Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Jawaban dari Katedral

Lima hari berlalu sejak pertemuan mereka dengan Uskup Valemont, dan kehidupan di Aurelian mulai terasa seperti rutinitas yang menenangkan—mengambil misi kecil dari Guild kota, menjelajahi pasar-pasar lokal, dan menikmati waktu bersama sebagai keluarga di tengah kota yang ramai namun ramah.

Pada sore hari kelima, ketika mereka baru saja kembali dari misi kecil membantu seorang pedagang menemukan gerobaknya yang dicuri, seorang utusan berjubah putih Gereja mendatangi penginapan mereka, membawa sebuah amplop tersegel dengan lambang matahari bersinar.

"Tuan Uchiha," utusan muda itu berkata sopan, menyerahkan amplop itu dengan kedua tangan. "Pesan dari Katedral Utama."

Sasuke menerima amplop itu dengan hati-hati, merasakan sedikit ketegangan menjalar di dadanya. Saviera berdiri di sampingnya, tangannya secara refleks meraih tangan Sasuke yang bebas, sementara Elaina mengintip penasaran dari balik kaki mereka berdua.

Begitu utusan itu pergi, Sasuke membuka amplop itu perlahan, mengeluarkan selembar kertas tebal dengan tulisan tangan yang rapi dan formal.

---

*Kepada Tuan Sasuke Uchiha\,*

*Setelah mempertimbangkan laporanmu dengan saksama\, Gereja Cabang Utara memutuskan untuk menangguhkan sementara program 'Ksatria Suci' sambil melakukan evaluasi ulang terhadap risiko yang kau sampaikan. Ini bukan pembatalan permanen\, melainkan jeda untuk penilaian lebih lanjut.*

*Namun\, keputusan ini datang dengan permintaan. Uskup Agung sendiri\, setelah mendengar laporan pertemuanmu denganku\, menyatakan keinginan untuk bertemu denganmu secara langsung. Sebuah kehormatan yang jarang diberikan pada siapa pun di luar struktur resmi Gereja.*

*Pertemuan akan diadakan di Katedral Agung\, ibu kota keuskupan tertinggi di Benua Manusia\, dalam waktu satu bulan dari sekarang. Aku sarankan kau mempersiapkan dirimu dengan baik.*

*Hormat\,*

*Uskup Aldric Valemont*

---

Sasuke membaca surat itu dua kali, memastikan ia tidak salah memahami implikasinya. Saviera, yang membaca dari sampingnya, menatapnya dengan campuran kelegaan dan kekhawatiran baru.

"Program itu ditangguhkan," Saviera berkata pelan, "tapi sekarang Uskup Agung sendiri ingin bertemu denganmu."

"Ya," Sasuke menjawab, pikirannya berputar cepat memproses implikasi dari undangan itu. Di satu sisi, ini adalah kemenangan kecil—program yang mengancam nyawa petualang muda tidak jadi dijalankan, setidaknya untuk sementara. Di sisi lain, pertemuan langsung dengan Uskup Agung yang dicurigai berhubungan dengan "Yang Tertinggal" membawa risiko yang jauh lebih besar dan tidak terduga.

"Apa yang kau pikirkan?" Saviera bertanya, memperhatikan ekspresi seriusnya.

"Ini kesempatan," Sasuke berkata perlahan, "untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik kepemimpinan Gereja. Tapi juga risiko besar—jika benar ada sesuatu yang tersembunyi mengendalikan Uskup Agung, aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi begitu aku sampai di sana."

---

Elaina, yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama meski tidak sepenuhnya memahami seluruh detailnya, menarik-narik jubah Sasuke dengan wajah serius.

"Papa harus pergi ke sana?" ia bertanya, suaranya sedikit khawatir.

"Sepertinya begitu," Sasuke menjawab, berlutut untuk sejajar dengan tingginya. "Tapi kita punya waktu satu bulan untuk bersiap-siap. Itu waktu yang cukup untuk merencanakan segalanya dengan hati-hati."

"Elaina ikut, kan?" Elaina bertanya, matanya penuh harap sekaligus tekad.

Sasuke menatap Saviera sejenak, bertukar pandang yang penuh pertimbangan sebelum akhirnya menjawab. "Kita akan membicarakannya bersama, Sayang. Tapi apa pun keputusannya, kau akan selalu tahu apa yang terjadi. Tidak ada rahasia di antara kita."

Elaina mengangguk, meski masih terlihat sedikit khawatir, sebelum akhirnya memeluk kaki Sasuke erat-erat.

---

Malam itu, setelah Elaina tertidur, Sasuke dan Saviera duduk berdua membahas rencana mereka untuk bulan mendatang.

"Satu bulan bukan waktu yang lama," Saviera berkata, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. "Apa yang perlu kita persiapkan?"

"Aku ingin kembali mengunjungi Pastor Elric," Sasuke berkata, sudah menyusun rencana dalam benaknya. "Mungkin dia punya informasi lebih lanjut yang bisa membantu kita memahami apa yang mungkin menanti di Katedral Agung. Dan aku juga ingin melatih diriku lebih jauh, memastikan aku siap menghadapi kemungkinan terburuk."

"Aku akan ikut berlatih juga," Saviera menambahkan tegas. "Kalau ini benar-benar berbahaya seperti dugaanmu, aku ingin cukup kuat untuk membantu, bukan hanya menjadi beban yang harus dilindungi."

Sasuke menatapnya, rasa hormat dan kekaguman menjalar di dadanya. "Kau bukan pernah menjadi beban, Saviera. Tidak sekali pun."

Saviera tersenyum kecil, menggenggam tangannya erat. "Aku tahu. Tapi aku ingin lebih dari sekadar tidak menjadi beban—aku ingin benar-benar bisa berdiri di sampingmu, sebagai rekan yang setara, bukan hanya seseorang yang kau lindungi."

Kata-kata itu menghantam sesuatu yang dalam di diri Sasuke, kekaguman yang semakin tumbuh terhadap wanita di hadapannya—seseorang yang dulu begitu takut menunjukkan kekuatannya sendiri, kini bertekad untuk berdiri sejajar dengannya menghadapi bahaya apa pun yang akan datang.

"Kalau begitu," Sasuke berkata, senyum kecil namun tulus muncul di wajahnya, "mari kita bersiap-siap bersama. Satu bulan, mulai besok."

Di luar jendela, malam Aurelian yang tenang menyaksikan awal dari babak persiapan baru dalam perjalanan panjang mereka—satu yang akan membawa mereka lebih dekat menuju jantung kekuasaan Gereja, dan mungkin, lebih dekat pula menuju kebenaran yang selama ini tersembunyi di baliknya.

---

*Bersambung ke Bab 31: Sebulan Persiapan*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!