Indonesia
NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: KELAS BARU SANG MANDOR

Malam setelah perpisahannya dengan Sari menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidup Rangga.

Ia masih duduk di atas bukit kecil di belakang mes karyawan ketika layar ponselnya perlahan meredup. Pesan terakhir dari Sari sudah berkali-kali ia baca, tetapi tidak ada lagi kalimat yang perlu ditambahkan. Hubungan itu telah selesai. Bukan karena kebencian, bukan pula karena pengkhianatan, melainkan karena kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.

Rangga memasukkan ponsel ke saku celananya.

Ia mengangkat wajah.

Langit Borneo terbentang luas di atas kepalanya. Rasi bintang Arkais terlihat begitu jelas di antara gelapnya malam. Untuk beberapa saat, Rangga hanya diam, membiarkan angin malam menyapu wajahnya.

Dua tahun lalu, ia datang ke tanah ini dengan luka di tubuh dan ambisi yang bahkan belum memiliki bentuk jelas.

Kini, ia memiliki sebuah usaha yang mulai diperhitungkan.

Tetapi malam itu, ia kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

Rangga mengembuskan napas panjang.

“Kalau memang ini jalannya...” gumamnya pelan, “aku harus tetap berjalan.”

Tidak ada air mata yang jatuh setelah itu.

Bukan karena hatinya tidak sakit.

Justru karena ia sudah terlalu lelah untuk terus melawan kenyataan.

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik pepohonan, pintu ruko semi-permanen milik Rangga sudah terbuka. Lampu ruang produksi menyala. Beberapa mesin mulai dipanaskan, sementara tumpukan kertas yang datang sejak malam sebelumnya sudah tersusun di dekat meja kerja.

Doni yang baru datang langsung tertegun melihat Rangga sudah berada di sana.

“Mas Rangga?”

Rangga hanya menoleh.

“Kenapa, Don?”

“Mas tidur jam berapa?”

“Tidak ingat.”

Doni mengerutkan kening.

“Jangan bilang Mas belum tidur?”

Rangga tersenyum tipis.

“Pesanan dari manajemen harus selesai pagi ini.”

“Tapi Mas kelihatan kayak belum tidur tiga hari.”

“Berarti aku masih punya dua hari lagi untuk kelihatan lebih parah.”

Doni tertawa kecil, tetapi segera berhenti ketika menyadari wajah Rangga benar-benar serius.

Rangga mengambil lembar hasil cetakan dari meja.

“Warna bagian ini terlalu gelap. Naikkan sedikit tingkat kecerahannya.”

Doni mengambil lembar tersebut dan memperhatikannya.

“Baik, Mas.”

Rangga kemudian berjalan menuju mesin cetak utama.

Sejak hari itu, ritme kerjanya berubah.

Ia tidak lagi bekerja sekadar untuk mempertahankan bisnis.

Ia bekerja untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa rasa kehilangan tidak akan membuatnya berhenti.

Setiap pesanan yang datang langsung diperiksa. Setiap gulungan kertas dihitung. Setiap hasil cetakan diperiksa ulang sebelum dikirim kepada pihak proyek.

Bahkan ketika pekerjaan sebenarnya sudah selesai, Rangga masih sering turun langsung ke lapangan.

Ia mengangkat gulungan kertas.

Memeriksa hasil cetakan.

Mengantar dokumen.

Memastikan pesanan diterima tepat waktu.

Doni beberapa kali mencoba memintanya beristirahat, tetapi Rangga selalu menjawab dengan kalimat yang sama.

“Aku baik-baik saja.”

Padahal, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas.

Tubuhnya memang lelah.

Namun pikirannya justru semakin tajam.

Bagi Rangga, kesibukan itu menjadi cara paling sederhana untuk mengendalikan pikirannya sendiri. Setiap kali wajah Sari muncul dalam ingatan, ia mengalihkan perhatian pada pekerjaan. Setiap kali kenangan taman kecil di ruko Jakarta muncul, ia kembali memeriksa dokumen di atas meja.

Ia tidak melarikan diri dari kesedihan.

Ia hanya memilih tidak membiarkan kesedihan mengendalikan hidupnya.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Dan perlahan, hasil dari semua kerja keras itu mulai terlihat.

Pesanan dari manajemen investor semakin banyak. Kepercayaan yang diberikan kepadanya semakin besar. Ruko semi-permanen yang dulu hanya menjadi tempat kerja kecil di tengah proyek kini berubah menjadi salah satu unit pendukung penting dalam operasional lapangan.

Nama Rangga mulai dikenal.

Bukan karena ia datang membawa modal besar.

Bukan karena ia memiliki koneksi keluarga.

Melainkan karena satu hal sederhana:

ia selalu menyelesaikan pekerjaannya.

