Indonesia
NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan atau Kata Hati yang Sedang Mencari Jawaban?

Jam 11.15 malam. Melodi masih memetik gitar di dalam kamar kosnya. Entah kenapa, sejak melihat Abas keluar dari Ruang Kopi bersama seorang wanita, Melodi jadi terus memikirkan Abas.

"Ting ting ting..."

Melodi berhenti memetik gitar. Dia menghela napas.

"Aneh," gumamnya.

Melodi memutuskan meletakkan gitarnya. Dia lalu berbaring di atas ranjangnya. Malam itu, tak seperti biasanya, dia susah tidur meskipun tubuhnya sudah merasa sangat lelah. Melodi menatap langit-langit kamar kosnya.

"Kenapa... akhir-akhir ini, jadi mikirin cowok itu terus ya?" gumam Melodi.

Melodi lalu teringat bagaimana dia bertemu Abas di pantai senja itu. Wajahnya terlihat sangat muram.

"Jadi... waktu itu, dia abis putus sama calonnya?" pikir Melodi.

"Pantesan,"

Melodi diam sejenak. Dia sedikit memiringkan kepalanya.

"Trus, cewek yang tadi siapa?"

"Mantan?"

Bola mata Melodi bergerak pelan.

"Atau... temen?"

"Eh? Kenapa aku peduli?"

Melodi menaikkan kedua bahunya. Dia bangun lalu mengambil buku catatan lagunya yang masih tergeletak di lantai. Dia menatap chord-chord yang dia tulis lalu membaca lirik yang belum lama ini dia tambahkan.

"Kenapa pas bikin lirik, selalu keinget dia terus?" tanya Melodi sambil kembali membaringkan tubuhnya dan menatap catatan lagunya.

Melodi menghela napas panjang. Dia menutup buku catatannya lalu meletakkannya di atas dadanya. Dia kembali menatap langit-langit kamarnya.

"Kenapa dia selalu diam?"

"Apa dia baik-baik saja?"

Melodi memejamkan matanya. Wajah Abas terlihat semakin jelas. Dengan cepat dia membuka mata. Jantung Melodi berdetak sedikit lebih kencang. Dahinya mengerut.

"Aku kenapa, sih?"

'Kenapa wajahnya nggak ilang saat aku tutup mata?'

***

Abas berjalan perlahan memasuki rumah. Dia merasa sangat lelah meski hanya bertemu dengan wanita pilihan papanya.

"Bagaimana?" suara Tuan Baskara yang berat menghentikan langkah Abas saat dia melewati ruang tamu. Abas berjalan mendekat ke arah papanya.

"Dia wanita yang luar biasa," kata Abas, datar. Sudut bibir Tuan Baskara terangkat.

"Namun," kata Abas.

Mendengar kata itu, senyum di wajah Tuan Baskara perlahan memudar.

"Dia tidak berencana menikah dalam waktu dekat," lanjut Abas. Dahi Tuan Baskara mengerut.

"Dia masih ingin melakukan banyak hal dan dia belum memikirkan pernikahan untuk jadi prioritasnya saat ini," tutup Abas.

Tuan Baskara menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Dia menatap putranya dalam-dalam.

"Kenapa kamu tidak mengatakan padanya bahwa dia masih bisa melakukan apapun yang diinginkannya setelah menikah?" tanya Tuan Baskara. Abas menunduk.

Hening. Suasana ruang tamu entah mengapa terasa begitu gelap dan berat.

"Harusnya, kalian langsung tunangan saja. Nggak perlu pake acara ketemuan dan saling kenal dulu," kata Tuan Baskara. Abas diam. Tuan Baskara menatap putranya yang hanya diam menunduk. Dia lalu beranjak dari duduknya.

"Papa akan bicarakan hal ini dengan Tuan Erlangga," kata Tuan Baskara lalu meninggalkan ruang tamu.

Abas masih tertunduk. Dadanya terasa sesak tiba-tiba. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia ingin berteriak. Namun, Abas hanya mampu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya, menahan emosi yang memuncak.

Sementara itu, di kediaman Tuan Erlangga. Nayla berjalan dengan sangat ringan memasuki rumahnya. Tuan Erlangga tersenyum menatap anak perempuannya yang terlihat begitu ceria.

"Sepertinya kamu menyukainya? Putra Tuan Baskara," goda Tuan Erlangga pada Nayla. Nayla tersenyum.

"Yup! Orangnya lucu," kata Nayla sambil duduk di dekat papanya. Tuan Erlangga menaikkan satu alisnya.

