Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Runtuhnya Takhta Sang Tuan Pemaksa

Sinar matahari sore yang memerah menembus celah-celah pilar megah kediaman Dirgantara. Namun, kehangatan langit di luar sama sekali tidak mampu mengikis hawa membeku yang menyelimuti interior rumah berlantai marmer tersebut.

Sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan deru mesin yang kasar di Lobi utama. Pintu mobil terbuka, dan Baskara melangkah keluar dengan raut wajah yang amat sangat tegang. Jas kerjanya terlipat sembarangan di lengan, kemeja putihnya kusut, dan sepasang matanya menyiratkan kelelahan fisik sekaligus amarah yang siap meledak.

Setelah menghabiskan waktu sejak kemarin malam di apartemen Valerie terkontaminasi penuh oleh racun pemikiran bahwa istri dan anak kandungnya sedang bersekongkol untuk meruntuhkan harga dirinya Baskara pulang dengan satu tujuan, mengembalikan dominasinya.

Pria itu telah membulatkan tekad egoisnya. Dia tidak akan lagi memohon maaf. Dalam pikirannya yang sudah terdistorsi, dia adalah kepala keluarga yang memegang kendali penuh atas rumah ini, dan dia menuntut kepatuhan mutlak dari Kinanti maupun Natasha.

klek.

Baskara mendorong pintu utama dengan dorongan kasar, melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan derap sepatu yang nyaring memantul di atas lantai marmer.

"Bi Asih! Kinanti!" panggil Baskara dengan suara rendah yang berat dan dipenuhi nada komando yang tegas.

Namun, tidak ada teriakan panik atau sambutan terburu-buru yang ia dapatkan. Suasana rumah tetap tenang dan dingin.

Di ruang keluarga lantai dasar, dekat meja makan berukir jati, Kinanti sedang duduk di sofa empuk. Dia mengenakan terusan hamil katun berwarna krem yang longgar. Perutnya yang kian membuncit tersangga nyaman, dan wajahnya memancarkan kedamaian yang utuh. Di sampingnya, Natasha yang baru saja pulang sekolah dan masih mengenakan seragam SMA nya sedang duduk menyandar santai, tertawa pelan sembari menyodorkan sebuah buku catatan pelajaran ke arah Kinanti.

Keharmonisan dan ketenangan di antara kedua wanita itu seketika terhenti saat derap langkah kaki Baskara mendekati ruangan tersebut.

Natasha mendongak, menyadari kehadiran papanya. Binar tawa di wajah cantiknya seketika menguap tak berbekas, berganti menjadi tatapan dingin, kaku, dan penuh jarak. Sementara Kinanti hanya melirik pelan, lalu kembali mengusap perut buncitnya tanpa ada sejengkal pun rasa gentar atau rasa bersalah.

Baskara melempar jas kerjanya ke atas meja, melangkah memangkas jarak hingga berdiri tegap di hadapan mereka berdua. Pria itu membusungkan dadanya, mencoba menggunakan postur tubuh besarnya untuk mengintimidasi.

"Bagus sekali," ucap Baskara dengan senyuman sinis yang dipaksa, suaranya tajam menusuk udara. "Makan siang santai sementara papamu bekerja setengah mati di luar sana? Kau, Natasha! Kenapa tidak menyambut Papi saat Papi masuk? Di mana sopan santunmu sebagai seorang anak?

Natasha tidak bergeming. Dia hanya menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap papanya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan rasa iba yang amat sangat dingin.

"Papi baru pulang?" sahut Natasha datar, tanpa ada getaran takut sedikit pun. "Papi minta disambut? Bukankah Papi lebih nyaman disambut oleh wanita di apartemen itu daripada pulang ke rumah ini?"

Deg.

Wajah Baskara seketika memerah padam. Ucapannya langsung dipukul balik oleh anak kandungnya sendiri. "Natasha Jaga mulutmu! Papi sudah bilang berkali-kali jangan pernah membawa nama wanita itu di rumah ini Papi adalah papamu, pemilik rumah ini, dan Papi yang membiayai seluruh hidupmu.

Baskara kemudian memalingkan pandangan matanya yang berkilat amarah ke arah Kinanti, menunjuk wajah istrinya dengan telunjuk gemetar.

"Dan kau, Kinanti!" bentak Baskara, menyiramkan seluruh racun yang ditanamkan Valerie tadi malam. "Kau pasti sangat puas, bukan?! Kau berhasil mengajari anakku untuk menjadi pembangkang! Kau sengaja meracuni pikiran Natasha agar dia membenciku, agar kau punya sekutu untuk menginjak-injak harga diriku di rumahku sendiri!"

Kinanti tidak mendongak dengan panik. Dia menghela napas pendek, lalu perlahan merapikan posisi duduknya. Tatapan matanya yang jernih dan sedingin es menatap lurus tepat ke dalam mata Baskara.

"Om Baskara," panggil Kinanti dengan suara yang teramat halus namun tajam bagai sembilu. "Jangan menyalahkan orang lain atas kebusukan yang Om tanam sendiri. Natasha punya mata dan otak untuk menilai mana pria yang bertanggung jawab dan mana pria yang sudah kehilangan kehormatannya."

