....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kosong
RUANG UKS
Langkah mereka terdengar pelan di sepanjang koridor.
Tangan Jayden sudah dibalut tisu basah oleh Juno sebelumnya, tetapi darahnya masih merembes keluar.
Begitu pintu UKS didorong, tercium bau alkohol dan obat merah.
Di dalamnya, Steven duduk di ranjang paling ujung. Jersey basket nomor 7 nya masih basah keringat. Handuk kecil melingkar di lehernya. Bibirnya sudah diberi salep oleh Ibu UKS. Rambutnya masih acak-acakan.
Mata mereka bertiga bertemu dalam satu waktu.
Hanya sepersekian detik.
Steven langsung bangkit. Gerakannya cepat. Kursi plastik di belakangnya terseret dan menimbulkan bunyi berdecit.
Ia tidak melirik ke arah mana pun. Ia berjalan lurus menuju pintu keluar, seolah keberadaan Jayden di ruangan itu membuatnya tidak nyaman. Bau keringat dan alkohol bercampur di udara.
"Stev—"
Juno hendak memanggil.
Namun napas Juno menggantung di tenggorokan.
Kata itu tidak sempat keluar.
Pintu UKS tertutup. Suaranya pelan. Krek.
Steven telah pergi begitu saja.
Juno melirik ke arah Jayden.
Jayden juga diam. Jersey nomor 23 nya sama-sama basah. Pandangannya lurus ke depan. Keras kepala. Ia sengaja tidak menoleh ke arah Steven, bahkan sedetik pun.
Ibu UKS yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berdehem.
"Duduk. Mau diobati yang mana dulu? Anak basket lagi ya?"
Juno menarik Jayden untuk duduk.
"Yang ini, Bu. Tangannya terkena pecahan kaca."
Selama proses pembersihan dan perban, tidak ada percakapan.
Yang terdengar hanya suara gunting memotong perban dan dengung kipas angin.
Jayden menahan sakit. Namun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi.
Setelah selesai. Jayden dan Juno keluar dari UKS menuju kelas. Langkah mereka terasa berat.
Di koridor, Jayden mendengar suara beberapa mahasiswi sedang berbicara. Salah satunya adalah Lisa.
"Lo beneran udah jadian sama Steven?" bisik salah satu dari mereka.
Jayden mendengarnya. Juno juga. Namun keduanya tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh.
Sekilas Jayden melirik ke arah Lisa. Tatapan Lisa yang awalnya juga melirik ke arah Jayden segera beralih kepada teman di sampingnya. Seolah Lisa tidak ingin menatap Jayden lebih dari dua detik.
Jam menunjukkan pukul 15.45. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang. Tinggal beberapa orang yang masih berada di area kampus.
Di parkiran, Jayden tidak melihat Cheyrin.
Lisa kemudian lewat di hadapannya. Jayden ingin sekali bertanya keberadaan Cheyrin, tetapi mengingat kejadian di lapangan tadi, ia mengurungkan niatnya dan memilih diam.
Jayden kemudian mengalihkan pandangan ke ponsel di tangannya. Ia membuka nomor Cheyrin. Tidak ada pesan yang dikirim, tidak ada panggilan yang dilakukan. Ia hanya melihat kapan terakhir kali Cheyrin aktif.
Tidak lama kemudian, Dara lewat dan mendekat.
"Cheyrin udah pulang," ucap Dara pelan.
Jayden langsung menoleh, seolah informasi itu sangat penting. Dara tersenyum kecil, tetapi Jayden tidak merespons. Ia segera mengambil helm, menyalakan motornya, lalu pergi meninggalkan parkiran.
Keesokan harinya 07.06
Motor Jayden secara tidak sadar berbelok menuju gang kosan Cheyrin. Itu sudah menjadi kebiasaan, mampir sejenak, mengajak berangkat ke kampus bersama, bahkan kadang menitipkan sarapan. Namun hari itu ia berhenti tepat di ujung gang.
"Kayak nya dia masih marah," gumamnya pelan.
