Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pion Yang Terbuang

Suara sirine polisi terdengar menggema dari kejauhan, membelah kekacauan jalanan kota yang panik. Di dalam SUV hitam yang melesat ugal-ugalan itu, Rara akhirnya melepaskan pelukannya secara perlahan.

Cewek itu menarik diri dengan napas yang masih tersengal. Wajahnya kacau balau, hidungnya merah, dan matanya bengkak. Begitu pandangannya turun ke kemeja Arka yang sobek dan basah oleh darah kental, ia kembali menelan ludah. Tangannya yang gemetar tanpa sadar masih mencengkeram erat pinggiran jas pria itu.

"Darah lo banyak banget, Arka..." bisik Rara parau. Kepanikannya belum benar-benar reda.

Arka menunduk menatap noda merah yang merembes di kemejanya dengan raut datar tanpa ekspresi. Pria itu lalu mengangkat tangannya, menepis pelan tangan Rara dari jasnya. Bukan untuk mengusirnya, melainkan menarik sehelai tisu dari dasbor, lalu menyodorkannya ke wajah Rara.

"Hapus air matamu. Kau merusak pemandangan," ucap Arka dingin, nadanya kembali kaku dan arogan. Padahal, pria itu baru saja mempertaruhkan nyawanya menjadi tameng di lobi kampus.

Rara mendelik sebal. Isakannya mendadak terhenti, digantikan rasa gondok yang luar biasa. Dengan kasar, ia merampas tisu itu dan mengelap hidungnya sendiri.

"Bisa nggak sih sehari aja mulut lo itu nggak usah nyebelin?!" semprot Rara dengan suara serak. "Gue nangis juga gara-gara siapa coba? Harusnya lo bilang makasih udah gue tangisin, yang ada malah ngatain!"

Sudut bibir Arka berkedut samar. Tatapannya yang tajam tidak lepas dari wajah Rara. "Saya tidak pernah meminta kau tangisi."

"Tau ah! Lo emang batu, nggak punya hati!" sungut Rara, membuang muka ke arah jendela. Tapi, ujung matanya tetap tidak bisa berhenti melirik cemas ke arah pinggang pria itu.

Di kursi paling belakang, Beby yang sejak tadi meringkuk ketakutan di lantai mobil akhirnya berani mengangkat kepala. Cewek itu mengintip dari sela-sela jok dengan wajah pucat.

"Ra..." panggil Beby pelan, suaranya bergetar. "Itu sirine polisi makin kenceng, Kita sekarang resmi jadi buronan negara, ya? Sumpah Ra, gue belum siap masuk penjara. Skincare gue di apartemen gimana nasibnya? Di penjara mana ada serum vitamin C"

Dino yang duduk di kursi penumpang depan langsung memutar bola matanya. "Mbak Beby yang cantik, kalau kita ketangkap polisi, yang dipusingin itu pasal pembunuhan berencana, bukan serum vitamin C! Lagian, polisi nggak bakal bisa ngejar mobil ini. Mesin kita udah dimodifikasi setara tank tempur."

"Bara, matikan pelacak GPS dan gunakan jalur bawah tanah lingkar selatan," perintah Arka mutlak, mengabaikan total rengekan Beby. "Victor pasti memantau kamera jalan tol."

"Dilaksanakan, Bos. Kita menuju Bunker 04," jawab Bara kaku. Tangannya dengan lincah memutar kemudi, membawa SUV itu berbelok tajam memasuki sebuah terowongan gelap yang belum selesai dibangun.

Tidak sampai lima belas menit, mobil berhenti di sebuah garasi bawah tanah yang sangat luas, berdinding beton tebal, dan berbau debu serta oli.

"Area aman," lapor Bara seraya mematikan mesin.

Begitu pintu mobil dibuka, Rara langsung melompat turun. Ia tidak membuang waktu sedetik pun. Rara memutar ke sisi Arka, berniat membantu pria itu turun.

"Nggak usah sok kuat. Sini, gue bantuin jalan," tawar Rara ketus, menyodorkan bahunya meski wajahnya masih sembap.

Arka menatap uluran bantuan itu dengan sebelah alis terangkat. "Saya tertembak, Rara. Bukan lumpuh."

Mengabaikan bantuan itu, Arka melangkah turun dengan postur tegap seolah lukanya bukan masalah besar. Namun, baru dua langkah berjalan, pria itu terhenti. Otot rahangnya menegang kaku, dan keringat dingin langsung menetes membasahi pelipisnya.

Rara yang melihat itu refleks berdecak kasar. Tanpa permisi, ia menyusup ke bawah lengan Arka, membiarkan tubuh besar pria itu bertumpu pada bahu kecilnya.

"Udah, nurut aja kenapa sih? Gengsi banget dibilang sakit!" omel Rara galak, setengah menyeret sang bos mafia masuk ke dalam ruangan utama bunker yang terlihat seperti markas operasi rahasia, lengkap dengan deretan monitor, sofa kulit hitam, dan kotak P3K besar di sudut ruangan.

Arka tidak menepisnya lagi. Pria itu membiarkan dirinya dituntun hingga duduk di atas sofa. Bau anyir darah semakin pekat menguar dari tubuhnya.

"Bara, sini bantuin gue buka kemejanya! Jahitannya pasti lepas semua ini!" perintah Rara panik, tangannya sudah bersiap membuka kancing kemeja Arka.