"Tutup mulutmu!" teriak Baskara, kemurkaannya meledak hingga urat-urat di lehernya menegang tebal. Pria itu melangkah satu titik lebih dekat, mencoba menegaskan kembali posisinya sebagai raja di rumah itu. "Aku adalah suami di rumah ini! Aku adalah papa di rumah ini Tidak ada seorang pun dari kalian yang berhak mengatur atau menghakimiku Kau tetap istriku, Kinanti, dan Natasha adalah anak kandungku! Kalian berdua tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan itu!"

Baskara bernapas memburu, dadanya naik turun dengan rasa puas yang dangkal karena merasa berhasil menegaskan otoritasnya.

Namun... sang tuan pemaksa sama sekali tidak menyadari bahwa benteng kekuasaannya justru akan diruntuhkan seutuhnya oleh sebuah kalimat sederhana yang keluar dari mulut putrinya sendiri.

Natasha perlahan berdiri dari sofa. Tubuh remajanya yang tinggi tegak berdiri pasang badan tepat di depan Kinanti, melindunginya dari tatapan intimidasi Baskara.

"Papi salah," ucap Natasha dengan nada suara yang begitu tenang, bulat, dan tanpa ragu.

Baskara tertawa terkekehi sinis. "Salah apa? Kau mau melawan Papi lagi?

Natasha menatap lurus ke dalam mata papanya dengan keteguhan batin yang luar biasa. Dia meraih jemari Kinanti di belakang tubuhnya, menggenggamnya erat, lalu kembali menatap Baskara dengan senyuman tipis yang sarat akan penegasan mutlak.

Papi bilang kami berdua menginjak-injak Papi?" desis Natasha, suaranya jernih membelah keheningan ruangan. "Tidak, Pi. Papi sendiri yang meruntuhkan harga diri Papi. Dan soal wanita yang Papi tuduh meracuni pikiranku...

Natasha menarik napas panjang, menatap Kinanti dengan rasa sayang yang mendalam, lalu kembali menatap papanya.

Beliau bukan cuma sekadar istri Papi,tegas Natasha dengan penekanan kata yang utuh. Mulai hari ini... aku resmi memanggil beliau sebagai Ibu-ku."

Brak!

Kata-kata itu terucap bagai sambaran petir di siang bolong yang menghantam tepat di atas kepala Baskara.

Darah di seluruh tubuh pria berkuasa itu seketika terasa membeku sepenuhnya. Lidahnya mendadak kaku, dan sepasang mata elangnya membelalak sempurna dalam guncangan rasa kaget yang teramat sangat mendalam.

"A... Apa yang kau katakan, Natasha...?" gagap Baskara, suaranya seketika bergetar hebat, kehilangan seluruh wibawa dan dominasi yang baru saja ia pamerkan. "Kau... kau memanggilnya apa?!"

Natasha menyunggingkan senyum hangat ke arah Kinanti, lalu menatap papanya kembali tanpa ada rasa sesal sedikit pun.

Aku memanggilnya Ibu, ulang Natasha dengan suara yang jauh lebih lantang dan penuh kebanggaan. "Ibu Kinanti adalah Ibuku sekarang. Beliau yang merawatku, mendengarkan aku, dan menjaga rumah ini saat Papi sibuk membagikan kebohongan di luar sana. Jadi, kalau Papi mau membentak atau mengancam Ibu... Papi harus berhadapan denganku dulu!"

Deg! Deg! Deg!

Jantung Baskara berdegup liar kencang, menghantam dadanya hingga rasa sesak yang luar biasa menguasai pernafasannya. Tubuh tegap pria matang itu gemetar hebat. Langkah kakinya secara refleks mundur satu langkah, seolah-olah ia baru saja dihantam oleh kekuatan fisik yang tak kasat mata.

Ibu...

Panggilan itu... panggilan terhormat yang selama ini hanya diberikan Natasha pada mami kandungnya, kini dengan penuh kesadaran dan ketulusan diberikan pada Kinanti wanita yang sempat Baskara anggap sebagai gadis desa polos yang bisa ia atur dan ia paksa sesuka hatinya.

Baskara menatap Kinanti dengan tatapan yang dipenuhi perpaduan antara kepanikan, rasa tidak percaya, dan rasa terasingkan yang teramat sangat menyiksa.

Kinanti yang masih duduk di sofa perlahan menegakkan tubuhnya. Dia tidak membalas dengan bentakan. Sebaliknya, Kinanti menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat sangat anggun, tenang, dan berkelas sebuah senyuman kemenangan moral seorang ibu yang berhasil memenangkan hati anak dan keluarga besarnya tanpa perlu mengotori tangannya dengan emosi.

