Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pertarungan di Rawa Tak Bertepi 2
Bunyi ladang kuda menghentak tanah terdengar bergemuruh. Merobek robek sepi yang bergayut di sepanjang jalan yang membelah rawa tak bertepi.
Matahari bersinar cukup ganas. Namun udara disepanjang jalanan yang membelah rawa tak bertepi tidak terlalu panas; meski terasa terik sampai di kulit. Sesekali terdengar suara hempasan ombak. Angin laut juga bertiup mengurangi rasa terik matahari yang sampai ke kulit.
"Danang... Ini sudah menjelang siang. Ada baiknya kita menemukan tempat untuk istirahat. Kasihan Kirana. Sepertinya dia sudah cukup gerah dan letih."
"Didepan ada cerukan hutan bakau dan rumbia. Kita akan beristirahat di sana Tuan." Bagaga Alam melihat kepada Ni Kirana setelah mendengar jawaban Danang.
"Kamu masih kuat Kirana ?"
"Mari kita pacu kuda kuda kita Kang mas Bagaga." Jawab Ni Kirana dan memberikan seulas senyum manis kepada Bagaga Alam. Gadis itu merasa bahagia mendapatkan perhatian dari Bagaga Alam.
Mereka segera memacu kuda mereka. Dentam ladam kuda semakin dan cepat menghantam bumi. Debu bercampur pasir membubung naik ke udara. Kuda kuda mereka melesat dengan kencang.
Sepenanakan nasi kemudian. Sudah terlihat sedikit area yang bakau dan rumbia. Ni Kirana membedal kudanya agar berlari lebih kencang. Bagaga Alam dan Danang Wesi segera mengikuti.
Tidak terlalu lama kemudian, mereka sampai diceruk jalanan yang membelah rawa tak bertepi. Ceruk itu cukup terlindung dari sinar matahari. Terasa teduh dan nyaman.
Mereka beristirahat, makan sekedarnya dan minum. Begitu juga dengan kuda kuda tunggangan mereka. Hampir waktu sepenanakan nasi berlalu, mereka bertiga melanjutkan perjalanan.
Kuda kuda kembali dipacu dengan kencang. Jalanan itu yang membentang sepanjang rawa tak bertepi terasa lengang.
Hanya ada desiran angin dan sesekali sayup sayup terdengar suara ombak menghempas di pantai.
Debu tebal membubung tinggi ke udara. Muncul akibat ladam kuda yang menghantam tanah berpasir dengan kuat.
Mereka bertiga melintasi jalanan yang membelah rawa tak bertepi dengan cepat.
Mereka telah melewati dua pertiga jalan. Ketika matahari mulai condong ke barat.
"Sudah mulai sore. Masih ada satu cerukan lagi sebelum kita bisa meninggalkan jalur rawa tak bertepi." Ucap Danang Wesi.
"Bukankah itu berarti kita masuk desa pematang sudah malam kakang Danang ?"
"Ya, asal tidak ada halangan lagi. Kalau ada kendala, mungkin kita harus bermalam di pondok singgah lagi." Ucap Danang Wesi.
"Sepertinya ada belasan orang yang menunggu kita di ceru itu depan sana." Tiba-tiba Bagaga Alam berkata.
Danang Wesi dan Ni Kirana dengan cepat mengedarkan persepsi nya kedepan. Sayup mereka mulai merasakan ada aura gelap dari sosok jauh di depan.
"Kang mas Bagaga. Kali ini izinkan aku menghancurkan kelompok para perampok sialan itu bersama kakang Danang Wesi." Ni Kirana berkata dengan suara penuh niat.
Bagaga Alam tersenyum dan berkata dengan sabar. "Tapi kamu harus hati-hati. Karena sepertinya ada seorang pendekar langit puncak diantara mereka."
"Kalau begitu mari kita hajar mereka." Ucap Ni Kirana dengan penuh tekad. Gadis cantik itu terlihat gagah sekali.
Setelah beberapa waktu. Kelompok penjahat itu terlihat, berdiri di tengah jalan. Tentu saja Bagaga Alam dan Danang Wesi serta Ni Kirana menghentikan kuda mereka.
Ni Kirana dan Danang Wesi segera melompat turun dari kuda mereka. Bagaga Alam tetap duduk dengan tenang diatas punggung kuda tunggangannya.
"Siapa kalian. Kenapa menghalangi jalan kami." Danang Wesi bertanya dengan kening berlipat.