Egonya terasa menyesak di tenggorokan. Bayangan kata "murahan" yang terucap kemarin membuat dadanya sesak. Jika ia menemuinya sekarang, itu akan membuat nya semakin menjauh dari Cheyrin.
Akhirnya Jayden memutar balik. Nanti juga ketemu di kampus, pikirnya.
Namun kenyataannya, di kampus pun tidak ada sapaan.
Jayden dan Steven seperti membuat kesepakatan diam-diam. Apabila berpapasan di koridor, salah satu dari mereka akan memilih berbelok terlebih dahulu. Tidak ada adu tatap, tidak ada sepatah kata pun. Keheningan itu terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran kemarin
Pukul 08.00. Suasana kampus terasa berbeda.
Pengumuman dari bagian kemahasiswaan menempel di papan informasi.
Kepada: Jayden ezakiel arran dan Steven Alvaro. Dimohon hadir di ruang dosen pembimbing pukul 10.00 terkait insiden di lapangan kemarin.
Jayden membaca pengumuman itu. Tangannya mengepal. Juno yang berdiri di sampingnya hanya bisa menghela napas.
"Gawat bro. Pasti ada yang laporin," ucap Juno pelan.
Di sisi lain koridor, Steven juga melihat pengumuman yang sama. Wajahnya datar. Tidak ada rasa takut, hanya kesal.
Ia melirik ke arah Jayden dari kejauhan. Keduanya saling tatap selama dua detik, lalu sama-sama berbalik.
Jam 09.55. Ruang dosen.
Di dalam sudah ada Pak Toni, dosen pembimbing kemahasiswaan, dan Ibu Siska dari bagian tata tertib.
Begitu Jayden dan Steven masuk, pintu ditutup.
Pak Toni menatap mereka berdua bergantian.
"Saya ingin penjelasan. Kenapa sampai terjadi perkelahian di area kampus?"
Suasana hening.
Pak Toni meletakkan map cokelat di atas meja. Di dalamnya ada foto dari CCTV lapangan dan beberapa lembar pernyataan saksi.
"Saya panggil kalian berdua karena ada laporan resmi. Perkelahian di area kampus kemarin sore. Benar?"
Jayden menunduk. "Benar, Pak."
Steven bersedekap. Wajahnya tetap datar. "Saya dipancing duluan, Pak."
Ibu Siska dari bagian tata tertib membuka catatan.
"Dalam laporan juga disebutkan nama Saudari Cheyrin Mahendra. Tapi yang bersangkutan tidak hadir hari ini."
Hening beberapa detik.
Jayden mengepalkan tangan di bawah meja. Kenapa?
Pak Toni menutup mapnya. "Baik. Mengingat ini pelanggaran pertama dan tidak ada korban luka serius, kami tidak akan menjatuhkan sanksi skors."
Jayden menghela napas lega. Steven tetap datar.
"Tapi," lanjut Ibu Siska, "kalian berdua wajib menerima hukuman. Mulai besok selama satu minggu, setiap jam 07.00 kalian lapor ke satpam. Hukuman push up 50 kali."
Pak Toni menatap tajam. "Dan saya harap tidak ada kejadian seperti ini lagi. Kampus ini bukan tempat menyelesaikan masalah dengan otot."
Jayden mengangguk cepat. "Siap, Pak. Maaf, Pak."
Steven hanya mengangguk sekali, lalu keluar duluan.
---
Hari ketiga, Cheyrin tetap tidak datang ke kampus.
Jayden baru menyadarinya setelah Lisa mengirim pesan singkat di grup kecil mereka:
"Cheyrin belum masuk lagi hari ini ya?"
Konsentrasi Jayden buyar sepanjang hari. Setiap kali lewat koridor fakultas, matanya otomatis melirik ke arah kelas Cheyrin, padahal ia tahu tidak akan menemukan siapa-siapa di sana.
Malam harinya, setelah suasana rumah tenang, Jayden mengetuk pintu kamar Evan.
"Masuk," jawab suara berat dari dalam.
Jayden duduk di tepi tempat tidur abangnya.
"Bang, boleh nanyak gak?"
"Soal apa?" Evan menjawab tanpa menoleh.
