Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat Sebelum Berangkat
Sore yang tenang menyelimuti sebuah kafe di sudut kota. Di salah satu sudut meja, Rafa dan Javin sedang asyik menikmati minuman dingin mereka seraya berbincang santai.
"Raf," panggil Javin, memecah keheningan seraya mengaduk minumannya. "Gue kok tiba-tiba jadi pengin ngajak Wafa jalan-jalan, ya? Kasihan banget lihat dia di rumah terus."
Rafa menatap sahabatnya itu, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Jalan-jalan? Boleh juga tuh. Kayaknya bocah itu juga bakal senang banget. Emang lo ada rencana mau ngajak dia ke mana?"
"Kayaknya camping gitu seru deh, Raf," ujar Javin membayangkan udara segar.
"Boleh banget!" sahut Rafa antusias, matanya memendar penuh semangat. "Gue ada rekomendasi tempat yang bagus. Dulu keluarga gue sering camping di sana sama Mami. Tempatnya ada aliran sungai jernih, terus lokasinya juga dekat banget sama pantai."
Sementara itu, di ruang tengah rumah Wijaya, suasana terasa begitu hangat. Wafa, Ell, Malik, dan Sean sedang asyik menyusun balok-balok Lego berbentuk rumah megah di atas karpet tebal. Gelak tawa sesekali pecah di antara mereka, diselingi obrolan ringan dengan Jaya yang duduk di sofa tak jauh dari sana, sibuk berkutat dengan laptop dan berkas pekerjaannya.
Wafa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, menyadari ada satu sosok yang absen. "Pih, Lily ke mana?" tanya Wafa.
"Kayaknya lagi belajar di kamar, Bang. Satu bulan lagi kan dia udah mau ujian kelulusan," jawab Jaya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Oh iya juga, ya..." Wafa perlahan bangkit dari duduknya. "Gue nyamperin Lily dulu deh," pamitnya pada Malik dan Sean, lalu melangkah santai menuju lantai atas.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Wafa langsung memutar gagang pintu dan menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya. Lily yang sedang fokus mencoret-coret kertas kalkir otomatis menoleh kaget.
"Kenapa, Dek?" tanya Lily bingung.
Tanpa menjawab, Wafa melangkah mendekat dan langsung mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah Lily. Ia memperhatikan tumpukan buku tebal di meja.
"Bentar lagi lo ada ujian kelulusan ya, Ly?" tanyanya membuka percakapan.
Lily mengangguk pelan, jemarinya kembali memegang pensil. "Iya, Waf. Tinggal sebentar lagi."
"Terus nanti pas kuliah... lo jadinya mau ambil jurusan apa?" tanya Wafa lagi, menopang dagunya.
"Rencananya sih mau ambil Arsitektur," balas Lily singkat.
Dahi Wafa berkerut tipis. "Bukannya dari dulu lo lebih pengin ambil Fotografi? Kenapa tiba-tiba pindah jadi Arsitektur? Apa karena disuruh Papi?"
"Enggak kok," Lily menghentikan gerak pensilnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Wafa sepenuhnya.
"Lo kan dari dulu paling suka foto-foto daripada gambar kayak gini," nasihat Wafa tulus, menatap mata kakaknya lekat-lekat. "Menurut gue, lo lebih baik kejar Fotografi aja, Ly."
Lily menatap adiknya beberapa saat, lalu mengangguk lembut dengan senyuman hangat. 'Karena itu mau lo... bakal gue turutin, Waf. Gue bakal ambil Fotografi,' batin Lily dalam kepasrahan yang manis.
"Pokoknya lo harus dapat nilai yang baik ya, Ly," ujar Wafa lagi, menyemangati.
"Iya... Nilai ujian gue besok bakal gue persembahkan khusus buat kamu," balas Lily tersenyum manis.
Wafa menghela napas pelan, sorot matanya mendadak berubah begitu dalam dan dewasa. "Jaga diri lo baik-baik ya, Ly. Jangan cengeng lagi. Lo harus belajar berani kalau nanti di rumah sendiri..."
