeliling.
"Melalui kotak itu?"
"Bukan."
Adrian mengarahkan pandangannya ke dinding.
"Kamera."
Raka langsung memahami.
"Di mana?"
Adrian tidak menjawab. Ia mengambil senter, kemudian mengarahkannya ke sudut langit-langit. Sebuah titik merah kecil berkedip di balik ornamen kayu tua Raka membeku.
"Selama ini mereka melihat kita..."
Adrian tersenyum tipis.
"Bagus."
Raka menatapnya heran.
"Bagus?"
Adrian mendekati kamera itu.
"Karena sekarang mereka juga akan melihat apa yang ingin aku tunjukkan."
Ia menatap tepat ke arah lensa Wajahnya tenang.
"Kalau kalian sedang menonton..."
Adrian berhenti sejenak.
"Perhatikan baik-baik."
Ia mengangkat foto Arunika yang tadi ditemukan.
"Karena mulai malam ini, permainan kalian selesai."
Senyumnya menghilang.
"Dan aku yang akan menentukan bagaimana akhirnya."
Tiba-tiba layar alat komunikasi Raka berbunyi Satu pesan masuk, Hanya ada satu kalimat.
KAMI SUDAH TAHU ARUNIKA BERADA DI MANA.
Wajah Raka seketika berubah.
"Tuan..."
Adrian membaca pesan itu Tidak ada kepanikan di wajahnya, Tidak ada keterkejutan, Hanya keheningan yang mengerikan.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Richard, Panggilan pertama tidak diangkat. Adrian mencoba lagi, Tetap tidak ada jawaban. Tatapannya menjadi semakin dingin.
"Raka."
"Ya, Tuan."
"Hubungi semua orang yang menjaga di rumah utama."
"Baik."
Raka langsung bergerak.
"Kalau mereka sudah bergerak ke sana?"
Adrian memasukkan ponselnya ke saku.
"Kalau begitu..."
Ia berjalan menuju pintu keluar.
"...kita akan memastikan mereka menyesal sudah memilih keluarga Pradipta sebagai sasaran."
Raka menatap punggung Adrian yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya, ia berharap orang-orang yang berada di balik semua ini cukup pintar untuk memahami satu hal.
Mereka bukan sedang berhadapan dengan seorang CEO. Mereka baru saja membangunkan seseorang yang selama ini memilih untuk menahan dirinya.
Dan ketika Adrian berhenti menahan diri...tidak akan ada lagi ruang untuk negosiasi.
Adrian keluar dari rumah lama keluarga Wilson tanpa menoleh lagi.
Raka dan beberapa anggota tim segera menyusul di belakangnya. Langkah Adrian cepat, tetapi tetap tenang. Tidak ada kepanikan dalam gerakannya. Justru ketenangan itulah yang membuat Raka semakin waspada.
Malam semakin pekat ketika mereka masuk ke dalam mobil Adrian duduk di kursi belakang. Begitu pintu tertutup ia langsung mengambil ponselnya.
Tidak ada pesan baru, Tidak ada panggilan dari Richard, Tidak ada kabar dari rumah utama, Hanya satu hal yang terus berputar di dalam pikirannya.
Arunika.
Adrian menatap keluar jendela Bayangan pepohonan bergerak cepat ketika mobil mulai melaju meninggalkan rumah lama tersebut.
"Percepat."
Sopir mengangguk.
"Baik, Tuan."
Mobil melaju semakin cepat Raka yang duduk di depan menatap layar komunikasinya, memastikan seluruh anggota tim telah menerima perintah.
"Tim satu sudah bergerak menuju rumah utama."
"Tim dua?"
"Sudah mengambil posisi di jalur masuk."
"Bagus."
Adrian kembali diam Namun kali ini, tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat Ia tidak peduli pada kamera, Tidak peduli pada kotak misterius, Tidak peduli siapa yang mengawasi mereka, Untuk sementara semua itu berada di urutan kedua.
Karena satu hal yang jauh lebih penting hanya ada di pikirannya.
Semoga Arunika baik-baik saja, Adrian memejamkan mata sesaat Selama ini ia selalu terbiasa menghadapi ancaman dengan kepala dingin. Baginya, setiap masalah memiliki solusi. Setiap musuh memiliki kelemahan. Setiap perang memiliki strategi.
Tetapi ketika menyangkut Arunika...ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya, Rasa takut kehilangan. Adrian membuka matanya kembali.
"Raka."
"Ya, Tuan?"
"Berapa lama lagi?"
"Kalau jalan tetap kosong, sekitar dua puluh menit."
"Dua puluh menit terlalu lama."
Raka terdiam Ia tahu tidak ada gunanya membantah.
"Baik. Saya akan meminta pengawalan membuka jalur."
Adrian mengangguk Pandangannya kembali tertuju pada jalan di depan, Di dalam kepalanya hanya ada satu doa yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
Semoga tidak ada seorang pun yang menyentuhnya, Semoga ketika ia sampai nanti...Arunika masih berada di sana. Masih aman, Masih menunggunya, Ponsel Adrian tiba-tiba bergetar. Ia langsung melihat layar Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
JANGAN TERLAMBAT.
Tatapan Adrian membeku Raka menoleh.
"Tuan?"
Adrian tidak menjawab Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
KARENA KALI INI, KAMI TIDAK AKAN MEMBERI PERINGATAN KEDUA.
Layar ponsel perlahan diredupkan Wajah Adrian berubah dingin.
"Raka."
"Ya."
"Hubungi rumah."
"Baik."
"Jangan tanyakan siapa yang datang."
Adrian menatap lurus ke depan.
"Tanyakan satu hal."
"Apa?"
"Di mana Arunika?"
Raka segera menghubungi petugas di rumah utama, Namun beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Raka mencoba lagi, Tetap tidak ada jawaban. Suasana di dalam mobil berubah.
"Tuan..."
Adrian mengangkat tangannya, menghentikan kalimat Raka. ketenangan di wajah Adrian retak sedikit.
Bukan karena takut menghadapi musuh, Bukan karena ancaman terhadap keluarganya, Tetapi karena satu kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan.
"Arunika..."
Namanya keluar begitu pelan dari bibir Adrian Tangannya mengepal.
"Jangan terjadi apa-apa padamu."
Ia menatap jalan yang seolah tidak pernah berakhir, Mobil terus melaju menembus malam Dan untuk pertama kalinya, Adrian tidak pulang sebagai seorang CEO.
Ia pulang sebagai seseorang yang hanya memiliki satu tujuan, Memastikan Arunika masih baik-baik saja. Apa pun yang harus ia hadapi setelah itu...akan menjadi urusan berikutnya.
"Raka, hubungi tim lain. Jemput senjata kesayangan ku. Sepertinya, senjata itu harus digunakan malam ini."
Deg...
Raka menelan ludah. Suara Adrian terdengar begitu tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat tengkuknya terasa dingin.
Dengan suara sedikit terbata, Raka menjawab,
"Ba... baik, Tuan."
Adrian berbalik perlahan. Tatapannya tetap tertuju ke halaman belakang rumah yang gelap.
"Dan satu lagi."
Raka langsung menegakkan tubuh.
"Ya, Tuan?"
"Pastikan tidak ada seorang pun yang menghalangiku malam ini."
Raka terdiam sesaat, Ia tahu betul apa yang dimaksud Adrian. Jika sampai senjata kesayangan pria itu dikeluarkan, berarti batas kesabaran Adrian sudah benar-benar berakhir.
"Dimengerti, Tuan."
Adrian hanya mengangguk kecil Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Malam ini... kita lihat siapa yang sebenarnya sedang memburu siapa."