Ada sedikit keraguan sebelum Jayden berbicara "Cheyrin"
Evan menghentikan pekerjaannya, lalu menghela napas panjang.
"Lo lagi-lagi nanya soal dia."
Jayden diam, menunggu.
"Dia udah dua hari nggak masuk kerja," kata Evan pelan. "Tanpa izin, tanpa kabar. Gue udah coba hubungi, tapi nggak ada balasan. Gue juga nggak tahu alasan nya apa."
Hening.
Jayden terdiam. Perasaan nya kini mulai tidak tenang. Ia bangkit kemudian keluar dari kamar itu.
Di depan pintu kamarnya, ia menatap layar ponsel yang tetap gelap.
Di kampus tidak ada, di tempat kerja pun tidak ada kabar. Untuk pertama kalinya, Jayden merasa cemas bukan karena ego, tapi karena ia benar-benar tidak tahu kabar Cheyrin.
Malam itu, ego Jayden akhirnya kalah.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Jalanan sudah sepi, lampu jalan memanjang seperti garis yang menuntunnya ke satu tujuan. Tanpa berpikir panjang, Jayden mengambil kunci motor dan meluncur keluar rumah.
Sepanjang jalan, pikirannya hanya satu: Cheyrin.
Apakah dia sakit? Apakah dia marah? Atau memang sengaja menghindar?
Kecemasan itu membuat Jayden memutar gas lebih dalam dari biasanya. Suara mesin motornya meraung di jalan yang lengang. Beberapa kali ia hampir menyerempet pengendara lain yang keluar dari gang tanpa melihat kiri-kanan. Untungnya refleks Jayden cepat. Ia mengerem dan menghindar tepat waktu, meski jantungnya masih berdetak kencang.
Kos Cheyrin tidak jauh, tapi malam itu rasanya seperti perjalanan terjauh yang pernah ia tempuh.
Saat tiba di depan gang, Jayden mematikan mesin. Tangannya sedikit gemetar saat ia menurunkannya.
Ia berdiri di ujung gang yang sama seperti pagi dua hari lalu. Bedanya, kali ini ia tidak berbalik.
Langkahnya pelan, ragu, tapi pasti.
Jayden membuka gerbang yang belum di kunci itu, karena batas kunci gerbang kos biasanya jam 12.00, kamar kos Cheyrin gelap. Tidak ada cahaya, tidak ada suara.
Jayden menelan ludah.
Untuk pertama kalinya, ia merasa takut bukan karena bertengkar, tapi karena tidak tahu harus berkata apa jika Cheyrin benar-benar membukakan pintu.
Jayden berdiri di depan pintu kamar kos Cheyrin.
Ia mengangkat tangan, mengetuk pelan.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan yang memantul kembali ke telinganya.
Jayden mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
"Cheyrin? Lo ada di dalam?"
Suara panggilannya tenggelam dalam malam.
Dari celah pintu, tidak ada cahaya, tidak ada gerakan. Gelap dan sunyi. Seolah kamar itu memang kosong.
Ia mencoba sekali lagi, menekan gagang pintu pelan, tapi terkunci.
"Cheyrin!" panggilnya, suaranya mulai meninggi.
Tetap tidak ada jawaban.
Jayden menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang yang bisa ia tanyakan. Gang itu biasanya ramai dengan suara anak kos lain, tapi malam itu kosong. Semua pintu tertutup, semua lampu mati.
Rasa cemas yang ia tahan sejak dua hari lalu mulai berubah menjadi frustrasi.
Tangannya mengepal di sisi tubuh.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke sini, Jayden menyadari betapa tidak berdayanya ia. Ia datang untuk mencari jawaban, tapi yang ia temukan hanya keheningan.
Jayden mengusap kepalanya pelan, frustasi mulai menguasai. Ia menghela napas panjang, lalu mendongak ke atas seolah mencari jawaban di antara gelapnya malam.
"Cheyrin… buka pintunya," gumamnya pelan, masih mencoba memanggil ke dalam kamar.
Tapi tetap saja, tidak ada jawaban. Tidak ada siapa-siapa.