Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.

​Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.

​Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?

​"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketenangan Palsu

Satu minggu telah berlalu sejak kepergian Valerie dari mansion megah itu. Tanpa kehadiran dan histeria Valerie, suasana rumah memang terasa jauh lebih tenang dan damai—sebuah ketenangan semu yang dibangun di atas keputusasaan dan dominasi mutlak seorang Zeffan.

​Syafiya sedang berdiri di depan kompor dapur yang bersih dan berkilau, mengaduk perlahan cairan puding dalam panci kecil. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya dari belakang, mengikis seluruh jarak di antara mereka.

​"Kamu sedang bikin apa, hm?" tanya Zeffan lembut seraya mendaratkan dagunya di bahu Syafiya, menghirup aroma wangi tubuh gadis itu yang selalu menenangkan jiwanya.

​Syafiya tersentak kecil, tubuhnya mendadak kaku, namun ia memaksakan diri untuk tetap mengaduk adonan puding di atas kompor demi meredam rasa gugupnya.

​"Buatkan puding untuk Elvano," jawab Syafiya lirih, berusaha tidak mengalihkan pandangannya dari panci.

​"Puding?" Zeffan terkekeh pelan—sebuah tawa hangat yang teramat jarang terdengar, berbisik tepat di telinga Syafiya. "Elvano kan masih bayi, Sayang. Dia belum bisa makan puding padat seperti itu."

​"A-aku buatkan puding susu khusus bayi, Kak... Yang teksturnya sangat lembut," cicit Syafiya pelan, napasnya sedikit tertahan saat merasakan usapan lembut jemari Zeffan di perutnya. "Aku sudah tanya resepnya ke dokter anak kemarin."

​"Kamu telaten sekali merawat Elvano," pangkas Zeffan dingin namun sarat akan kebanggaan yang terselubung. Ia mengecup celah leher Syafiya secara tiba-tiba, membuat gadis itu menahan napas. "Kamu jauh lebih pantas menjadi ibu untuk Elvano daripada wanita itu."

​"Kak Zeffan, tolong... jangan bicara begitu," bisik Syafiya serak, matanya berkaca-kaca menatap uap air yang membumbung dari panci. "Bagaimanapun juga, Kak Valerie itu ibu kandungnya... Aku cuma tante yang membantu merawatnya."

​"Ibu yang membiarkan benih pria lain tumbuh di rahimnya tidak berhak dipanggil ibu," desis Zeffan, mengeras seketika saat nama Valerie disebut. Pria itu memutar tubuh Syafiya agar menghadapnya, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan tepian meja kompor. "Jangan pernah sebut nama dia lagi di rumah ini, Syafiya. Mengerti?"

​Syafiya menundukkan kepala, tak sanggup melawan tatapan intimidatif milik Zeffan yang selalu sanggup melumpuhkan keberaniannya.

​"Mengerti, Kak..." jawab Syafiya pasrah, menyembunyikan rasa bersalah yang terus menggerogoti hatinya.

​"Pintar," bisik Zeffan puas, mengusap pipi Syafiya dengan ibu jarinya lalu mengecup dahi gadis itu lama. "Matikan kompornya. Biar asisten rumah tangga yang melanjutkan. Aku mau kamu menemani aku di ruang kerja sekarang."

"Bentar lagi, Kak. Aku juga lagi bikin kue pai, jadi harus ditunggu dulu," cicit Syafiya pelan, berusaha mengalihkan perhatian Zeffan seraya mematikan api kompor tempat pudingnya memasak.

Zeffan tidak langsung melepaskan pelukannya. Ia justru makin mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Syafiya, menghirup dalam-dalam aroma manis vanila yang terhirup dari tubuh gadis itu.

"Kue pai?" desis Zeffan, alisnya terangkat sebelah. "Untuk siapa? Rumah ini tidak ada yang suka manis selain kamu."

"Untuk Mommy, Kak," jawab Syafiya terburu-buru, mencoba melepaskan jemari Zeffan dari perutnya meski sia-sia. "Kemarin Mommy bilang lagi ingin makan kue pai buah buatan rumah. Jadi aku inisiatif buatkan."

Zeffan terkekeh gelap, kecupan singkat mendarat di pelipis Syafiya. "Kamu selalu memikirkan semua orang di rumah ini, Syafiya... kecuali dirimu sendiri."

