Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Perlengkapan
"Mas, jadi ikut atau nggak?" tanya Naresta sambil berdiri di depan pintu kamar.
Setelah satu minggu berlalu, kondisi Naresta akhirnya kembali baik-baik saja. Ia juga sudah tidak merasakan perut kencang seperti sebelumnya.
Hari ini, Naresta dan Elvan berencana pergi membeli perlengkapan bayi mereka sebelum persalinan nanti.
Elvan yang sedang mencari sesuatu di dalam lemari langsung menoleh.
"I-ikut."
"Terus Mas cari apa dari tadi?"
"D-dompet."
Naresta langsung menunjuk meja kecil di samping tempat tidur.
"Itu, Mas."
Elvan menoleh mengikuti arah telunjuk istrinya.
Dompetnya ternyata tergeletak tepat di atas meja.
Elvan mengambilnya.
"A-ada."
Naresta langsung tertawa kecil.
"Ya memang ada. Dari tadi juga di situ."
Elvan memasukkan dompet ke saku celananya, lalu berjalan mendekati Naresta.
"S-sayang s-sudah s-siap?"
"Sudah."
Elvan menatap perut istrinya.
"N-nggak s-sakit?"
"Nggak, Mas."
"K-kencang?"
"Nggak."
"P-pusing?"
"Nggak."
"C-capek?"
Naresta langsung berkacak pinggang.
"Mas, kita belum berangkat. Gimana aku mau capek?"
Elvan terdiam sebentar.
Naresta menggeleng sambil tertawa.
"Aku baik-baik saja."
Elvan akhirnya mengangguk.
"I-iya."
Naresta menggandeng tangannya.
"Ayo. Katanya kemarin mau belikan anak kita semuanya."
Elvan langsung tersenyum.
"S-semua."
Naresta seketika berhenti.
"Eh, jangan benar-benar semuanya."
Elvan mengerutkan dahi.
"K-kenapa?"
"Ya secukupnya saja, Mas."
"B-bayi b-butuh."
"Iya, tapi bukan berarti satu toko dibeli."
Elvan tersenyum kecil.
Naresta langsung menyipitkan matanya.
"Mas jangan senyum begitu. Aku curiga."
Elvan tidak menjawab dan malah berjalan keluar lebih dahulu.
"Mas!"
Naresta segera mengikutinya.
Saat mereka melewati toko, Aya yang sedang berada di kasir langsung menoleh.
"Lho, mau ke mana kalian?"
"Mau beli perlengkapan bayi," jawab Naresta dengan wajah semringah.
Aya langsung berdiri.
"Hari ini?"
"Iya. Daripada nanti semakin dekat lahiran dan perutku tambah besar."
Aya mengangguk setuju.
"Benar juga."
Namun, beberapa detik kemudian tatapannya berubah curiga.
"Mbak pergi cuma berdua sama Mas Elvan?"
"Iya."
Aya langsung menunjuk Elvan.
"Mas Elvan."
Elvan menoleh.
"I-iya?"
"Jangan biarkan Mbak Naresta jalan terlalu lama."
"I-iya."
"Kalau capek langsung duduk."
"I-iya."
"Jangan suruh bawa barang."
"I-iya."
Naresta langsung memotong.
"Sudah, Mbak. Nanti satu jam lagi kami belum berangkat kalau nasihatnya diterusin."
Aya melotot.
"Saya khawatir."
"Aku tahu."
Naresta tersenyum.
"Makanya aku juga nggak akan memaksakan diri."
Aya akhirnya mengangguk.
"Ya sudah. Hati-hati."
"Iya."
Naresta baru berjalan beberapa langkah sebelum kembali menoleh.
"Mbak Aya."
"Apa lagi?"
"Toko titip, ya."
Aya langsung menunjuk pintu keluar.
"Pergi sana!"
Naresta tertawa.
"Galak banget."
Elvan menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya berjalan keluar.
Aya hanya menggeleng melihat keduanya.
Namun, baru saja Naresta dan Elvan keluar dari toko, Aya tiba-tiba teringat sesuatu.
"Mbak Naresta!"
Naresta menoleh dari luar.
"Apa?"
Aya menunjuk perutnya.
"Jangan kalap belanja!"
Naresta langsung menunjuk Elvan.
"Yang harus dibilangin itu Mas Elvan!"
Elvan hanya tersenyum polos.
Aya langsung memegangi dahinya.
"Waduh. Sepertinya pulangnya nanti satu mobil penuh."
**
Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di toko perlengkapan bayi.
Begitu masuk, mata Naresta langsung menyapu seluruh isi toko. Berbagai macam pakaian bayi, selimut, bedong, handuk, hingga perlengkapan mandi tersusun rapi di setiap rak.
"Mas, banyak banget."
Elvan justru terlihat lebih antusias.
"B-bagus."
Naresta tertawa kecil.
"Mas jangan mulai, ya. Ingat, beli yang dibutuhkan saja."
Elvan mengangguk.
"I-iya."
Seorang karyawan wanita menghampiri mereka.
"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?"
Naresta tersenyum ramah.
"Iya, Mbak. Kami mau cari perlengkapan bayi baru lahir."
"Oh, boleh. Sudah tahu jenis kelaminnya, Kak?"
Naresta menggeleng.
"Belum. Kami memang nggak mau tanya waktu USG."
"Baik. Berarti kita pilih warna dan perlengkapan yang netral saja, ya."
"Iya, Mbak."
Karyawan tersebut mulai menunjukkan beberapa rak.