"Tidak usah," tolak Arka dingin, menahan pergelangan tangan Rara. "Bara, siapkan ruang komunikasi. Saya ingin jalur terenkripsi ke seluruh kepala divisi dalam tiga menit."

"Hah? Lo mau ngapain?" Rara melotot, menepis tangan Arka. "Ini perut lo bolong, Arka! Darahnya ngucur terus, Jangan gila deh!"

Bara menghentikan langkahnya, menatap bosnya dengan raut datar namun sarat akan kekhawatiran yang tak terucapkan. "Bos, Nona Rara benar. Anda harus mendapatkan perawatan medis sekarang. Pendarahan Anda..."

"Lakukan perintah saya, Bara." Suara Arka merendah, tapi nadanya memancarkan otoritas yang tak bisa diganggu gugat.

Bara menunduk kaku. "Siap, Bos." Ia segera melangkah menuju panel komputer di ujung ruangan, dibantu Dino yang juga langsung beralih ke mode serius.

Arka menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, menatap Rara yang kini berdiri di depannya dengan wajah memerah karena marah.

"Kenapa lo batu banget sih! " Rara akhirnya meledak. Matanya kembali berkaca-kaca. "Lo pikir nyawa lo ada cadangannya? Kita udah lolos dari lobi tadi, musuhnya udah nggak ada! Sekarang waktunya lo diobatin, bukan rapat"

Arka menatap cewek itu lurus-lurus. Sorot matanya tidak lagi terlihat seperti bos arogan yang sedang bersembunyi. Pandangan itu memancarkan aura predator yang sudah muak menjadi pihak yang diburu.

"Kau pikir kecoak seperti Victor punya otak untuk merencanakan semua ini?" desis Arka dingin. Suaranya serak, tajam, dan mematikan. "Dia tidak punya uang atau akses militer untuk menyewa penembak jitu dan dua belas pembunuh elite di kampusmu tadi, Rara."

Rara terdiam. Omelannya mendadak terhenti di tenggorokan. Keningnya berkerut bingung. "Maksud lo?"

"Dia cuma pion," lanjut Arka, mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan darah yang menetes ke lantai. "Victor sengaja dilepas seperti anjing kelaparan hanya untuk membuat saya kehabisan tenaga, peluru, dan darah di jalanan. Seseorang yang jauh lebih besar sedang bermain di belakangnya."

Di sudut ruangan, suara ketikan jari Dino di atas keyboard mendadak terhenti. Bara pun perlahan mengangkat wajahnya, menatap bosnya dengan raut tegang yang jarang sekali ia perlihatkan.

"B-Bos" sela Dino dengan suara bergetar. Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah, matanya melotot menatap layar monitor yang tiba-tiba berkedip merah penuh tanda bahaya. "Satelit kita baru aja nangkap pergerakan ledakan skala besar. Markas utama Victor di dermaga barat baru aja rata sama tanah."

Rara membelalakkan matanya ngeri. Di sudut sofa lain, Beby langsung membekap mulutnya sendiri saking kagetnya.

"Victor... dia udah mati, Bos," bisik Dino dengan wajah sepucat kertas. "Dia dibantai habis-habisan sama kelompok yang mendanai dia sendiri."

Ruangan bunker itu seketika hening mencekam.

Namun di luar dugaan, Arka sama sekali tidak terlihat terkejut. Pria berdarah dingin itu justru mendengus. Seringai sinis dan kejam terbit di sudut bibirnya.

"Seperti yang saya duga," desis Arka datar. Matanya menatap lurus ke arah monitor yang menyala merah. "Tugas anjing pelacak itu sudah selesai. Mereka membuangnya setelah berhasil memancing saya keluar dari sarang."

"Siapa, Arka?" bisik Rara pelan. Bulu kuduknya meremang hebat melihat aura pria di depannya ini berubah menjadi berkali-kali lipat lebih gelap dan berbahaya. "Siapa musuh lo sebenarnya?"

"Dewan Tertinggi," jawab Arka absolut. "Penguasa bayangan yang sebenarnya dari dunia hitam ini."

Arka memutar tubuhnya, niat awalnya ingin berdiri untuk mendekati monitor. Namun, kali ini batas ketahanan fisiknya benar-benar habis. Pria itu terhuyung, berpegangan pada sandaran sofa sambil meringis menahan nyeri yang seakan menembus tulang.

"Arka!" Rara langsung memegangi lengan pria itu dengan panik.

"Bos, kita tidak bisa menyerang balik sekarang. Kondisi Anda kritis," sela Bara cepat, melangkah maju untuk memastikan bosnya tidak ambruk. "Dewan Tertinggi pasti sedang menunggu kita melakukan pergerakan bodoh malam ini. Kita harus tiarap."

Arka memejamkan mata, napasnya memburu keras. Otaknya yang selalu penuh kalkulasi maut tahu bahwa Bara benar. Menyerang Dewan Tertinggi dengan perut robek sama saja dengan menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma.

Pria itu membuka matanya, menatap Rara yang wajahnya sudah pucat pasi karena khawatir.

"Bara," suara Arka melemah, namun tetap menyimpan otoritas mutlak. "Kunci seluruh akses bunker. Aktifkan mode isolasi total. Panggil dokter bedah kemari hari ini juga."

Arka melirik sekilas layar monitor yang berkedip merah untuk terakhir kalinya, lalu menyandarkan kembali tubuhnya ke sofa dengan napas berat. "Biarkan mereka berpikir kita sedang bersembunyi ketakutan. Kita jeda permainan ini."

1
Yoes Lisbud
lanjut
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!