"Aku cuma ingin suasana rumah ini tetap hangat, Kak Zeffan..." bisik Syafiya lirih, matanya menatap oven yang mulai memancarkan aroma harum margarin dan adonan memanggang. "Aku tidak mau Mommy sedih terus-terusan memikirkan masalah keluarga ini."

"Mommy sudah jauh lebih tenang sejak wanita itu pergi dari sini," pangkas Zeffan dingin, suaranya berubah tajam saat teringat sosok istrinya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak penting. Cukup fokus padaku dan Elvano."

Syafiya menghela napas berat, merasakan ketegangan yang tak pernah benar-benar lenyap dari hidupnya. "Kak Zeffan... sampai kapan Kakak mau mengurung aku dalam ketidakpastian seperti ini?"

"Ketidakpastian apa, Syafiya?" tanya Zeffan seraya memutar tubuh Syafiya secara perlahan hingga gadis itu kini bersandar pada tepian konter dapur, terkurung di antara kedua lengan kokohnya.

"Aku... aku tidak punya status yang jelas di rumah ini, Kak," tangis Syafiya akhirnya pecah serak, menatap lurus ke dalam iris mata pekat pria di hadapannya. "Di mata Mommy aku adik angkat Kakak, di mata orang luar aku cuma pengasuh Elvano... tapi di balik semua itu, Kakak memperlakukan aku seperti..."

"Seperti wanita yang kumiliki?" potong Zeffan cepat, menyunggingkan senyum tipis yang sarat dominasi. Jemarinya terulur merapikan anak rambut Syafiya yang menempel di pipi basahnya. "Status itu tidak penting, Syafiya. Yang penting kamu ada di sini, di bawah pengawasanku, dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengambilmu dariku."

Ting!

Suara timer oven berbunyi nyaring, memotong percakapan penuh ketegangan di antara mereka berdua. Wangi gurih margarin dan manisnya adonan pai yang matang sempurna langsung menyeruak memenuhi seluruh ruangan dapur.

"Painya sudah matang, Kak," bisik Syafiya pelan, memanfaatkan momen itu untuk menggeser tubuhnya dan terbebas dari kurungan lengan Zeffan.

Zeffan menghela napas berat, membiarkan Syafiya lepas dari jangkauannya meski matanya tetap mengawasi gerak-gerik gadis itu tanpa henti.

"Biar koki atau pelayan yang mengambilnya dari oven, Syafiya. Nanti tanganmu bisa terbakar," cegah Zeffan seraya meraih pergelangan tangan Syafiya kembali.

"Aku bisa sendiri, Kak. Pakai sarung tangan oven kan bisa," sahut Syafiya halus, menarik tangannya pelan-pelan lalu mengenakan sarung kain tebal di kedua tangannya. Ia membuka pintu oven dengan hati-hati, membiarkan uap panas keluar sebelum mengeluarkan loyang pai buah yang tampak cantik dan berwarna keemasan.

"Aromanya harum sekali... Siapa yang bikin kue ini?"

Suara Marlina terdengar dari arah pintu dapur. Wanita paruh baya itu melangkah masuk dengan senyum tipis di wajahnya—pemandangan yang sangat jarang terlihat selama dua bulan terakhir.

"Syafiya yang buatkan untuk Mommy," jawab Syafiya seraya tersenyum lembut, meletakkan loyang pai panas itu di atas tatakan kayu di konter dapur. "Mommy kan kemarin bilang lagi pengin makan pai buah."

Marlina tampak tersentuh. Ia mendekati Syafiya lalu mengelus rambut anak angkatnya itu penuh kasih sayang. "Astaga, Syafiya... Kamu ini selalu perhatian sama Mommy. Padahal kamu sendiri baru saja sembuh dan lelah mengurus Elvano."

"Tidak apa-apa, Mom. Syafiya senang bisa buatkan untuk Mommy," balas Syafiya jujur.

Zeffan yang menyaksikan interaksi itu menyandarkan punggungnya di tepian konter, menyilangkan tangan di dada dengan ukiran senyum puas yang amat tipis. Pemandangan ini—Syafiya yang begitu menyatu dengan ibunya tanpa ada gangguan dari Valerie—adalah tatanan ideal yang selalu diinginkannya.