"Lucu? Kamu nggak salah orang kan?" tanya Tuan Erlangga heran. Dia mengenal Abas. Dia tahu seperti apa Abas. Nayla tersenyum lebar. Dia menggelengkan kepalanya.

"Nggak, Pa. Tapi, beneran dia lucu," kata Nayla. Tuan Erlangga memiringkan kepalanya, bingung.

"He's falling for someone but he, himself, doesn't notice it!" kata Nayla, membuat Tuan Erlangga menaikkan kedua alisnya.

"Dia jatuh cinta sama seseorang? That someone is you, right?" tanya Tuan Erlangga. Nayla menggelengkan kepala cepat, membuat Tuan Erlangga semakin bingung.

"Jadi?"

"Jadi... Nayla nggak mau nikah sama dia,"

"Tapi, kamu bilang kamu suka dia,"

"But, I don't say I love him,"

"Tunggu. Maksudnya... kamu cuma suka, suka biasa?" tanya Tuan Erlangga memastikan dia paham perasaan putrinya. Nayla mengangguk sambil tersenyum.

"Not in a romantic way, Dad," kata Nayla. Tuan Erlangga tertegun.

"Dia baik, sedikit dingin, dan yang pasti, polos," lanjut Nayla.

"Kami sudah membicarakan perjodohan kami. Dan Nayla sudah menolaknya," kata Nayla.

"Menolak?" tanya Tuan Erlangga. Nayla mengangguk.

"Apa karena dia bilang dia menyukai orang lain?" tanya Tuan Erlangga.

"Papa... Kan Nayla udah bilang, dia bahkan nggak sadar kalau dia lagi jatuh cinta," kata Nayla.

"Trus? Karena apa, Nay?" tanya Tuan Erlangga.

"Yaaa... Karena Nayla belum mikirin nikah, Pa," jawab Nayla.

"Dan Nayla pengen nikah sama seseorang yang bener-bene klik sama Nayla," lanjut Nayla sambil menatap papanya dalam-dalam.

Tuan Erlangga menarik napas dalam-dalam. Dia sudah menduga Nayla akan mengatakan hal itu. Dia sempat menolak saat Tuan Baskara memintanya mengenalkan Nayla pada Abas. Namun, Tuan Baskara mengatakan untuk mempertemukan mereka terlebih dahulu sebelum menolak perjodohan itu.

'Kalau sudah begini... apa Tuan Baskara masih ingin melanjutkan perjodohan ini?'

***

"Gimana, Kak?" tanya Bara yang sudah menunggu Abas di depan kamarnya. Abas melirik ke arah Bara.

"Aku lelah,"

"Eh?"

Abas memutar gagang pintu kamarnya.

"Ketemu sama Melodi?" tanya Bara, membuat kaki Abas yang hendak melangkah memasuki kamar terhenti seketika. Abas menoleh ke arah Bara.

"Melodi?" tanya Abas dengan wajah datar. Bara mengangguk semangat.

Abas menunduk, menatap lantai kamarnya yang gelap.

"Dia di sana," kata Abas sambil mengingat wajah Melodi saat bernyanyi di kafe.

"Seperti biasa," lanjutnya. Kali ini sudut bibirnya sedikit —sangat sedikit— terangkat.

"Dengan gitarnya," tambah Abas.

Bara memperhatikan kakaknya. Dia melihat wajah Abas begitu muram setelah pulang dari kafe.

"Apa... terjadi sesuatu... dengan wanita pilihan Papa?" tanya Bara hati-hati.

Abas menarik napas dalam-dalam. Dia menatap Bara dengan wajah dinginnya seperti biasa.

"Aku lelah, Bara. Selamat malam," kata Abas lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Bara mengerjapkan kedua matanya, menatap pintu kamar Abas yang tertutup.

"Ditanyain soal Melodi, langsung dijawab. Giliran ditanyain soal cewek lain, langsung marah. Bilang aja nggak suka. Susah amat," gerutu Bara.

Sementara itu, di dalam kamar, Abas masih berdiri di balik pintu. Dia menyandarkan pungung ke pintu kamar. Perlahan, tubuhnya melorot dan terduduk di lantai. Abas menengadah menatap langit-langit kamarnya.

"Benar-benar nggak masuk akal," gumamnya.

Wajah Melodi yang sedang bernyanyi dengan gitarnya tergambar jelas di langit-langit kamarnya.

'Benar-benar nggak masuk akal,'

'Apa yang membuatnya begitu... menarik?'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!