Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 30 Peringatan Adrian

Arunika menatap Adrian beberapa detik. Tatapan pria itu tidak berubah. Tidak ada kebohongan di sana, hanya kekhawatiran yang selama ini mungkin tidak pernah ia sadari.

"Adrian..."

"Aku tahu kamu mungkin belum bisa memahami semuanya sekarang."

Adrian melepaskan genggamannya perlahan.

"Tapi sejak pertama kali aku tahu ada orang-orang yang mencari keberadaanmu, aku sudah memutuskan satu hal."

"Apa?"

"Aku akan memastikan kamu tetap aman."

Arunika menundukkan kepala.

"padahal aku gak tau apa apa tentang diriku sendiri, mungkin ini berbahaya."

Adrian menggeleng.

"Jangan pernah mengatakan itu."

Arunika mengangkat wajah.

"Kamu mungkin tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kamu berharga."

Hening Untuk beberapa saat, Arunika hanya menatap Adrian. Kemudian ia bertanya pelan,

"Kalau begitu... apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Untuk sementara, tetap di sini."

"Di rumahmu?"

"Ya. Di sini kamu aman ada keluarga ku, mereka tidak akan berani mendekat"

Adrian berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan jangan menghubungi nomor itu."

Arunika kembali melihat layar ponselnya, Pesan dari nomor tidak dikenal itu masih terpampang.

WILSON.

"Aku bahkan belum membalasnya."

"Bagus."

"Tapi bagaimana kalau dia benar-benar ayahku?"

Adrian terdiam.

"Bagaimana kalau selama ini dia memang mencariku?"

"Aku tidak mengatakan dia musuhmu."

"Lalu siapa dia?"

"Seorang ayah yang kehilangan anaknya."

Arunika menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata.

"Kalau begitu kenapa rasanya seperti aku yang kehilangan dia?"

Pertanyaan itu membuat Adrian tidak segera menjawab, Karena mungkin memang begitu.

Selama bertahun-tahun seorang ayah kehilangan putrinya.

Dan seorang anak tumbuh tanpa pernah tahu bahwa ada seseorang yang diam-diam mencarinya. Tiba-tiba ponsel Arunika kembali bergetar.

Kali ini bukan pesan Sebuah panggilan masuk.

Nomornya sama.

Arunika menatap layar Adrian langsung memperhatikan perubahan wajahnya.

"Jangan diangkat."

Namun sebelum Arunika sempat melakukan apa pun panggilan itu terputus. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru masuk.

Arunika membukanya Hanya ada satu kalimat.

"Aku tahu kamu sudah mengetahui semuanya."

Mata Arunika melebar Adrian mengambil ponsel itu dan membaca pesan tersebut.

Wajahnya seketika berubah serius.

"Dia tahu."

"Siapa?"

Adrian menatap layar beberapa detik.

"Lelaki yang selama ini mengawasimu."

Arunika menatapnya.

"Jadi dia tahu aku sudah tahu?"

"Sepertinya."

Pesan kedua masuk Kali ini hanya berisi sebuah alamat, Adrian membaca alamat tersebut lalu ekspresinya semakin mengeras.

"Tempat apa itu?"

Adrian tidak menjawab.

"Adrian."

"Itu rumah lama keluarga Wilson."

Arunika membeku.

"Kenapa dia mengirim alamat itu?"

Adrian menatapnya.

"Mungkin karena dia ingin kamu datang."

Arunika terdiam cukup lama Kemudian ia berkata pelan,

"Kalau begitu... mungkin sudah waktunya aku mengetahui semuanya."

Adrian menghela napas Ia tahu keputusan itu akan datang cepat atau lambat Dan kali ini, tidak ada lagi alasan untuk terus menyembunyikan masa lalu Arunika.

"Baik."

Arunika menatapnya.

"Kita akan pergi."

"Tapi bukan sekarang."

"Kenapa?"

"Karena sebelum kamu bertemu dengannya, aku ingin tahu satu hal."

"Apa?"

Adrian menatap kembali pesan di layar.

"Siapa yang mengirim pesan ini."

Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Raka.

"Raka."

"Ya, Tuan."

"Lacak nomor ini."

Adrian memberikan nomor tersebut.

"Dan satu lagi."

"Apa?"

"Periksa rumah lama keluarga Wilson."

Adrian menatap Arunika yang masih berdiri diam di hadapannya.

"Pastikan tidak ada siapa pun yang menunggu kedatangan kami."

"Baik, Tuan."

Panggilan berakhir Arunika menghela napas panjang.

"Adrian."

"Ya?"

"Kalau nanti aku bertemu dengannya..."

Arunika berhenti sejenak.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa memanggilnya ayah."

Adrian menatapnya lembut.

"Kamu tidak harus memanggilnya apa pun."

"Kalau begitu?"

"Datang sebagai Arunika."

Adrian tersenyum tipis.

"Bukan sebagai pewaris keluarga Wilson. Bukan sebagai anak yang hilang."

"Dan bukan sebagai seseorang yang harus memenuhi harapan siapa pun."

Arunika menatapnya.

"Datang sebagai dirimu sendiri."

Arunika mengangguk Namun jauh di tempat lain, pria yang selama ini diam-diam mengawasinya berdiri di depan sebuah jendela.

Di tangannya terdapat foto lama yang sama, Foto seorang bayi kecil yang dahulu pernah ia gendong. Ia menatap foto itu lama sebelum berkata lirih,

"Maafkan Ayah, Arunika."