Dada Lily seketika dihantam rasa sesak luar biasa. Senyumnya goyah, dan tanpa bisa ditahan, benteng pertahanannya runtuh sebaris air mata menetes menelusuri pipinya.
Namun, ia cepat-cepat mengangguk. "Iya, Waf... Gue bakal ingat semua pesan lo."
"Dih, kan! Jangan cengeng, Ly. Gue paling enggak suka lihat cewek cengeng," omel Wafa pelan, namun tangannya terulur lembut untuk mengusap lelehan air mata di pipi kakaknya.
Setelah perbincangan emosional itu, Wafa menemani Lily belajar sebentar sebelum akhirnya pamit turun. Kali ini, Lily benar-benar terpacu untuk belajar lebih keras dari biasanya. Ia membulatkan tekad untuk meraih peringkat pertama demi mempersembahkan hasil terbaik untuk adik tersayangnya.
Malam harinya, tepat pukul 18.30.
Suasana ruang tengah yang tadinya agak hening mendadak ramai saat pintu depan terdorong terbuka. Rafa dan Javin melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah berbinar.
"PENGUMUMAN! PENGUMUMAN UNTUK SEMUA ANGGOTA RUMAH!" seru Rafa heboh dari ambang pintu ruang tengah. "KITA ADA RENCANA BUAT CAMPING BARENG WEEKEN INI! KALIAN PADA SETUJU ENGGAK?!"
Tepat di saat yang sama, Wafa dan Lily baru saja berjalan menuruni anak tangga bersama.
Mendengar ajakan abangnya, mata Wafa seketika berbinar terang. "Ngecamp?! Wah, setuju banget!" teriak Wafa antusias, langsung berlari kecil menghampiri Rafa dan Javin.
"Wih, bakal seru tuh!" ujar Jaya tak kalah antusias. "Papi sih setuju-setuju aja."
"Malik, Sean, kalian juga ikut ya! Kita cuma pergi dua hari satu malam kok, jadi enggak bakal terlalu mengganggu sekolah kalian," ajak Javin.
"Lebih lama malah lebih bagus, Bang," sahut Malik terkekeh.
"Bener, Lik!" Sean tersenyum sependapat ke arah Malik. "Nanti biar kita minta izin ke orang tua, Bang, buat bolos hari Seninnya," lanjut Sean.
"Oke, karena semuanya setuju, urusan tempat Papi serahin penuh ke Bang Rafa sama Bang Javin, ya," ujar Papi Jaya.
Kedua anak laki-laki itu mengangguk mantap. "Aman, Pih! Pasti semuanya bakal suka sama tempatnya," jawab Rafa percaya diri.
'Ya... karena ini tempat yang sering kita datengin dulu sama Mami,' batin Rafa seraya mengulas senyum tipis yang hangat.
"Urusan makanan serahin aja ke Papi. Kak Owen sama Lily, nanti kita belanja bahan-bahannya bareng, ya," ajak Jaya.
"Om, kalau kita malam ini nginep di sini boleh enggak? Tapi nanti kita pulang dulu sebentar buat ambil baju," tanya Malik.
"Ya boleh dong!" balas Jaya ramah.
"Rumah gue kan rumah lo juga, rumah lo juga rumah gue," celetuk Wafa santai dari karpet.
"Asyik! Ell jadi teringat dulu kita sering camping bareng Mami..." seru Ell berbinar-binar.
Jaya mengelus lembut kepala anak bontotnya itu. "Gimana kalau sekarang aja kita berangkat belanjanya?" tanya Jaya menoleh ke Owen dan Lily.
"Iya, sekarang aja, Pih. Nanti pulang belanja kita tinggal fokus packing," balas Lily menyetujui.
"Ayo berangkat," ujar Owen. Laki-laki itu lalu menoleh ke arah Rafa. "Raf, titip adik-adik di rumah, ya."
"Siap, Bang!" balas Rafa memperagakan gestur hormat yang tegas.
"Perhatian semuanya... siap, grak!" teriak Rafa heboh.
Seketika Ell dan Wafa langsung berdiri tegak memperagakan posisi siap. "Lest go! kita packing!" seru Rafa bersemangat.