"Kau lihat sendiri kan, Mas Baskara?" sahut Kinanti lembut, suaranya tenang bagai alunan air telaga yang membeku. "Kau bisa mengurung tubuhku di dalam rumah ini dengan kekuasaanmu. Kau bisa menggunakan uangmu untuk membayar pengawal di depan gerbang. Tapi kau tidak akan pernah bisa membeli kasih sayang dan rasa hormat dari anak kandungmu sendiri."

Kinanti mengusap perut buncitnya dengan lembut, menatap Baskara dengan rasa iba yang amat dingin.

"Kau sekarang benar-benar sendirian di rumah ini, Mas," lanjut Kinanti, kata-katanya menusuk tepat di pusat rasa bersalah dan kesepian Baskara. "Tidak ada seorang pun di rumah ini yang berada di pihakmu lagi."

Baskara mencengkeram pinggiran meja makan dengan kedua tangannya yang gemetar. Wajahnya yang semula memerah amarah kini pucat pasi bagai mayat. Rasa tertekan yang teramat sangat besar menghantam jiwanya dari segala penjuru.

Di satu sisi, dia merasa egonya dihancurkan secara total. Namun di sisi lain, ketakutan terbesarnya kini menjadi kenyataan, Dia telah terasingkan seutuhnya di dalam rumah mewahnya sendiri.

Tidak ada lagi panggilan manja dari putrinya. Tidak ada lagi perhatian tulus dari istrinya. Tidak ada lagi sambutan hangat saat dia pulang kerja. Yang tersisa di dalam rumah berlantai marmer itu hanyalah dua orang wanita yang memandangnya sebagai seorang asing yang tidak bernilai.

"Kalian... kalian berdua benar-benar jahat..." bisik Baskara dengan suara serak, hampir tak terdengar, keputusasaan yang tertahan. "Ini rumahku... Aku pemegang kekuasaan di sini..."

"Rumah ini milik Kakek Ramli, Pi," potong Natasha dingin tanpa ampun. "Dan jika Kakek tahu Papi terus-terusan mengancam Ibu dan berselingkuh dengan wanita ular itu... Papi tahu sendiri siapa yang akan ditendang keluar dari rumah ini."

Pernyataan Natasha menjadi pukulan penutup yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan mental Baskara. Pria yang ditakuti ratusan karyawannya di kantor pusat itu kini berdiri mematung di tengah ruang keluarga, tampak begitu kecil, kerdil, dan menyedihkan.

Tanpa sanggup mengucapkan satu kata penyangkalan lagi, Baskara membalikkan tubuhnya secara perlahan. Dengan langkah kaki yang berat, lesu, dan bergetar, sang tuan pemaksa melangkah pergi menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya yang sepi di lantai atas mengurung dirinya sendiri dalam rasa tertekan.

Di lantai dasar, Natasha merengkuh bahu Kinanti dengan penuh rasa bangga, sementara Kinanti menyunggingkan senyum hangat, meresapi kemenangan ikatan batin mereka yang kini tak akan pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun lagi.

1
sunaryati jarum
Ayo Tuan Besar Ramli segera cabut aset darimu yang dikelola Baskoro, tidak sadar malah makin menjadi
sunaryati jarum
Kamu memang cocok sama Valerie sama - sama sampah , dan menjijikan .Sekali siap - siap jadi gelandangan
sunaryati jarum
Menuju kehancuran kamu Baskoro,otw jadi gembel sebentar lagi pasti semua asetmu ditarik Kakek Ramli.Semoga kandungan kamu baik- baik saja .
sunaryati jarum
Baskara setelah ini kamu akan dimiskinkan oleh kakek Ramli, semua asetmu dan kakek dibagi dua untuk Natasya dan anak Kinant.Kamu akan jadi gembel.Masih maukah Valerie padamu?
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Bagus Kinanti tua Bangka tidak tahu diuntung dulu mendapatkan kamu dengan cara paksa, sekarang nikmati hidupmu dengan parasit Valery.Untuk Kinanti mulai sekarang sayangi dirimu sendiri dengan dukungan Natasya dan Kakek Ramli
sunaryati jarum
Yang terbiasa mengobral.tubuh demi kemewahan, apapun.akan dilakukan.Saat ini karma untukmu Valerie lewat putri pria bodoh, yang kau jebak
sunaryati jarum
Kakek Ramli lebih siapa Valerie dari pada Baskara.Siap- siap jadi gembel setelah anakmu dari rahim Kinanti lahir.Karena seluruh harta Juragan Ramli untuk Natasya dan anak Kinanti.Harta Baskara juga dibagi sebagai harta gono- gini setelah bercerai dan juga untuk Natasya. Momen yang emak tunggu
sunaryati jarum: Maksudnya lebih paham
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟 jika Baskara dan Valerie hancur
sunaryati jarum
Tua Bangka bodoh dan egois, tidak mengindahkan peringatan putri dan istrinya yang tulus menyelamatkan usahamu . Sokoor kau masuk jebakan Valerie dan sudah melakukan kegiatan intim padanya, yang pasti sudah direkam untuk mengancam kamu.Sebentar kehancuran kamu bersama Valerie, karena Natasya akan membongkarnya,semua kekayaan Baskara sudah langsung milik Kinanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!