Indonesia
NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama di Gerbang Kelas XII

Senin pagi di SMA Wijaya disambut oleh angin segar yang menggoyangkan dedaunan pohon mahoni di sepanjang pelataran utama. Di papan pengumuman besar dekat mading sekolah, sebuah poster ucapan selamat berukuran raksasa terpasang anggun. Foto Callista dan Kenzo memegang piala kristal internasional Young Asian Leaders Exchange Program terpampang jelas, menjadi pusat perhatian murid-murid yang baru datang.

Callista melangkah menyusuri koridor dengan seragam putih-abu-abu yang kembali membalut tubuhnya. Baginya, aroma kapur tulis, wewangian pembersih lantai koridor, dan riuh suara tawa murid-murid SMA Wijaya terasa seperti pelukan hangat yang telah lama ia rindukan.

"Selamat ya, Cal!"

"Keren banget, Bu Perwakilan!"

Sapaan dan ucapan selamat mengalir tanpa henti dari teman-teman seangkatannya. Callista membalas setiap sapaan itu dengan senyuman hangat dan anggukan ramah. Tidak ada sedikit pun kesombongan di wajahnya; ia tetaplah Callista yang rendah hati dan bersahaja.

Di depan ruang kelas XII-IPA 1—kelas baru mereka di jenjang terakhir SMA ini—Kenzo sedang berdiri merapikan beberapa dokumen bersama Pak Bambang. Penampilan Kenzo tampak semakin matang. Aura kepemimpinannya yang tegas namun tenang kini makin disegani oleh seluruh warga sekolah.

"Callista," sapa Kenzo saat melihat keberadaan kawan seperjuangannya itu.

"Selamat pagi, Kenzo. Selamat pagi, Pak Bambang," tutur Callista ramah.

Pak Bambang menyunggingkan senyum bangga seraya menepuk pelan bahu kedua murid berprestasinya itu. "Selamat datang kembali di kelas, anak-anak. Selamat atas pencapaian luar biasa kalian di Singapura. Tapi ingat, sekarang kalian sudah resmi duduk di Kelas XII. Perjuangan sebenarnya untuk persiapan ujian nasional dan seleksi perguruan tinggi baru saja dimulai."

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Callista dan Kenzo kompak.

Saat bel istirahat pertama membahana, ruang kelas XII-IPA 1 mendadak ramai. Teman-teman sekelas berkumpul mengelilingi meja Callista, menanyakan berbagai hal tentang pengalaman mereka di Singapura, budaya di NUS, hingga cenderamata yang dibawa.

Di tengah riuhnya suasana kelas, pintu kelas terdorong pelan. Sean muncul dengan membawa dua botol es teh manis dan satu kantong plastik berisi gorengan hangat dari kantin Pak Min.

"Permisi, permisi... jatah suplemen buat pahlawan sekolah mau lewat," seloroh Sean dengan cengiran khasnya yang renyah.

Teman-teman sekelas bersorak gembira dan menggoda mereka.

"Duh, yang baru pulang dari luar negeri langsung disamperin sama anak basket nih!" goda salah satu kawan sekelas Callista.

Callista terkekeh, pipinya membias warna merah tipis saat menerima botol es teh hangat-dingin dari tangan Sean. "Makasih ya, Sean."

Sean mengambil tempat duduk kosong di depan meja Callista, membelakangi papan tulis. "Gimana hari pertama jadi anak Kelas XII, Cal? Udah kerasa pusingnya jadwal pendalaman materi?"

Callista meminum es tehnya perlahan. "Lumayan, Sean. Tadi Pak Bambang udah bagi jadwal bimbingan belajar buat persiapan SNBT dan tes mandiri. Rasanya ritmanya langsung melesat kencang."

Sean mengangguk-angguk paham. "Iya, di kelas basket juga gitu. Pak Coach udah wanti-wanti kalau kejuaraan daerah semester ini bakal jadi kompetisi terakhir kita sebelum fokus total ke ujian kelulusan."

Dari mejanya di sudut depan, Kenzo memperhatikan interaksi santai antara Callista dan Sean. Tatapan Kenzo begitu tenang dan damai. Ia merogoh saku seragamnya, melihat layar ponsel yang menampilkan surel dari ayahnya mengenai jadwal wawancara berkas universitas di Australia. Kenzo menghela napas pendek, lalu menyunggingkan senyum tipis—ia siap menghadapi takdirnya sendiri tanpa lagi membandingkan jalannya dengan orang lain.

Sore harinya, setelah seluruh rangkaian jam pelajaran tambahan dan pendalaman materi usai pukul empat sore, Callista melangkah menuju pelataran Vihara di ujung jalan sekolah.

Hari ini adalah hari pertama ia kembali mengikuti kegiatan doa sore bersama Mama Sean dan rombongan jamaah lokal. Suasana Vihara yang tenang, aroma hio yang merebak halus di udara, serta dentang lonceng doa membawakan kedamaian yang begitu dalam di jiwanya.

Callista bersimpuh di atas bantalan doa di samping Tante Yuli. Kedua telapak tangannya terkatup rapi di depan dada, matanya terpejam khusyuk.

Dalam heningnya doa sore itu, Callista melayangkan rasa syukurnya atas seluruh pencapaian, keselamatan, dan pelajaran hidup yang ia dapatkan selama di Singapura. Ia mendoakan kelancaran bagi langkah mereka bertiga dalam menempuh jenjang Kelas XII yang penuh dengan persimpangan cita-cita.

Seusai ibadah, Callista berjalan keluar menuju pelataran Vihara yang dinaungi pohon bodhi rindang. Cahaya senja berwarna jingga keemasan membiaskan warna hangat di sepanjang jalan setapak batu marmer.

Di dekat gerbang kayu Vihara, Sean sudah berdiri menunggu. Cowok itu menyandarkan badannya ke tiang gerbang, mengenakan kemeja santai dengan helm di tangannya.

"Udah selesai doanya, Cal?" tanya Sean lembut saat Callista mendekat.

Callista mengangguk, menyunggingkan senyum paling tulus dari wajahnya. "Udah, Sean. Tante Yuli masih di dalam lagi bincang-bincang sama pengurus Vihara."

Sean melangkah mendekat, menyodorkan sebuah helm pada Callista. "Yuk, gue anterin pulang. Sebelum jalan, kita mampir beli martabak telur langganan lo dulu."

Callista menerima helm itu dengan mata berbinar gembira. "Setuju! Udah kangen banget sama martabak Pak Min."

Saat motor Sean perlahan membelah jalanan kota di bawah naungan langit senja yang hangat, Callista menyandarkan tangannya di bahu jangkung Sean. Rintik angin sore memainkan ujung rambutnya, membawa keharuman dan kedamaian yang menenteramkan.

Callista merogoh saku blazernya, menyentuh jam tangan baru yang kini melingkar di pergelangan tangan Sean—jam tangan yang terus berdetak konstan sebagai simbol perjalanan mereka.

Di awal babak Kelas XII ini, Callista sadar bahwa tantangan ujian kelulusan, seleksi perguruan tinggi, dan pilihan masa depan akan makin menguji ketahanan mereka. Namun, berdiri di atas fondasi iman yang sama, rasa saling percaya yang matang, dan kedewasaan yang teruji oleh waktu, Callista tahu... ia tidak akan pernah berjalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!