Dua tahun sebelumnya, tidak ada seorang pun di sana yang mengenal namanya.

Kini, namanya mulai disebut dalam rapat-rapat penting.

Dan tanpa disadarinya, Rangga sedang berdiri tepat di ambang perubahan terbesar dalam hidupnya.

Perubahan itu tidak datang dalam semalam.

Rangga membangunnya dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus ia pertahankan setiap hari. Ia mulai membuat sistem kerja yang lebih rapi, memisahkan pesanan berdasarkan tingkat urgensi, mencatat kebutuhan bahan baku secara terperinci, dan memastikan setiap pekerjaan memiliki jadwal penyelesaian yang jelas.

Doni yang awalnya hanya bertugas sebagai operator perlahan ikut memahami cara kerja tersebut.

“Kalau kita terus begini, Mas, pesanan bakal makin banyak,” ujar Doni suatu sore sambil memeriksa daftar pekerjaan.

“Itu memang tujuan kita.”

“Kalau pesanan makin banyak, kita butuh mesin tambahan.”

Rangga mengangguk.

“Bukan cuma mesin. Kita butuh orang yang bisa menjalankannya.”

Doni menatapnya.

“Mas sudah punya rencana sejauh itu?”

Rangga tersenyum kecil.

“Kalau bisnis mau naik kelas, cara berpikir kita juga harus naik kelas.”

Kalimat sederhana itu kemudian menjadi prinsip yang terus ia pegang.

Ia mulai berani mengambil pekerjaan dengan skala lebih besar. Tidak lagi hanya mencetak kebutuhan kecil para pekerja proyek, tetapi juga menangani dokumen teknis, materi presentasi, papan informasi proyek, hingga berbagai kebutuhan publikasi yang sebelumnya dikerjakan vendor lain.

Kepercayaan dari pihak manajemen pun semakin besar.

Setiap pekerjaan yang selesai tepat waktu menjadi satu pintu baru.

Setiap kepuasan pelanggan menjadi rekomendasi berikutnya.

Rangga tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan.

Ia bahkan mulai menyisihkan sebagian besar keuntungan untuk membeli perangkat tambahan dan memperbaiki sistem produksinya.

Tidak ada gaya hidup berlebihan.

Tidak ada pesta.

Tidak ada keinginan membeli barang-barang mahal hanya untuk membuktikan bahwa dirinya sudah berhasil.

Semua uang yang masuk kembali ia putar untuk bisnis.

Bagi Rangga, kesuksesan bukan tentang terlihat kaya.

Kesuksesan adalah ketika suatu hari nanti ia tidak lagi harus takut kehilangan semuanya hanya karena satu masalah datang.

Suatu pagi, sebuah undangan rapat evaluasi triwulanan sampai ke tangannya.

Rangga membacanya dengan teliti.

Rapat itu akan dihadiri oleh jajaran manajemen investor dan beberapa petinggi perusahaan yang selama ini menjadi pengambil keputusan utama proyek.

Doni berdiri di sampingnya.

“Mas ikut rapat?”

“Iya.”

“Biasanya kan cuma vendor besar yang dipanggil.”

Rangga melipat surat itu.

“Berarti sekarang kita sudah mulai dianggap besar.”

Doni tersenyum bangga.

“Selamat, Mas.”

Rangga tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap keluar jendela ruko.

Di kejauhan, proyek pembangunan yang dulu tampak seperti hutan beton tanpa ujung mulai memperlihatkan bentuk akhirnya. Jalan logistik mulai tersusun. Bangunan pusat kendali mulai berdiri kokoh. Aktivitas kendaraan berat semakin teratur.

Rangga terdiam cukup lama.

Ia tiba-tiba teringat pada dirinya sendiri dua tahun lalu.

Pemuda dari Jakarta.

Membawa luka.

Membawa ambisi.

Dan tidak memiliki banyak hal selain keberanian untuk mencoba.

Sekarang, ia berdiri di tempat yang sama dengan posisi yang berbeda.

Namun perjalanan itu belum selesai.

Hari rapat evaluasi tiba.

Rangga mengenakan setelan formal sederhana yang ia siapkan khusus untuk kesempatan tersebut. Ia memasuki gedung utama manajemen dengan langkah tenang.

Beberapa orang yang dulu nyaris tidak memperhatikannya kini mulai menyapa.

“Pagi, Pak Rangga.”

“Pagi.”

“Selamat datang.”

Rangga membalas semuanya dengan sopan.

Tidak ada kesombongan di wajahnya.

Ia tahu betul bahwa dunia bisnis bisa mengangkat seseorang hari ini dan menjatuhkannya esok hari.

Karena itu, ia memilih tetap tenang.

Rapat berlangsung cukup panjang.