Bukannya menjawab. Pria berpakaian merah dengan celana pangsi hitam. Rambutnya riap riapan ditiup angin sore yang cukup kencang. Dia tertawa keras dan berkata namun nadanya jelas mengejek Danang Wesi.
"Ha ha ha haa haaa... Gaya mu keren sekali anak muda. Tapi orang muda memang begitu karena belum dalamnya laut tingginya gunung."
"Heh.... Apakah kalian rombongan penjahat kecil yang tidak punya nama ? Kalau begitu buru burulah menjauh." Danang Wesi membalas ucapan pria berbaju merah itu dengan nada menghina.
Pria itu menjadi sangat kesel. Dia tertawa keras dengan nada sumbang dan berkata.
"Mulutmu tajam juga bocah. Kalah kontekan ayam betina oleh mu."
Pria itu melirik sekilas kearah Bagaga Alam. Tapi dia sama sekali tidak merasakan aura seseorang pendekar. Pria itu melihat kearah Ni Kirana. Tiba-tiba matanya muncul niat purba seorang lelaki.
"Dengarkan baik-baik bocah. Aku adalah Rajungan Setan tetua dua dari sekte Rawa Tak Bertepi. Kalian bertiga sungguh sial bertemu kami yang hendak kembali ke markas.
Aaaah tapi tunggu. Kalian berdua boleh pergi; asal kalian meninggalkan semua barang berharga dan gadis molek itu."
Senyum mesum terpampang lebar di wajah Rajungan Setan.
"Oh ternyata hanya seekor Rajungan. Namun berani bersikap seperti hiu.
Sungguh kau tidak bisa mengukur dalamnya laut dan tingginya gunung." Ucap Ni Kirana dengan suara lantang.
"Hua ha haa haaa... Mulut mu juga pedas Nona. Aku yakin engkau akan sangat menantang di kamar, ha ha haa haaa..."
Wajah cantik Ni Kirana merah padam karena marah. Tanpa sadar dia melirik kearah Bagaga Alam. Namun pria muda yang tampan itu masih terlihat tenang.
Ni Kirana mendengus dan berkata dengan penuh tekanan.
"Aku akan merobek robek mulut busuk mu, sebelum membunuh mu...." Suara Ni Kirana Kirana mendesis.
Tiba-tiba Rajungan Setan berkata dengan suara keras.
"Anak anak... Bunuh dua pemuda itu dan tangkap gadis bohay ini...!"
Empat orang segera maju kearah Ni Kirana. Sedangkan dua belas lainnya mengurung Danang Wesi dan Bagaga Alam yang masih duduk di punggung kuda.
Pria berbaju merah, yang mengaku tetua kedua sekte Rawa Tak Bertepi tersenyum, ah mungkin lebih tepatnya menyeringai.
"Nona menyerahlah. Kau sangat beruntung, karena tetua Rajungan Setan menginginkan mu."
"Anak buahnya setan, tentu setan juga. Majulah kalian, biar Nona besar ini mempertemukan kalian dengan maut."
Tanpa banyak bicara lagi. Empat orang itu langsung menyambar kearah Ni Kirana. Tentu saja dengan niat menangkap sambil menyentuh tubuh bohay Ni Kirana.
Gadis cantik yang bohay itu tidak memiliki keraguan. Dia langsung bertindak keras.
Menggunakan jurus dua belas langkah ajaib. Ni Kirana bergerak bergeser dengan cepat. Pedang ditangannya berkelebat.
Craaaaaazzzss...! Aaakkhhh...!!
Seorang pengeroyok langsung terhempas dengan tubuh hampir putus jadi dua bagian.
Tiga orang anggota sekte Rawa Tak Bertepi yang ada terkaget kaget dan marah.
"Bangsat. Kami tidak main-main lagi." Ketiga pria itu segera mencabut golok mereka dan menata ulang kuda-kuda tempurnya.
Ni Kirana tersenyum menghina. Terlihat sekali dia melecehkan tiga pria yang mengurung dirinya.
Diawali dengan pekikan keras. Tiga pria itu kembali menyerang.
Ni Kirana kembali menghindar, berkelit dan menyerang balik. Jurus dua belas langkah ajaib menunjukkan kehebatannya. Pedang ditangan Ni Kirana kembali berkelebat.
Craaaaaazzzss....!!
Kali ini pedang ditangan gadis itu sukses menebas leher anggota sekte Rawa Tak Bertepi.
Melihat makan tangan gadis cantik bohay itu sangat telengas. Empat orang meninggalkan Danang Wesi dan bergabung untuk menyerang Ni Kirana.
\=\=\=\=\=***\=©