"Kalau untuk awal, bisa mulai dari baju bayi, popok, bedong, sarung tangan, kaus kaki, handuk, dan perlengkapan mandi."
Naresta langsung mengambil beberapa pakaian berukuran kecil.
"Ya Allah, Mas. Kecil banget."
Elvan mendekat dan memperhatikan baju yang berada di tangan istrinya.
"B-bayi p-pakai i-ini?"
"Iya."
Elvan mengambil satu baju lainnya.
"K-kecil."
Naresta terkekeh.
"Memangnya Mas kira anak kita lahir langsung sebesar Mas?"
Elvan langsung menggeleng.
"T-tidak."
Naresta kembali memilih beberapa pakaian.
"Yang ini lucu."
Elvan mengambil satu lagi.
"I-ini."
"Boleh."
Elvan mengambil lagi.
"Y-yang i-ini."
Naresta mengangguk.
"Boleh."
Kemudian Elvan mengambil beberapa sekaligus.
Naresta langsung menahan tangannya.
"Mas."
Elvan menoleh polos.
"A-apa?"
"Kenapa ambil sebanyak itu?"
"B-buat b-bayi."
"Iya, tahu buat bayi."
Naresta mengambil sebagian dari tangannya dan mengembalikannya ke rak.
"Secukupnya dulu."
Elvan terlihat tidak rela.
"N-nanti k-kurang."
"Nanti kalau kurang kita beli lagi."
Karyawan toko yang melihat keduanya hanya tersenyum.
"Calon ayahnya semangat sekali, Kak."
Naresta langsung tertawa.
"Semangatnya dari rumah sudah kelihatan, Mbak. Saya malah takut satu toko diborong."
Elvan menatap deretan perlengkapan bayi di depannya.
Naresta langsung menyipitkan mata.
"Mas."
Elvan menoleh.
"I-iya?"
"Jangan lihat-lihat begitu."
"K-kenapa?"
"Aku tahu Mas sedang mikir mau ambil apa lagi."
Elvan tersenyum kecil.
Naresta langsung menggeleng.
"Benar, kan?"
Karyawan tersebut ikut tertawa kecil melihat tingkah keduanya.
Naresta kemudian menggandeng lengan Elvan.
"Ayo, kita cari bedong sama handuk dulu."
Elvan mengangguk semangat.
"I-iya."
Keduanya pun berjalan menuju rak berikutnya, sementara keranjang belanja mereka perlahan mulai dipenuhi perlengkapan kecil untuk bayi yang sudah mereka tunggu selama empat tahun.
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya belanjaan mereka sudah penuh. Saat ini, Naresta dan Elvan berdiri di depan kasir untuk membayar semua perlengkapan bayi yang sudah mereka pilih.
"Berapa, Mbak, semua totalnya?" tanya Naresta sambil melihat barang-barang yang memenuhi meja kasir.
Kasir tersebut masih menghitung beberapa barang terakhir.
"Sebentar ya, Kak. Masih ada yang belum masuk."
Naresta langsung menoleh kepada Elvan.
"Mas, ternyata banyak juga."
Elvan mengangguk sambil tersenyum.
"B-banyak."
"Padahal tadi siapa yang berkali-kali ambil barang?"
Elvan menunjuk dirinya sendiri.
"A-aku."
Naresta langsung tertawa.
"Mas malah bangga."
Kasir yang mendengar percakapan mereka ikut tersenyum sambil memasukkan barang terakhir.
"Sudah, Kak."
"Iya, Mbak. Berapa semuanya?"
"Totalnya tiga juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu."
Naresta langsung membulatkan matanya.
"Hah? Hampir empat juta?"
Kasir mengangguk.
"Iya, Kak. Karena lumayan banyak. Ada pakaian, bedong, handuk, perlengkapan mandi, popok, selimut, sama beberapa perlengkapan lainnya."
Naresta langsung menoleh kepada suaminya.
"Mas."
Elvan terlihat santai.
"I-iya?"
"Katanya tadi secukupnya."
Elvan mengangguk.
"I-ini c-cukup."
Naresta sampai terdiam beberapa detik.
"Menurut Mas ini secukupnya?"
"I-iya."
Naresta menggeleng sambil menahan tawa.
"Ya Allah, Mas Elvan."
Elvan langsung mengeluarkan dompetnya.
"A-aku b-bayar."
"Lho, Mas?"
Elvan mengambil kartu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada kasir.
Naresta langsung menahan lengannya.
"Mas, pakai uangku saja."
Elvan menggeleng.
"A-aku."
"Mas, kan aku sudah siapkan uang khusus buat perlengkapan bayi."
"B-buat l-lahiran."
Naresta langsung terdiam.
Elvan menatap istrinya.
"U-uang S-sayang s-simpan."
Naresta tersenyum kecil.
"Terus Mas yang bayar semuanya?"
Elvan mengangguk.
"B-buat a-anak k-kita."
Kasir yang berdiri di depan mereka tersenyum melihat keduanya.
"Baik, Kak. Saya proses pembayarannya, ya."
"Iya, Mbak," jawab Naresta.
Sambil menunggu pembayaran selesai, Naresta kembali melihat tumpukan barang mereka.
"Mas."
"I-iya?"
"Kalau nanti anak kita sudah lahir, jangan setiap lihat barang lucu langsung dibeli, ya."
Elvan terdiam.
Naresta langsung menyipitkan mata.
"Kenapa diam?"
Elvan tersenyum kecil.
Naresta langsung menghela napas.
"Waduh. Sepertinya nanti aku yang harus menjaga dompet Mas."