Berbagai capaian proyek dipresentasikan. Angka-angka produksi dibahas. Efisiensi pekerjaan dibandingkan. Beberapa vendor dievaluasi berdasarkan kinerja masing-masing.

Sampai akhirnya salah seorang pimpinan menyebut nama usahanya.

“Untuk kebutuhan percetakan dan publikasi teknis selama periode berjalan, kinerja unit Rangga menunjukkan hasil yang sangat baik.”

Rangga mengangkat wajah.

Layar besar di depan ruangan menampilkan sejumlah data pekerjaan yang berhasil diselesaikan tepat waktu.

Beberapa orang mengangguk.

Salah seorang direktur bahkan memberikan apresiasi secara langsung.

“Respons cepat dan konsistensi kualitasnya patut diapresiasi.”

Rangga berdiri ketika diminta memberikan tanggapan.

“Terima kasih atas kepercayaannya. Saya hanya memastikan pekerjaan yang diberikan kepada kami selesai sesuai kebutuhan.”

“Bukan hanya sesuai kebutuhan,” jawab sang direktur. “Anda menyelesaikannya dengan standar yang lebih tinggi.”

Ruangan hening sesaat.

Rangga mengangguk.

“Kalau begitu, kepercayaan ini akan saya jaga.”

Kalimat itu sederhana.

Namun sejak saat itu, posisi Rangga di mata para investor mulai berubah.

Ia bukan lagi sekadar pemilik percetakan kecil yang kebetulan mendapat kesempatan masuk ke proyek besar.

Ia mulai dilihat sebagai seseorang yang mampu berkembang bersama proyek tersebut.

Dan ketika rapat berakhir, sebuah keputusan penting mulai bergerak menuju meja Rangga.

Keputusan yang akan mengubah skala bisnisnya jauh melampaui ruko kecil di tengah pedalaman Borneo.

Keputusan itu akhirnya benar-benar sampai ke tangan Rangga beberapa hari kemudian.

Sebuah map tebal diletakkan di atas meja kerjanya. Di dalamnya terdapat dokumen resmi perpanjangan kerja sama sekaligus penawaran untuk menangani kebutuhan publikasi pada fase berikutnya. Nilainya jauh lebih besar daripada kontrak yang selama ini ia jalankan.

Rangga membaca setiap halaman dengan teliti.

Ia tidak langsung menandatangani.

Pengalaman mengajarinya bahwa angka besar selalu datang bersama tanggung jawab yang lebih besar pula.

“Mas,” ujar Doni yang berdiri di dekat pintu, “jadi kita dapat?”

Rangga mengangkat wajah.

“Kita dapat kesempatan.”

Doni tersenyum lebar.

“Berarti benar, Mas. Kita naik kelas.”

Rangga menatap kembali dokumen di tangannya.

“Belum. Kita baru diberi kesempatan membuktikan bahwa kita pantas naik kelas.”

Kalimat itu membuat Doni mengangguk.

Sejak kontrak baru tersebut berjalan, aktivitas ruko semakin padat. Rangga mulai menambah peralatan, memperbaiki alur produksi, dan membagi tanggung jawab dengan lebih terstruktur. Ia tidak lagi mengerjakan semuanya seorang diri.

Doni dipercaya menangani operasional lapangan.

Beberapa pekerjaan teknis yang sebelumnya selalu berada di bawah pengawasan langsung Rangga mulai ia delegasikan.

Rangga akhirnya belajar satu hal penting: seorang pemilik usaha tidak mungkin terus menjadi orang yang mengerjakan semuanya sendiri.

Ia harus membangun sistem.

Dan sistem itu harus tetap berjalan meskipun suatu hari dirinya tidak berada di tempat.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang semakin cepat.

Proyek utama memasuki fase akhir.

Bangunan-bangunan yang dulu hanya berupa kerangka kini berdiri kokoh. Jalan logistik mulai berfungsi. Aktivitas para pekerja perlahan berubah dari pembangunan menuju penyelesaian.

Rangga melihat semua perubahan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Tanah Borneo yang dulu terasa asing kini sudah seperti bagian dari perjalanan hidupnya.

Di tempat inilah ia jatuh.

Di tempat ini pula ia bangkit.

Dan di tempat ini ia belajar bahwa kehilangan tidak selalu berarti kehancuran.

Kadang-kadang, kehilangan justru memaksa seseorang menemukan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Dua tahun setelah kedatangannya, proyek raksasa tersebut akhirnya memasuki tahap penutupan.

Dalam rapat pleno terakhir, nama usaha Rangga kembali disebut.

Kali ini bukan sekadar sebagai vendor dengan kinerja baik.

Ia disebut sebagai salah satu mitra lokal yang memberikan kontribusi paling konsisten sepanjang proyek.