"Lihat kan, Mom? Rumah ini jauh lebih tenang dan hangat kalau cuma ada kita," pangkas Zeffan dengan suara beratnya yang dingin.

Syafiya tersentak pelan mendengarnya, menundukkan kepala berpura-pura sibuk menyiapkan piring saji untuk menutupi rasa sesak yang kembali menghantam dadanya.

Marlina menghela napas pendek, mengangguk menyetujui ucapan putranya. "Kamu benar, Zeffan. Sejak wanita itu pergi, tidak ada lagi keributan dan emosi di rumah ini. Mommy rasanya bisa bernapas lega."

"Mommy duduk saja di meja makan, nanti Syafiya potongkan painya kalau sudah agak dingin," potong Syafiya cepat, tidak ingin mendengarkan lebih banyak cemoohan tentang keberadaan Valerie.

"Baiklah, Sayang. Terima kasih ya," ucap Marlina penuh kehangatan sebelum melangkah keluar menuju ruang makan.

Setelah ibunya berlalu, Zeffan kembali melangkah mendekati Syafiya dari belakang, berbisik tepat di samping telinganya.

"Kamu lihat sendiri, kan? Semua orang di rumah ini jauh lebih bahagia tanpa kehadiran Valerie. Termasuk kamu."

"Aku tidak pernah bahagia di atas penderitaan orang lain, Kak Zeffan..." bisik Syafiya lirih seraya meremas pisau pemotong kue di genggamannya.

1
Aditya hp/ bunda Lia
👍👍👍👍👍
Lilik Juhariah
coba Fiya sekali kali bilang , kenapa sih kak gak bisa nahan emosi , Fiya kl kakak gitu malah takut 🤣🤣jangan diem menyerah , perasaan itu hrs diubgkapin Fiya , Kak Zeffan itu cinta kamu dari dulu
Aditya hp/ bunda Lia: bener tuh
total 1 replies
Lilik Juhariah
banyakin dong kak , jangan sehari satu🤣
Lilik Juhariah
Fiya yg bodoh , kan bawa hp kenapa GK langsung Tlp Zeffan
Dinda Putri
lanjuut
Aditya hp/ bunda Lia
waah, ... sekretaris gila kamu lagi gali kubur buat dirimu habis kamu Maya ...
Lilik Juhariah
crazy up kakak
Lilik Juhariah
ini sangat berlebihan , sekretaris serasa yg punya perusahaan, Fiya kamu lemah banget TLP Zeffan kan bisa , kamu punya kekuasaan , gak masuk akal sampai ditampar
Lilik Juhariah
katakan apa yg kamu inginkan Fiya , jangan cuma menangis gak baik buat kesehatan 🤣, katakan dgn nada lembut pada kak Zeffan , aku yakin SE arogan arogannya laki laki kalau dapet pawangnya pasti luluh , pawang Zeffan itu kamu. bicara baik baik , bermain cantiklah Fiya , jgn cuma menangis
Aditya hp/ bunda Lia
jangan dirusak dengan dijadiin simpanan sejelek-jeleknya nikah siri biar gak zina
Anisa Dwi riona
jelasin status syafiyah dong zeffan
Lilik Juhariah
kak Zeffan kenapa harus sprt ini kak, Fiya bermain cantik , jangan berontak coba terus beri nasehat , kl model begitu sprt kak Zeffan harus pelan dan halus , kasar dg kasar gak akan ketemu, Zeffan cinta Fiya, itu kuncinya
Lilik Juhariah
zeffan apa kamu mencintai Fiya kah
Lilik Juhariah
zeffan jahat banget , kenapa Fiya kau jadikan alat balas dendam ke Valery , apa gak bisa pergi Fiya kak , kasihan😭
Lilik Juhariah
sampe bersumpah apa zeffan salah ya,
Lilik Juhariah
zeffan kl marah sadis,
Aditya hp/ bunda Lia
iya mom tolong syafiya semoga othor memberi jalan buat mommy biar bisa nolong syafiya 🫰
Lilik Juhariah
waktu zefran minta haknya dua bulan lalu tp kamu GK mau bertindak alasan capek , anak siapa itu
Lilik Juhariah
kak zefran
Lilik Juhariah
lanjut kak , seru banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!