Kemudian seorang pria lain masuk ke dalam ruangan.

"Tuan."

Ia menoleh.

"Ada kabar dari keluarga Wilson."

"Apa?"

"Mereka mengetahui bahwa nona Arunika sudah ditemukan."

Tatapannya berubah tajam.

"Siapa yang memberi tahu mereka?"

Pria itu menggeleng.

"Kami belum tahu."

Hening sejenak Lalu sebuah kalimat membuat suasana ruangan berubah.

"Mereka sudah mengirim orang untuk mengambilnya."

Pria itu mengepalkan foto di tangannya.

"Kalau begitu..."

Tatapannya mengeras.

"Sudah waktunya aku berhenti bersembunyi."

Ia memasukkan foto tersebut ke dalam saku jasnya.

"Hubungi Adrian."

Pria di belakangnya tampak ragu.

"Apakah Anda yakin, Tuan?"

"Ya."

"Setelah selama ini Anda menghindari keluarga Pradipta?"

Pria itu menatap tajam.

"Justru karena itu."

Sementara itu, di rumah Adrian, suasana masih terasa tegang, Raka kembali setelah melakukan pemeriksaan awal.

"Tuan."

Adrian menoleh.

"Bagaimana?"

"Nomor itu sudah saya lacak."

Arunika yang sejak tadi duduk diam langsung mengangkat wajah.

"Siapa pemiliknya?"

Raka menggeleng.

"Itu masalahnya. Nomor tersebut menggunakan jaringan berlapis. Tidak terdaftar atas nama siapa pun."

Adrian mengernyit.

"Lalu alamat rumah Wilson?"

"Masih kami periksa. Tapi ada satu hal."

"Apa?"

"Ada pergerakan orang di sekitar rumah itu sejak dua malam terakhir."

Adrian terdiam.

"Berapa orang?"

"Belum bisa dipastikan."

Arunika menggenggam ujung bajunya.

"Berarti mereka memang menungguku?"

"Mungkin," jawab Adrian.

Belum sempat ia melanjutkan, suara mobil terdengar dari halaman, Raka segera menoleh ke arah jendela.

"Tuan, ada seseorang datang."

Adrian berdiri.

"Siapa?"

Raka melihat layar ponselnya.

"Dia datang sendirian."

Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka Seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya tetap tajam.

Arunika yang melihatnya langsung terdiam.

Pria itu juga berhenti Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa saat tidak ada satu pun yang berbicara.

Pria itu menatap wajah Arunika seolah sedang melihat seseorang dari masa lalu yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya.

"Arunika..."

Suara itu bergetar Arunika tidak menjawab, Adrian berdiri di antara mereka.

"Jadi ada urusan apa..? Bisa membawa mu datang sendiri kesini."

Pria itu mengangguk pelan.

"Namaku Richard Wilson, kalau belum tau nama ku."

Adrian menatapnya tanpa ekspresi.

"Saya akan langsung ke intinya, apa kau yang mengirim pesan kepada Arunika?"

Richard tampak bingung.

"Pesan apa?"

Adrian mengeluarkan ponsel Arunika dan memperlihatkan layar kepadanya.

"Pesan dari nomor ini. Termasuk alamat rumah lama keluarga Wilson."

Richard membaca pesan tersebut Wajahnya perlahan berubah.

"Aku tidak pernah mengirim ini."

Adrian menyipitkan mata.

"Pastikan jawabanmu."

"Aku bersumpah."

Richard menggeleng.

"Aku memang ingin bertemu dengan putriku. Tapi aku tidak akan pernah menghubunginya dengan cara seperti ini."

Arunika menatap Richard.

"Kalau bukan anda... lalu siapa?"

Richard tidak menjawab Adrian segera menangkap sesuatu dari ekspresinya.

"Kau tahu sesuatu."

Richard menarik napas panjang.

"Ada seseorang yang mengetahui tentang Arunika."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu namanya."

Richard menatap putrinya.

"Tapi dua puluh tahun lalu, sebelum Arunika menghilang, ada seseorang yang mencoba mengambilnya dari kami."

Arunika membeku.

"dua puluh tahun lalu?"

Richard mengangguk.

"Aku pikir mereka sudah berhenti."

Adrian menatapnya tajam.

"Ternyata tidak."

"Ya."

Richard mengepalkan tangannya.

"Mereka kembali."

Ruangan mendadak sunyi Adrian melangkah mendekati Richard.

"Kau mungkin ayahnya, tapi ada yang harus saya tegaskan."

Nada suaranya berubah dingin dan tajam.

"Jika kau belum mampu memastikan rumah itu aman, jangan biarkan mereka mengusik ketenangannya."

Richard menatap Adrian, Adrian melanjutkan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

"Karena itu tak akan baik untukmu, maupun keluarga Wilson."

Hening.

Raka bahkan tidak berani menyela Richard akhirnya mengangguk.

"Aku mengerti."

"Tidak," jawab Adrian datar.

"Pastikan kau benar-benar mengerti."

1
Kiara Maulida Aizaaa
kak kita saling support yuk
Winna Yun: iya ka💪🤗
total 1 replies
the virtuso
semangat kak bikin novelnya kalau mau boleh mampir buat baca sama like novel aku GK kak
the virtuso: ok kak
total 2 replies
nischa
hai,kak aku mampir ceritanya bagus semangat kak😍mampir juga ya ke ceritaku
Winna Yun: siap kakak terimakasih kunjungan nya🤗
total 1 replies
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!