Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Drama pindah kamar
Areksa menarik tangannya dari pergelangan tangan Zevanna. Tapi bukan karena panik atau merasa bersalah. Pria itu malah menyisir rambutnya ke belakang, merapikan lengan kemejanya, lalu memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Raut wajah Areksa yang tadinya penuh cemburu membara mendadak berubah jadi tembok es yang super tebal. Datar, dingin, dan tengil.
Airmata Zevanna bukannya bikin Areksa melunak, tapi malah menyenggol gengsinya yang setinggi langit. Bagi Areksa, disemprot di depan umum dan dituduh posesif bikin ego CEO-nya terluka parah.
"Oke, bagus," bisik Areksa, suaranya tenang tapi dingin banget. "Kalau kamu pikir aku bakal mengemis minta maaf atau memohon supaya kamu nggak marah, kamu salah besar, Zevanna."
Zevanna mengusap air matanya kasar. Dia tersenyum sinis. "Bagus kalau gitu. Nggak perlu pura-pura lagi, kan?"
Tanpa ngomong apa-apa lagi, Zevanna merapikan kemejanya, membalikkan badan, dan keluar dari ruangan CEO dengan santai. Nggak ada drama banting pintu. Dia cuma menutup pintu itu pelan banget, yang justru rasanya jauh lebih mengerikan.
Di dalam ruangan, Areksa cuma berdiri diam. Dia menghembuskan napas berat, berjalan ke meja kerjanya, lalu duduk santai sambil mengetuk-ngetuk meja. Tak ada barang melayang, tak ada amukan. Cuma gengsi tinggi yang mengepul di udara.
Fix, perang dingin resmi dimulai. Dan tak ada satu pun dari mereka yang berniat ngalah duluan.
Suasana rumah malam itu absurd banget. Sepi kayak kuburan, tapi tensinya bikin pengen pindah planet.
Di meja makan, Zevanna duduk di ujung kiri, makan nasi gorengnya dengan tenang. Sementara Areksa duduk di ujung kanan, sibuk memotong steak tanpa sedikit pun melirik istrinya.
Pak Haris, sebagai kepala pelayan cuma berdiri gemetaran di pojokan sambil memegang serbet.
"Pak Haris," panggil Zevanna mendadak. Suaranya santai banget.
"I-iya, Nyonya?"
"Mulai malam ini, tolong pindahin semua baju dan barang-barang saya ke kamar tamu di lantai dua, ya," kata Zevanna sambil mengelap bibirnya pakai tisu. "Saya mau pisah kamar."
Gerakan tangan Areksa yang lagi memotong daging mendadak berhenti. Tapi dia nggak mendongak. Dia mengunyah dagingnya dulu, minum air putih, baru angkat bicara.
"Pak Haria," panggil Areksa, suaranya datar tapi menekan. "Nggak usah pindahin apa-apa. Kamar tamu biarkan dikunci."
Zevanna nggak ngamuk. Dia cuma mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursinya. "Oke, gampang. Saya tidur di sofa ruang tengah aja. Nggak masalah."
"Zevanna," panggil Areksa dingin, akhirnya menatap lurus ke arah istrinya.
Zevanna berhenti melangkah, tapi sama sekali nggak balik badan. "Ya, Pak CEO?"
"Jangan kekanak-kanakan," cetus Areksa. "Kamu yang minta profesional di kantor, jadi bersikaplah dewasa di rumah. Nggak usah bawa-bawa masalah kerjaan ke kamar."
"Aku nggak bawa masalah kerjaan," balas Zevanna balik menatap Areksa dengan lirikan sinis. "Aku cuma lagi menjaga jarak dari orang yang bikin aku enek. Itu namanya self-care, Areksa."
Dua pasang mata itu saling tatap. Sengit, tajam, sama-sama nggak mau kalah.