"Siap, Komandan!" sahut Ell dan Wafa kompak.
"Waf, kalau gitu gue sama Sean pulang sebentar ya," pamit Malik. Wafa mengangguk paham. "Ayo, Yan."
"Gue juga balik dulu ya, Raf," pamit Javin seraya melambaikan tangannya.
"Yo, hati-hati di jalan! Jangan pada ngebut bawa motornya!" wanti-wanti Rafa dari teras.
Setelah teman-teman dan rombongan Papi pergi belanja, suasana rumah kembali hening namun menyenangkan.
Rafa menatap kedua adiknya. "Ayo kita mulai packing-nya. Mau dari Wafa atau Ell dulu?" tanya Rafa.
"Ell dulu, Bang!" jawab Wafa. Mereka bertiga pun melangkah menuju kamar si bungsu.
"Kita bakal pergi tiga hari dua malam kan, Bang?" tanya Ell seraya membuka pintu lemarinya. Rafa mengangguk mengiyakan.
"Jadi Ell harus bawa berapa setel baju?" tanyanya lagi polos.
"Abang paling bawa lima setel. Yang satu dipakai pas berangkat, terus bawa jaket satu. Tapi Ell bawa lebih aja ya, takut nanti bajunya basah kena air sungai," ujar Rafa lembut. Ia lalu berlutut, membantu Ell melipat dan memasukkan pakaian ke dalam tas gendong kecilnya.
"Selesai! Ayo sekarang kita ganti beresin kamar Bang Wafa," ujar Rafa setelah menarik resleting tas Ell hingga tertutup rapi.
Di dalam kamar Wafa, suasana berubah jadi kocak sekaligus membuat gemas. Wafa tampak berdiri kebingungan memandangi isi lemarinya yang terbuka lebar.
"Pakai celana yang mana ya..." gumam Wafa bimbang.
"Celana Abang kan banyak gitu, pakai yang menurut Abang paling nyaman aja kenapa sih!" sungut Ell kesal. Pasalnya, sudah lebih dari sepuluh menit Wafa hanya berdiri menatap lemari tanpa memasukkan satu pun celana ke dalam tasnya.
"Buruan, Waf! Pake celana yang nyaman aja. Jangan pakai celana-celana keramat lo yang robek-robek itu," omel Rafa tak kalah gemas melihat kelakuan adiknya.
"Tapi yang mana ya?" tanya Wafa lagi dengan wajah tanpa dosa.
Rafa akhirnya menghela napas panjang, bangkit berdiri, lalu mengambil tumpukan celana kain dari lemari. "Pake yang ini aja biar longgar dan nyaman di badan lo, sama celana pendek yang itu," tunjuk Rafa pada celana santai di rak bawah.
Akhirnya Wafa menurut tanpa membantah lagi. Ia mengambil pilihan abangnya dan langsung memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
Di dalam mobil, suasana terasa hangat dan tenang. Musik berputar pelan dari radio, menemani perjalanan Papi Jaya, Owen, dan Lily menuju supermarket. Papi Jaya fokus menyetir di depan, sementara Owen duduk di samping Lily di kursi tengah.
Owen menoleh ke arah adiknya yang sejak tadi memandangi jalanan dari balik jendela. "Ly," panggil Owen lembut.
Lily menoleh. "Kenapa, Kak?"
"Kamu enggak ngajak Julian ikut camping?" tanya Owen.
"Biar tambah rame. Apalagi Julian juga dekat sama Wafa, pasti makin seru."
Lily mengulas senyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Enggak deh, Bang. Lian pasti enggak bisa ikut."
"Kenapa? Coba ditanya dulu aja, siapa tahu dia mau ikut," sahut Jaya melirik sekilas dari kaca spion tengah.
"Iya, lagian kan cuma tiga hari dua malam, Ly," tambah Owen.
"Julian bukannya enggak mau, Pih, Bang," jelas Lily pelan, jemarinya memilin ujung bajunya. "Tapi dia enggak tega ninggalin neneknya sendirian di rumah. Neneknya belakangan ini lagi sering sakit-sakitan. Julian mana mau pergi jauh-jauh ngeluhat kondisi neneknya."