Sebuah piagam penghargaan diberikan kepadanya.

Namun, kejutan terbesar datang setelahnya.

Salah seorang perwakilan konsorsium investor menyerahkan dokumen lain.

“Kami melihat potensi bisnis Anda, Rangga. Kalau Anda bersedia mengembangkan usaha ini ke tingkat nasional, kami siap memberikan dukungan modal.”

Rangga terdiam.

Nilai yang tercantum di dalam dokumen itu membuatnya menarik napas panjang.

Bukan karena ia silau melihat jumlahnya.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, mimpi yang dahulu hanya berani ia ucapkan dalam hati kini benar-benar berada di depan mata.

Ia menerima tawaran tersebut dengan satu syarat.

“Saya ingin tetap memegang kendali atas arah usaha ini.”

Pihak investor mengangguk.

“Justru itu alasan kami memilih Anda.”

Rangga kemudian menatap ke arah jendela aula.

Di luar sana, langit Borneo membentang luas.

Rasi bintang Arkais belum terlihat karena matahari masih tinggi.

Namun entah mengapa, Rangga merasa seolah perjalanan hidupnya sedang memasuki babak yang sama sekali berbeda.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali ke Jakarta.

Tetapi pria yang turun dari kendaraan kali ini bukan Rangga yang dahulu meninggalkan kota dengan luka dan sebuah koper sederhana.

Ia pulang sebagai pengusaha yang telah memiliki modal, jaringan, pengalaman, dan keberanian untuk membangun sesuatu yang lebih besar.

Kantor pusat baru berdiri di kawasan bisnis Jakarta Selatan.

Gedung modern itu menjadi simbol perubahan hidupnya.

Tono dan para staf lama pun ia tarik untuk mengisi posisi penting dalam manajemen. Mereka bukan lagi sekadar karyawan ruko.

Mereka adalah orang-orang yang ikut membangun perjalanan tersebut sejak awal.

Sore itu, Rangga berdiri di balik jendela besar ruang kerjanya.

Gedung-gedung pencakar langit terbentang di hadapannya.

Dulu, pemandangan seperti itu membuatnya merasa kecil.

Kini, ia berdiri di dalam salah satu gedung tersebut sebagai pemilik usaha.

Rangga tersenyum tipis.

“Jakarta...” gumamnya. “Akhirnya kita bertemu lagi.”

Namun sore itu, sebelum menghadiri sebuah pertemuan bisnis, Rangga meminta sopirnya melewati kawasan lama.

Mobil sedan mewah itu melaju perlahan.

Sampai akhirnya ia melihat sebuah ruko yang sangat dikenalnya.

Ruko percetakan lamanya.

Kini tempat itu telah berubah menjadi toko kelontong.

Rangga hanya tersenyum.

Tidak ada rasa kecewa.

Tidak ada penyesalan.

Ia sudah memiliki tempat baru.

Tetapi perjalanan hidupnya tidak mungkin melupakan tempat dari mana semuanya bermula.

Beberapa meter kemudian, pandangannya menangkap sebuah gang yang juga sangat dikenalnya.

Gang menuju tempat tinggal Sari dahulu.

Rangga tanpa sadar menoleh.

Dan di ujung gang itu, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya berhenti sesaat.

Sari.

Bersama Jodi.

Dan seorang anak kecil yang berada dalam gendongan Jodi.

Sari tersenyum.

Rangga memperhatikannya dari balik kaca mobil.

Lalu perlahan tersenyum pula.

Tidak ada lagi luka.

Tidak ada lagi keinginan untuk kembali.

Hanya rasa syukur karena seseorang yang pernah sangat ia cintai ternyata telah menemukan kebahagiaannya sendiri.

Rangga mengalihkan pandangan.

“Jalan terus,” katanya kepada sopir.

Mobil kembali bergerak meninggalkan gang itu.

Rangga tidak menoleh lagi.

Di kejauhan, Jakarta terus bergerak seperti biasa.

Namun bagi Rangga, satu pintu masa lalu baru saja tertutup dengan tenang.

Dan ketika pintu itu tertutup, jalan di depannya justru terasa semakin luas.

Rangga telah menaklukkan luka, menaklukkan perantauan, bahkan mulai menaklukkan Jakarta. Tetapi perjalanan Sang Kamajaya belum benar-benar selesai. Sebab jauh di dalam ingatannya masih tersimpan satu nama dari Desa Samudra—Denia, bidadari kecil yang pernah ia janjikan untuk ditemui kembali. Apakah setelah bertahun-tahun mengejar kesuksesan, Rangga akhirnya akan pulang untuk memenuhi janji masa kecil itu? Kita tutup langkahnya di Jakarta malam ini, dan biarkan perjalanan pulang Sang Kamajaya menjadi awal dari babak berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!