Areksa tersenyum miring, senyum tipis yang ngeselin. "Silakan kalau mau tidur di sofa. Jangan komplain kalau besok pagi badan kamu pegal-pegal terus kamu merengek nggak mau masuk kerja."
Zevanna nggak membalas lagi. Dia melengos pergi naik ke atas, mengambil bantalnya sendiri, lalu benar-benar rebahan di sofa ruang tamu bawah tanpa keraguan sedikit pun.
Satu jam, dua jam hingga tiga jam. Zevanna masih belum bisa memejamkan mata. Dia bolak-balik tubuhnya kesana-kemari. Wanita itu bangkit, menyibak selimutnya dengan kasar menuju ke dapur. Ia langsung mengeluarkan mie instan dari rak, kebiasaannya dari dulu saat tubuhnya menolak tidur.
Satu jam, dua jam, sampai tiga jam berlalu, Zevanna masih saja tak bisa memejamkan mata. Ia bolak-balik mengubah posisi tidurnya ke kanan dan ke kiri, tetapi rasa kantuk tak kunjung datang. Gemas, wanita itu akhirnya bangkit, menyibak selimutnya dengan kasar, lalu melangkah mantap menuju dapur.
Tujuannya cuma satu: rak penyimpanan rahasia. Dengan lihai, Zevanna mengeluarkan sebungkus mie instan—kebiasaan lamanya setiap kali susah tidur. Dari mana ia mendapatkan makanan terlarang itu? Tentu saja hasil penyelundupan rahasia tanpa sepengetahuan Areksa. Bahkan, koki rumah pun sudah ia ancam agar tidak berani membuka mulut pada suaminya.
Dengan penuh semangat, Zevanna memasak mie tersebut hingga merah membara—pedas level dua kesukaannya. Begitu matang, ia mencepol asal rambutnya ke atas, lalu duduk manis di meja dapur dengan wajah berbinar. Akhirnya, setelah sekian lama, ia bisa menikmati makanan favoritnya lagi!
Namun, baru saja suapan pertama hendak masuk ke mulut, ceklek! Lampu dapur mendadak menyala terang benderang.
Zevanna tersentak kaget bukan main. Di ambang pintu, tampak Areksa berdiri bersedekap dada sambil menatapnya datar.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Areksa.
Zevanna tak menjawab. Karena masih marahan, ia memilih acuh dan berniat melanjutkan makan. Sayang, sebelum sumpit itu sampai ke bibirnya, Areksa sudah lebih dulu menariknya. Zevanna mencoba merebutnya kembali, tetapi tentu saja ia kalah tinggi.
"Siapa yang suruh makan ini? Mau masuk rumah sakit?" tegur Areksa. Matanya menatap tajam warna mie yang begitu merah, membuat keberanian Zevanna langsung menciut seketika seperti anak kecil yang sedang dimarahi ayahnya.
"Kembali tidur, Nana," kata Areksa tegas.
Dengan kekesalan yang sudah mencapai puncak, Zevanna membuang muka. Ia menghentakkan kakinya lebar-lebar lalu melemparkan diri ke sofa untuk tidur. Sementara itu, dengan wajah tanpa ekspresi, Areksa membuang semangkuk mie tersebut langsung ke tempat sampah.
Di sofa, Zevanna terpaksa memakai cara kedua agar bisa memejamkan mata: menghitung dalam hati. Berhasil, tak lama kemudian ia benar-benar tertidur lelap.
Areksa tidak langsung kembali ke kamar. Ia berdiri diam di sana sejenak, memastikan istrinya sudah benar-benar terbuai mimpi, lalu melangkah mendekat.
"Keras kepala," bisiknya pelan.
Areksa kemudian mengangkat tubuh Zevanna ke dalam dekapannya untuk dibawa ke kamar mereka. Mana mungkin ia membiarkan istrinya tidur sendirian di sofa sementara ia tidur nyaman di kasur. Beruntung, Zevanna yang sudah kelelahan sama sekali tidak terbangun dari tidurnya.