Mendengar penjelasannya, Owen dan Jaya mengangguk-angguk paham. Ada raut kagum di wajah Owen.
"Anak yang berbakti banget ya, Julian," gumam Jaya penuh rasa simpati. "Ya udah kalau gitu, jangan dipaksa. Kita bawain oleh-oleh atau makanan aja nanti pas pulang buat neneknya Julian."
"Iya, Pih. Nanti Lily beliin buah atau camilan buat neneknya," balas Lily tersenyum lega. Rasa tenang perlahan menyelusupi hatinya mengingat pesan Julian di taman tadi untuk tetap kuat dan tersenyum demi Wafa, Lily bertekad memberikan yang terbaik untuk perjalanan keluarga mereka kali ini.
Sesampainya di supermarket besar kompleks pertokoan, Papi Jaya langsung mengambil trofi belanjaan paling besar. Udara dingin dari pendingin ruangan tak menyurutkan antusiasme pria paruh baya itu untuk memborong segala kebutuhan camping.
Baru setengah jam mengitari lorong demi lorong, trofi belanjaan pertama sudah menggunung tinggi. Mulai dari daging sapi segar untuk barbeque, sosis, buah-buahan, berbagai jenis camilan kesukaan anak-anak, hingga minuman dingin beragam rasa semuanya ditumpuk tanpa ragu oleh Jaya.
Jaya berhenti di lorong minuman, tangannya hendak meraih dua kotak besar susu kedelai kesukaan Ell.
"Pih... ini beneran udah penuh banget loh," tegur Owen seraya memegangi pegangan trofi yang mulai berat. "Ini baru makanan, belum perlengkapan dapur portable, arang, sama tisu."
Papi Jaya menoleh, lalu mengibaskan tangannya santai. "Kurang, Wen! Ini masih kurang banget! Nanti kalau Wafa lapar tengah malam gimana? Kalau Malik sama Sean makan banyak gimana? Mending kelebihan daripada kurang di tengah hutan!"
Tanpa ragu, Jaya memasukkan lagi dua kotak susu dan beberapa pak mie instan ke atas tumpukan belanjaan.
"Pih, ini namanya bukan camping, tapi mau buka minimarket di pinggir sungai!" cercec Owen gemas, tangannya mengacak rambutnya sendiri secara frustrasi. "Nanti yang bawa ke mobil siapa coba? Aku sama Lily cuma punya dua tangan ya, Pih!"
"Ya kan ada kamu, ada Rafa, ada Javin juga nanti pas mau angkut ke mobil! Udah, kamu ambil satu trofi lagi sana, Wen!" suruh Jaya tanpa rasa bersalah.
"PAPI!" omel Owen dengan suara tertahan, matanya mendelik lebar menatap sang Papi yang makin ngawur.
Melihat kakak tertuanya yang biasanya selalu kalem dan berwibawa kini sibuk ngomel-ngomel pasrah pada sang Papi, Lily tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa renyah pecah begitu saja dari bibir gadis itu.
"Ketawa lagi kamu, Ly!" omel Owen berpaling ke adiknya, pura-pura galak. "Bukannya bantuin kakak ngerem Papi, malah ngetawain!"
"Lagian Papi lucu banget, kak," sahut Lily seraya menyapu sudut matanya yang berair karena kebanyakan tertawa.
"Tapi bener kata Bang Owen, Pih... ini udah banyak banget. Kasihan perutnya Wafa nanti kalau kekenyangan."
Mendengar nama Wafa disebut, Jaya terkekeh pelan lalu mengusap tengkuknya. "Iya deh, iya... Trofi ini aja yang kita selesaikan. Tapi dagingnya Papi tambah satu pak lagi ya?"
Owen hanya bisa mengelus dadanya sambil menggelengkan kepala pasrah, sementara Lily makin terkikik geli melihat kepasrahan kakaknya. Suasana hangat di antara mereka bertiga seolah sejenak membasuh duka yang menyelimuti rumah belakangan ini.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat